• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

C. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan ialah apa yang direncanakan oleh manusia. Letaknya sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannyalah dia menata tingkah lakunya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan (Rosyadi, 2004: 161).

Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari cara pandang seseorang terhadap hakikat manusia itu sendiri. Demikian halnya Ibn

47

Khaldun, ketika mengemukakan tujuan pendidikan Islam, pandangannya pun tidak terlepas dari hakikat manusia sebagaimana yang beliau pahami.

Ibn Khaldun memang tidak menuliskan dalam satu pembahasan tentang tujuan pendidikan Islam. meskipun demikian, para tokoh pendidikan mencoba untuk menyimpulkan tujuan pendidikan Islam yang ditawarkan Ibn Khaldun dengan melacak pemikirannya tentang pendidikan sebagaimana tertuang dalam kitab Muqaddimah.

Menurut Ramayulis dan Samsul Nizar, tujuan pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Ibn Khaldun bersifat universal dan beraneka ragam. Tujuan tersebut dapat dilihat dalam tiga hal, yaitu tujuan peningkatan pemikiran, tujuan peningkatan kemasyarakatan, dan tujuan dari segi rohaniah.

1. Tujuan peningkatan pemikiran

Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan ketrampilan. Dengan menuntut ilmu dan ketrampilan, seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di samping itu, melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang telah diperoleh para pendahulunya. Manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginvetarisasikan ketrampilan-ketrampilan yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa sebagai hasil dari aktivitas akal manusia.

48

Mengenai tujuan pertama ini, penulis juga memahami bahwa tujuan peningkatan pemikiran atau pendidikan intelektual ini sesuai dengan konsepnya tentang “manusia sebagai makhluk berfikir”

Atas dasar pemikiran tersebut, maka tepatlah jika dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam, menurut Ibn Khaldun, adalah untuk meningkatkan kecerdasan manusia dan kemampuan berpikir. Pentingnya tujuan untuk meningkatkan kecerdasan ini berangkat dari konsep Ibn khaldun tentang tingkatan kecerdasan manusia yang mempengaruhi kesempurnaan eksistensi manusia. Oleh karena itu, pendidikan mesti diarahkan untuk membekali peserta didik dengan sebagai ilmu pengetahuan yang dapat meningkatkan kecerdasan akalnya sehingga manusia menjadi Ihsan al-Kamil.

2. Tujuan peningkatan kemasyarakatan

Tujuan yang kedua tentang hakikat manusia sebagai “makhluk sosial”. Bagi Ibn Khaldun, ilmu pengetahuan dan pendidikan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia. Namun antara pendidikan dengan peradaban memiliki kaitan yang sangat erat. Menurutnya, aktivitas ilmiah dan pendidikan hanya akan berkembang di kota-kota dan masyarakat yang memiliki peradaban yang berkembang pesat. Jika peradaban suatu masyarakat hancur, maka aktivitas ilmiah pun akan sirna dan berpindah ke kota-kota lain.

Meskipun ilmu pengetahuan dan pendidikan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang berperadaban tinggi, namun di sisi lain Ibn Khaldun juga berpendapat bahwa masyarakat yang berperadapan itu pun terbentuk karena adanya peran pendidikan. Beliau menyebutkan, “Tampaknya, kelebihan masyarakat

49

berperadaban sebagai akibat polesan tertentu dari keahlian-keahlian dan pengajaran ilmiah yang mereka terima”. Dari pertanyaan tersebut jelaslah bahwa salah satu tujuan pendidikan Islam ialah membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi. 3. Tujuan dari segi rohaniah

Dari segi rohaniah, tujuan pendidikan Islam ialah meningkatkan kerohanian manusia dengan menjalankan praktik ibadah, zikir, khalwat (menyendiri) dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakuakan oleh para sufi (Khaldun, 2012: 57-61).

Selain dari pendapat tersebut, tujuan pendidikan Islam menurut hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia, tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor, adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudu luhur menurut ajaran Islam. Tujuan tersebut didasarkan kepada proposisi bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam (Syafaat dkk, 2008: 33-34).

Istilah membimbing, mengarahkan dan mengasuh serta melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan yaitu menambah taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam (Djumransjah dan Amrullah, 2007: 72).

Oleh karena itu,pendidikan Islam bertujuan menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan,

50

dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya (secara perorangan maupun secara berkelompok). Dan, pendidikan ini mendorong semua aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.

Dasar untuk semua itu adalah firman Allah dalam QS al-An‟am: 162.



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ





َ



َ



َََ َ

Artinya: Katakanlah. Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Syafaat dkk, 2008: 34).

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkan hasil rumusan peserta Kongres pendidikan Islam se Dunia ke II, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan diri pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal fikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual maupun kelompok, serta mendorong aspek-aspek itu ke arah kebaikan dan ke arah penyempurnaan kesempurnaan hidup.

Dari uraian tadi dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan adalah meningkatkan taraf kehidupan manusia melalui seluruh aspek-aspek yang ada sehingga sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan proses tahap demi tahap, manusia dapat mencapai kematangan hidup (maturity) setelah mendapatkan bimbingan dan arahan melalui proses pendidikan.

51

b. Menurut Imam Ghozaly tujuan pendidikan Islam yang hendak di capai ialah pertama, kesempurnaan manusia yang puncaknya adalah dekat kepada Allah. Kedua, kesempatan manusia yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, berusaha mengajar manusia agar mampu mencapai tujuan-tujuan yang dirumuskan tadi.

Jadi, menurut al-Ghozali ada dua tujuan pendidikan yang ingin di capai sekaligus, yaitu kesempurnaan manusia yang bertujuan mendekatkan diri dalam arti kualitatif kepada Allah swt, serta kesempurnaan manusia yang bertujuan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Walaupun bentuknya hanya satu tetapi ibarat pisau bermata dua. Untuk menjadikan insan kamil (manusia paripurna) tidaklah tercipta dalam sekejap mata, tetapi mengalami proses yang panjang dan ada prasyarat-prasyarat yang harus dipenuhi diantaranya mempelajari berbagai ilmu, mengamalkannya, dan menghadapi berbagai cobaan yang mungkin terjadi dalam proses kependidikan itu.

c. Dr. Muhammad Athiyah al-Abrasyi (seorang ahli pendidikan Mesir) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlaqul karimah adalah tujuan utama pendidikan Islam. para Ulam‟ dan sarjana Muslim dengan penuh perhatian berusaha menanamkan akhlak mulia yang merupakan fadilah dalam jiwa anak didik sehingga mereka terbiasa berpegang kepada moral yang tinggi dan terhindar dari hal-hal yang tercela dan berfikir secara rokhaniah dan jasmaniah (perikemanusiaan) serta menggunakan waktu buat belajar ilmu-ilmu duniawi dan ilmu keagamaan tanpa memperhitungkan keuntungan-keuntungan materi (Djumransjah dan Amrullah, 2007: 72-74).

52

d. Pada kajian yang di buat Prof. Abdurrahman an-Nahlawi dalam bukunya, Dasar-dasar Pendidikan Islam dan Metode-metode Pengajarannya, empat tujuan umum ditampilkan, yaitu:

1) Pendidikan akal dan persiapan pikiran. Pendidikan Islam memandang dengan penuh terhadap pemikiran, renungan dan meditasi. Allah menyuruh kita untuk memikirkan kejadian langit dan bumi supaya kita bergantung pada akal kita untuk sampai kepada keimanan yang sempurna kepada Allah. Dengan ini maka persiapan di antara perkara-perkara terpenting yang digalakkan oleh Islam.

2) Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak-anak. Islam adalah agama fitrah, bahkan ia adalah “fitrah yang manusia diciptakan sesuai dengannya”, tidak ada kesukaran dan perkara luar biasa. Islam memandang bahwa tugas pendidikan adalah menguatkan fitrah kanak-kanak, menjauhkan diri dari kesesatan, dan tidak menyeleweng dari kesucian dan kelurusannya.

3) Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik laki-laki maupun perempuan.

4) Berusaha untuk menyeimbangkan segala kekuatan dan kesediaan-kesediaan manusia. Dan tujuan atau prinsip yang menjadi dasar pendidikan Islam ini, memberikan kepada kita hasil yang penting, yakni tidak membatasi kerja pendidik itu pada pendidikan pikiran saja, tapi juga keharusan memberi perhatian pada segi-segi psikologis kanak-kanak dan kesediaan-kesediaannya sewaktu timbulnya.

53

e. Menurut Muhammad Quthb, tujuan umum pendidikan Islam adalah manusia yang taqwa, itulah manusia yang baik menurutnya. Sungguh yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah ialah yang paling tinggi tingkat ketaqwaannya.

f. Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Di antar tujuan-tujuan khusus adalah sebagai berikut: 1) Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada al-Qur‟an, berhubungan

dengannya, membaca dengan baik, memahinya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.

2) Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam dan pahlawan-pahlawannya dan mengikuti jejak mereka.

3) Menanamkan iman yang kuat kepada Allah pada diri mereka, menguatkan perasaan agama, menyuburkan hati mereka dengan kecintaan, zikir dan taqwa kepada Allah.

4) Membersihkan hati mereka dari dengki, iri hati, benci, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifaq, ragu, perpecahan dan perselisihan (Rosyadi, 2004: 162-172).

Dari beberapa pendapat para ahli tentang tujuan pendidikan Islam tadi jelaslah bahwa tujuan pendidikan Islam itu tidak sempit. Tujuan pendidikan Islam menjangkau seluruh lapangan hidup manusia yang selalu berorientasi kepada penyerahan diri kepada Allah swt. Jadi, cita-cita dan nilai-nilai yang ingin diwujudkan oleh pendidikan Islam bukan bersifat aksidental dan insidental tetapi

54

melampaui wawasan duniawi yakni yang bernilai transcendental untuk kebahagiaan hidup setelah manusia mati (Djumransjah dan Amrullah, 2007: 74).

Jadi tujuan akhir pendidikan Islam adalah membina manusia agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara individual maupun secara komunal dan sebagai umat seluruhnya. Setiap orang semestinya menyerahkan diri kepada Allah karena penciptaan jin dan manusia oleh Allah adalah untuk menjadi hamba-Nya yang memperhambakan diri (beribadah) kepada-Nya. Allah swt menjelaskan hal ini melalui firman-Nya dalam QS Al-Dzariat 56



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َََ َ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Depag,1982:862).

Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam jika diringkas adalah mendidik manusia agar menjadi hamba Allah seperti Nabi Muhammad saw. Sifat-sifat yang harus melekat pada diri hamba Allah itu adalah sifat-sifat yang tercermin dalam kepribadiannya. Di antara sifat-sifat itu adalah:

a) Beriman dan beramal saleh untuk mencapai hasanah fiddunnya dan hasanah fil akhirah.

b) Berilmu yang dalam dan luas, bekerja keras untuk kemakmuran kehidupan dunia.

c) Berakhlak mulia dalam pergaulan. d) Cakap memimpin di permukaan bumi.

e) Mampu mengolah isi bumi untuk kemakmuran umat manusia.

f) Dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad saw yang lainnya (Syafaat dkk, 2008: 34-35).

55

Dokumen terkait