• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

A. Penyuluh Agama Islam

5. Tujuan Penyuluh Agama Islam

Penyuluhan Agama merupakan satu rangkaian kegiatan atau proses dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Bagi proses Penyuluhan Agama tujuan merupakan salah satu faktor yang penting dan sentral, yang memberi arah atau pedoman bagi

27Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-qur’an (cet.II:Jakarta:

Lentera Hati, 2005), h.172.

28Kementrian Agama RI, Al-Qur’an danTerjemahannya (Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2013), h. 421

32

langkah aktivitas penyuluh. Tujuan penyuluhan juga dapat digunakan sebagai dasar bagi penentuan sasaran dan strategi atau kebijaksanaan penyuluhan, langkah-langkah oprasional, mengandung luasnya skup aktivitas, serta ikut menentukan dan berpengaruh terhadap penggunaan metode dan media yang digunakan.29

Suharto dalam bukunya membagi tujuan keberadaan Penyuluh Agama Islam menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Untuk membantu individu atau kelompok mencegah timbulnya masalah-masalah dalam kehidupan keagamaan, antara lain:

1) Membantu individu menyadari fitrah manusia.

2) Membantu individu mengembangkan fitrahnya (mengaktualisasikan).

3) Membantu individu memeahami dan menghayati ketentuan dan petunjuk Allah 4) Membantu individu menjalankan ketentuan dan petunjuk Allah mengenai

kehidupan keagamaan.

b. Untuk membantu individu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan keagamaannya, antara lain dengan cara:

1) Membantu individu memahami problem yang dihadapinya.

2) Membantu individu memahami kondisi dan situasi dirinya dan lingkungannya.

3) Membantu individu memahami dan mengahayati berbagaicara untuk mengatasi problem kehidupan keagamaannya sesuai dengan syariat Islam.

29Prayitno dan Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling (Jakarta:PT Renika Cipta, 2008),h. 75

33

4) Membantu menetapkan pilihan upaya pemecahan masalah keagamaan yang dihadapinya.

c. Untuk membantu memelihara situasi dan kondisi kehidupan keagamaan dirinya yang telah baik agar lebih baik.30

Sedangkan menurut Adz-Dzaky dalam bukunya, tujuan keberadaan Penyuluh Agama Islam yaitu:

1) Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan kebersihan jiwa dan mental, menjadi tenang dan damai, (muthmainnah) bersikap lapang dada (radhiyah) dan mendapat pencerahan taufiq hidayah Tuhannya (mardhiyah).

2) Untuk menghasilkan suatu perubahan perbaikan dan kesopanan tingkah laku yang dapat bmemberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja maupun lingkungan sosial dan alam.

3) Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi kesetiakawanan, tolong menolong dan rasa kasih sayang.

4) Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala perintahnya serta ketabahan dalam ujian.

5) Untuk menghasilkan potensi ilahiyah sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah, sehingga ia dapat menanggulangi

30Tohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islam (Yogyakarta:

UII press, 1992), h. 144.

34

persoalan hidup, memberikan manfaat dan keselamat bagi lingkungannya pada berbagai aspek kehidupan.31

Aunur Rahim Faqih membagi dua tujuan Bimbingan dan Penyuluhan Islam yaitu :

a. Tujuan Umum

Membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

b. Tujuan khusus

1) Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.

2) Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik agar tetap baik sehingga tidak mendatangkan masalah bagi dirinya dan orang lain.32

Prayitno dan Ermani Amti menjelaskan bahwa tujuan umum bimbingan dan Penyuluhan Islam adalah membantu individu mengmbangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya dan menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya, yaitu insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungan secara dramatis, mampu mengambil keputusan secara tepat dan ijaksana, mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya dan mampu mewujudkan diri secara

31Hamdani Bakran Adz-Dzaki, Psikoterapi dan Konseling Islam (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001), h. 137

32Ainun Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, h. 35.

35

optimal. Sedangkan tujuan khusus berbeda antara individu dengan individu lainnya sesuai dengan keunikan individu.33

Demikian tujuan akhir dari keberadaan Penyuluh Agama Islam sehingga klien terhindar dari berbagai masalah keagamaan, apakah masalah tersebut berkaitan dengan gejala penyakit mental, sosial maupun spiritual.Sehingga dapat terwujud kehidupan yang bahagia di dunia maupun diakhirat.

B. Kemampuan Membaca Alquran bagi ibu-ibu 1. Pengertian Kemampuan Membaca Alquran

Kemampuan membaca, secara bahasa diartikan sebagai kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan. Sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang benar-benar dapat dilakukan seseorang, artinya pada tatanan realistis hal itu dapat dilakukan karena latihan-latihan dan usahanya dalam belajar.34

Menurut Yus Rusyana dalam bukunya “ Bahasa dan Sastra Dalam Gempitan Pendidikan” mengatakan bahwa membaca merupakan suatu ajaran yang lahirnya

komunikasi antara seseorang dan bahan bacaan sebagai petunjuk upaya dalam pemenuhan kebutuhan dan tujuan tertentu.35 Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa membaca ialah proses berfikir disertai dengan efektifitas yang kompelks yang melibatkan berbagai faktor baik dari luar maupun dari dalam diri pembaca dengan tujuan untuk menerima informasi dari sumber yang tertulis.

