• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istilah “tujuan” atau “sasaran” atau “maksud”, dalam bahasa Arab dinyatakan dengan ghayat atau ahdaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa inggris, istilah “tujuan” dinyatakan dengan “goal atau purpose atau objective atau aim. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, atau arah, maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas.

Tujuan ini sendiri, menurut Zakiah Daradjat, adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin,

tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu. Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, akan tetapi pada umumnya pengertian itu berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu. Abu Ahmadi mengatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi: 1. Tujuan tertinggi/terakhir

Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai ciptaan Allah, yaitu:

a. Menjadi hamba Allah

Tujuan ini sejalan dnegan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadat kepada Allah. Dalam hal ini pendidikan harus memungkinkan manusia memahami dan menghayati tentang Tuhannya sedemikian rupa, sehingga semua peribadatannya dilakukan dengan penuh penghayatan dan khususan terhadapnya, melakukan seremoni ibadah dan tunduk senantiasa pada syariat dan petunjuk Allah. Tujuan hidup yang dijadikan tujuan pendidikan itu diambilkan dari Al-Quran. Firman Allah SWT:

  

(Q.S. Al-Zariat: 56) .

b. Mengantarkan subjek didik menjadi khalifah fi al-Ardh, yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup. Firman Allah SWT:

         

         



(Q.S. Al-Baqarah:20).

c. Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagian hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat. Firman Allah SWT:

          

           

  

(Q.S. Al-Qashash: 77) .

Ketiga tujuan tertinggi tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena pencapaian tujuan yang satu memerlukan pencapaian tujuan yang lain, bahkan secara ideal ketiga-tiganya harus dicapai secara bersama melalui proses pencapaian yang sama dan seimbang.

2. Tujuan Umum Pendidikan Islam

Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik.

Dikatakan umum karena berlaku bagi siapa saja tanpa di batasi ruang dan waktu, dan menyangkut diri peserta didik secara total.

Pendidikan adalah upaya pengembangan potensi atau sumber daya insani berarti telah mampu merealisasikan diri (self realisation), menampilkan diri sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim). Proses pencapaian realisasi diri tersebut dalam istilah psikologi disebut

becoming, yakni proses menjadikan diri dengan keutuhan pribadinya. Sedangkan untuk sampai pada keutuhan pribadi diperlukan proses perkembangan tahap demi tahap yang disebut proses development. Tercapainya self realisation yang utuh itu merupakan tujuan umum pendidikan Islam yang proses pencapaiannya melalui berbagai lingkungan atau lembaga pendidikan, baik pendidika keluarga, sekolah atau masyarakat secara formal, non formal maupun informal.

Kenyataan menunjukkan bahwa baik tujuan tertinggi/terakhir maupun tujuan umum, dalam praktek pendidikan boleh dikatakan tidak pernah tercapai sepenuhnya. Dengan perkataan lain, untuk mencapai tujuan tertinggi/terakhir itu diperlukan upaya yang tidak pernah berakhir, sedangkan tujuan umum “realisasi diri” adalah becoming, selama hayat proses pencapaiannya tetap berlangsung.

Dari sini dalam Islam dikenal konsep pendidikan sepanjang hayat, sesuai dengan hadits nabi: “ Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Di samping itu dalam pendidikan Islam berlaku pula konsep pendidikan manusia seutuhnya. Dengan demikian bukan apologi bila dikatakan bahwa konsep tersebut mendahului konsep yang dewasa ini populer dengan sebutan long life education.

3. Tujuan Khusus Pendidikan Islam

Tujuan khusus ialah pengkhususan atau operasionalisasi tujuan tertinggi dan terakhir dan tujuan umum pendidikan Islam. Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan di mana perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpojak pada kerangka tujuan tertinggi/terakhir dan umum itu. pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada:

a. Kultur dan cita-cita suatu bangsa

Setiap bangsa pada umumnya memiliki tradisi dan budaya sendiri-sendiri. Perbedaan antara berbagai bangsa inilah yang memungkinkan sekali adanya perbedaan cita-citanya.

