BAB IV: PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
3. Tujuan SMP 1 Negeri Malang
Depdiknas (2001) dalam (Kumolohadi dan Prahesti, 2008:93) menyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya program akselerasi adalah untuk memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam mewujudkan kemampuan mereka secara optimal agar dapat:
a) Mengembangkan kemampuan berfikir dan bernalar serta pengembangan kreativitas siswa
b) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat menyelesaikan program pendidikan lebih cepat
c) Memacu mutu diri siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional secara seimbang
4. Manfaat Kelas Akselerasi
Southern dan Jones (1991) dalam Hawadi (2004:7) menyebutkan beberapa manfaat dengan diselenggarakannya program akselerasi bagi anak berbakat, yaitu:
a) Meningkatkan efisiensi, siswa diharapkan siap dengan bahan-bahan pengajaran dan telah menguasai kurikulum pada tingkat msebelumnya akan belajar lebih baik dan lebih efisien
b) Meningkatkan efektivitas, siswa mampu menguasai keterampilan-keterampilan sebelumnya
c) Penghargaan, kelas akselerasi merupakan salah satu bentuk penghargaan bagi siswa yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, dan diharapkan siswa dapat meningkatkan ppotensi yang dimiliki d) Meningkatkan waktu untuk karier, dengan adanya pengurangan waktu
belajar, siswa diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
e) Membuka siswa pada kelompok barunya, dengan program akselerasi siswa dimungkinkan untuk bergabung dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektual dan akademis yang sama
f) Ekonomis, kelas akselerasi dapat memberikan manfaat dalam hal admintrasi sekolah,sehingga tidak mengeluarkan biaya tinggi untuk mendidik guru khuss anak berbakat
5. Kekuatan akselerasi
Southern dan Jones (Hawadi, 2004:38) mengemukakan beberapa kekuatan diselenggarakannya kelas akselerasi, yaitu sebagai berikut:
a. meningkatkan efisiensi belajar b. meningkatkan efektifitas belajar
c. merupakan pengakuan atas prestasi yang dimiliki d. meningkatkan waktu untuk meniti karier
e. meningkatkan produktivitas
f. meningkatkan pilihan eksplorasi dalam pendidikan g. mengenalkan siswa dalam kelompok teman baru
6. Kelemahan Akselerasi
Southern dan Jones (Hawadi,2004:8) menyebutkan beberapa kelemahan diselenggarakannya kelas akselerasi yang mencakup empat aspek, yaitu
a. Akademik.
Dari segi akademik, siswa akseleran mempunyai kecenderungan mendapatkan prestasi jauh di bawah potensi yang dimiliki (underachiever) karena persaingan dalam kelas, dan kemungkinan kemampuan siswa akseleran yang terlihat melebihi teman sebayanya bersifat sementara. Dengan bertambahnya usia kecepatan prestasi siswa menjadi biasa saja sehingga bahan ajar dinilai terlalu tinggi bagi siswa
b. Penyesuaian Sosial
Motivasi beprestasi yang tinggi dalam bidang akademik menyebabkan siswa akselerasi kekurangan waktu untuk beraktivitas dengan teman sebaya, kehilangan aktivitas sosial. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami hambatan dalam bergaul dengan teman sebayanya, dan kehilangan kesempatan dalam keterampilan kepimimpinan yang dibutuhkan dalam pengembangan karier dan sosialnya di masa depan c. Penyesuain Emosional
Dari segi emosional, siswa akselerasi mempunyai daya tahan yang rendah terhadap stres, mudah frustasi dikarenakan adanya tekanan dan
tuntutan berprestasi. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami burn out di bawah tekanan dan kemungkinan menjadi underachiever
d. Berkurangnya kesempatan ekstrakurikuler
Keberadaan siswa di kelas akselerasi menyebabkan siswa berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua dan tidak memberi kesempatan.
Hal ini menyebabkan siswa kehilangan kesempatan penting dan berharga di luar kurikulum sekolah yang normal, sehingga siswa akan kehilangan pengalaman penting yang berkiatan dengan kariernya di masa depan
Siswa Program Kelas Akselerasi
Kumolohadi dan Prahesti (2008:93) menyebutkan bahwa siswa program akselerasi (siswa akseleran) adalah siswa berbakat (gifted children). Definisi anak berbakat untuk program akselerasi dikembangkan oleh pemerintahdan dibatasi pada hal-hal berikut:
a. Mereka yang mempunyai taraf intelegensi atau IQ di atas 140
b. Mereka yang oleh psikolog dan atau guru diidentifikasikan sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memilki kemampuan intelektual secara umum yang berfungsi pada taraf cerdas, yang tergolong baik serta kreatifitas yang memadai
Siswa akselerasi merupakan siswa yang dikelompokkan sebagai anak berbakat. Munandar (dalam Kumolohadi & Prahesti, 2008:94) mengungkapkan
bahwa keberbakatan meliputi tiga aspek, yaitu intelektual, kreativitas, dan motivasi.
Aspek intelektual terdiri dari penalaran yang tajam, daya abstraksi cukup tinggi, mampu membaca pada usia lebih muda, daya konsentrasi yang baik.
Aspek kreativitas terdiri dari memiliki kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan, kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan cara-cara orisinil, dan daya imajunasi yang kuat. Sedangkan motivasi ditandai dengan adanya ketekunan dalam menghadapi tugas, dorongan berprestasi yang cukup kuat, dan tidak mudah putus asa ketika menemui hambatan
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Renzulli. Renzulli (dalam Hawadi, 2002:62) berpendapat bahwa keberbakatan merupakan perpaduan dalam tiga hal, yaitu kemampuan yang baik di atas rata-rata (IQ), kreativitas (CQ), dan mempunyai task commitment yang tinggi pada tugas
Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pendididkan Luar Biasa (PLB) menetapkan skor IQ siswa akselerasi adalah 125. Bagi murid sekolah dasar taraf kecerdasan IQ adalah 120 ke atas (skala Weschler) taraf kreatif CQ 110 ke atas (skala TKF-UM) dan taraf komitmen pada tugas TC 132 ke atas (skala TC-Rendi)
Sedangkan bagi siswa tingkat SMU , taraf kecerdasan IQ 120 ke atas (skala TIKI) taraf kreativitas CQ 110 (skala TKV-URH) dan taraf komitmen TC 126 ke atas (SKALA YA/FS Revisi) (Kumolohadi & Prahesti, 2008:95)
1. Prestasi Belajar dalam Tinjauan Islam
Agama Islam memberikan pehatian yang cukup besar terhadap keilmuan. Hal tersebut dapat diketahui dari wahyu Allah pertama kali diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw surat Al ‘Alaq ayat 1-5
Artinya: Bacalah dengan (menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang paling Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajatkan kepada manusia apa yang tidak diketahui (QS. 96:1-5
Dari firman Allah swt di atas dapat diketahui bahwa membaca, sebagai salah satu bentuk aktifitas belajar merupakan hal yang diperintahkan, sehingga setiap muslim mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu. Hal tersebut berkaitan dengan tugas utama manusia diciptakan di bumi, yaitu sebagai khalifah yang akan mengatur dan mengelola segala sesuatu yang terdapat di alam. Keberhasilan seorang muslim dalam mengelola alam tidak terlepas dari kapasitas ilmunya.
Allah swt juga memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada orang-orang yang berilmu, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Mujadalah ayat 11
!"
#
$ #
%
Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11
Allah swt berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2
#
& ' (
! '
"
)*
+
Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Seorang muslim dalam menuntut ilmu akan senantiasa bersungguh-sungguh (ber’azam ,dan berupaya untuk melakukan yang terbaik agar memperoleh hasil yang memuaskan. Tentunya dalam memperoleh hasil yang baik (prestasi yang memuaskan ) seseorang akan dipertemukan dengan salah satu fase kehidupan, yaitu kesulitan. Akan tetapi seorang muslim tidak akan mudah menyerah, ebab dia mengetahui dan meyakini kesulitan tersebut merupakan ujia yang diberikan Allah untuk mengetahui siapa hamba Nya yang terbaik dan Allah akan memberikan balasan yang sesuai dengan amal yang dikerjakan. Terkait dengan melakukan hal yang terbaik, Rasulullah saw telah bersabda:
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra-dari Rasulullah saw, beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan ihsan pada segala hal, maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang ihsan (terbaik , dan jika kalian menyembelih, sembelihlah
dengan cara yangihsan (terbaik , dan hendaklah salah seorang diantara kamu menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihannya”
(HR.Muslim
Takhrij Hadits
Hadist tersebut merupakan hadist shahih dan diriwayatkan oleh Muslim no 3615 (Musyaffa,2
Hadist tersebut menjelaskan bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk berbuat ihsan, berbuat yang terbaik. Kewajiban ini berlaku juga dalam segala hal, baik dalam urusan ubudiyah, ’adiyat (hal yang biasa dalam keseharian maupun dalam urusan muamalah. Dalam hubungannya dengan ubudiyah, ihsan dimaknai secara imani, yaitu menghadirkan rasa percaya bahwa Allah senantiasa melihat dirinya. Sedangkan dalam hubungannya dengan muamalah, ihsan dimaknai secara ta’amuli,tercakup disini berbuat baik terhadap makhluk ciptaan Allah yang lain.
