• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI SANITASI Tabel 3.15

No. Sasaran Strategi Kebijakan

PERMUKIMAN KABUPATEN BANJAR

B. TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI SANITASI Tabel 3.15

Tujuan dan Sasaran Pembangunan Air Limbah

Tujuan Sasaran Data dasar

Mengurangi angka BABS di bantaran sungai

Mengurangi angka BABS di bantaran sungai

Angka Buang Air Besar Sembarangan 47% (Berdasarkan Data EHRA 2015)

Memberi penekanan terhadap masyarakat agar memiliki jamban yang sesuai standar (closet leher angsa dan tangki septik kedap)

Tersedianya fasilitas jamban sehat masyarakat sesuai standar teknis sebanyak 42% pada tahun 2019

Terdapat 42% penduduk atau 57.172 KK tdk memiliki fasilitas terhadap jamban

Memperbaiki sumber air tanah yang tercemar

Tersedianya jaringan dan tersambung ke pengolahan air limbah sebesar 100%

Sebagian besar limbah rumah tangga masih dialirkan ke saluran drainase dan tanah Memberi penekanan

terhadap masyarakat agar memiliki tangki septik yang sesuai standar teknis/SNI

Tersedianya tangki septik masyarakat sesuai standar teknis sebanyak 87,1% pada tahun 2019

87,01 % penduduk belum memiliki tangki septik dan pengolahan yang sesuai standar teknis/SNI

Memperbaiki sumber air tanah yang tercemar

Tersedianya/terbangunnya jaringan khusus air limbah dan sistem pengolahan awal air limbah (individu/komunal) dengan resapan di permukiman padat

penduduk/rawan sanitasi

Dikawasan permukiman padat penduduk/lrawan sanitasi tidak memiliki lahan untuk membuat sistem pengolahan awal air limbah

Masih minimnya jumlah truk sedot tinja dan belum optimal pengoperasiannya

Melayani masyarakat yang telah memiliki tangki septik sesuai standar

Tersedianya jumlah armada sedot tinja sesuai kebutuhan hingga tahun 2019

Melindungi pencemaran air di saluran drainase

Tersedianya sistem jaringan induk air limbah (grey water & black water)

Belum ada jaringan induk menuju ke IPAL skala kawasan

Menyediakan sistem pengolahan lumpur tinja yang terintegrasi

Terpenuhinya area pelayanan kawasan kecamatan (Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Astambul, Karang Intan,Kertak Hanyar, Gambut dan Sungai Tabuk)

IPLT belum beroperasi

Meningkatkan akses rumah tangga terhadap fasilitas rumah tangga yang memadai

Tersedianya akses ke fasilitas IPAL yang memadai bagi 54.751 KK pada tahun 2019

Masih minimnya fasilitas IPAL komunal skala kawasan

Tersusunnya dokumen rencana induk sistem pengolahan air limbah

Tersedianya dokumen perencanaan air limbah tahun 2016

Masih belum optimalnya master plan air limbah (RISPAL)

Meningkatkan alokasi penganggaran air limbah permukiman yang bersumber dari APBD Kab

Meningkatnya alokasi anggaran air limbah sebesar 1% per tahun dari total APBD Kab Banjar hingga tahun 2019

Anggaran air limbah yang bersumber dari APBD Kab masih minim

Melibatkan CSR maupun swasta dalam penganggaran air limbah permukiman

Terlibatnya CSR maupun swasta dalam penganggaran air limbah hingga tahun 2019

Sumber anggaran non pemerintah (CSR, Swasta) belum memberikan kontribusi terhadap air limbah

Tujuan Sasaran Data dasar Terbentuknya instansi

pengelola air limbah domestik

Tersedianya instansi yang menangani air limbah domestik

Belum jelasnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah

Menegakkan Komitmen Pemda dalam pengelolaan Lingkungan Hidup.

Otonomi/kewenangan daerah, dan dukungan politik pengelolaan air limbah sebagai upaya untuk mendorong kemapanan regulasi pengelolaan air limbah

Terwujudnya kemapanan regulasi air limbah melalui dukungan komitmen Pemda, kewenangan otonomi daerah, dan dukungan politik.

Masih lemahnya penegakan hukum terhadap perda yang mengatur pengelolaan air limbah domestik

Belum ada perda yang mengatur retribusi

pengelolaan air limbah dan lumpur tinja

Mendorong dan

meningkatkan peran aktif kelompok masyarakat, jender dan masyarakat miskin untuk pengelolaan air limbah

Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mengelola air limbah

Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air limbah Meningkatkan peran

pendidik, guru, dan tokoh masyarakat, PKK, Majelis Taqlim, Organisasi wanita (OW) dalam pengelolaan air limbah

Meningkatnya peran pendidik, guru, dan tokoh masyarakat, PKK, Majelis Taqlim, Organisasi wanita (OW) dalam pengelolaan air limbah Membangun koordinasi antar

SKPD dalam

mengkampanyekan/sosialisas i pengelolaan air limbah

Terjalinnya koordinasi dan komunikasi antar SKPD dalam kampanye/sosialisasi air limbah

Kampanye/sosialisasi pengelolaan air limbah belum maksimal Meningkatkan peran media

massa sebagai media sosialisasi dan penyuluhan air limbah untuk membangun kepedulian dan keswadayaan

masyarakat dan swasta.

Terjalinnya koordinasi dengan media sosial dan masyarakat dalam

kampanye/sosialisasi air limbah

Sumber: Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota Kabupaten Banjar, 2015

Strategi pengelolaan air limbah bertujuan untuk mengatasi permasalaan yang ada dalam pengelolaan air limbah. Permasalahan dari analisa SWOT akan diminimalisir menggunakan strategi yang ada di Kerangka Kerja Logis Pengelolaan Air Limbah. Berikut strategi dalam pengelolaan air limbah kabupaten Banjar:

a. Sistem Teknis

1. Diperlukan implementasi onsite dan offsite untuk kawasan permukiman di daerah aliran sungai;

2. Diperlukan stimulan jamban sehat (closet leher angsa dan tangki septic kedap) yang difasilitasi oleh tenaga STBM dan KSM terlatih;

3. Membangun jaringan dan pengolahan ar limbah terintegrasi;

4. Bangunan percontohan jamban sehat sesuai SNI yang difasilitasi oleh tenaga STBM dan KSM terlatih;

5. Membangun jaringan percontohan air limbahdan sistem pengolahan awal air limbah untuk masyarakat bepenghasilan rendah (MBR) di kawasan padat penduduk/rawan sanitasi;

6. Mengadakan armada sedot tinja sesuai kebutuhan;

7. Mengusulkan pembangunan jaringan induk air limbah ke dalam APBN/APBD Kabupaten; 8. Membangun sarana pengolahan lumpur tinja dan akan beroperasi 2016 yang

berkelanjutan hingga TA 2019 di area Pelayanan Kecamatan lainnya; 9. Membangun IPAL skala kawasan;

10. Penyusunan dokumen perencanaan induk dan detail enginering design (DED) air limbah. b. Non Teknis

1. Mengusulkan penganggaran sektor air limbah ke renstra kabupaten melalui BAPPEDA; 2. Meminta pihak swasta untuk menganggarkan kegiatan sektor air limbah ke dalam CSR; 3. Menyusun peraturan daerah pembentukan lembaga pengelola air limbah;

4. Mengoptimalkan penegakkan perda oleh Pemda dan unsur terkait serta meningkatkan sosialisasi mengenai peran masyarakat dalam penegakkan perda air limbah;

5. Mengajukan draft regulasi air limbah dengan legalisasi dokumen rencana induk air limbah; 6. Melibatkan MBR dalam usaha pengelolaan air limbah;

7. Melibatkan peran pendidik, guru, dan tokoh masyarakat, PKK, Majelis Taqlim, Organisasi wanita (OW) dalam pengelolaan air limbah;

8. Melakukan advokasi ke lembaga pemerintah (bag. Humas, Dinkes, DPU, BLHD, Disdik, Dishubkominfo, BPMPD, BKBP3A, DEPAG);

9. Melakukan kerja sama dengan Radio Swasta Pemerintah Daerah Kabupaten Banjar, Harian Banjarmasin Post, Harian Metro Banjar, Harian Radar Banjar, Harian Kalimantan Post.

Tabel 3.16

Tujuan dan Sasaran Pembangunan Persampahan

Tujuan Sasaran Data dasar

Meningkatkan persentase sebesar 30 % terjadinya pemilahan sampah dari

sumbernya didaerah pelayanan hingga tahun 2019

30% sampah sudah terpilah dari sumbernya

hingga tahun 2019

Sebanyak 67% sampah belum dipilah dari sumbernya (studi

ehra, 2015) 20% penduduk di daerah pelayanan

melakukan pengomposan hingga tahun 2019

21.820 KK melakukan pengomposan tahun

2019

84% masyarakat belum melakukan pengomposan (studi

ehra, 2015) mengurangi kebiasaan membakar

sampah pada masyarakat sebesar 35,5% di TA2019 48.413 KK stop membakar sampah tahun 2019 Terdapat 35,5% masyarakat melakukan pembakaran sampah (studi ehra, 2015) Meningkatkan sarana pewadahan di

daerah pelayanan

tersedianya fasilitas pengumpulan

Masih kurangnya sarana pengumpulan di daerah

Tujuan Sasaran Data dasar Menambah sarana penampungan

(TPS dan TPST 3R) di daerah pelayanan

terpenuhinya jumlah TPS dan TPST 3R di daerah

pelayanan

Masih kurangnya sarana penampungan sementara di

daerah pelayanan Memfasilitasi berdirinya bank sampah

di perkotaan

Terbangunnya Bank sampah di perkotaan

Kegiatan bank sampah belum maksimal (hanya 35 buah

termasuk di sekolah & perumahan percontohan) Mengoptimalkan sarana

pengangkutan sampah

terpenuhinya armada pengangkutan sampah

Masih kurangnya armada pengangkutan untuk menjangkau daerah yang jauh meningkatan sistem

pengelolaan-pengelolaan TPA yang masih open dumping menjadi control landfill

terbangunan TPA dengan sistem control

landfill

Kegiatan komposting baru dimulai pada tahun 2012 di

TPA & TPST 3R meningkatkan partisipasi masyarakat

dalam membayar retribusi sampah

meningkatnya dana pengelolaan sampah

melaui masyarakat

Keterlibatan masyarakat dalam membayar retribusi sampah

masih rendah melibatkan swasta/CSR dalam

pendanaan persampahan

meningkatnya dana pengelolaan sampah

melaui swasta/CSR

Minimnya keterlibatan swasta/CSR dalam pendanaan

pengelolaan sampah Membentuk Dinas khusus Dalam

Pengelolaan Sampah

Terpisahnya fungsi antara Regulator dan

Operator

Hanya satu bidang dalam suatu Dinas untuk menangani

pengelola persampahan meningkatkan cakupan kinerja lewat

pembentukan UPT di wilayah kerja

terbentuknya UPT Persampahan

Belum ada UPT di wilayah pelayanan yang jaraknya

sangat jauh mengidentifikasi cakupan pelayanan,

rasio TPS, persentase penanganan sampah, fasilitas pengurangan sampah, sistem penanganan sampah,

daya tampung TPS, jumlah TPS, jumlah TPS yang diperlukan dan

lain-lain

tersedianya database persampahan

Belum adanya SPA di Kabupaten Banjar

mengidentifikasi cakupan pelayanan, rasio TPS, persentase penanganan

sampah, fasilitas pengurangan sampah, sistem penanganan sampah,

daya tampung TPS, jumlah TPS, jumlah TPS yang diperlukan dan

lain-lain

tersedianya database persampahan

Ketersediaan database persampahan belum tersedia

melibatkan masyarakat dalam pengelolaan persampahan lewat

tenaga penyuluh

Meningkatnya pengetahuan masyarakat

dalam pengelolaan persampahan

Advokasi ke masyarakat belum maksimal

meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan persampahan di

lingkungan RT/RW meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan persampahan dilingkungan RT/RW Sebesar 40,2% sampah berserakan/bertumpuk di sekitar lingkungan/RT/RW memaksimalkan kampanye

persampahan lewat teknologi informasi

tersampaikannya informasi terkait pengelolaan persampahan

Kampanye persampahan belum maksimal

Membangun koordinasi antar SKPD dan swasta/organisasi profesi dalam

mengkampanyekan persampahan

terciptanya hubungan koordinasi yang harmonis

antar instansi dalam pengelolaan

Kurangnya koordinasi antar SKPD dan swasta/organisasi

profesi

Permasalahan pengelolaan persampahan di Kabupaten Banjar meliputi aspek teknis maupun non teknis. Untuk mengatasi permasalahan di Kabupaten Banjar, Pokja membuat strategi untuk mengatasi beberapa permasalahan yang ada dalam pengelolaan persampahan. Berikut strategi untuk mengatasi permasalahan dalam pengembangan pengelolaan persampahan.

a. Aspek Teknis

1. Pembentukan KSM disetiap Kelurahan/Desa; 2. Penempatan penyuluh kebersihan di Desa/Kelurahan; 3. Penempatan Fasilitator di Kecamatan;

4. Mensosialisasikan dan Melatih masyarakat dalam melakukan pengomposan; 5. Sosialisasi/Kampanye Larangan membakar sampah;

6. Pemasangan papan himbauan;

7. Pengadaan sarana dan prasarana wadah sampah dan TPS/Kontainer; 8. Menjalin Koordinasi dengan instansi terkait;

9. menambah armada roda 3 sebanyak 20 unit dan gerobak sampah sebanyak 160 unit hingga tahun 2019;

10. Mengusulkan ke dalam sistem penganggaran APBD dan APBN; 11. Melibatkan pendanaan lewat swasta/CSR;

12. melibatkan pendanaan masrakat dan swasta/CSR;

13. Mengusulkan ke dalam sistem penganggaran APBD untuk redines kriterianya;

14. Mengusulkan dalam sistem penganggaran formal APBN (RPIJM) untuk pembangunannya;

15. mengusulkan dalam sistem penganggaran APBD. b. Aspek Non Teknis

1. Mengaktifkan KSM dan aparat desa dalam memungut retribusi sampah;

2. Mengundang pihak swasta untuk berpartisisfasi dalam pendanaan pengelolaan persampahan;

3. Menyusun peraturan daerah pembentukan DKP;

4. Menyusun peraturan daerah pembentukan UPTD di 4 daerah pelayanan; 5. mengawal Pembangunan SPA dengan meminta dukungan legislatif; 6. Mengusulkan ke dalam sistem penganggaran APBD;

7. Sosialisi dan kampanye ke masyarakat melalui: Tenaga Penyuluh Kebersihan, KSM, Lomba Desa Bersih, Melalui organisasi Darmawanita/PKK, Pengajian rutin Desa;

8. Terdistribusinya TPS hingga ke lingkungan RT/RW dan beroprasinya armada pengangkut sampah sampai ke RT/RW;

9. Mengusulkan dana rapat koordinasi dalam sistem penganggaran APBD;

10. Mengaktifkan Himpunan Kesehatan Lingkungan (HAKLI) dan organisasi lainnya dalam komonikasi Pengelolaan Persampahan.

Tabel 3.17

Tujuan dan Sasaran Pembangunan Drainase

Tujuan Sasaran Data dasar

Menghilangkan area genangan di area pekarangan rumah dan menghilangkan genangan pada saat turun hujan. Mengelola limpasan dengan

mengembangkan fasilitas untuk menahan dan menyimpan air hujan dan fasilitas resapan.

Permukiman di kawasan perkotaan

Sebagian besar rumah tangga belum memiliki saluran/drainase dan sebagian jalan memiliki elevasi drainase yang rendah.

Penyempitan dan pendangkalan drainase.

Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan selalu diikuti dengan peningkatan limbah, limbah cair dan limbah sampah.

Beberapa lokasi kota yang berada dibawah permukaan air sungai.

Terbangunnya sistem jaringan drainase yang terintegrasi

sebagian besar kawasan permukiman rawan genangan pada saat hujan turun (< 2 jam)

Jaringan drainase yang ada belum terintegrasi dan elevasi drainase yang belum terarah.manajemen sampah yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas sungai dan drainase sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan 1. Mengidentifikasi titik genangan

2. Mengurangi luas genangan

Tersedianya database genangan secara detail

Database titik genangan belum tersedia

Mengidentifikasi panjang drainase, jenis drainase dan tingkat keberfungsian

Tersedianya database

drainase secara detail Database drainase belum tersedia

Tersusunnya master plan drainase perkotaan skala kabupaten

Tersedianya dokumen perencanaan drainase perkotaan skala kabupaten hingga tahun 2040

Belum ada master plan drainase skala kabupaten

Mendorong peningkatan pembiayaan pemeliharaan dan peningkatan drainase

Peningkatan anggaran pemeliharaan dan peningkatan drainase sebesar 0,5% per tahun hingga tahun 2019

Anggaran pemeliharaan dan peningkatan drainase yang telah terbangun belum maksimal Terbentuknya instansi yang

menangani OM drainase

Tersedianya instansi yang menangani OM drainase

Belum ada lembaga yang khusus menangani OM drainase

Terpeliharanya saluran/drainase yang telah terbangun

Tersedianya regulasi yang mengatur tentang

pengelolaan drainase pada tahun 2019

Belum ada regulasi yang mengatur tentang pengelolaan drainase lingkungan Meningkatkan partisipasi masyarakat (PMJK) dalam pengelolaan drainase Terbentuknya KSM drainaling (drainase lingkungan) di wilayah perkotaan

Masyarakat belum aktif dalam pengelolaan drainase

Tersosialisasikannya mengenai pentingnya fungsi drainase kepada masyarakat luas

Masyarakat termotivasi untuk melakukan pemeliharaan drainase lingkungan

Belum ada sosialisasi mengenai pentingnya fungsi drainase Sumber: Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota Kabupaten Banjar, 2015

Dalam pengelolaannya, terdapat beberapa permasalahan dalam pengelolaan drainase baik aspek teknis maupun aspek non teknis. Agar dalam pengelolaannya berjalan dengan baik, maka diperlukan strategi untuk mengembangkan pengelolaan drainase. Berikut strategi yang dibuat pokja Kabupaten Banjar untuk pengembangan drainase.

a. Aspek Teknis

1. Perluasan jaringan drainase perkotaan serta penyuluhan akan penting nya kesadarn membuang sampah;

2. Pembangunan sistem jaringan drainase yang terintegrasi (saluran drainase tertier, sekunder, primer, kolam retensi,polder,bak kontrol,saringan sampah);

3. Melaksanakan survey dan pengumpulan data sekunder; 4. Penyusunan dokumen perencanaan (master plan drainase). b. Non Teknis

1. Mengusulkan penganggaran pemeliharan dan peningkatan drainase ke rencana kerja SKPD;

2. Menyusun peraturan daerah pembentukan lembaga yang menangani OM drainase; 3. Menyusun regulasi pengelolaan drainase lingkungan;

4. Mencanangkan hari khusus pembersihan drainase se Kabupaten Banjar;

5. Menggunakan media lokal (radio, koran, pamflet, baliho, stiker) untuk memelihara drainase.

6. RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (RTBL)

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang telah disusun di Kabupaten Banjar saat ini sebanyak 8 lokasi, baik berupa koridor maupun kawasan, yaitu terdiri dari :

1. RTBL Koridor Jalan Ahmad Yani di Kecamatan Gambut 2. RTBL Koridor Jalan Ahmad Yani di Kecamatan Kertak Hanyar

3. RTBL Kawasan Perkantoran Pemerintah Kabupaten Banjar di Indrasari 4. RTBL Koridor Jalan Ahmad Yani Kota Martapura

5. RTBL Koridor Jalan Martapura Lama 6. RTBL Koridor Sungai Martapura

7. RTBL Kawasan Pusat Kota Aluh-aluh, Kec. Aluh Aluh

8. RTBL Kawasan Teluk Selong-Kalampaian, Kec. Martapura Kota 9. RTBL Kawasan Pusat Kota Aluh-aluh, Kec. Aluh Aluh