33Prayitno dan Ermani Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, h. 114

34Kholid Najib Al-Amr, Mendidik Cara Nabi Saw (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 166

35Yus Rusyana, Bahasa dan Sastra Dalam Gamitan Pendidikan (Bandung: Diponegoro, 1998), h. 8

36

Adapun kata Alquran, secara bahasa berasal dari kata qara’a yang artinya

“mengumpulkan dan menghimpun”, dan qira’ah yang berarti “menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi”.

Oleh karena itu, istilah qur’an paling umum diterjemahkan sebagai “bacaan” atau

“tilawah” (bacaan kitab suci, bagian dari kitab suci yang dibacakan dalam ritual keagamaan) dalam bahasa Suriah, dan miqra’ dalam bahasa Ibrani (pembacaan suatu kisah, kitab suci).36

Definisi Alquran menurut istilah adalah kalam Allah Swt. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. dan membacanya merupakan suatu ibadah.37 Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi Allah selain Nabi Muhammad saw. tidak dinamakan Alquran, seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as.

Menurut M. Quraish Shihab, Alquran adalah firman Allah yang tiada tandingannya, yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. penutup para nabi dan rasul, dengan perantara malaikat Jibril dan ditulis pada mushab-mushab yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan

36Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia Al-qur’an, (Semarang: Lubuk Raya, 2001),h. 5

37Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, (Jakarta: Raja Garfindo Persada, 2006),h. 22

37

mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-fatihah dan ditutup dengan surah An-nas.38

Pengertian diatas menjelaskan bahwa Alquran merupakan kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari. Alquran dikhususkan sebagai nama kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, sehingga Alquran menjadi nama khas kitab tersebut, yaitu sebagai nama diri, termasuk juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Sebagai sebuah nama, Al-quran merujuk pada wahyu (tanzil) yang “diturunkan” (unzila) oleh Allah Swt. kepada nabi Muhammad saw.dalam rentang waktu hampir 23 tahun. Dalam konotasi universal, ia adalah ekspresi diri.

Dalam istilah ilmu Alquran, orang yang membaca Alquran dengan baik, sesuai dengan ilmu tajwid, disebut dengan “qari”.Untuk memperlajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya.Maksud di atas orang-orang yang suka membaca dalam pengertian yang sebenarnya membaca bukan sembarangan membaca, membaca untuk dipahami, dimengerti, dan selanjutnya untuk diamalkan dalam kehidupan sehari.

Akan lebih baik jika orang mukmin mau belajar membaca Alquran, dengan baik dan mampu memaknai setiap ayat yang dibacanya. Semakin banyak akan semakin baik, sebab ulama salaf terdahulu sudah biasa menghatamkan Alquran setiap

38Muhammad Quraish Shihab, Membumikan Al-quran, (Bandung: Mizan, 1993), h. 10

38

tigahari sekali, seminggu sekali. Mereka tidak sekedar membaca, dalam waktu yang singkat, mereka mampu memaknai setiap baris dari ayat Alquran.

Alquran adalah kitab suci Agama Islam untuk seluruh umat muslimyang ada di dunia, dari awal diturunkannya manusia hingga waktu penghabisan spesies manusia didunia, baik di muka bumi maupun diluar angkasa sebab kiamat kubro.

Didalam surat-suratnya dan ayat-ayatnya Alquran terdapat isi kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau lebih terkhusus pada beberapa hal yang paling utama beserta definisi lain dari masing-masing kandungan intisarinya sebagaimana berikut:39

a. Aqidah/akidah (ketauhidan/keimanan terhadap Allah). Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan aqidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah swt. yang satu, yang tidak pernah tidur dan tidak diperanakkan. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang kafir.

b. Hukum-hukum (mengatur manusia). Hukum yang ada di dalam Alquran adalah memberi seruan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman pada sesama manusia yang terbukti bersalah.

Hukum dalam Islam berdasarkan Alquran ada beberapa jenis, seperti jinayat, muamalat, faraidh, dan jihad.

39Manna Khalil Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-quran, (Jakrta: Litera Antar Nusa, 2004), h. 1

39

c. Peringatan atau tadzkir (reward/punishment). Tadzkir atau peringatan adalah berupa siksa neraka atau waa’ad. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadanya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa’ad. Disamping itu adapun gambaran yang menyenangkan di dalam Alquran atau disebut juga targhib dan sebaliknya adalah gambaran yang menakutkan yang dikenal dengan istilah tarhib.

d. Sejarah-sejarah atau kisah-kisah (mengambil teladan dari kejadian dimasa lampau). Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah Swt. serta ada juga yang mengalami kebiasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah Swt. dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaliknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikhtibar.