• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENERAPAN PRINSIP KARAKTER DALAM

B. Tujuan Penerapan Prinsip Karakter Pada Nasabah

Adapun tujuan penerapan karakter dalam memberikan kredit adalah untuk meminimalisir terjadinya resiko kredit yang kemungkinan akan muncul pada saat kredit sedang berjalan. Hal ini dapat dilihat dari contoh apabila seorang debitur dengan usaha yang lancar dan memiliki kemampuan untuk membayar, namun tidak memiliki itikad yang baik maka akan menimbulkan permasalahan bagi pihak bank di kemudian hari seperti timbulnya kredit bermasalah. Manfaat dari penilaian karakter untuk mengetahui sejauh mana tingkat kejujuran dan integritas serta tekad baik yaitu kemauan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya calon debitur. Oleh karena itu pemilihan karakter yang baik dan tepat merupakan salah satu indikasi untuk menentukan baik tidaknya kredit tersebut kelak.43

Menurut Dendawijaya, informasi mengenai calon debitur dapat diperoleh dengan cara bekerjasama dengan kalangan perbankan maupun kalangan bisnis lainnya. Informasi dari kalangan perbankan diperoleh melalui surat menyurat atau koresponden antar bank yang dikenal dengan bank informasi, termasuk permohonan resmi kepada Bank Indonesia (BI) untuk memperoleh informasi tentang calon debitur, baik mengenai pribadinya maupun perusahaan atau bisnis yang dimiliki.44

Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain: 45

43 Ahmad Sanusi Nasution. Op.cit. hlm 3

44 Arjuna Wiwaha. http://studyandlearningnow.blogspot.com/2013/05/analisis-kualitatif-5c.html (diakses 22 Oktober 2016)

45 Ibid

1. Meneliti riwayat hidup calon nasabah

2. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya 3. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur) 4. Mencari informasi usaha dimana calon nasabah berada

5. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi

6. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya.

C. Sarana Yang Digunakan Sebagai Penilaian Karakrer Calon Debitur Dalam Melakukan Kredit Modal Kerja

Sarana merupakan alat yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang character calon debitur yang dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:46

a. Wawancara

suatu proses untuk memperoleh informasi /data melalui percakapan langsung sengan seseorang atau lebih untuk tujuan tertentu. Wawacara sebaiknya dilakukan dengan cara yang santai dan tidak terlalu kaku (informal) hal ini ditujukan agar calon debitur menjadi nyaman dengan begitu maka jawaban yang diberikan adalah yang sebenarnya. Untuk mendapat jawaban yang sebenarnya dari calon debitur maka petugas bank harus memberikan pertanyaan yang bersifat terbuka dengan tujuan agar calon debitur dapat memberikan jawaban yang diinginkan oleh petugas bank. Dengan melakukan wawancara maka kita dapat dengan mudah mengetahui character calon debitur yang diproyeksikan dari :

1. Ketulusan, dari hasil wawancara dapat kita lihat apakah orang tersebut tulus dan benar dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan petugas bank. Hal tersebut terlihat dari jawaban calon debitur tidak mengada-ngada, tidak pura-pura, tidak mencari-cari alasan atau memutar balikkan fakta.

2. Kerendahan hati, kerendahan hati terlihat dari calon debitur memberikan penjelasan yang sebenarnya tentang tujuan penggunaan kredit.

46 Ahmad Sanusi Nasution. Op.cit. hlm. 4

3. Keterbukaan, calon debitur akan terus terang membicarakan apa yang menjadi kebutuhan dan keterbatasannya dalam menjalankan usaha.

4. Bertanggungjawab, rasa tanggungjawab akan tercermin dari sikap bagaimana calon debitur menjawab pertanyaan apabila dikemudian hari terjadi tunggakan kredit.

5. Empati, calon debitur turut merasakan apa yang petugas bank rasakan jika berkaitan dengan pengembalian kredit.

Seorang pewawancara juga harus mempunyai pengetahuan luas dan keterampilan meliputi aspek hukum, aspek manajemen, aspek pemasaran, aspek teknis, aspek produksi, aspek keuangan, aspek jaminan, keterampilan pengumpulan data, teknik memproses dan menganalisa data, teknik mengungkapkan data.

b. Melakukan check on the spot;

Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah meninjau langsung ke lokasi (check on the spot). Dimana lokasi tempat tinggal calon debitur, maupun lokasi usaha dan lokasi agunan. Hal ini dilakukan untuk melihat kebenaran dari apa yang dikatakan oleh calon debitur pada saat wawancara sebelumnya. Untuk agunan diperlukan check on the spot agar terdapat kesesuaian antara surat yang diagunkan dengan fisik agunan.

c. Melakukan BI CheckingBI checking dilakukan untuk melihat reputasi pinjaman calon debitur yang pernah ada apakah dalam keadaan lancar atau bermasalah. BI checking dapat dilihat dari 2 (dua) segi yakni:

1. Internal

Yakni dengan melihat data pinjaman nasabah dari menu PAPI (Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia) atau menanyakan langsung ke cabang/capem yang terdekat dengan lokasi domisili atau lokasi usaha calon debitur.

2. Eksternal

Untuk melihat reputasi pinjaman calon debitur dari segi eksternal maka diperlukan data SID (Sistem Informasi debitur) yang didapat dari Bank Indonesia.

d. Melihat dari status dan riwayat hidup, ini dilihat apakah calon debitur memiliki istri lebih dari satu, sudah menikah atau belum menikah, janda atau duda, latar belakang pekerjaan.

e. Checking in club

dapat dilakukan dengan menanyakan character calon debitur kepada

perkumpulan yang dinaungi seperti perwiritan, komunitas sosial, kelompok pergerejaan dan lain-lain.

f. Pengecekan DHN (daftar hitam nasional)

Lakukan cross check dengan bank pemberi kredit bagaimanakah track record calon debitur.

g. Lakukan juga pengecekan dengan supplier, bagaimanakah ketepatan pembayaran calon debitur, apakah tepat waktu atau sering terlambat.

h. Mempelajari character masyarakat setempat Karena adat di tiap daerah sangat berbeda, apakah calon debitur masuk kedalam daftar masyarakat yang “disegani” didaerah itu? Kenapa disegani?

Apakah karena mempunyai nama baik yang besar atau sebaliknya mempunyai reputasi yang buruk.

i. Mengetahui lebih lanjut mengenai profesi calon debitur tersebut adalah termasuk dalam “profesi yang dihindari” dalam pemberian kredit.

Selain itu ada beberapa Cara yang dapat dilakukan untuk melakukan penilaian watak tersebut adalah dengan meneliti hal–hal sebagai berikut:47

a. Riwayat Calon Debitur

1. Kapan usaha tersebut didirikan?

2. Bagaimana tingkat pertumbuhan usahanya?

3. Bisnis apa saja yang dilakukan oleh calon debitur dalam melakukan pengembangannya?

4. Bisnis apa yang memberikan kontribusi keuntungan yang paling dominan?

5. Bagaimana cara debitur melakukan ekspansi bisnisnya?

b. Reputasi calon Debitur di Lingkungannya Bisnis / Usahanya

1. Apakah perusahaan dipercaya oleh pemasok & pelanggannya dalam memenuhi pesanan dan kewajibannnya?

2. Bagaimana positioning debitur dibidang bisnisnya, apakah merupakan new comer (pendatang baru), leader (dominan), atau follower (pengikut)?

3. Apakah debitur pernah menarik cek / bilyet giro kosong atau termasuk dalam daftar hitam Bank Indonesia?

4. Apakah debitur pernah terlibat masalah dengan pemerintah, hukum atau keluhan masyarakat?.

c. Riwayat Hubungan

47 Arjuna Wiwaha. Op.cit, (diakses 22 Oktober 2016)

1. Riwayat Hubungan.

a) Besarnya Kredit yang telah dinikmati b) Kinerja Kredit

c) Tingkat Kerjasama

2. Riwayat Hubungan dengan Bank

Bank mana yang telah memberikan kredit dan berapa jumlah kreditnya serta bagaimana kolektibilitas kredit ?

a) Apa sebab debitur menggunakan lebih dari satu bank atau pindah bank?

b) Sejak kapan debitur berhubungan dengan bank tersebut?

c) Bagaimana kinerja kredit debitur tersebut dan berapa baki debet kreditnya?

d. Legalitas Usaha

1. Status Hukum Usaha debitur (Badan Hukum, Bukan Badan Hukum, Perorangan).

2. Legalitas kegiatan usaha (Perijinan / ijin–ijin, Status Penanaman Modal) e. Penilaian Watak dari Sumber–sumber Informasi

1. Informasi yang didapat dari proposal permohonan kredit yang diajukan 2. Informasi yang didapat dari catatan dan dokumen

3. Informasi yang didapat dari catatan dan dokumen usaha debitur 4. Informasi yang didapat dari pihak lain

Keseluruhan informasi tersebut apabila digabungkan pada dasarnya menunjukan pola manajemen debitur dalam menjalankan usahanya, dan apabila diuraikan terdiri dari beberapa faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh seorang pejabat kredit untuk menilai karakter manajemen debiturnya, yaitu: 48

1. Faktor Utama, yang perlu mendapat perhatian adalah karakter dari manajemen, yaitu orang–orang yang mengelola bisnis yang akan dibiayai.

Karakter ini tercermin dalam reputasi debitur yang berkaitan dengan

48 Ibid.

kejujuran, moral, komitmen dan kesediaan bekerja sama Untuk menilai karakter debitur, seorang pejabat kredit lini dapat pula mengumpulkan informasi dari berbagai sumber sebagai berikut:

a. Sesama Pejabat kredit lini, dari bank & bila pengecekan dilakukan ke bank lain disebut Bank Checking.

b. Nasabah yang mempunyai bidang usaha yang sama dengan calon debitur.

c. Supplier atau mitra bisnis dari calon debitur, pengecekan informasi ke mitra dagang ini sering disebut sebagai Trade Checking.

2. Faktor Kedua, adalah orientasi manajemen terhadap tujuan / sasaran bisnis.

Tujuan / sasaran bisnis menunjukan persepsi menajemen tentang masa depan perusahaan di pasar dan langkah–langkah yang harus diambil untuk pencapaiannya yang dapat merupakan tujuan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.

3. Faktor lain dari manajemen adalah latar belakang dan reputasi serta Tipe–tipe manajemen. Latar belakang berhubungan dengan pengalaman, dimana manajemen yang berpengalaman cenderung dapat menyelesaikan masalah dengn lebih baik dibandingkan dengan yang tidak berpengalaman di bidang usaha yang sama, sehingga risiko kegagalan akan lebih kecil.

Dengan demikian analisis terhadap riwayat dan pengalaman bisnis debitur yang menggambarkan pula pola manajemen debitur diharapkan mampu memberikan informasi tentang watak / karakter debitur dalam berbisnis apakah ekspansif, moderat atau konservatif. Selain itu, juga dapat diketahui kecenderungan debitur dalam menjalankan usahanya apakah lebih memilih bisnis yang berorientasi keuntungan dalam jangka pendek meskipun berisiko lebih tinggi

atau berorientasi pada bisnis yang menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang dengan risiko yang lebih rendah.49

D. Faktor-faktor Mengenai Keputusan Dalam Pemberian Kredit Modal Kerja

Sebelumnya sudah dibahas mengenai prinsip-prinsip pemberian kredit dengan menggunakan alat 5C dan 7P. Dalam praktiknya disamping menggunakan analisis 5C dan 7P, maka penilaian suatu kredit layak atau tidak untuk diberikan dapat dilakukan dengan menilai seluruh aspek yang ada.

