• Tidak ada hasil yang ditemukan

b. F(Zi), dihitung dengan menggunakan distribusi table z, dari nilai -1,59 diperoleh 0,0559

c. Menghitung proporsi S(Zi) = = = 0,0968 d. Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) = 0,0559 – 0,0968 = 0,0409

2. Post Test

Tabel Uji Normalitas Post Test Kelas Kontrol

No X f fkum Zi F(Zi) S(Zi) [F(Zi)- S(Zi)]

1 55 1 1 -1.95 0.0256 0.0323 0.0067 2 60 4 5 -1.43 0.0764 0.1613 0.0849 3 65 4 9 -0.90 0.1841 0.2903 0.1062 4 70 5 14 -0.37 0.3557 0.4516 0.0959 5 75 4 18 0.15 0.5596 0.5806 0.0210 6 80 8 26 0.68 0.7518 0.8387 0.0869 7 85 3 29 1.21 0.8869 0.9355 0.0486 8 90 2 31 1.73 0.9582 1.0000 0.0418

Dari tabel diatas diambil dari harga yang paling besar diantara selisih, sehingga dari tabel tersebut diperoleh = , . Dari tabel uji Liliefors de ga taraf yata α = , da = 31, maka diperoleh =

√ =

= 0,1591. Dengan demikian (0,1062 <

0,1591). Sehingga dapat disimpulkan bahwa populasi kelas kontrol berdistribusi normal. Perhitungan uji normalitas dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut::

a. Mengubah data hasil belajar ke dalam bentuk baku Zi = ̅

=

= -1,95

b. F(Zi), dihitung dengan menggunakan distribusi table z, dari nilai -1,95 diperoleh 0,0256

c. Menghitung proporsi S(Zi) = = = 0,0323 d. Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) = 0,0256– 0,0323 = 0,1062

LAMPIRAN 17

Uji Homogenitas

Untuk menguji Homogenitas digunakan rumus F =

terkecil Varian

terbesar Varian

a. Data Pre Test

Varians untuk kelas eksperimen adalah 90,81 Varians untuk kelas kontrol adalah 84,89

F = 1,07 89 , 84 81 , 90 terkecil Varian terbesar Varian  

b. Data Post Test

Varians untuk kelas eksperimen adalah 99,25 Varians untuk kelas kontrol adalah 90,32

F = 1,10 32 , 90 25 , 99 terkecil Varian terbesar Varian  

Hasil yang diperoleh dari uji F kemudian dibandingkan dengan harga Ftabel dengan taraf nyata α = %, de ga :

dk pembilang = n (varians terbesar) – 1 = 31 – 1 = 30 dk penyebut = n (varians terkecil) – 1 = 31 – 1 = 30 F1 = (30)(30) = 1,84

Kelompok Penelitian n S fh Ft(30)(30)

Post Test Kls Eksperimen 30 9.96 99.25 1.10 1.84

Kls Kontrol 30 9.50 90.32

Pre Test Kls Eksperimen 30 9.53 90.81 1.07 1.84

Kls Kontrol 30 9.21 84.89

Dari data di atas diperoleh untuk data pre test Fhitung < Ftabel yaiu 1,07 < 1,84 dan untuk data post test yaitu Fhitung < Ftabel yaiu 1,10 < 1,84 maka dapat disimpulkan bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai varians yang sama atau homogen.

LAMPIRAN 18

UJI HIPOTESIS

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran siswa, maka dilakukan uji t pada nilai post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol, namum sebelumnya perlu dilakukan uji t pada nilai pre test dari kedua kelas untuk mengetahui apakah kedua kelas mempunyai kemampuan awal yang sama sebelum perlakuan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t dengan rumus:

t =

̅̅̅̅ ̅̅̅̅

1. Pre Test

Berdasarkan hasil perhitungan data pre test siswa diperoleh nilai sebagai berikut:

Rata-rata Kelas eksperimen : ̅ = 55,16 = 90,81 = 31

Rata-rata Kelas kontrol : ̅ = 54,68 = 84,89 = 31

Dimana: = = =

= = 89,83 = = 9,48 Maka :

t =

̅̅̅̅ ̅̅̅̅ √

t =

t =

t =

t = 0,206

Pada taraf sig ifika si % da taraf yata α = % da dk = + - 2 = 31 + 31 – 2 = 60. Maka ttabel = 1,67

Dari data diatas maka diperoleh = 0,206 dan = 1,67. Dengan membandingkan kedua nilai tersebut diperoleh bahwa yaitu 0,206 < 1,67. Hal ini berarti kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan awal yang sama.

Sedangkan untuk perhitungan nilai pada post test adalah sebagai berikut dengan rumus yang sama yaitu:

t =

̅̅̅̅ ̅̅̅̅

Hasil perhitungan data post test siswa diperoleh nilai sebagai berikut:

1. Kelas eksperimen : ̅ = 78,23 = 99,25 = 31 2. Kelas kontrol : ̅ = 73,55 = 90,32 = 31 Dimana: = = = = = 94,78 = S = 9,74 Maka :

t =

̅̅̅̅ ̅̅̅̅ √

t =

t =

t =

t = 3,75

Pada taraf sig ifika si % da taraf yata α = % da dk = + - 2 = 31 + 31 – 2 = 60. Dari data di atas maka diperoleh = 3,75 dan = 1,67. Dengan membandingkan kedua nilai tersebut diperoleh bahwa yaitu 3,75 > 1,67. Hal ini berarti diterima yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penggunaan model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan

LAMPIRAN 19

Dokumentasi Penelitian di SMK Negeri 1 Sibolga

Gambar Siswa kelas eksperimen sedang melakukan pre test

Gambar siswa sedang berdiskusi untuk menentukan siapa yang pertama akan menjadi pembicara ataupun pendengar

Gambar siswa yang menjadi pembicara

Gambar Siswa Kelas kontrol sedang melakukan pre test

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap bangsa khususnya bangsa Indonesia yang sedang membangun. Tujuan dari pembangunan adalah membangun manusia seutuhnya. Artinya, lembaga bidang pendidikan tidak hanya mengamban misi pengajarannya saja tetapi juga dituntut menyiapkan para peserta didik agar bertingkah laku dewasa. Sesuai dengan UUD 1945 pada alinea keempat, bahwa negara mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan pada amandemen pasal 31 ayat 1-5 telah dijelaskan bagaimana hak dan kewajiban setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan serta bagaimana usaha negara agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, peranan pendidikan menjadi sangat penting untuk membangun suatu bangsa, karena tanpa adanya pendidikan, perkembangan suatu bangsa tidak akan terjadi.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses pembelajaran yng dialami oleh siswa sebagai peserta didik. Untuk itu, penerapan berbagai metode dan model pembelajran yang diterapkan oleh guru dalam proses belajar-mengajar diharapkan dapat membantu pencapaian tujuan pendidikan nasional tersebut.

2

Untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal, faktor utama yang paling berperan adalah guru, karena gurulah yang merancang sekaligus menjadi pelaksana proses pembelajaran yang akan berlangsung. Guru harus memiliki kemampuan mengidentifikasi, menyusun, dan mengembangkan, serta menilai bahan atau materi, strategi dan model pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Penentuan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena model pembelajaran yang tepat untuk suatu materi pembelajaran akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran.

Dari hasil observasi pendahuluan yang dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Sibolga, khususnya jurusan Administrasi Perkantoran, diketahui bahwa guru belum mampu menciptakan suasana belajar yang melibatkan peran aktif seluruh siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga kegiatan belajar menjadi kurang menyenangkan dan cenderung membosankan. Hal ini karena proses pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode konvensional, dimana gurulah yang banyak berperan daan keaktifan siswa diabaikan, sehingga pola pembelajaran bersifat teacher centered (berpusat pada guru). Kecenderungan proses belajar-mengajar yang demikian mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa, karena proses belajar mengajar tersebut kaku, monoton, dan kurang fleksibel.

