• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II TINJAUAN TEORITIS

B. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Menurut lampiran peraturan menteri RI Nomor 3 Tahun 2012 tentang pendidikan Agama Islam, Bab 1 Pasal 1 yaitu; pendidikan keagamaan Islam adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran Agama Islam dan/atau menjadi ahli ilmu Agama Islam dan mengamalkan ajaran Agama Islam. Kemudian pada pasal 2 tertuang bahwa penyelenggaraan pendidikan keagamaan Islam bertujuan untuk:

a. Menanamkan kepada peserta didik untuk memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt.

b. Mengembangkan kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta untuk menjadi ahli ilmu Agama Islam (Mutafaqqih fiddin) dan/atau menjadi muslim yang dapat mengamalkan ajaran Agama Islam dalam kehidupannya sehari-hari; dan

c. Mengembangkan pribadi akhlakul karimah bagi peserta didik yang memiliki kesalehan individual dan sosial dengan menjunjung tinggi jiwa keikhlasan, kesederhanaan kemandirian, persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), rendah hati (Tawadhu), toleran (Tasamuh),

keseimbangan (Tawazun), moderat (Tawasuth), keteladanan (Uswah), pola hidup sehat dan cinta tanah air.25

Adapun tujuan pendidikan Islam sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 30 yaitu: “Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi” (Qs. Al-Baqarah (2) ; 30).

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"26

Dari ayat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Allah telah menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti, tugas utama manusia adalah untuk memakmurkan bumi. Namun kenapa hendak dijadikan khalifah padahal manusia tersebut akan melakukan pertumpahan darah, sesungguhnya Allah lebih

25 Permenag No. 3 Tahun 2012, https:/ngada.org/bn232-2012.htm

26 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Cet-19 ; Jakarta: CV Darus Sunnah, 2015), h. 7

23

mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Jadi tujuan pendidikan Islam adalah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang selalu amar ma’ruf nahi munkar.

C. Kesulitan Murid Membaca AL-Qur’an 1. Konsep Tentang Kesulitan Belajar

Seringkali kita menyaksikan bahwa banyak orang tua yang mengeluhkan atau mengkhawatirkan anaknya yang mengalami kesulitan dalam belajar. Ada murid yang cepat dalam menangkap respons dari luar dan ada juga yang lambat, sehingga murid yang memiliki kemampuan lebih atau kurang dapat dikatakan bahwa mereka mempunyai alur perkembangan yang berbeda satu sama lain.

Menurut Nini Subini, Kesulitan berarti kesukaran, kesusahan, keadaan atau sesuatu yang sulit. Kesulitan merupakan suatu kondisi yang memperlihatkan ciri-ciri hambatan dalam kegiatan untuk mencapai tujuan sehingga diperlukan usaha yang lebih baik untuk mengatasi gangguan tersebut.27

Jadi dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar ialah suatu gangguan atau kondisi kemampuan seseorang dalam penggunaan bahasa lisan atau tulisan, yang meliputi kemampuan dalam mendengarkan, berbicara, berpikir, membaca atau menulis.

Para ahli mengemukakan pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai tingkah laku yang ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Dengan kata lain tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam

27 Nini Subini, op. cit., h. 13

pengertian, pemecahan suatu masalah, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.28

Dalam menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam proses belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dengan demikian dapat disederhanakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku individu, di mana perubahan tersebut bisa mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga tidak menutup kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.

Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar, hal itu terjadi melalui usaha yaitu dengan mendengar, membaca, mengamati, mengikuti petunjuk, memikirkan, meniru, menghayati, melatih dan mencoba sendiri atau berarti dengan latihan atau pengalaman. Adapun menurut Nana Sujana yang mengemukakan bahwa belajar adalah “Proses yang ditandai dengan adanya perubahan dimana perubahan tersebut ditujukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan dan kemampuan daya kreasi, daya permainan dan lain-lain yang ada pada indidvidu”.29

Arifin menyatakan bahwa, “Belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang disampaikan”.30 Sedangkan menurut Surya menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh

28 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 84

29 Nana Sujana, Dasar-Dasar Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Aglesindo, 1988), h.

28 30

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h. 84

25

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.31 Berdasarkan dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan dengan maksud untuk mencapai sesuatu baik itu pengetahuan, keterampilan, maupun pengalaman yang dapat diketahui melalui perubahan tingkah laku yang baru.