Ketiga ihsan dimaknai dengan itqan, yaitu melakukan pekerjaan dengan kualitas tingkat kebaikan pelaksanannya yang sangat prima.
Berkaitan dengan kewajiban dalam menuntut ilmu, seorang muslim juga mempunyai keharusan untuk melaksanakan aktivitas tersebut dengan sebaik-baiknya, saling berloma dalam kebaikan (fastabiqul khairat) agar dapat mendapatkan prestasi yang memuaskan. Hal ini dapat dilakukan dengan mempersiapkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam prestasi belajar, seperti mempersiapkan diri sebelum aktivitas dimulai, meningkatkan konsentrasi, perhatian dan lain sebagainya.
2. Adversity Quotient dalam Pandangan Islam
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, sebab dianugerahi akal pikiran, salah satu komponen yang tidak Allah berikan pada makhluk ciptaanNya yang lain. Manusia juga diciptakan dalam keadaan yang sebaik-baiknya (fii ahsani taqwiim), oleh karena itu Allah memberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas mengemban risalah
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 30
, -". #
/0 1 ! /"
#
! - ' 1 $%
&" 23 23 4
# '$ %6 5
7&# &(
)'& %6
!/0 ,
! 8
$ # 9
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(Q.S Albaqarah:30)
Dalam surat As Shaad ayat 26 disebutkan
: &
6
; - '
/"
#
* () ) <
*' ( ++ 8
",> =
*1'-)$
$ , ",
*1'--. / !=
& &0 . #
? . (
Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami Menjadikan kamu khalifah ( penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya oramg-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan“ (Q.S As Shaad:26)
Dalam mengemban amanah tersebut, seseorang akan dihadapkan pada sejumlah cobaan, berupa kemiskinan, kesempitan, pengucilan, kegagalan sebagaimana para nabi dan ummat Islam terdahulu dalam menyampaikan risalah Allah. Berbagai ujian dan cobaan tersebut telah ditetapkan Allah swt sebelum manusia dilahirkan, dengan tujuan mengetahui dan membedakan antara orang-orang yang benar-benar beriman, dan orang-orang yang berdusta.
Islam sebagai agama yang komprehensif (syumul) telah mengatur segala aspek dalam kehidupan, termasuk dalam hal ini mengatur dan mengelola pikiran dan tindakan ketika mengalami ujian, cobaan atau keadaan sulit lainnya agar selepas datangnya ujian tersebut keinginan bertaqarrub pada Allah semakin kuat. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim disebutkan
”Dari abu Huroiroh r.a berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang mukmin yang lemah dan
dalam setiap urusan ( mukmin yang kuat lebih baik). Peliharalah apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah dan jika engkau ditimpa sesuatu (musibah) maka janganlah engkau mengatakan jika saya akan berbuat ini niscaya akan begini dan begini, akan tetapi katakanlah (hal itu adalah ketentuan Allah dan apa yanag Allah kehendaki maka Ia akan berbuat, karena sesungguhnya jika engkau (melakukan itu maka engkau membuka peluang perbuatan syetan (HR.Muslim)
Berdasarkan hadits di atas dapat diketahui bahwa Allah swt sangat mengagumi dan mencintai orang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah, baik kuat secara fisik ataupun kuat secara psikis, yaitu ketegaran ketika ditimpa permasalahan, kesulitan, atau kondisi ketidakbahagiaan lainnya. Seorang mukmin yang kuat senantiasa berdaya upaya menggunakan potensi yang dimiliki untuk mewujudkan cita-cita dengan menyusun strategi atau langkah-langkah secara matang, dan selebihnya akan diserahan kepada Allah swt. Apabila usaha tersebut belum berhasil, tidak akan mudah putus asa, menyerah, melainkan akan segera bangkit karena semakin mengeluh, dan kehilangan harapan semakin jauh rahmat Allah dari dirinya. Ujian dan cobaan diyakini sebagai salah satu rencana yang telah ditetapkan Allah pada dirinya untuk meraih kesuksesan dan keridhoanNya
Allah swt berfirman dalam surat Al Hadid ayat 22
/-->"2 . 1 /"
#
!/" 8
!"" 6 8
/"
03 4"@
1
*1-$ )$ + 56
A /B
%" 4
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam itab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menitipkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Q.S Al Hadid:22)
Pemahaman-pemahaman terhadap firman Allah yang tertuang dalam kitab Al Qur’an dapat disimpulkan bahwasannya ujian dan cobaan bukan sebagai bukti kebencian Allah terhadap ummatnya, melainkan agar manusia dapat lebih banyak belajar mengenai kesabaran, berjiwa besar, optimis, dimana hal tersebut merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan yang hakiki.
Adz-Dzakiey (2006:679) berpendapat bahwa konsep adversity quotient telah menjadi salah satu bagian dari ajaran agama Islam yang terwujud melalui sikap sebagai berikut:
a. Bersikap sabar, yaitu kekuatan dan hati dalam menerima berbagai persolah hidup yang berat dan menyakitkan, serta dapat membahayakan keselamatan diri lahir batin. Sikap ini didorong oleh spirit dari firman Allah surat Al Baqarah ayat 155-156
!"6 ; 2 C6
1
"D 7(
3: 6 8 9
1
(; 6 ,A
A #)<
4
5 #=>
E 5 62
!=?@ 1 - >"2
!
6
6 F'
$ " A
?
Artinya: ‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan:”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada Nya kami akan kembali. ” (Q.S Al Baqarah:155-156)
Sikap kesabaran merupakan salah satu indikasi dari tauhidiyah , penghambaan diri pada Allah yang didasarkan pada iman yang kuat. Sebab, dalam ketabahan dan kesabaran Allah swt hadir dalam diri dan menggerakkan seluruh aktivitas diri di dalam bimbingan, perlindungan, dan pimpinanNya b. Bersikap optimis dan pantang menyerah, yaitu keyakinan yang kuat bahwa
setiap cobaan dan ujian terdapat jalan keluar sehingga senantiasa sikap kesabaran diimplikasikan pada usaha yang ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.Dalam surat Ar Ra’du ayat 11 Allah berfirman
4
7G
% 1% 8 8H
% 1% C+A
!2"B 6C
4
Artinya: “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Dalam surat Yusuf ayat 87
. I 8 D 9
:%F6
;I 8 D 9
8
$ "
JK
Artinya: “….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir ”
Firman-firman Allah di atas menunjukkan bahwa manusia wajib berusaha untuk mewujudkan keinginan, menjemput kesuksesan karena Allah swt tidak akan merubah keadaan suatu hamba sebelum dilakukan usaha untuk mencapainya. Dalam hal dapat diketahui bahwa berserah diri pada Allah (tawakkal) dilakukan secara beriringan dengan kerja keras, bukan sekedar perasaan pasrah tanpa melakukan usaha. Adapun bila upaya tersebut belum berhasil, tawakkal adalah jalan yang ditempuh agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah
Abu Zakaria dan An Nawawy dalam kitab Riyadus shalihin(Bahreisj,1986:33l) dijelaskan bahwa pengharapan atau optimisme sebagai bentuk amal perbuatan merupakan buah dari keimanan seseorang.
Tingkat keimanan yang tinggi mendorong seseorang untuk senantiasa melakukan usaha karena keyakinan bahwa Allah swt akan memberikan balasan yang terbaik bagi orang-orang yang terus berjuang.
c. Berjiwa besar, yaitu kekuatan untuk mengakui kelemahan dan kekhilafan diri yang diwijudkan dengan kekuatan atau kemauan untuk belajar memperbaiki kesalahan diri tersebut pada orang lain dengan lapang dada. Sikap berjiwa besar diindikasikan dengan: terbuka (open minded), kemampuan berkomunikasi
dengan lancar, dan kemampuan memaafkan dan melupakan terhadap kesalahan yang diperbuat orang lain
Dalam ajaran Islam, adversity quotient dapat dipelajari melalui pribadi para nabi, rasul, dan sahabat. Dalam menjalani kehidupan, mereka senantiasa mendapatkan cobaan dan ujian yang sangat berat, terutama perlawanan yang diberikan kaum quraisy. Akan tetapi bagi mereka, orang-orang yang beriman tidak memiliki pilihan melainkan bersabar terhadap malapetaka yang menimpanya dan bersyukur jika ujian tersebut berbentuk kesenangan dan kegembiraan. Hal ini membuat kehidupan seorang mukmin senantiasa bahagia dan optimis dalam menjalani kehidupan di dunia
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sangat mengherankan urusan orang-orang yang beriman di mana semua urusannya adalah baik dan hal itu tidak didapati melainkan oleh orang yang beriman. (Yaitu) apabila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur;
maka itu adalah kebaikan bagiannya. Dan apabila ditimpa malapetaka, dia bersabar; maka itu adalah sebuah kebaikan bagiya.”
(HR. Muslim no. 2999 dari sahabat Abu Yahya Suhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anahu)
sebelumnya diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan,sehingga mampu mengubah hambatan menjadi sebuah peluang bagi dirinya untuk mengasah kemampuan.
Prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai oleh seorang siswa selama proses belajar dalam kurun waktu tertentu. Prestasi belajar seorang siswa dapat diketahui melalui nilai dalam raport. Dalam usaha pencapaian prestasi belajar tidak terlepas dari berbagai kesulitan. Begitu pula bagi siswa akselerasi, dimana mereka menghadapi kesulitan dan tantangan tersendiri yang berbeda dengan siswa yang berada di kelas non akselerasi. Siswa akselerasi dituntut mampu memberikan prestasi yang terbaik baik di kelas ataupun di lingkungan luar sekolah, mampu mengatur waktu dengan baik, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.
Kesulitan atau hambatan yang dirasakan siswa tidak menutup kemungkinan mengakibatkan prestasi belajarnya menurun, walaupun secara intelegensi mereka dikategorikan sebagai anak yang cerdas istimewa. Hal tersebut dikarenakan banyak factor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Salah satunya terletak pada kemampuan, dan kegigihan siswa dalam menghadapi kesulitan.
Kemampuan dalam menghadapi kesulitan ini disebut dengan adversity quotient.
Stolzt (2000:93) mengemukakan bahwa adversity quotient mencakup factor-faktor yang dibutuhkan dalam mencapai kesuksesan. Faktor-faktor tersebut yaitu daya saing , produktivitas, kreativitas, motivasi,mengambil resiko, perbaikan, ketekunan, belajar,dan merangkul perubahan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient tinggi dapat diprediksi akan mempunyai prestasi yang memuaskan. Sebab untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi, diperlukan adanya daya tahan, kemampuan menjangkau kesulitan yang lebih luas pengaukuan dan rasa tanggung jawab, serta control yang kuat agar dapat menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan, sehingga dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan.
E. HIPOTESIS
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “ada hubungan antara Adversity quotient dengan prestasi belajar pada siswa SMP program akselerasi”
Variabel dalam penelitian merupakan atribut dari sekelompok objek yang diteliti yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lain dalam kelompok.
Penelitian ini menguji hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab munculnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah adversity quotient Sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar.
C. Definisi Operasional
Untuk membatasi bahasan terhadap variable penelitian dan menghindari adanya kekeliruan, maka diperlukan definisi opreasional masing-masing variable, yaitu:
a. Adversity Quotient: kemampuan dalam menghadapi kegagalan yang ditunjukkan dengan adanya kemampuan diri untuk mengendalikan respon terhadap kesulitan yang terjadi,kemampuan menempatkan rasa bersalah dan tanggung jawab secara tepat,kemampuan membatasi ruang lingkup masalah serta kemampuan dan keyakinan bahwa kesulitan bersifat sementara
Adversity quotient (variabel bebas)
Prestasi Belajar (variabel terikat)
b. Prestasi belajar : kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran dalam waktu yang telah ditetapkan dan ditunjukkan dengan nilai dalam raport.