Dalam proses belajar konvensional, proses belajar dianggap berhasil apabila sudah mampu menghafalkan dan mengingat fakta, konsep dan teori yang

3

diberikan guru. Proses belajar-mengajar dengan metode konvensional tersebut juga terjadi pada mata pelajaran memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran. Padahal sebagai siswa Sekolah Menengah Kejuruan, siswa diharapkan tidak hanya memahami teori-teori dan konseptual saja, tetapi harus mampu mengaplikasikannya dalam menghadapi masalah yang kontekstual dalam kehidupan nyata.

Proses belajar-mengajar yang demikian juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa jurusan Administrasi Perkantoran. Hal ini dapat dilihat dari nilai harian ulangan yang diperoleh siswa kelas X Administrasi Perkantoran. Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang ditetapkan oleh sekolah adalah 70. SKBM merupakan target kompetensi yang harus dicapai siswa, yang dijadikan patokan atau acuan untuk menentukan kompeten atau tidaknya siswa.

Menurut data yang diperoleh, pada tahun tahun 2010, jumlah siswa yang tuntas adalah 70% dan yang tidak tuntas adalah 30%. Pada tahun 2011, jumlah siswa yang tuntas adalah 68% dan yang tidak tuntas adalah 32%. Dan pada tahun 2012, jumlah siswa yang tuntas adalah 60% dan yang tidak tuntas adalah 40%. Jadi, bisa disimpulkan bahwa hasil belajar siswa mengalami penurunan. Oleh karena itu, diperlukan suatu perubahan dalam proses belajar-mengajar yang menjadikan belajar menarik dan menyenangkan untuk mewujudkan hasil pembelajaran yang efektif dan optimal.

Pasifnya siswa selama proses pembelajaran juga dikarenakan pemilihan metode pembelajaran yang tidak tepat. Metode mempunyai nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya adalah metode dapat mempengaruhi

4

jalannya kegiatan belajar mengajar. Kualitas proses hasil belajar dapat ditingkatkan dengan cara mencoba berbagai model, pendekatan, dan metode ke arah pembelajaran yang lebih difokuskan pada siswa (student centered). Student centered menekankan bahwa siswalah yang membangun pelajaran.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam proses belajar-mengajar memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran adalah model pembelajaran cooperative script. Dengan model cooperative script, proses pembelajaran diarahkan menjadi menyenangkan, karena model ini menekankan pada kemampuan peserta didik untuk dapat mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi pelajaran. Dengan menggunakan model ini siswa dapat belajar dan meresap materi pelajaran lebih banyak daripada siswa yang membuat ringkasan untuk dirinya sendiri atau mereka hanya sekedar membaca materi pelajaran.

Dari uraian diatas, penulis ingin mengandakan penelitian dengan judul

“Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Script Teradap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Memahami Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Aministrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Sibolga T.P. 2013/2014”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :

5

1. Cara mengajar guru dalam pelajaran memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran menyebabkan siswa di kelas X SMK Negeri 1 Sibolga kurang aktif dalam belajar.

2. Guru selama ini menerapkan metode pembelajaran konvensional, dengan tidak memperhatikan keanekaragaman kemampuan individu siswa sehingga hasil belajar siswa di kelas X SMK Negeri 1 Sibolga masih rendah.

3. Apakah ada pengaruh model pembelajaran cooperative script terhadap hasil belajar memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran siswa di kelas X SMK Negeri 1 Sibolga?

1.3. Batasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, maka penelitian dibatasi hanya pada masalah peningkatan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Memahami Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Sibolga Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan model pembelajaran Cooperative Script.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, maka yang

menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah penerapan model

pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Memahami Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran

6

kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1 Sibolga Tahun

Pelajaran 2013/2014?”

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah “Untuk mengetahui

peningkatan hasil belajar Memahami Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script di kelas X SMK Negeri 1 Sibolga Tahun Pelajaran 2013/2014.

Dokumen terkait