Sehingga terjadi pula perbedaan dalam merumuskan tujuan yang dikehendakinya di bidang pendidikan.

b. Minat, Bakat, dan Kesanggupan Subjek Didik

Islam mengakui perbedaan individu dalam hal minat, bakat, dan kemampuan. Hal itu bisa dilihat dari keterangan-keterangan Al-Quran Al-Karim. Firman Allah SWT:

Artinya:

“Katakanlah tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

Untuk mencapai prestasi sebagaiman yang diharapkan, kesesuaian tujuan khusus dengan minat, bakat dan kemampuan subyek didik sangat menentukan.

c. Tuntutan Situasi, Kondisi pada Kurun Waktu Tertentu

Apabila tujuan khusus pendidikan mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi pada kurun waktu tertentu, maka pendidikan akan kurang memiliki daya guna sebagaimana minat dan perhatian subyek didik; dasar pertimbangan ini sangat penting terutama bagi perencanaan pendidikan. Mereka harus mengantisipasi masa depan.

Islam memberikan pandangan yang jelas tentang tujuan hidup muslim tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat ayat 56

  

4. Tujuan Sementara Pendidikan Islam

Menurut Zakiah Daradjat, tujuan sementara itu merupakan tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Lebih lanjut dikatakan bahwa, tujuan operasional dalam bentuk tujuan pembelajaran yang dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran umum dan khusus (TIU dan TIK), dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda. Dalam tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola taqwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah mungkin merupakan suatu lingkaran kecil.

Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkarannya sudah harus kelihatan. Bentuk lingkaran inilah yang menggambarkan insan kamil itu. Di sinilah barangkali perbedaan yang mendasar tujuan dengan pendidikan Islam dibandingkan dengan pendidikan lainnya.

Ahmad Tafsir berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam ialah mencapai manusia yang sempurna. Adapun mansuia sempurna tersebut menurut beliau adalah manusia yang memiliki tiga ciri, yaitu: manusia yang jasmaninya sehat, kuat dan terampil, manusia yang akalnya cerdas serta pandai dan manusia yang kalbunya (hatinya) penuh dengan iman kepada Allah SWT24

Selanjutnya Muhammad Yunus berpendapat bahwa “tujuan pendidikan Islam adalah menyiapkan anak-anak supaya di waktu dewasa kelak mereka cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat sehingga tercipta kebahagian dunia dan akhirat.25 G. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu aspek pertama yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian anak, dan kedua, yang ditujukan kepada pikiran yakni pengajaran agama Islam itu sendiri. Aspek pertama dari pendidikan Islam adalah yang ditujukan pada jiwa atau pembentukan kepribadian. Artinya bahwa melalui pendidikan agama Islam ini anak didik diberikan keyakinan tentang adanya Allah swt. Aspek kedua dari pendidikan Agama Islam adalah yang ditujukan kepada aspek pikiran (intelektualitas), yaitu pengajaran Agama Islam itu sendiri. Artinya, bahwa kepercayaan kepada Allah swt, beserta seluruh ciptaan-Nya tidak akan sempurna manakala isi,

24Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, cet II 1994) h. 46

25Muhammad Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jakarta: Bina Karya Agung 1979) h. 13

makna yang dikandung oleh setiap firman-Nya (ajaran-ajaran-Nya) tidak dimengerti dan dipahami secara benar.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Agama Islam adalah:

1. Memperkenalkan dan mendidik anak didik agar meyakini ke-Esaan Allah swt, pencipta semesta alam beserta seluruh isinya; biasanya dimulai dengan menuntunnya mengucapkan la ilaha illallah.

2. Memperkenalkan kepada anak didik apa dan mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang (hukum halal dan haram).

3. Menyuruh anak agar sejak dini dapat melaksanakan ibadah, baik ibadah yang menyangkut hablumminallah maupun ibadah yang menyangkut hablumminannas.

4. Mendidik anak didik agar mencintai Rasulullah saw, mencintai ahlu baitnya dan cinta membaca al-Qur’an.

5. Mendidik anak didik agar taat dan hormat kepada orang tua dan serta tidak merusak lingkungannya.26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait