MASALAH KEENAM NIKAH TEMPORER
II. Tujuan Utama Pernikahan: Membina Keluarga
Doktor Darini mengatakan bahwa pernikahan dalam Islam disyariatkan bagi tujuan-tujuan utama yang telah ditetapkan dalam al-Quran secara jelas. Semuanya kembali pada pembinaan keluarga utama yang merupakan cikal-bakal masyarakat Islam. Dengan sifat-sifat dasarnya berupa kesucian diri, kesucian badan, kesetiaan, kemenangan dan solidaritas sosial—kemudian untuk menegaskan prinsip tersebut dia berdalil dengan ayat-ayat al-Quran.
Selanjutnya, dia mengatakan, “Ketika Allah mengaitkan pernikahan dengan naluri seksual, hal itu tidak semata-mata dimaksudkan untuk memenuhi dorongan seksual. Melainkan yang Dia maksudkan adalah mengarah kepada terwujudnya tujuan tersebut beserta sifat-sifat dasarnya berupa pembentukan keluarga yang hukum-hukumnya telah ditetapkan secara terperinci dalam al-Quran.”
Oleh karena itu, pernikahan temporer yang luput dari tujuan reproduksi dan pembinaan keluarga menggugurkan tujuan yang dimaksudkan Sang Pembuat syariat dari setiap prinsip disyariatkannya pernikahan itu.256
Berikut ini catatan atas ungkapan di atas.
Pertama: Profesor ini telah mencampuradukkan illat pensyariatan dengan hikmahnya. Illat adalah sumbu tempat berputarnya suatu hukum. Hukum itu akan berlaku jika ada illat. Sebaliknya, hukum itu gugur jika tidak ada illat. Ini berbeda dengan hikmah. Kadang-kadang hukum lebih luas daripada hikmah. Berikut ini penjelasannya.
Pembuat syariat mengatakan, “Jauhilah minuman yang memabukkan.” Mabuk merupakan illat bagi wajibnya menjauhi minuman tersebut dengan bukti adanya keterkaitan di antara keduanya. Selama cairan itu memabukkan, maka hukum itu tetap berlaku. Tetapi, jika cairan itu berubah menjadi cuka, maka hukum itu pun menjadi gugur.
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman, Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan
256 Mukadimah: ... Dinukil dari Tafsir al-Manar, “Kemaslahatan manusia itu baru bisa terwujud apabila dorongan biologis itu mengarahkan setiap individu dari kedua jenis manusia untuk hidup bersama membina mahligai rumah tangga dan saling membantu dalam mendidik anak-anak mereka. Apabila tujuan dari ‘ihshan’ ini tidak ada, maka dorongan biologis itu hanya terfokus pada tujuan pelampiasan nafsu belaka...” (Al-Manar, jil.5, hal.8, cetakan tahun 1367)
Allah di dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat (QS. al-Baqarah [2]:228).
Kandungan ayat ini mengungkapkan bahwa “menahan diri” adalah untuk mengetahui keadaan rahim, apakah mengandung anak atau tidak. Seperti telah diketahui, ini adalah hikmah dari hukum tersebut, bukan illat-nya. Oleh karena itu, kami memandang bahwa hukum itu lebih luas daripada hikmah. Dalilnya, para fukaha menetapkan hukum wajibnya “menahan diri” untuk mengetahui ada atau tidak adanya kehamilan di dalam rahim perempuan itu. Sepeti itu pula dalam kasus-kasus berikut.
1. Apabila perempuan itu mandul, tidak melahirkan anak. 2. Apabila laki-laki yang mandul.
3. Apabila suami meninggalkannya dalam jangka waktu yang lama, misalnya enam bulan atau lebih, dan kita tahu bahwa tidak ada kehamilan dalam rahimnya.
4. Apabila melalui pemeriksaan medis, diketahui tidak ada kehamilan dalam rahimnya.
Ayat itu adalah ayat hukum walaupun tidak ada hikmah dari hukum tersebut. Hal ini tidak menafikan apa yang telah kita sepakati bahwa hukum-hukum itu mengikuti kemaslahatan. Sebab, yang dimaksud adalah kriteria-kriteria untuk kebanyakan kasus, tidak untuk seluruh kasus.
Apabila Anda telah mengetahui perbedaan antara hikmah dan illat, Anda akan mengetahui bahwa profesor ini telah mencampuradukkan antara illat dan hikmah. Maka itu, pembinaan keluarga, reproduksi dan solidaritas sosial semuanya muncul dari sisi hukum dengan dalil bahwa Sang Pembuat syariat juga
menetapkan hukum sahnya pernikahan walaupun dilakukan bukan untuk tujuan-tujuan di atas, seperti dalam kasus-kasus berikut.
1. Sahnya pernikahan laki-laki yang mandul dengan perempuan yang subur.
2. Sahnya pernikahan perempuan yang mandul dengan laki -laki yang subur.
3. Sahnya pernikahan perempuan yang sudah mengalami menopause. 4. Sah pernikahan anak di bawah umur.
5. Sah pernikahan seorang pemuda dengan seorang pemudi dengan niat tidak akan memiliki anak sepanjang hidupnya.
Apakah, menurut profesor ini, boleh membatalkan pernikahan-pernikahan seperti ini dengan alasan tidak bertujuan untuk membina keluarga?