Fenomena kesulitan belajar seorang murid biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja prestasi belajar atau akademiknya. Selain itu, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan seperti murid yang suka berteriak didalam kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah,dan bahkan sering bolos. Secara umum, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar yaitu: (1) faktor intern murid yang mencakup segala keadaan yang muncul dari dalam murid sendiri, dan (2) faktor ekstern, mencakup segala keadaan yang berasal atau berada dari luar dari murid.32

2. Konsep Tentang Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan sebuah ibadah jika hal tersebut dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Dalam mempelajari Al-Qur’an hukumnya adalah fardhu kifayah, namun untuk membacanya memakai ilmu tajwid secara baik dan benar merupakan fardhu Ain, kalau terjadi kesalahan dalam membaca Al-Qur’an maka termasuk dosa. Materi pembelajaran Al-Qur’an adalah materi yang

31 Surya, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 7

32 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 143

paling istimewa di antara sekian materi pembelajaran, karena seluruh mata pelajaran menginduk dan merujuk pada Al-Qur’an.

Di sisi lain, jika kita membaca Al-Qur’an lalu tidak mempunyai dasar riwayat yang jelas dan sempurna, maka bacaan kita dianggap kurang utama, bahkan bisa tidak sah yang kita baca itu. Dalam hal ini, perlu dijelaskan dalil-dalil tentang pentingnya mempelajari (belajar) Al-Qur’an dan mengajarkannya. Di antaranya adalah firman Allah dalam Q.S Al-Maidah (5) : 67

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”33

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Saw, termasuk ibadah bagi orang yang membacanya, dibatasi oleh beberapa surah, orang-orang yang memindahkan bacaannya kepada kita merupakan pemindahan bacaan yang mutawatir (bersambung sanadnya sampai Rasulullah).

Menurut Ash Shabuniy dalam study ilmu Al-Qur’an, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingnya (mukjizat) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,

33 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Cet-19 ; Jakarta: CV Darus Sunnah, 2015), h.120

27

penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara malaikat Jibril Alaihis Salam dimulai surah Al-Fatihah dan di akhiri dengan An-Naas, dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh banyak orang), serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah.34

Jika dilihat dari definisi Al-Qur’an yang diungkapkan oleh tokoh diatas, nampak saling melengkapi antara satu sama lainnya tanpa mengurangi perbedaan tersebut.

Al-Qur’an tersebut terdiri dari 114 surah dengan jumlah ayat sebanyak 6276 ayat. Ayat-ayat yang turun sebelum Nabi hijrah disebut Makiyyah yang meliputi sekitar dua pertiga dari keseluruhan surah Al-Qur’an. Sementara ayat-ayat yang turun setelah Nabi Hijrah ke Madinah disebut Madaniyah yang meliputi sepertiga dari keseluruhan surah Al-Qur’an.35

Khusus dalam membaca Al-Qur’an harus dibarengi dengan kemampuan mengetahui (ilmu) tajwid dan mengaplikasikannya dalam membaca teks. Tentang hal ini bisa dipahami dari perintah membaca Al-Qur’an secara tartil, yaitu firman Allah Swt dalam Q.S Al-Muzammil (73) : 4

34 M. Ali Ash-Shabuniy, Study Ilmu Al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 15.

35 Nasruddin Baidan, Metode Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.

29-30.

“Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.”36

Dari ayat diatas maka dapat penulis pahami bahwa untuk menambah sehingga lebih dari separuh malam, lalu bacalah Al-Qur’an dengan perlahan dan sungguh, sehingga dapat dipahami dan mengambil maknanya. Dengan pemahaman tersebut berarti keharusan membaca Al-Qur’an beserta tajwidnya yang baik. Kemampuan minim inilah yang harus dimiliki oleh murid dalam membaca Al-Qur’an. Dan betapa mulianya orang yang orang yang mau mempelajari Al-Qur’an dan mengerjakannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw riwayat Bukhari dari Utsman r.a,:37

)مهسم َ يراخبنا ياَر(.ًَُمههَعََ َنآ ْرُقْنا َمههَعَت ْهَم ْمُكُرٍَْخ :َلاَق ًِِّبهىنا ْهَع َناَمْثُع ْهَع

Artinya:

Dari Utsman Radiallahu’ anhu, dari Nabi beliau bersabda: “Sebaik-baik (manusia) diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengerjakannya”. (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).38

Selanjutnya, dalam proses membaca ada dua aspek pokok yang saling berkaitan yaitu pembaca dan bahan bacaan. Ditinjau dari sisi pelakunya, membaca merupakan salah satu dari kemampuan (penguasaan) bahasa seseorang. Kemampuan lainnya dalam bahasa yaitu, kemampuan menyimak (mendengarkan), berbicara, dan menulis. Kemampuan menurut Tambolun kemampuan membaca dan menulis termasuk dalam komunikasi tulisan.

36 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Cet-19 ; Jakarta: CV Darus Sunnah, 2015), h. 575

37 Abdul Majid Khon, op.,cit, h. 13

38 Ibid, h. 13

29

Al-Qur’an dtinjau dari segi sifatnya:

1. Al-Qur’an untuk dibaca.

2. Al-Qur’an atau furqan pembeda antara yang hak dan bathil.

3. Al-Qur’an Al-Kitab untuk ditulis.

4. Al-Huda yaitu petunjuk.

Setiap murid berhak atas peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Akan tetapi realita dalam kehidupan

sehari-hari tampak dengan jelas bahwa setiap murid memiliki perbedaan dalam banyak hal, seperti kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar terkadang sangat mencolok antara murid yang satu dengan yang lainnya.39

Mengingat betapa pentingnya pembelajaran Al-Qur’an, Rasulullah saw.

menganjurkan pembelajaran membaca Al-Qur’an itu dimulai sejak dini atau dimasa kanak-kanak karena pada masa itu terdapat potensi belajar yang sangat kuat dan besar. Sang anak akan sangat peka menangkap sesuatu yang diajarkan dan diperintahkan sehingga mudah menerima pelajaran-pelajaran yang diberikan.

Namun yang menjadi masalah yaitu karena Al-Qur’an disampaikan dalam bentuk bahasa Arab dan tidak semua umat muslim di Indonesia menguasai bahasa tersebut. Belajar membaca Al-Qur’an artinya belajar mengucapkan lambang-lambang bunyi (huruf) tertulis. Walaupun kegiatan tersebut cukup sederhana, akan tetapi bagi murid pemula merupakan kegiatan yang cukup sulit, karena harus

39 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 80

melibatkan berbagai hal, yaitu pengucapan, penglihatan, pendengaran, dan akal pikiran. Dengan demikian ini bekerja secara mekanik dan simultan untuk melahirkan perilaku membaca. Ditambah lagi materi yang dibaca adalah rangkaian kata-kata arab yang tentu banyak berbeda sistem bunyi dan penulisannya dengan yang mereka kenal dalam bahasa ibu dan bahasa Indonesia.

3. Konsep Tentang Kesulitan Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk manifestase keimanan seseorang kepada Allah, sebagaimana firman Allah swt. dalam surah Al-Baqarah (2) : 121 ; membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.40

Dalam membaca Al-Qur’an harus dibarengi dengan kaidah-kaidah tajwid yang benar. Tajwid berarti melafadzkan setiap huruf dari mkhrajnya yang benar serta memahami hak-hak setiap huruf.41 Ilmu tajwid itu sendiri merupakan suatu cabang ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, sebelum belajar membaca Al-Qur’an.

40 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Cet-19 ; Jakarta: CV Darus Sunnah, 2015), h. 20

41 Lihat Soenarto, Pelajaran Tajwid, (Jakarta: Bintang Terang, 1999), h. 6.

31

Dizaman sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah akhir-akhir ini dirasakan kecintaan membaca Al-Qur’an di kalangan umat Islam sendiri semakin menurun. Budaya membaca Al-Qur’an yang bisanya dilakukan di rumah-rumah setelah sholat fardhu sudah jarang terdengar. Hal itu terjadi karena membaca Al-Qur’an telah digantikan dengan media-media atau bacaan-bacaan informasi lain seperti koran atau surat kabar, majalah, televisi dan lain-lain, padahal mereka sebenarnya tahu membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang memperoleh pahala dari Allah Swt. Jika umat Islam sudah merasa tidak penting untuk membaca Al-Qur’an, maka siapakah yang akan mau membaca Al Qur’an kalau bukan orang Islam itu sendiri.42

Adapun kesulitan membaca Al-Qur’an disebabkan beberapa gejala yang mana kemampuan membaca seorang anak berada dibawah kemampuan yang seharusnya dengan mempertimbangkan tingkat intelegensi, usia dan pendidikannya. Gangguan tersebut bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tapi mengarah pada bagaimana otak mengelolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah.

Kesulitan membaca Al-Qur’an juga merupakan suatu kelemahan-kelemahan belajar, yaitu sulit mengingat huruf, kata dan tulisan. Meski demikian penanggulangan kesulitan membaca Al-Qur’an sama dengan penanggulangan

42 Abu Yahya As-Syilasyabi, Cara Mudah Membaca Al-Qur’an Sesuai Kaidah Ilmu Tajwid (Yogyakarta: Daar Ibn Hazm, 2007), h. 13.

kesulitan belajar pada umumnya. Hal itu dimungkinkan karena faktor keduanya sama, sebagaimana menurut Mukhtar dan Rusmini penanggulangan kesulitan belajar yaitu (a) menentukan siswa mana yang mempunyai kesulitan belajar, (b) menentukan bentuk khusus dari kesulitan belajar tersebut, (c) menentukan faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, (d) menetapkan prosedur remedial yang sesuai.43

43 Mukhtar dan Rosmini, Pengajaran Remidial: Teori dan penerapannya dalam pembelajaran, (Jakarta: Tiva Mulia Sejatera, 2004), h. 47

33 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, menurut Bodgan dan Taylor yang di kutip oleh Lexy J. Moleong mengemukakan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.44 Jadi penelitian yang digunakan penulis adalah deskriptif kualitatif.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif kualitatif.

Penelitian Deskriptif adalah menggambarkan secara sistematis fakta, objek, atau subjek apa adanya dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat. Metode pendekatan Deskriptif Kualitatif adalah metode pengolahan data dengan cara menganalisa faktor-faktor yang bekaitan dengan objek penelitian dengan penyajian data secara lebih mendalam terhadap objek penelitian.45

Karena penulis nanti akan menggambarkan pemecahan masalah yang diselidiki, sesuai dengan penelitian ini yang mempunyai tujuan untuk

44 Lexy J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi Revisi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 4.

45 Hadari Nawawi, H. Murni Martini, Penelitian Terapan, ( Cet-2; Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1996), h. 73

mendeskripsikan bagaimana Kreativitas guru Pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan murid membaca Al-Qur’an di SD Negeri 257 Gattareng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat melakukan penelitian guna memperoleh data penelitian.Lokasi penelitian bertempat di SD Negeri 257 Gattareng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone. Objek penelitian dapat dinyatakan sebagai situasi sosial penelitian yang ingin diketahui apa yang terjadi di dalamnya. Objek dari penelitian ini adalah guru PAI dan peserta didik kelas V dan VI. Dimana penulis meneliti tentang Kreativitas guru PAI dalam mengatasi kesulitan murid membaca Al-Qur’an di SD Negeri 257 Gattareng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian adalah pemusatan fokus kepada intisari penelitian yang akan dilakukan, hal tersebut harus dilakukan dengan cara eksplisit agar kedepannya dapat meringankan peneliti sebelum turun atau melakukan observasi/pengamatan.

Penelitian ini berjudul tentang “Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Murid Membaca Al-Qur’an di SD Negeri 257 Gattareng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone”. Maka yang menjadi fokus penelitian dan deskripsi fokusnya yaitu:

1. Kesulitan murid membaca Al-Qur’an 2. Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam

35

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Deskripsi Penelitian merupakan menjelaskan/mendeskripsikan titik fokus penelitian.46

Fokus penelitian merupakan garis terbesar dalam jantungnya penelitian mahasiswa, sehingga observasi dan analisa penelitian bakal menjadi lebih terarah.

