• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG

C. Materi Yang Akan Diatur

Secara garis besar materi muatan rancangan peraturan daerah tentang perlindungan dan pemberdayaan kelompok Petani Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan terdiri dari Ketentuan Umum, yang mencakup pengertian-pengertian, sebagai berikut:

1. Daerah adalah Kabupaten Barito Kuala.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

3. Bupati adalah Bupati Barito Kuala.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Barito Kuala.

5. Perangkat Daerah terdiri dari Sekretariat Daerah, Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

6. Perlindungan Petani adalah segala upaya untuk membantu Petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.

7. Pemberdayaan Petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan Petani untuk melakukan usaha

57

Tani yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil Pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta penguatan Kelembagaan Petani .

8. Petani adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha tani, agroindusri, pemasaran, dan jasa penunjang termasuk pekebun dan peternak.

9. Pertanian adalah adalah kegiatan mengelola sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan Komoditas Pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu agroekosistem.

10. Balai Penyuluhan adalah balai penyuluhan yang membidangi Petani an, perikanan dan kehutanan di Kabupaten Barito Kuala.

11. Pelaku Utama kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan yang selanjutnya disebut pelaku utama adalah masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, Petani , pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, beserta keluarga intinya.

12. Pelaku usaha adalah perorangan warganegara Indonesia atau korporasi yang dibentuk menurut hukun Indonesia yang mengelola usaha pertanian, perkebunan, perikanan, dan kehutanan.

13. Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuh kembangkan dari, oleh dan untuk Petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan Petani.

14. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan adalah kumpulan Petani/peternak/pekebun/kehutanan yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan

58

kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

15. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Gapoktan adalah kumpulan beberapa kelompok Tani yang bergabung dan bekerjasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.

16. Asosiasi Komoditas Tani adalah kumpula beberapa Kelompok Tani, dan/atau Gabungan Kelompok Tani untuk memperjuangkan kepentingan Petani.

17. Badan Pelaksana dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan disingkat BP4K adalah suatu Badan Penyuluh yang ada di Kabupaten Barito Kuala, yang mempunyai visi mewujudkan penyuluh yang profesional berwawasan lingkungan dan berdaya saing tinggi.

18. Koordinator Penyuluh adalah penyuluh yang ditugaskan mengkoordinir kegiatan penyuluhan di wilayah kerja Balai Penyuluhan.

Selanjutnya secara garis besar rancangan peraturan Daerah tentang perlindungan dan pemberdayaan Petani Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan memuat materi-materi pokok, sebagai berikut:

BAB I : Ketentuan Umum BAB II : Asas dan Tujuan BAB III : Perencanaan

BAB IV : Perlindungan Petani

Bagian Kesatu : Umum

Bagian Kedua : Prasarana dan Sarana Produksi Pertanian

Paragraf 1 : Prasarana Pertanian

Paragraf 2 : Sarana Produksi Pertanian Bagian Ketiga : Kepastian Usaha

59

Bagian Keempat : Sistem Peringatan Dini Terhadap Dampak Perubahan Iklim

Bagian Kelima : Komoditas Unggulan Bagian Keenam : Asuransi Pertanian

Bagian Ketujuh : Penghapusan Praktik Ekonomi Biaya Tinggi

BAB V : Pemberdayaan Petani Bagian Kesatu : Umum

Bagian Kedua : Pendidikan dan Pelatihan

Bagian Ketiga : Penyuluhan dan Pendampingan

Bagian Keempat : Sistem Dan Sarana Pemasaran Hasil Pertanian

Bagian Kelima : Konsolidasi dan Jaminan Luasan Lahan Pertanian

Paragraf 1 : Umum

Paragraf 2 : Konsolidasi Pertanian

Bagian Ketujuh : Fasilitasi Pembiayaan dan Permodalan Bagian Kedelapan : Akses Ilmu Pengetahuan, Teknologi

dan Informasi

Bagian Kesembilan Penguatan Kelembagaan Paragraf 1 : Umum

Paragraf 2 : Kelembagaan Petani BAB VI : Hak Dan Kewajiban

Bagian Kesatu : Hak-Hak Kelembagaan Petani Bagian Kedua : Kewajiban Lembaga Tani BAB VII : Pengawasan

BAB VIII : Ketentuan Peralihan BAB IX : Ketentuan Penutup

60 BAB VI P E N U T U P A. Kesimpulan

Otonomi daerah yang berlaku memberikan kewenangan yang besar bagi pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya sendiri berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu jenis kewenangan daerah yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Barito Kuala adalah perlindungan dan pemberdayaan Petani.

Penyelenggaraan otonomi daerah di Negara Indonesia memerlukan perangkat hukum daerah sebagai landasan bagi penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi fungsi pelayanan, fungsi pembangunan daerah dan fungsi pemberdayaan masyarakat.

Perlindungan dan pemberdayaan Petani dilakukan untuk melindungi hak-hak Petani, meningkatkan kesejahteraan Petani dan meningkatkan kecerdasan Petani dalam dinamika pembangunan daerah di Kabupaten Barito Kuala.

Perlindungan dan pemberdayaan Petani ini dilakukan dalam entitas individu maupun kelompok Petani tersebut agar Petani memiliki akses yang lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan kehidupan keluarganya.

B. Saran

Naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pemberdayaan kelompok Petani ini memerlukan data-data yang komprehensif agar Peraturan Daerah tentang

61

Perlindungan dan Pemberdayaan kelompok Petani ini dapat memenuhi kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan.

62

DAFTAR PUSTAKA

Agussalim Andi Gadjong,2005, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Amrah Muslimin. 1982. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah, Bandung: Alumni.

Ateng Syafrudin, Masalah Hukum Dalam Pemerintahan Daerah, Makalah untuk pendidikan non gelar untuk anggota DPRD Tingkat II se Jawa Barat di FISIP Unpad, 28 Desember 1992.

Bagir Manan. 1994. Hubungan AntaraHubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945 , Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Bagir Manan. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah,Yogyakarta:

Pusat Studi Hukum Daerah UII.

Bayu Surianingrat, 1980. Desentralisasi dan Dekosentrasi Pemerintahan Di Indonesia Suatu Analisa, Jakarta: Dewarucci Press.

Buletin Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Volume 43 tahun 2006.

HAW Widjaja. 2005. Penyelenggaraan Otonomi Di Indonesia, Jakarta:

RajaGrafindo Persada.

Irawan Soejito. 1990. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Jakarta: Rineka.

Jimly Asshiddiqie, 2007. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Jimly Asshiddiqie. 2005. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press.

63

Josep Riwu Kaho. 2003. Prospek Otonomi Daerah Di Negara Republik Indonesia, Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Kausar AS, 2006. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Di Era Desentralisasi dan Kontribusi DPRD Terhadap Pelaksanaan Tata Pemerintahan Yang Baik, Riau: Makalah diskusi dalam rangkaian acara rapat kerja nasional asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia.

Lendy Siar, 2001. Pengaturan dan Pelaksanaan Pengawasan Preventif Terhadap Peraturan Daerah, Bandung: (Tesis) Program Pascasarjana UNPAD, 2001.

Maria SW Soemardjono. 1989. Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian. Yogyakarta: FH UGM.

Martin Jimung. 2005. Politik Lokal dan Pemerintahan Daerah Dalam Perspektif Otonomi Daerah, Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

Muhammad Fauzan, 2006, Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah Dalam Tata Penyelenggaraan Pemerintahan Di Indonesia, Bandung: (Disertasi) Program Pascasarjana UNPAD.

R. D. H. Koesoemahatmadja. 1979. Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah Di Indonesia, Bandung: Binacipta.

R. Joeniarto, 1982. Perkembangan Pemerintahan Lokal, Bandung:

Alumni.

The Liang Gie, 1968. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia, Jakarta: Gunung Agung.

Undang-Undang Dasar 1945: Sebelum dan Setelah Amandemen,

Bandung: Nuansa Aulia, 2009.

1

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO KUALA NOMOR …… TAHUN 2018

TENTANG

PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI DI KABUPATEN BARITO KUALA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO KUALA,

Menimbang : a. bahwa perlindungan dan pemberdayaan Petani merupakan pengejewantahan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;

b. bahwa

untukmewujudkanmasyarakatadildanmakmurse rta untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasar sebagai warga negara, perlu diselenggarakan upaya perlindungan dan pemberdayaan petani secara terencana, terarah dan berkelanjutanolehpenyelenggarapemerintahan;

c. bahwa perlindungan dan pemberdayaan Petani untuk keselarasan peraturan pemerintah dalam menjamin kepastian hukum bagi petani, peternak, pekebun, pembudi daya ikan dan nelayan yang ada di daerah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b dan c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani di Kabupaten Barito Kuala.

Mengingat : 18. Pasal 18 ayat (6) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

2 1945;

19. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);

20. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 92, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4660);

21. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

22. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5433);

23. Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 338, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5619);

24. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015, Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

25. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140. Tambahan Lembaran Negara Repbulik Indonesia Nomor 5234);

26. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2009

3

tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5018);

27. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;

28. Peraturan Bersama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 dan Nomor 77 Tahun 2012 tentang Parameter Hak Asasi Manusia dalam Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1254);

29. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani;

30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukkan Produk Hukum Daerah;

31. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.57/Menhut-II/2014 tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani Hutan;

32. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036);

33. Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pembentukan Perangkat Daerah Kabupaten Barito Kuala (Lembaran Daerah Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016 Nomor 34).

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BARITO KUALA

dan

BUPATI BARITO KUALA MEMUTUSKAN:

4

Menetapkan: PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO KUALATENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI DI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Barito Kuala.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

3. Bupati adalah Bupati Barito Kuala.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Barito Kuala.

5. Perangkat Daerah terdiri dari Sekretariat Daerah, Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

6. Perlindungan Petani adalah segala upaya untuk membantu Petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.

7. Pemberdayaan Petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan Petani untuk melakukan usaha Tani yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil Pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta penguatan Kelembagaan Petani.

8. Petani adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha tani, agroindusri, pemasaran, dan jasa penunjang termasuk pekebun dan peternak.

9. Pertanian adalah adalah kegiatan mengelola sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan Komoditas Pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu agroekosistem.

5

10. Balai Penyuluhan adalah balai penyuluhan yang membidangi petanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten Barito Kuala.

11. Pelaku Utama kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan yang selanjutnya disebut pelaku utama adalah masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, beserta keluarga intinya.

12. Pelaku usaha adalah perorangan warganegara Indonesia atau korporasi yang dibentuk menurut hukun Indonesia yang mengelola usaha pertanian, perkebunan, perikanan, dan kehutanan.

13. Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuh kembangkan dari, oleh dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani.

14. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan adalah kumpulan petani/peternak/pekebun/kehutanan yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

15. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Gapoktan adalah kumpulan beberapa kelompok Tani yang bergabung dan bekerjasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.

16. Asosiasi Komoditas Tani adalah kumpula beberapa Kelompok Tani, dan/atau Gabungan Kelompok Tani untuk memperjuangkan kepentingan Petani.

17. Badan Pelaksana dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan disingkat BP4K adalah suatu Badan Penyuluh yang ada di Kabupaten Barito Kuala, yang mempunyai visi mewujudkan penyuluh yang profesional berwawasan lingkungan dan berdaya saing tinggi.

18. Koordinator Penyuluh adalah penyuluh yang ditugaskan mengkoordinir kegiatan penyuluhan di wilayah kerja Balai Penyuluhan.

BAB II

ASAS DAN TUJUAN Pasal 2

Perlindungan dan Pemberdayaan Petani berdasarkan asas : a. Kemandirian;

b. Kedaulatan;

c. Kebermanfaatan;

d. Kebersamaan;

e. Keterpaduan;

6 f. Keterbukaan

g. Efisiensi berkeadilan; dan h. Keberlanjutan.

Pasal 3

Perlindungan dan Pemberdayaan petani bertujuan untuk :

a. Mewujudkan kedaulatan dan kemandirian petani dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih baik;

b. Menyediakan prasaran dan sarana pertanian yang dibutuhkan dalam mengembangkan Usaha Tani;

c. Memberikan kepastian Usaha Tani;

d. Melindungi petani dari fluktuasi harga, praktik ekonomi biaya tinggi dan gagal panen;

e. Meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani serta kelembagaan petani dalam menjalankan usaha tani yang produktif, maju, dan berkelanjutan; dan

f. Menumbuhkan kelembagaan petani BAB III PERENCANAAN

Pasal 4

(1). Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani dilakukan secara sistematis, terpadu, terarah, menyeluruh, transparan, dan akuntabel.

(2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan:

a. Daya dukung sumber daya alam lingkungan;

b. Rencana tata ruang wilayah;

c. Kebutuhan sarana dan prasarana;

d. Kelayakan teknis, ekonomis, kelembagaan dan budaya setempat;

e. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknomogi;

f. Jumlah petani; dan

g. Tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

(3). Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian integral dari :

a. rencana pembangunan nasional;

b. rencana pembangunan daerah;

c. rencana pembangunan pertanian; dan

d. rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Pasal 5

(1). Strategi perlindungan dan pemberdayaan petani ditetapkan pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dengan memperhatikan kebijakan perlindungan petani.

7

(2). Strategi perlindungan petani dilakukan melalui : a. prasarana dan sarana produksi pertanian;

b. kepastian usaha;

c. pembangunan sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim;

d. komoditas unggulan;

e. asuransi pertanian; dan

f. penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi.

(3). Strategi pemberdayaan petani dilakukan melalui : a. pendidikan dan pelatihan;

b. penyuluhan dan pendampingan;

c. pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian;

d. pengutamaan hasil pertanian daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan;

e. konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian;

f. penyediaan fasilitas pembiayaan dan permodalan;

g. kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi; dan

h. penguatan kelembagaan petani.

Pasal 6

(1). Kebijakan perlindungan dan pemberdayaan petani ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dengan memperhatikan asas dan tujuan perlindungan dan pemberdayaan petani.

(2). Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh Dinas.

(3). Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani ditetapkan oleh Pemerintah Daerah menjadi rencana perlindungan dan pemberdayaan petani baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

BAB IV

PERLINDUNGAN PETANI Bagian Kesatu

Umum Pasal 7

(1). Perlindungan petani dilakukan melalui penentuan strategi sebagaimana dalam Pasal 5 ayat (2).

(2). Perlindungan petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada :

a. petani penggarap tanaman pangan yang tidak memiliki lahan usaha tani dan menggarap paling luas 2 (dua) hektare;

b. petani yang memiliki lahan dan melakukan usaha budi daya tanaman pangan pada lahan paling luas 2 (dua) hektare; dan /atau

c. petani hortikultura, pekebun, atau peternak skala usaha kecil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3). Tata cara pemberian perlindungan diatur lebih lanjut dalam

8 Peraturan Bupati.

Pasal 8

(1). Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas perlindungan petani sesuai dengan kewenangannya.

(2). Pelaksanaan kegiatan perlindungan petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.

Pasal 9

(1). Pemerintah Daerah melakukan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan perlindungan petani.

(2). Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk melaksanakan strategi perlindungan petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

Bagian Kedua

Prasarana dan Sarana Produksi Pertanian Paragraf 1

Prasarana Pertanian Pasal 10

(1). Pemerintah Daerah bertanggung jawab membangun ketersediaan prasarana pertanian.

(2). Prasarana pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain meliputi :

a. jalan usaha tani, jalan produksi, dan jalan desa;

b. bendungan, dan jaringan irigasi; dan c. jaringan listrik, pergudangan dan pasar.

Pasal 11

Petani berkewajiban memelihara prasarana pertanian yang telah dibangun oleh Pemerintah Daerah dan/atau pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2).

Paragraf 2

Sarana Produksi Pertanian Pasal 12

(1). Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan sarana produksi pertanian dengan tepat waktu, tepat mutu, dan harga terjangkau bagi petani.

(2). Sarana produksi pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi :

a. ketersediaan benih atau bibit, bakalan ternak, pupuk, pestisida, pakan, dan obat hewan sesuai dengan standar mutu; dan

b. ketersediaan alat dan mesin pertanian sesuai standar mutu dan kondisi spesifik lokasi.

9

(3). Penyediaan sarana produksi pertanian disesuaikan dengan penggunaan sarana produksi lokal.

(4). Pemerintah Daerah mendorong petani untuk menghasilkan sarana produksi pertanian yang berkualitas untuk kebutuhan sendiri dan/atau terbatas dalam 1 (satu) kelompok.

Pasal 13

Selain Pemerintah Daerah, Pelaku Usaha dapat menyediakan sarana produksi pertanian yang dibutuhkan petani.

Pasal 14

(1). Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan benih atau bibit tanaman, bibit atau bakalan ternak, bibit ikan, pupuk, dan/atau alat dan mesin pertanian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan daerah.

(2). Pemberian bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus tepat guna, tepat sasaran, tepat waktu, tepat lokasi, tepat kualitas, dan tepat jumlah.

(3). Penerimaan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah petani baik perseorangan dan/atau kelompok.

Bagian Ketiga Kepastian Usaha

Pasal 15

Untuk menjamin kepastian usaha tani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) Pemerintah Daerah melakukan :

a. Menetapkan kawasan usaha tani berdasarkan kondisi dan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam;

b. Memberikan jaminan pemasaran hasi pertanian kepada petani yang melaksanakan usaha tani sebagai program pemerintah;

c. Mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil pertanian.

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai kepastian usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Keempat

Sistem Peringatan Dini Terhadap Dampak Perubahan Iklim Pasal 17

Pemerintah Daerah membangun sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) untuk mengatasi gagal panen akibat bencana alam

10 Pasal 18

(1). Pemerintah Daerah melakukan prakiraan iklim untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen.

(2). Pemerintah Daerah mengantisipasi terjadinya gagal panen dengan melakukan :

a. prakiraan serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan/atau wabah penyakit hewan menular; dan

b. upaya penanganan terhadap prakiraan iklim dan prakiraan serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan/atau wabah penyakit hewan menular.

(3). Antisipasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilakukan dengan penyebarluasan informasi hasil prakiraan iklim, hasil prakiraan serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan/atau wabah penyakit hewan menular.

Bagian Kelima Komoditas Unggulan

Pasal 19

(1). Pemerintah Daerah menetapkan perlindungan terhadap komoditas unggulan dalam rangka melaksanakan perlindungan dan pemberdayaan petani

(2). Komoditas unggulan yang dilindungi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

Pemerintah Daerah wajib melindungi komoditas unggulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dalam bentuk :

a. Usulan kepada Pemerintah mengenai kebijakan pembatasan impor terhadap komoditas unggulan; atau

b. Usulan kepada Pemerintah mengenai kebijakan pembatasan impor terhadap komoditas unggulan apabila ketersediaan untuk kebutuhan daerah terpenuhi

Bagian Keenam Asuransi Pertanian

Pasal 21

(1). Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib

11

melindungi usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dalam bentuk asuransi pertanian

(2). Asuransi pertanian sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan untuk melindungi petani akibat :

a. bencana alam;

b. dampak perubahan iklim; dan/atau

c. jenis-jenis risiko lain yang diatur dengan Peraturan Bupati sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Pasal 22

Pemerintah Daerah dapat bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Negara dan/atau Badan Usaha Milik Daerah

Bagian Ketujuh

Penghapusan Praktik Ekonomi Biaya Tinggi Pasal 23

Pemerintah Daerah memberikan jaminan kepada petani berupa penghapusan praktik biaya tinggi sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (2) huruf f dilakukan dengan menghapuskan berbagai pungutan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan

BAB V

PEMBERDAYAAN PETANI Bagian Kesatu

Umum Pasal 24

Pemberdayaan petani dilakukan untuk memajukan dan mengembangkan pola pikir dan pola kerja petani, meningkatkan

Pemberdayaan petani dilakukan untuk memajukan dan mengembangkan pola pikir dan pola kerja petani, meningkatkan

Dokumen terkait