Penilaian dengan aspek yang ada dikenal dengan nama studi kelayakan usaha.

Penilaian dengan model ini biasanya digunakan untuk proyek-proyek yang bernilai besar dan berjangka waktu panjang. Aspek –aspek yang dinilai antara lain meliputi:50

1. Aspek Yuridis/Hukum

Yang dinilai dalam aspek ini adalah masalah legalitas badan usaha serta izin-izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan kredit. Penilaian dimulai dengan meneliti keabsahan dan kesempurnaan akte pendirian perusahaan, sehingga dapat diketahui siapa-siapa pemiliknya dan besarnya modal masing-masing pemilik. kemudian juga diteliti keabsahannya dari dokumen atau surat-surat penting lainnya seperti:

a. Surat Izin Usaha Industri (SIUI) untuk sektor industri

49 Arjuna Wiwaha “Analisis Kualitatif 5c” http://studyandlearningnow. blogspot.co .id/2013/05/analisis-kualitatif-5c.html. (diakses 22 Oktober 2016)

50 Kasmir. “Dasar-Dasar Perbankan”. Jakarta :PT RajaGrafindo Persada, 2012 .Hal.142

b. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk sektor perdagangan c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

e. Keabsahan surat-surat yang dijaminkan misalnya sertifikat tanah dan sertifikat deposito

f. Serta dokumen-dokumen yang dianggap penting lainnya seperti KTP.

2. Aspek Pasar dan Pemasaran

Dalam aspek ini yang kita nilai adalah besar kecilnya permintaan terhadap produk yang dihasilkan sekarang ini dan di masa yang akan datang. Sehingga diketahui prospek pemasaran produk tersebut. Yang perlu diteliti dalam aspek ini adalah:

a. Hasil penjualan atau produk minimal 3 bulan yang lalu atau 3 tahun yang lalu

b. Rencana penjualan dan produksi minimal 3 bulan atau 3 tahun yang akan datang

c. Peta kekuatan pesaing yang ada, seperti market share yang dikuasai d. Prospek produk secara keseluruhan.

3. Aspek Keuangan

Aspek yang dinilai adalah sumber-sumber dana yang dimiliki untuk membiayai usahanya dan bagaimana penggunaan dana tersebut. Disamping itu, hendaknya dibuatkan cash flow keuangan perusahaan. Dari cash flow ini akan terlihat pendapatan dan biaya-biaya sehingga dapat dinilai layak atau tidak usaha tersebut, termasuk keuntungan yang diharapkan.Penilaian bank dari segi aspek keuangan biasanya mencakup antara lain:

a. Rasio likuiditas g. Internal Rate of Return (IRR) h. dan Break Even Point (BEP)

4. Aspek Teknis/ Operasi

Merupakan aspek yang membahas masalah yang berkaitan dengan produksi., lokasi, dan lay out , seperti kantor pusat, cabang atau pergudangan. Demikian pula, dengan masalah Lay out ruangan, dan lay out mesin-mesin termasuk jenis mesin dan teknologiyang digunakan.

5. Aspek Manajemen

Aspek ini digunakan untuk menilai struktur organisasi perusahaan, sumber daya manusia yang dimiliki serta latar belakang pendidikan dan pengalaman daya manusianya. Pengalaman perusahaan dalam mengelola berbagai proyek yang ada juga menjadi pertimbangan lain.

6. Aspek Sosial Ekonomi

Aspek sosial ekonomi adalah menganalisis dampaknya yang timbul akibat adanya proyek terhadap perekonomian masyarakat dan sosial masyarakat secara umum seperti:

a. Meningkatkan ekspor barang atau sebaliknya mengurangi ketergantungan terhadap impor

Amdal atau analisis dampak lingkungan merupakan analisis terhadap lingkungan baik darat, air atau udara, termasuk kesehatan manusia apabila proyek tersebut dijalankan. Analisis ini dilakukan secara mendalam sebelum kredit tersebut disalurkan, sehingga proyek yang dibiayai tidak akan mengalami pencemaran lingkunngan disekitarnya. Pencemaran yang sering terjadi antara lain, terhadap:

a. Kesehatan manusia tertanggu b. Tanah / darat menjadi gersang, erosi

c. Air, menjadi limbah berbau busuk, berubah warna atau rasa atau menyebabkan banjir

d. Udara menyebabkan polusi, berdebu, bising, dan panas.

e. Mengubah tatanan adat-istiadat setempat.

Dalam kebijaksanaan pemberian kredit, bank-bank tidak diperkenankan antara lain:51

1. Memberikan kredit tanpa surat perjanjian secara tertulis. Berarti setiap pemberian kredit dalam bentuk apapun harus senantiasa disertai dengan surat perjanjian tertulis yang jelas dan lengkap. Dalam SK Direksi BI No.

27/162/KEP/DIR dan SEBI No. 27/7/UPPB tanggal 31 Maret 1995 pada lampiran Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Pemberian Kredit (PPKPB) angka 450 tentang perjanjian kredit dinyatakan “setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati pemohon kredit wajib dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis”. Sebelum ketentuan ini terdapat ketentuan yang sama dalam Instruksi Presidium Kabinet No. 15/EK/IN/10/1996 tanggal 10 Oktober 1966 dan surat BI kepada semua bank devisa No.

3/1093/UPK/KPD angka 4 tanggal 29 Desember 1970.

2. Pemberian kredit kepada usaha yang sejak semuala telah dapat diperhitungkan kurang sehat dan akan membawa kerugian. Lampiran SK Direksi BI No. 27/16/KEP/DIR dan SEBI No. 27/17/UPPB tanggal 31 Maret 1995 dalam Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Pemberian kredit (PPKPB) angka 4 menyatakan: kredit yang perlu dihindari antara lain :

a. Kredit yang tujuan spekulatif

b. Kredit yang diberikan tanpa informasi keuangan yang cukup c. Kredit yang memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki bank d. Kredit kepada debitur bermasalah atau macet pada bank lain

3. Memberikan kredit melampaui Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).

Penerapan prinsip karakter saat ini dalam peraktiknya talah diterapkan dalam prinsip 5C, baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat untuk masyarakat.

Namun dalam pemberian kredit modal kerja prinsip karakter saat ini masih disetarakan dengan prinsip 5C lainnya seperti: capacity (kemampuan), capital (modal), condition of economy ( kondisi ekonomi), dan colateral (agunan), belum ada secara terkhusus dalam penerapan lebih lanjut mengenai prinsip karakter

51 Widjanarto,”Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia” Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2007, hlm.81

dalam pemberian kredit modal kerja , Dalam penilaian kredit modal kerja penerapan prinsip karekter sangat penting tidak hanya mengetahui itikad baik seorang debitur tetapi, untuk mengetahui reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usaha yang dijalankannya serta informasi mengenai kelayakan usaha yang dijalankan oleh debitur. Prinsip karakter ini dalam perkreditan merupakan prinsip yang mendominan. Dalam hal pemberian kredit modal kerja penerapan prinsip karakter ini lebih ditegaskan dan harus dipahami kepada pegawai bank baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat. untuk memahani lebih dalam lagi mengenai penerapan prisip karakter dalam pemberian kredit modal kerja.

