BAB I PENDAHULUAN
C. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian merupakan usaha untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan yang dirumuskan. Sesuai dengan rumusan masalah yang ditetapkan maka tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan penguasaan kosakat Bahasa Indonesia dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas V SDN No.09 Altar Kabupaten Jeneponto.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Pentingnya suatu penelitian didasarkan atas manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diantaranya adalah:
1. Manfaaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikn wawasan tentang hubungan penguasaan kosakata Bahasa Indonesia dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas V SDN 09 Altar Kabupaten Jeneponto.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat : (1) memberikan sumbangan pemikiran terhadap guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk menyusun strategi pengajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam peningkatan kemampuan menulis cerpen; (2) bagi siswa, dapat dijadikan sarana untuk membantu meningkatkan kemampuan menulis cerpen; (3) menjadi masukan yang berguna bagi penyusunan buku pelajaran dan penyusunan kurikulum pelajaran, khususnya pengajaran Bahasa Indonesia; (4) sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan penelitian bekenaan dengan hubungan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis cerpen siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka
1. Penelitian yang relevan
penelitian yang pernah mengkaji tentang penguasaan kosakata siswa yang bersifat korelasional dilakukan oleh
a. Mustafa (2000), dengan judul “Hubunga Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia dengan Pemahaman Membaca Siswa Kelas V SD Inpres Mannuruki Raya”.
b. Salma (2005), dengan judul “Pembelajaran Kosakata Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas I SDN 7 Mario Kab.
Takalar”.
c. Mei Wulan Sari (2010), dengan judul “Pengaruh Penguasaan Kosakata Terhadap Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi pada Siswa Kelas VII A SMP Negri 2 Kudus”.
Ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara penguasaan kosakata Bahasa Indonesia terhadap kemampuan menguasai aspek berbahasa.
2. Menulis
a. Pengertian Menulis
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang atau membuat surat) dengan
6
tulisan. Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis bisa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat seperti pena atau pensil.
Nurdin (2007:4) mengungngkapkan bahwa “menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami”.
Defenisi di atas mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami orang lain.
Aktivitas menulis merupakan bentuk menifestasi kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai pelajar bahasa setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca. Kemampuan menulis lebih sulit dikuasai oleh penutur bahasa asli yang bersangkutan sekalipun.
Sumarno (2009:5) mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu
“meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain”.
Jakob sumarjo (dalam Komaidi 2011), mengemukakan bahwa “menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan”. Banyak yang melakukannya secara spontan, dan ada juga yang berkali-kali mengadakan koreksi dan penulisan kembali.
Lebih lanjut, Komaidi (2007:12) mengemukakan bahwa :
ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari menulis, diantaranya : a) melatih kepekaan terhadap realitas kehidupan sekitar, b) mendorong kita agar semakin menambah wawasan dengan memperbanyak referensi buku kita ketika ingin menulis, c) dapat melatih untuk melihat dari sisi pisikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stress kita, d) menjadi popular dan dikenal oleh public pembaca. Jadi aktivitas melulis adalah aktivitas yang juga mempunyai banyak manfaat baik itu secara intelektual, pisikologis, ekonomis, budaya dan sejenisnya bagi siapapun orang yang
ingin melakukannya mendapatkan kepuasan batin karena tulisan kita bisa bermanfaat oleh orang lain.
Tulisan yang baik haruslah mencerminkan suatu pernyataan yang bermakna bagi seseorang dan mempunyai bukti yang kuat terhadap apa yang ditulis. Tulisan yang mengulang apa yang diketahui kebanyakan membosankan pembacanya. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, subjek harus terlebih dahulu mempelajari sifat pembaca, kemudian menyesuaikan dengan tulisannya.
Sebuah tulisan dikatakan jelas, jika pembaca dapat membacanya dengan kecepatan yang tepat dan mengungkapkan maknanya dengan cara yang wajar.
Tulisan yang jelas tidak harus sederhana, meskipun tidak sering demikaian.
Kejelasan tidaklah semata-mata mudah dipahami melainkan juga karangan itu tidak mungkin disalah tafsirkan pembaca.
Seorang ahli keterampilan mengarang Harry Shaw (dalam Gie 2002:34) menyatakan bahwa “kejelasan merupakan cirri tunggal yang penting dalam penulisan yang baik, karena itu lebih baik daripada ciri lain dari bahasa, membantu menyampaikan pikiran dari penulis kepada pembaca”.
Sebuah tulisan dikatakan padu dan utuh, jika pembacanya dapat memahaminya dengan baik karena diorganisasikan secara wajar. Dan pembaca merasa tidak tersesat oleh pengaruh alur pikiran objek. Penulis yang baik tidak akan membiarkan waktu pembaca dengan sia-sia, sehingga ia akan membuang semua kata berlebihan dari tulisannya. Seorang penulis yang ingin mengikat perhatian pembacanya haruslah berusaha untuk menjaga agar karangannya tetap padat lurus kedepan.
Dalam rangka pengembangan pengetahuan teknologi modern sekarang ini peranan komunikasi dengan bahasa tulis semakin penting. Sejumlah penemuan dari berbagai ilmu pengetahuan “Diabadikan” dengan menggunakan tulisan, baik berupa artikel, buku, microfilm maupun yang disebarkan melalui website diinternet. Keadaan semacam itu menuntut pembelajaran untuk menguasai keterampilan menulis, terutama menulis karya ilmiah.
Kegiatan menulis pada dasarnya adalah suatu bentuk kegiatan berfikir yang membangkitkan pengetahuan dan pengalaman seseorang yang tersimpan dalam alam bawah sadar. Tujuan kegiatan menulis adalah untuk menghasilkan ide-ide baru, menyerap, dan menguasai informasi baru.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan mengungkapkan pikiran atau gagasan melalui lambang (tulisan).
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak bertatap muka dengan orang lain.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif. Dalam kegiatan menulis, penulis harus terampil dalam memanfaatkan geofologi, struktur bahasa dan kosakata.
b. Kemampuan Menulis
Kemampuan menulis sangat penting dimiliki untuk menunjang tugas-tugas keseharian yang terkait dengan tulis menulis. Mulai dari menulis laporan, karya sastra, menulis skripsi atau tesis atau menulis karya lainnya. Beberapa alasan yang menyebabkan kemampuan menulis menjadi penting .
Menurut pendapat Horiston (dalam Basri, 2005:11), yaitu:
1) Kegiatan menulis adalah suatu sarana untuk menemukan sesuatu dalam hal ini gegiatan menulis pikiran dapat dirangsang dan kalau itu dilakukan dengan intensif maka akan dapat membuka penyumbat otak dalam rangka menyangkut ide dan informasi yang ada dialam bawah sadar pemikiran.
2) Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru, terutama terjadi jika dibuat hubungan antara ide yang satu dengan ide yang lain dan melihat keterkaitannya secara keseluruhan.
3) Kegiatan menulis dapat melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide yang dimiliki. Mulai kegiatan menuliskan berbagai ide itu berarti penulis harus mengaturnya didalam suatu bentuk yang padu.
4) Kegiatan menulis dapat melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang. Dengan menuliskan ide-ide kedalam suatu tulisan berarti akan melatih diri untuk membiasakan membuat jararak tertentu terhadap ide yang dihadapi dan mengevaluasinya.
5) Kegiatan menulis dalam sebuah bidang ilmu dengan dimungkinkan penulis untuk menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.
Berbagai manfaat di atas menunjukkan bahwa dengan berlatih menulis terus menerus akan dapat menjadikan seseorang mahir ide-idenya didalam menulis , dan akan bertambah pula kepercayaan dirinya.