c. Siswa akselerasi: peserta didik yang direkomendasikan oleh psikolog atau guru yang mempunyai skor IQ 140 atau tidak kurang dari 125, mempunyai nilai rata-rata 8 untuk mata pelajaran bahasa, IPA, matematika dan memiliki kreativitas memadai serta pengikatan diri terhadap tugas yang tergolong baik
D. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan merupakan keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Menurut Arikunto (2002:112) apabila subjek penelitian kurang dari 100 lebih baik diambil secara keseluruhan, sedangkan apabila jumlah subjek besar atau lebih dari 100 dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 persen
Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa di SMP Negeri 1 Malang yang menempati kelas akselerasi tahun ajaran 2008/2009 yaitu kelas VIII dan kelas IX dengan jumlah 44 siswa, dengan siswa laki-laki berjumlah 16 dan perempuan berjumlah 28 siswa. Dengan demikian penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian populasi
Metode pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk membantu memperoleh data. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:
1. Skala, merupakan sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada subjek untuk dijawab atau diberi respon. Skala yang digunakan dalam angket adalah Skala Adversity Quotient yang didasarkan pada empat dimensi adversity quotient yang dikemukakan oleh Stolzt, yaitu dimensi kontrol, origin-ownership, reach dan dimensi endurance. Adapaun model penskalaan yang digunakan adalah model penskalaan menurut Likert, dimana masing-masing aitem diberi skor satu sampai dengan empat, dengan rincian untuk aitem favourabel SS (Sangat Sesuai) 4, S (Sangat Sesuai) 3, TS (Tidak Sesuai) 2, STS (Sangat Tidak Sesuai) 1, dan sebaliknya untuk aitem yang unfavourabel
2. Dokumentasi. Peneliti menggunakan dokumentasi untuk melihat tramskrip nilai belajar siswa akselerasi. Untuk data prestasi belajar mengacu pada hasil raport semester 2 untuk kelas VIII, dan semester 6 untuk kelas IX.
Secara terperinci kisi-kisi aitem dalam angket ini dapat dijabarkan dalam tabel berikut
:
Tabel 3.1
Blu Print Adversity Quotient
aspek Indikator perilaku deskriptor fav unfav
control Mampu
mengendalikan diri dalam menghadapi kesulitan / keadaan yang tidak diinginkan
Seberapa besar siswa dapat mengendalikan peristiwa yang sulit: penyelesaiaan konflik dalam persahabatan, penyelesaian tugas
16,23, 31
37, 24
Berani mengambil
resiko Seseorang yang mempunyai kendali yang tinggi akan lebih berani mengambil resiko sehingga mampu melakukan hal yang tidak dapat dilakukan orang lain
2,27, 19
-
Mudah bangkit dari
ketidakberdayaan Ditunjukkan dengan mampu melakukan perubahan, tidak mengalah pada nasib atau keadaan hidupnya
3,20
Origin ownersh ip
Menempatkan rasa bersalah secara wajar / tepat
Sejauhmana siswa mampu menempatkan rasa bersalah, penyesalan terhadap peristiwa buruk dengan semestinya
21, 40
12, 15
Memandang
kesuksesan sebagai hasil kerja keras yang telah dilakukan
Mampu memberikan
penghargaan secara positif kepada diri sendiri
32 4,22
Bertanggung jawab atas terjadinya situasi sulit
Ditunjukkan dengan
kemampuan sisiwa
melakaukan tindakan utnuk meminimalkan akibat hegatuf
1,17 -
reach Mampu melakukan pemetaan masalah dengan tepat
Dapat membatasi kesulitan /permasalahan yang dihadapi agar tidak berpengaruh pada aspek lain, sehingga lebih berhati-hati dalam bertindak
5,10, 33,30
9,14, 25
Mampu
memaksimalkan sisi positif dari situasi sulit
Siswa mampu melakukan tindakan positif ketika berada dalam situasi sulit, baik dialami diri sebdiri ataupun orang lain
7,35,
39 -
enduran ce
Menilai kesulitan / kegagalan bersifat sementara
Siswa menghubungkan penyebab terjadinya kesulitan, kemalangan dengan hal yang dapat dirubah
11,26, 38
8,13, 18
optimis Adanya harapan meski telah mengalami kegagalan, yakin harapannya akan terwujud
6,34 28, 29
Tabel 3.2 Data Prestasi Belajar
Nama Rata-rata
HA 83.5
IKS 82.42
VMY 84
ZHRTL 84.5
ANDF 83.92
MRK 82.17
LMZ 76.67
YDS 77.75
M.A 79.75
ELS 83.42
QRN 80.75
HLD 83.83
BTH 82.08
FBR 80.83
AND 78.5
HFSH 81.17
ARY 82.83
NVTY 78.92
PGH 79.58
AKW 84.42
ADH 84.25
KRLT 85
ANG 79.5
GLM 80.73
JHD 86.18
NTY 80.82
FKH 85.09
PN 83
HPR 86.36
AML 83.8
BSM 82.82
MDS 85.64
ATH 83.64
RZQ 85.36
GL 83.45
NVL 85.18
YL 87.09
MR 88.18