Padahal sudah jelas, kebanyakan pasangan muda yang menikah melalui pernikahan permanen tidak memiliki tujuan kecuali untuk memenuhi dorongan seksual dan memperoleh kenikmatan melalui cara yang halal. Mereka tidak berpikir untuk menghasilkan keturunan, walaupun akhirnya hal itu diperoleh juga.
Kedua: Profesor itu harus membedakan antara orang yang menikah temporer untuk tujuan memperoleh keturunan dan membina keluarga beserta sifat-sifat dasarnya berupa kesucian diri, kesucian badan, kesetiaan, kemenangan dan solidaritas sosial dan orang yang menikah untuk memenuhi dorongan seksual semata melalui cara ini.
Adapun, mengapa ditempuh pernikahan temporer? Karena adanya beberapa kemudahan dalam pernikahan temporer yang tidak diperoleh dalam pernikahan permanen.
Profesor itu, seperti kebanyakan orang dari kalangan Ahlusunnah yang menulis tentang pernikahan temporer, menganggap perempuan yang dinikahi dengan pernikahan temporer adalah layaknya seperti para pelacur yang selalu membuka pintu rumahnya (bagi para pria hidung belang—peny). Setiap hari, seorang laki menemuinya, dan pada hari itu dia berkumpul dengannya, kemudian laki-laki itu meninggalkannya. Kemudian datang laki-laki-laki-laki lain melakukan hal serupa. Kalau ini makna pernikahan temporer, mazhab Imamiyah serta para Imam, para rasul dan kitab-kitabnya berlepas diri dari syariat yang serupa dengan perzinaan tetapi berbeda nama ini. Akan tetapi, pernikahan temporer itu berbeda 100 persen dari pernikahan tersebut. Kadang -kadang ada perempuan yang ditinggal mati suaminya, sementara dia masih muda dan cantik; di sisi lain, ada laki-laki yang tidak mampu menempuh pernikahan permanen karena kendala-kendala sosial yang menghadangnya. Bersamaan dengan itu, dia mencari perempuan seperti perempuan tadi, lalu menikahinya dengan beberapa tujuan: Pertama, menghindari perzinaan, dan kedua, membina keluarga dengan sifat-sifat yang dimiliki perempuan tersebut.
Sebenarnya, pikiran yang tersimpan dalam benak penulis itu dan orang-orang lain tentang pernikahan temporer adalah menganggap pernikahan tersebut sama dengan pelacuran di rumah-rumah bordil dan tempat-tempat lainnya. Padahal, tidak mungkin pernikahan seperti itu ditetapkan dengan syariat. Selain itu, pernikahan temporer yang disyariatkan tidaklah seperti itu adanya. Kadang-kadang pernikahan temporer itu berlangsung hanya sehari-semalam saja. Maka dalam pernikahan temporer itu ditetapkan syarat-syarat seperti yang berlaku dalam pernikahan permanen. Namun, pernikahan temporer berbeda dengan pernikahan permanen dalam dua hal, yaitu dalam talak dan pemberian nafkah. Sedangkan dalam pewarisan, mereka saling mewariskan. Hal
semacam itu menuntut tujuan-tujuan yang dituntut dalam pernikahan pada umumnya. Kami telah menjelaskan hakikat pernikahan temporer dalam pembahasan di atas.
Sebenarnya, tujuan utama dalam setiap kasus yang diberi keringanan oleh Sang Pembuat syariat dalam hal hubungan seksual dengan segala bagian-bagiannya hingga pemilikan budak dan kehalalan mencampurinya adalah untuk memelihara diri agar tidak jatuh ke dalam perzinaan dan pelacuran. Adapun tujuan-tujuan lain berupa pembinaan keluarga dan solidaritas sosial hanyalah tujuan-tujuan sekunder sebagai suatu konsekuensi baik dimaksudkan oleh suami-istri itu maupun tidak.
Tujuan utama itu terdapat dalam pernikahan temporer. Tujuan disyariatkannya pernikahan temporer itu adalah untuk memelihara diri dari perbuatan haram bagi orang yang tidak mampu me nempuh pernikahan permanen. Karena itu, telah tersebar hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Semoga Allah merahmati Umar. Pernikahan mut’ah itu adalah rahmat dari Allah yang diberikan kepada umat Muhammad. Kalau dia tidak melarangnya, niscaya tidak akan jatuh ke dalam perzinaan kecuali orang yang celaka.”257
Firman Allah Swt, Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya (QS. al-Nur [24]:33) merupakan dalil atas dihalalkannya pernikahan tersebut. Larangan untuk menempuh kehidupan kependetaan adalah untuk memelihara diri dari perbuatan keji dan mendorongnya pada kesucian diri. Tujuan ini, sebagaimana Anda ketahui, terdapat dalam semua jenis pernikahan dan hubungan seksual, dari pernikahan permanen hingga
257 Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jil.2, hal.141. Nas itu diriwayatkan juga dari Ali. Silakan lihat tafsir Imam Razi, jil.3, hal.200 masalah ketiga dalam penjelasan nikah mut’ah.
pernikahan temporer, dari pemilikan budak hingga penghalalan budak dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam fikih.