• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUKAN BUDAYA SEKOLAH A. Budaya

E. Tujuan Pendidikan Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah

Pendidikan Aswaja sebagai salah satu upaya perjuangan Nahdlatul Ulama di bidang pendidikan bertujuan untuk mewujudkan tujuan dasar NU, yaitu berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlusunnah wal Jama'ah agar tercipta tatanan masyarakat yang berkeadilan, kemaslahatan, kesejahteraan dan menjadi rahmat bagi semesta. Hal ini tertuang jelas dalam anggaran dasar Nahdlatul Ulama Bab IV Pasal 9 Ayat 2 tentang Tujuan dan Usaha Pendidikan, bahwa di bidang pendidikan, pembelajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran untuk membina umat agar menjadi muslim yang taqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil, serta berguna bagi agama, bangsa dan negara serta pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pendidikan Aswaja dikembangkan sebagai nilai pendidikan Islam di Indonesia. Di samping itu, pendidikan Aswaja muncul karena kebutuhan masyarakat, yaitu kebutuhan akan pendidikan agama dan moral.41 Tujuan aswaja sebenarnya adalah mengarahkan kepada pembentukkan generasi baru (generasi yang beriman dan berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam yang benar) yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dimana generasi baru itu bekerja untuk menformat umat dengan format Islam dalam semua aspek kehidupan dan menjadi teladan bagi orang lain dalam hukum-hukum Islam yang telah disyari‟atkan.42

Munculnya pendidikan Aswaja, tentu memiliki tujuan untuk:43 1. Menumbuh kembangkan aqidah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah

melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Aswaja sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT berdasarkan faham Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah.

2. Mewujudkan umat Islam yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu umat yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, etis, jujur dan adil (tawassuth dan I‟tidal), berdisiplin, berkeseimbangan (tawazun), bertoleransi (tasamuh), menjaga

41Buletin Al-Amin. dalam http://buletinalamin.blogspot.com/2013/05/peran pendidikanaswaja-dalam-lingkup.html. diakses tanggal, 22 September 2019.

42 Iwan Prayitno, Kepibadian Da‟i: Bahan Panduan bagi Da‟i dan Murobbi, Bekasi:

Pustaka tarbiyatuna, 2003, hal, 385.

43 Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Malang, Tim Penyusun Buku Pendidikan Agama Lembaga Pendidikan Ma‟arif NU Kabupaten Malang, Malang; Edutama Mulia, 2012, hal. 33.

keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah (amar ma‟ruf nahi munkar) dalam komunitas madrasah dan masyarakat.

Tujuan pendidikan Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah ini, sesuai dengan analisis penulis pada Visi dan Misi serta Tujuan SD Plus Daarul Fudlola Cibinong Bogor, Yaitu:

1. Visi:

Melahirkan generasi qur‟ani berdasarkan aqidah Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah yang berwawasan global

2. Misi:

a. Membangun dan mendidik generasi Islam yang cerdas, mandiri dan berprestasi akademik

b. Mengembangkan sistem pendidikan yang berkualitas dan berkarakter

c. Membangun dan mendidik generasi Islam yang berakhlak mulia dan beraqidah

3. Tujuan:

Mewujudkan sekolah Islam yang berwawasan global dengan peserta didik yang cerdas, sehat jasmani dan rohani, tanggap terhadap segala bentuk perubahan dengan berbekal karakter kepribadian Islam yang kuat dan menuju generasi yang berprestasi.

4. Indikator:

a. Optimal dalam imtak dan iptek b. Bertaqwa kepada Allah SWT

c. Melaksanakan kehidupan sehari-hari berlandaskan Al-Qur‟an dan Sunnah Rasul

d. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif dan berkualitas

e. Membangkitkan segala potensi siswa sesuai karakter Islam dengan menyenangkan

f. Membimbing para siswa menuju generasi yang berprestasi44 F. Implementasi Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah dalam Pendidikan

UU Sisdiknas No. 20 Th. 2003 Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Menurut pendapat lain juga

44 Hasil Survei Penulis pada Dokumen I tentang Kurikulum Sekolah dan Buku Pelajaran Siswa, pada 30 September 2019

menyebutkan bahwa tujuan didirikan Nahdlatul Ulama adalah untuk mngembangkan ajaran Islam Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah pula, yakni:

Tujuan dari pendidikan nahdlatul Ulama adalah untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan ajaran Islam Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah dan menganut salah satu madzhab empat. Masing-masing Imam Abu Hanifah An Nu‟mah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad Idris Asy-Syafi‟I dan Imam Ahmad bin Hambali, serta untuk mempersatukan langkah para ulama dan pengikut-pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.45

Selain itu adapun tujuan dari pendidikan aswaja di Madrasah ini adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam bertingkah laku, bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Dengan kata lain pendidikan aswaja bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan (al-fadhilah).46

Kemudian pendidikan aswaja dalam madrasah ter-cover dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan menjauhi keburukan dan kemungkaran”.47 Prinsip ini berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam, yaitu ketakwaan kepada Allah swt. Jadi fungsi pendidikan aswaja menekankan pada sikap, tabi‟at, dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan santri dalam sehari-hari. Agar hidupnya selalu terkontrol dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang pada hakikatnya menyempurnakan akhlak.

Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak).48

45 Khofifah Indar Parawanza, Aswaja, Jakarta: Himpunan Da‟iyah dan Majelis Ta‟lim Muslimat NU (HIDMAT), 2009, hal 18

46 Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, Bandung: Rosda Karya, 2013, hal. 143.

47 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2012, hal. 65.

48 Muhamad Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hal. 174.

Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi nilai-nilai Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan gagasan dalam suatu aktivitas mata pelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.

Dalam hal ini implementasi nilai-nilai Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah apabila dilakukan di SD Plus Daarul Fudlola maka akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan atau nilai serta prinsip-prinsip Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal.

Berbicara mengenai Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah pada dasarnya berbicara tentang islam itu sendiri. Sebab, konsep yang dikembangkan Aswaja tidak terlepas dari konsep Islam yang sebenarnya yang bersumber pada Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi. Dalam konteks pendidikan, pengkajian Ahl Sunnah wa al-Jama‟ah meliputi: sejarah Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah , aqidah, fiqih / ibadah dan akhlaq. Berbagai aspek tersebut merupakan landasan bagi terwujudnya keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia dan makhluq lainnya, atau yang dalam konsep Al-Qur‟an dikenal dengan Habl Min Allah wa Habl Min Al-Nas.

Nahdalatul Ulama (NU) yang berdiri pada tahun 1926 di Surabaya 49 merupakan bentuk nyata dari para ulama di Indonesia yang berupaya keras memperjuangkan kelestarian paham keagamaan Ahl as-Sunnah wa Jama‟ah . Oleh karena itu, mempelajari Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan masyarakat Indonesia dalam mengamalkan ajaran Islam yang merupakan sisi historis yang kuat dalam melatarbelakangi berdirinya NU, tentu saja harus pula dipelajari bagaimana para ulama kemudian membuat konseep-konsep keagamaan maupun gerakan kemasyarakatan melalui organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Pendidikan Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah (Aswaja) di SD Plus Daarul Fudloa merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar, terarah dan berkesinambungan untuk memperkenalkan dan menanamkan paham keagamaan Aswaja dan kepada peserta didik, agar mereka mengetahui, meyakini dan mengamalkannya dalam pengertian menjadikannya sebagai pedoman kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan Aswaja dilakukan melalui kegiatan

49 M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam Di Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998, hal. 1

pengajaran, pembiasaan bimbingan, latihan serta pengalaman belajar.

Hal ini selaras dengan yang disampaikan Kepala SD Plus Daarul Fudlola yang mengatakan bahwa:

“… pendidikan keagamaan yang berbasis Aswaja di karenakan pendidikan merupakan tanggung jawab bagi semua kalangan dan diri saya pribadi selaku pelaksana dalam pendidikan serta perubahan moral haruslah dilakukan dalam sebuah institusi pendidikan yang mampu menanamkan wawasan keislaman sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara kita.50

Kurikulum pembelajaran Aswaja dalam pendidikan antara lain:51 1. Jenjang SD

a. Perkembangan Islam di Indonesia

b. Pondok Pesantren sebagai pusat penyebaran Islam c. Lahirnya Nahdlatul Ulama

d. Amaliyah Nahdliyah

e. Sejarah perjuangan dan perkembangan nahdlatul ulama f. Paham Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah

g. Khittah dan ciri khas nahdlatul ulama 2. Jenjang SLTP

a. Bentuk dan system keorganisasian Nahdlatul Ulama b. Sejarah Perjuangan Nahdlatul Ulama

c. Kepemimpinan Nahdlatul Ulama d. Sumber Hukum Islam

e. Memahami dan mengamalkan ajaran Islam f. Sunnah dan bid‟ah

g. Pemikiran dan amaliyah Nahdlatul Ulama h. Firqah dalam Islam

i. Ma‟had Khaira Ummah

j. Al-Ukhuwwah al-Nahdliyyah al-Shaksiyah al-Nahdliyah k. Al-Qa‟idah al-Fiqhiyyah dasar perilaku jama‟ah Nahdliyyah l. Perilaku warga Nahdlatul Ulama

m. Kebesaran Nahdlatul Ulama 3. Jenjang SMA

a. Islam di Indonesia

b. Sejarah dan peran pondok pesantren c. Latar belakang kelahiran nahdlatul ulama

d. Peran nahdlatul ulama dalam dinamika sejarah bangsa

50 Wawancara Kepala SD Plus Daarul Fudlola pada 26 September 2019

51 M. Mahbubi, Pendidikan Karakter: Implementasi Aswaja Sebagai Nilai Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2012, hal. 35-37

e. Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah dan firqah dalam Islam f. Taqlid dan Ijtihad

g. Bermadzhab dan pengambilan keputusan hukum h. Nilai dasar Nahdlatul Ulama

i. Kepemimpinan dalam Nahdlatul Ulama j. Kembali ke Khittah 1926

k. Nahdlatul Ulama dan organisasi keagamaan l. Al-Ukhuwwah al-Nahdliyyah

m. Al-Amaliyah al-Nahdliyyah

Di SD Plus Daarul Fudloa, kurikulum keagamaan yang berbasiskan Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah tidak hanya ada didalam pembiasaan, tetapi juga dalam muatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

“Implementasi budaya Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah tidak hanya diterapkan dalam bentuk pembiasaan-pembiasaan saja, akan tetapi pembentukan budaya Ahl as-Sunnah wa al-Jama‟ah tersebut juga dimasukkan dalam Kurikulum SD Plus Daarul Fudlola dalam bentuk muatan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam perpaduan Diknas dan khas Daarul Fudlola.”52