Beberapa tahap dalam latihan menulis yang dikemukakan Baradja (dalam Satriani, 2006:14), yaitu:
1) mencontoh yakni pembelaajaran menulis melalui atau sesuai contoh, 2) reproduksi, yakni pembelajaran menulis tanpa model, 3) rekombinasi atau transformasi, yakni pembelajaran melalui menggabungkan kalimat yang ada pada mulanya berdiri sendiri menjadi gabungan beberapa kalimat, 4) menulis terpimpin pembelajar mulai berkenalan dengan menulis alinea, 5) menulis, yakni pembelajar mulai menulis bebas untuk mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan yang sebenarnya.
c. Langkah-langkah Menulis
Menurut Yunus (dalam Munirah 2015:14) mengemukakan, “dalam menulis ada tiga fase yang harus diperhatikan yaitu; (1) fase prapenulisan, (2) fase
penulisan, dan (3) fase pascapenulisan’’. Selanjutnya Yunus menjelaskan bahwa tahap prapenulisan ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya ialah mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan dalam menulis sehingga hal yang ditulis dapat disajikan dengan baik.
1) Fase prapenulisan a) Menentukan Topik
Sebelum memulai menulis, masalah yang pertama dihadapi adalah merumuskan topik. Topik adalah pokok pembicaraan atau masalah yang akan dibahas Nafiah (dalam Munirah 2015:14).
Munirah (2015:15) Masalah yang sering muncul dalam memilih topik adalah:
a) Banyak pilihan, semua topik menarik, dan dikenal dengan baik. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya dipilih topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan penulis
b) Banyak pilihan, semua topik menarik, akan tetapi pengetahuan akan topik itu serba sedikit. Untuk mengatasinya dipilih topik yang paling dikuasai dan mudah dicari informasi pendukungnya.
c) Tidak memiliki ide sama sekali tentang topik yang menarik hati penulis.
d) Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas.
Lebih lanjut Munirah (2015:15) mengatakan :
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis topic karanga, yaitu (1) Bermanfaat dan layak untuk dibahas (2) Cukup menarik bagi pembaca (3) Materi tentang topik itu dikuasai dengan diperoleh (4) Bahan atau informasi pendukung dapat diperoleh (5) Topik yang dipilih itu memadai jangkauannya dalam arti tidak terlalu luas atau terlalu sempit.
b) Memperlihatkan Maksud dan Tujuan Penulisan
Penulis menentukan tujuan menulis karangan dengan topik. Selain itu penulis penulis menentukan maksud karangannya. Untuk membantu merumuskan tujuan, ia dapat bertanya pada diri sendiri, alasan ia menulis dengan topik yang dipilihnya.
c) Memperhatikan Sasaran Karangan
Dalam berkomunikasi lisan (berbicara) dengan orang lain, pembicara berharap bahwa pendengar dapat memahami atau menanggapi pesan yang akan disampaikan. Begitu pula dengan halnya menulis. Lazimnya, orang menulis karena ada orang lain yang diharapkan membaca. Memahami dan menanggapi tulisan untuk menyampaikan kepada pembaca penulis harus memperhatikan orang yang akan membaca tulisan terebut, tingkat pendidikan an status sosialnya serta hal yang diperlukannya.
d) Mengumpulkan informasi Pendukung
ketika akan menulis , kita tidak selalu memiliki bahan atau informasi yang benar-benar siap dan lengkap. Untuk itulah, sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam, dan memperkaya tulisan kita.
e) Mengorganisasikan Ide dan Informasi
Setelah memilih topik, menentukan tujuan, memikirkan kemampuan dan sasaran pembaca, serta mengumpulkan informasi pendukung. Langkah
selanjutnya adalah mengorganisasikan atau menata ide karangan agar saling bertaut, runtut, dan padu.
2). Fase Penulisan
Pada sebelumnya, telah dibahas tentang bagaimana menentukan topik tujuan, maksud dan sasaran karangan mengumpulkan informasi yang relevan dan membuat kerangka karangan.
Seperti yang dipaparkan oleh Munirah (2015:17) bahwa
Penulis dalam mengembangkan karangannya sebaiknya terlepas dari pemahaman kerangka sebagai miniatur kerangka sehingga karangan tersebut mengembalikan pembaca pada inti ide karangan. Pada saat mengembangkan setiap ide menjadi suatu karangan utuh penulis mengambil keputusan tentang kedalaman dan keluasan isi, jenis informasi ysng akan disajikan, pola organisasi karangan masuk didalamanya pengembangan alinea, serta gaya dan cara pembahasan pilihan kata.
pengalimatan dan pengalineaan. Tentu saja kepuasan itu akan diselaraskan dengan topik, tujuan, corak, karangan dan pembaca karangan sendiri.
Menurut Keraf (dalam Munirah 2015:18) isi karangan terbagi atas tiga bagian yaitu: (1) pendahuluan, (2) tubuh karangan dan (3) kesimpulan. Bagian pendahulua bertujuan untuk menarik perhatian pembaca , memusatkan perhatian pembacanya terhadap masalah yang dibicarakan dan menunjukkan dasar yang sebenarnya dari uraian itu , sedangkan bagian tubuh merupakan bagian utama karangan . dalam tubuh karangan terletak masalah yang akan dibahas secara sistematis.
3). Fase Pascapenulisan
Tahap pascapenulisan ada dua yaitu revisi dan penerbitan jika akan diterbitkan. Tahap revisi merupakan tahap penelitian secara menyeluruh mengenai
logika, pilihan kata, kalimat, paragraf. Pengetikan catatan kaki dan sebagainya.
Tahap ini sangat diperlukan karna untuk penerbitan dibutuhkan tulisan yang baik dan benar. Jadi sebelum penerbitan harus dilakukan revisi terlebih dahulu.
d. Azas-azas Kegiatan Menulis
Pada kegiatan menulis telah dikembangkan sejumlah azas menulis berdasarkan pengalaman. Azas-azas yang efektif untuk menghasilkan tulisan yang baik perlu dipahami oleh setiap penulis dalam melakukan kegiatannya. Ada tiga azas utama dalam menulis, yaitu clarity (kejelasan), conciseness (keringkasan), dan correctness. (Gie, 2002:33)
1) Kejelasan
Azas yang pertama dalam menulis adalah kejelasan. Setiap bahasa tulis harus dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca. Azas kejelasan tidaklah semata-mata mudah dipahami, melainkan juga karangan itu tidak akan mungkin disalahtafsirkan oleh pembaca.
Seorang keterampilan ahli mengarang Harryu Shaw (dalam Gie , 2002:34) mengatakan bahwa
kejelasan merupakan ciri tunggal yang baik dari penulisan yang baik, karena iu lebih daripada cirri yang lainnya dari bahasa, membantu menyampaikan pikiran daripada penulis kepada pembaca kepada pendengar.
2) Keringkasan
Azas keringkasan tidak semua karangan mesti pendek. Keringkasan berarti bahwa suatu karangan tidak menghamburkan kata-kata secara semena-mena, tidak
mengulang butir ide yang dikemukakan, tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan dengan berbagai kalimat berkepanjangan.
3) Ketepatan
Azas ketepatan adalah menggunakan kata dalam kalimat yang tepat dalam karangan berdasarkan bentuk.
e. Macam-macam Menulis
Menurut Mnirah (2015:10) berdasarkan sifat dan teknik penyajiannya, dikenal empat jenis menulis yaitu (1) narasi, (2) deskripsi, (3) eksposisi, (4) argumentasi
a). Narasi
Secara sederhana narasi dekenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Didalam kejadian itu da pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsure itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plotatau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung ataupun cergam.
b). Deskripsi
Karangan ini berisi gambaran suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengarkan, atau merasakan hal tersebut. Menurut
Syafi’ie 1990 (dalam Munirah 2015:12) “deskripsi ialah tulisan yang melukiskan sesuatu dengan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) yang dilikiskan itu sesuai citra penulisnya”.
Wacana deskripsi ada dua macam, yaitu wacana deskripsi yang faktawi (objektif) dan wacana deskripsi yang khayali (imajinatif). Wacana deskripsi yang pertama, merupakan wacana yang berusaha memberikan bangun, ukuran, susunan, warna, bahan sesuatu menurut kenyataannya dengan tujuan menyampaikan atau member informasi saja. Wacana deskripsi yang berusaha menjelaskan ciri-ciri fiksi , sikap seseorang, keadaan suatu tempat dan sebagainya menurut khayalan penulisnya. Hal ini bertujuan membuat alur cerita dapat memberikan keingintahuan pembaca.
c). Eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelas tentang suatu topik dengan tujuan member informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik. Syafi’ie 1990 (dalam Munirah 2015:10) menyatakan bahwa eksposisi adalah wacana berusaha atau menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembaca.
d) Argumentasi
Munirah (2015:13) menjelaskan bahwa:
Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan argumentasi berwujud usaha untuk mengajukan bukti-bukti atau menentukan kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat penulis mengenai hal dibahas.