Berdasarkan fokus penelitian, maka peneliti akan mendiskripsikan fokus penelitian yaitu:

1. Kesulitan Murid Membaca Al-Qur’an

Kesulitan murid membaca Al-Qur’an yang dimaksud dalam penelitian ini adalah aktifitas belajar yang dijalani oleh murid khususnya dalam pembelajaran Al-Qur’an, tidak selamanya dapat berjalan secara wajar. Kadang lancar dan terkadang juga tidak, ada yang terhitung cepat menangkap apa yang dipelajari, adapula yang amat kesulitan. Dalam hal semangat bersifat turun naik untuk berkonsentrasi.

Murid sebagai orang yang memerlukan ilmu pengetahuan dan membutuhkan bimbingan serta arahan untuk mengembangkan potensi diri (fitrahnya) secara konsisten melalui proses pendidikan dan pembelajaran, sehingga tercapai tujuan yang optimal sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab dengan derajat keluhuran yang mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah di bumi.

46 Fakultas Agama Islam, Panduan Penulisan Karya Ilmiah, (Cet-1 ; Universitas Muhammadiyah Makassar: 2019) , h. 12.

2. Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam

Kreativitas guru Pendidikan Agama Islam yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru mencari metode yang tepat agar mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mudah dipahami, mampu mengoptimalkan media pembelajaran yang ada sehingga kesulitan-kesulitan yang dialami oleh murid mampu diatasi khusunya dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Guru PAI adalah guru yang mengajar mata pelajaran Akidah akhlak, Al-Qur’an dan Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Fiqih di sekolah atau madrasah, tugasnya membentuk anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, membimbing, mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, ahli dalam materi dan cara mengajar materi itu, serta menjadi suri tauladan bagi anak didiknya.

E. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data di peroleh.

Apabila peneliti menggunakan kuesioner /wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut responden, yaitu orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis atau lisan dan apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses sesuatu, serta apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumentasi atau catatanlah yang menjadi sumber data. Sedang isi catatan sebagai subjek penelitian atau variabel penelitian.

37

Dengan demikian data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data yang diklasifikasikan maupun analisis untuk mempermudah dalam menghadapkan pada pemecahan masalah, pengumpulan data dapat menggunakan data primer, dan data sekunder.

1. Data Primer, yaitu data yang berlangsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya. Data diperoleh melalui observasi yang bersifat langsung sehingga akurasinya lebih tinggi, akan tetapi sering kali tidak efesien karena untuk memperolehnya diperlukan sumber daya yang lebih besar. Data primer adalah data yang diperoleh untuk hasil wawancara secara langsung dengan kepala sekolah, guru, dan beberapa murid.

2. Data Sekunder, yaitu data yang biasanya disusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan geografis, data mengenai produktivitas atau sekolah, data mengenai persedian pangan disuatu daerah dan sebagainya. Data ini diperoleh penulis langsung dari pihak yang berkaitan, berupa jumlah murid, struktur kurikulum serta berbagai literatur yang relevan dengan penelitian.

F.Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti itu sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Menurut Sugiyono, dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atu alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus ”divalidasi”.

Validasi terhadap peneliti meliputi: pemahaman metode penelitian kualitatif, pengusaan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian baik secara akademik maupun logikanya.47

Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, wawancara, dan catatan dokumentasi.

1. Pedoman Observasi, pedoman Observasi dibuat sebagai panduan saat melakukan observasi. Dalam hal ini, peneliti akan mengunakan teknik observasi partisipasi, yaitu peneliti akan ikut terlibat dalam kegiatan yang di amatinya, atau dapat dikatakan peneliti ikut serta sebagai pemain.

2. Pedoman Wawancara, Pedoman wawancara dibuat sebagai panduan pengumpulan data saat melakukan wawancara. Pedoman wawancara ini

2. Pedoman Wawancara, Pedoman wawancara dibuat sebagai panduan pengumpulan data saat melakukan wawancara. Pedoman wawancara ini

Dokumen terkait