Pihak bank juga dituntut harus selalu memiliki daya kreativitas yang diikuti sifat ketelitian yang tinggi dan dituntut untuk turun kelapangan untuk melihat kondisi kelayakan calon nasabah debiturnya

Dalam penerapan prinsip karakter tersebut terdapat kendala-kendala dalam proses analisa terhadap calon debitur dalam pemberian kredit sebagai berikut: 52

1. Tidak adanya survey terhadap calon debitur 2. Analisa tidak sesuai dengan prosedur

3. Calon debitur tidak memberikan penjelasan yang transparan 4. Jaminan dan usaha tidak mencukupi atau mengcover

5. SID (Sistem Informasi Debitur) calon debitur menunjukan angka 2 sampai 5 dibank lain

52 Ghesti Mayangsari “Penerapan Prinsip 5c dalam penilaian calon debitur pada Bank Bank BPR Jawa Timur Bank UMKM Jawa TIMUR Cabang Tulungagung”

http://repository.unair.ac.id/54688/ (Diakses 02 Maret 2017).

BAB III

BENTUK PENGAWASAN TERHADAP PEMBERI KREDIT MODAL KERJA DALAM MEMINIMALISIR RESIKO KREDIT

A. Pengawasan Terhadap Pemnberian Kredit Modal Kerja

Pada dasarnya setiap pemberian fasilitas kredit akan menimbulkan risiko baik yang terjadi sebagai akibat penyalahgunaan kredit yang diberikan kepada debitur maupun risiko yang ditimbulkan karena kurang telitinya bank dalam melakukan analisa terhadap permohonan kredit ataupun sebagai akibat tidak efektifnya fungsi pengawasan yang dilakukan oleh bank terhadap jalannya kredit yang telah diberikan kepada debitur.53

Prinsip pengawasan kredit adalah penerapan dan pelaksanaan fungsi pengawasan kredit yang bersifat menyeluruh, dan terdiri dari prinsip-prinsip sebagai berikut:54

1. fungsi pengawasan kredit harus diawali dari upaya pencegahan sedini mungkin atas terjadinya hal-hal yang dapat merugikan bank dalam perkreditan atau terjadinya praktik pemberian kredit yang tidsk sehat. Hal tersebut harus tercermin dalam struktur pengendalian intern bank yang terkait dengan perkreditan.

2. Pengawasan kredit harus meliputi pengawasan sehari-hari oleh manajemen atas setiap pelaksanaan pemberian kredit atau yang lazim disebut dengan istilah pengawasan melekat

53 Yudha Iman Sulistya.Op.cit, hlm. 35

54 Z. Dunil, Op.cit,hlm. 243

3. Pengawasan kredit juga harus meliputi audit intern terhadap semua aspek perkreditan yang dilakukan oleh SKAI (Satuan Kerja Audit Intern).

Dalam bentuk pengawasan melekat adalah pengawasan sehari-hari melalui prosedur baku dan pengawasan dan pengawasan atasan. Dibidang perkreditan, pengawasan melekat diwujudkan dengan penerapan sebagai berikut:55

1. Direksi bank menetapkan pejabat- pejabat yang bertanggungjawab atas pelaksanaan fungsi pengawasan melekat, dengan memperhatikan prinsip pemisahan fungsi operasional dan pengawasan.

2. Fungsi pengawasan kredit dapat berupa pengawasan langsung maupun tak langsung terhadap pemberian kredit berdasarkan penetapan direksi bank.

3. Pejabat atau unit kerja pengawasan melekat mempertanggungjawabkan hasil pengawasannya sekurang-kurangnya berupa penyampaian laporan tertulis secara berkala kepada pejabat atasannya dengan tembusan kepada direksi mengenai:

a. Penilaian atas kualitas portofolio perkreditan disertai penjelasan atas kredit yang kualitasnya menurun.

b. Kredit yang tidak sesuai dengan ketentuan perbankan maupun ketentuan intern bank.

c. Besarnya tunggakan bunga yang ditambahkan pada kredit yang di plafondering.

d. Pelanggaran dan penyimpangan yang dilakukan pejabat perkreditan, disetai dengan tindakan serta saran perbaikan.