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat atau kesimpulan dengan data atau fakta sebagai alas an atau bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alas an sebagai penyokong opini tersebut.
3. Kosakata
a. Pengertian dan Ruang Lingkup Kosakata
Penguasaan terhadap kosakata adalah mutlak diperlukan oleh setiap pemakai bahasa, selain merupakan alat penyalur gagasan, penguasaan terhadap sejumlah kosakata dan dapat memperlancar arus informasi yang diperlukan melalui komunikasi lisan maupun tulisan. Misalnya, seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan paling tidak ia telah memiliki tingkat penguasaan kebahasaan yang cukup memadai jika tidak komunikasi yang dilakukan tidak akan berjalan lancar dan sempurna. Penggunaan kosakata secara tulis, seperti membuat karangan sebaiknya penulis harus benar benar memperhatikan kosakata yang tepat untuk digunakan. Dengan demikian makna yang terkandung dalam tulisannya akan mudah dipahami oleh pembacanya.
Adwinarta (dalam Martono, 1990:5) mengartikan kosakata sebagai berikut:(1) semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa; (2) kata yang dikuasai oleh seseorang atau kata-kata yang dipakai oleh segolongan orang dalam lingkungan yang sama; (3) daftar sejumlah kata atau fase dari sebuah bahasa yang disusun secara alfabetis disertai bahasa dan keterangannya.
Keraf (1996:58) mengatakan bahwa kosakata adalah keseluruhan kata yang ada dalam ingatan seseorang yang segera akan menimbulkan reaksi bilamendengar atau membaca.
Shinmura dalam Sudjianto (2004:1997) kosakata dapat diartikan sebagai keseluruhan kata yang berkenaan dengan suatu bahasa atau bidang yang ada di dalamnya. Kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kosakata adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh suatu bahasa, baik yang diucapkan, didengar, ditulis, maupun dibaca. Selanjutnya yang dimaksud dengan penguasaan kosakata dalam penelitian ini dalah kemampuan sesorang memperdalam dan menggunakan kekayaan kata ataupun istilah-istilah suatu bahasa, baik dalam berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan konsep-konsep yang ditentukan.
b. Fungsi Dan Peranan Kosakata
Kosakata memegang peranan dan fungsi yang sangat penting seperti dikemukakan Tarigan (1979:15) bahwa bila seorang guru bahasa mengatur serta melengkapi suatu program pengembangan kosakata dengan sistematis, pada prnsipnaya dia telah mengubah kehidupan para siswa. Kosakata memiliki fungsi dan peranan yang sangat pentingdalam kehidupan berbahasa, khususnya dalam berkomunikasi. Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan perasaan secara tepat apabila tidak menguasai kosakata secara baik.
Dalam pengajaran bahasa, khususnya pada pembahasan kosakata, guru sebaiknya dapat menmanfaatkan pertumbuhan dan perkembangan khazanah kosakata sehingga pelajar dapat memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang
lebih banyak lagi. Kosakata dapat berfungsi untuk meningkatkan taraf perkembangan konseptual para siswa. Yang dimaksud taraf perkembangan konseptual adalah perkembangan pengertian atau konsepsi para siswa terhadap sebuah kata yang mempelajari sebuah kaidah-kaidah pada perubahan perubahan kata dan jenis kata satu kejenis kata yang lain.
Penguasaan sebuah kata baru akan membawa efek serta pengaruh luasdalam kehidupan. Siswa yang mempelajari kata-kata baru akan terpacu untuk mencari penerapan-penerapan baru dalam kehidupannya. Jadi kosakata dapat mengubah kehidupan berbahasa siswa. Para siswa belajar dengan baik membuat pembendaharaan makna kata-kata dengan cara: (1) memperlihatkan kata-kata yang termasuk kedalam kelas atau kelompok kata tertentu; dan (2) memakainya sesuai dengan tautan situasi.
Untuk mengetahui tingkat kosakata dan kemampuan mental siswa, maka dapat diketahui segala sesuatu yang mereka pelajari, tempat mereka berada, seluk beluk mereka, kehalusan budi rasa dan akal pikiran mereka. Lebih jelasnya dapat dikatakan bahwa antara berbahasa dengan proses berpikir terdapat hubungan yang begitu erat.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kosakata memegang fungsi dan peranan yang amat penting dalam keterampilan berbahasa. Kosakata dapat menambah perbendaharaan kata dan pandangan hidup mereka semakin luas.
c. Pembagian Kosakata dalam Bahasa Indonesia
Wijowasito (1978:56) menggolongkan atas : (1) kata benda, (2) kata kerja, (3) kata sifat, (4) kata tambah, (5) kata penghubung, (6) kata seru, (7) kata bilangan, (8) kata ganti, dan (9) kata depan.
Moeliono, dkk (1988:62) menggolonkan jenis kata kedalam tujuh kelas yaitu:
1) Verba atau kata kerja adalah semua kata yang menyatakan perbuatan, misalnya: mengetik, menulis, memasak, melihat, mencuci dan lain-lain. 2) Nomina atau Kata Bendaadalah nama dan semua benda dan segala yang diadakan , misalnya: Tuhan, udara, rumah, buku, dan lai-lain. 3) Pronominal adalah kata yang dipakai untuk mengacu kenomina. Pronominal ini meliputi (a) pronominal persona (aku, dia, anda, dan mereka), (b) pronominal petunjuk (ini, begini, demikian), dan (c) pronominal penanya (apa, siapa, mengapa, di mana, kapan, bagaimana). 4) Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya wujud konsep. Numeralia dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu (a) pokok (satu, dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu, sejuta), (b) tingkat (pertama, kedua, terakhir), (c) pecahan (seperdua , seperempat, sepersepuluh). 5) Adjektiva adalah kata yang dipakai untukmenyatakan sifat atau keadaanorang, benda, binatang, (putih, kurus, cantik, bersih). 6) Adverbial adalah kata yang memberikan keterangan pada verba. 7) kata tugas adalah kata yang tidak mempunyai makna leksikal, hanya mempunyai makna gramatikal. Semua kata tugas tidak mengalami perubahan bentuk.
d. Sumber Kosakata Bahasa Indonesia
Kosakata ini dapat dijadikan bahan istilah kata umum, baik yang lazim maupun yang tidak lazim digunakan, sebagai contoh:
a) Gulma jika dibandingkan dengan tumbuhan pengganggu b) Babu jika dibandingkan dengan pembantu rumah tangga
Istilah ini dapat berupa kata umum yang diberikan makna khususdengan jalan meluaskan atau menyempitkan makna asalnya.
e. Kosakata Bahan Serumpun
Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dapat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat, yang dimaksudkan, maka yang dipilih untuk mewakili kosakata tersebut berasal dari bahasa serumpun.
Misalnya:
Gambut dalam Bahasa Banjar Nyeri dalam Bahasa Sunda f. Kosakata Bahasa Asing
Jika dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Serumpun tidak ditemukan istilah yang tepat, maka bahasa asing dapat dijadikan sumber peristilahan. Bahasa Indonesia, hal ini dilakukan dengan jalan menerjemahkan dan menyerap kedalam Bahasa Indonesia. Misalnya dalam Bahasa Arab:
Badan Sial
Awal Pasal
g. Aspek Semantik Peristilahan
1). Sinonim
Sinonim adalah kata-kata yang mengandung arti pusat yang sama, tetapi berbeda dalam nilai kata (Tarigan, 1984 : 78).
Contoh :
penjara = lembaga pemasyarakatan tawa = senyum
iri hati = cemburu
Sudirman (2007 : 44) mengemukakan bahwa sinonim adalah hubungan makna yang dinyatakan oleh adanya kesamaan makna antar satuan ujaran dengan
Sudirman (2007 : 44) mengemukakan bahwa sinonim adalah hubungan makna yang dinyatakan oleh adanya kesamaan makna antar satuan ujaran dengan