Agar pemberian kredit dapat dilaksanakan secara konsisten dan berdasarkan azas-azas perkreditan yang sehat, maka diperlukan suatu kebijakan perkreditan yang tertulis. Berkenaan dengan hal tersebut, Bank Indonesia telah menetapkan

55 Ibid, hlm. 240

ketentuan mengenai kewajiban bank umum untuk memiliki dan melaksanakan kebijakan perkreditan bank berdasarkan pedoman penyusunan kebijakan perkreditan bank dalam SK Dir BI No. 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995.

Berdasarkan SK Dir BI tersebut, Bank Umum wajib memiliki kebijakan perkreditan bank secara tertulis yang disetujui oleh dewan komisaris bank dengan sekurang-kurangnya memuat danmengatur hal-hal pokok sebagai berikut : 56

a. prinsip kehati-ha tian dalam perkreditan;

b. organisasi dan manajemen perkreditan;

c. kebijakan persetujuan kredit;

d. dokumentasi dan administrasi kredit;

e. pengawasan kredit;

f. penyelesaian kredit bermasalah.

Kebijakan perkreditan bank dimaksud wajib disampaikan kepada Bank Indonesia. Dalam pelaksanaan pemberian kredit dan pengelolaan perkreditan bank wajib mematuhi kebijakan perkreditan bank yang telah disusun secara konsekuen dan konsisten.57

Kegiatan perbankan yang dilakukan sehari-hari, baik oleh bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat tidak terlepas dari berbagai kesalahan.

Kesalahan ini dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, agar dunia perbankan dapat berjalan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh dunia perbankan. Pelaksanaan pembinaaan

56 Ramlan Ginting, Pengaturan Pemberian Kredit Bank Umum. Bandung, 6 Agustus 2005 ( diakses 27 Februari, 2017)

57Ibid.

dan pengawasan terhadap dunia perbankan di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia.58

Pada saat kredit sudah diberikan kepada debitur, sudah menjadi kewajiban juga bagi pihak perbankan untuk mengawasi kelancaran terselesaikannya kredit tersebut hingga lunas. Karena tujuan dari pemberian kredit adalah salah satunya terhindar dari timbulnya kredit macet.Ada dua bentuk pengawasan yang dilakukan oleh pihak perbankan dalam bidang pengawasan kredit yaitu:59

1. Pengawasan dengan model preventif control

Pengawasan dengan model ini dilakukan oleh pihak perbankan sebelum kredit tersebut dicairkan atau diberikan kepada calon debitor. Tujuannya adalah guna menghindari kesalahan yang lebih fatal dikemudian hari. Jadi, disini akan dilihat mulai dari kelengkapan berk as yang diajukan hingga survey ke lapangan seperti jaminan dan bentuk usaha yang akan dilakukan.

2. Pengawasan dengan model represif control

Pengawasan dengan model ini adalah dilakukan pada saat kredit tersebut telah diberikan kepada debitor. Pengawasan disini diberikan dengan tujuan agar kreditor tersebut terbangun kedisiplinan yang kuat untuk melunasi setiap pinjamannya secara tepat waktu.

58 Kasmir, S. “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 57

59 Irham Fahmi. “Analisis Kredit dan Fraud Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif”, (Bandung : PT. Alumni Bandung, 2008), hlm. 31

B. Tujuan Pengawasan kredit Modal Kerja

Peranan bank sentral sangat penting terhadap suatu tatanan perbankan di suatu negara secara makro, peranan bank sentral sangat penting berhubung dunia perbankan adalah urat nadi perekonomian di suatu negara sehingga peranan sektor perbankan dapat mempengaruhi maju mundurnya perekonomian di negara yang bersangkutan. Selain secara makro, secara mikro peranan bank sentral sangat

Peranan bank sentral sangat penting terhadap suatu tatanan perbankan di suatu negara secara makro, peranan bank sentral sangat penting berhubung dunia perbankan adalah urat nadi perekonomian di suatu negara sehingga peranan sektor perbankan dapat mempengaruhi maju mundurnya perekonomian di negara yang bersangkutan. Selain secara makro, secara mikro peranan bank sentral sangat