• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

K- Tukar Tanah

Data pengukuran K-tukar tanah dari setiap posisi lahan pada kedalaman tanah (0-20 cm) dan (20-40 cm) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. K-tukar tanah (me/100 g) dari setiap posisi lahan Kedalaman Tanah (cm) Posisi lahan Ulangan Rataan Kriteria I II III 0-20

Puncak bukit 0.247 0.438 0.326 0.340 Rendah Lereng bukit 0.988 0.403 0.314 0.568 Sedang

Lembah 0.212 0.350 0.101 0.221 Rendah

20-40

Puncak bukit 0.141 0.070 0.245 0.150 Rendah Lereng bukit 0.077 0.056 0.076 0.070 Sangat rendah

Lembah 0.133 0.167 0.045 0.115 Rendah

Keterangan : Nilai rataan yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 menurut uji T

Dari Tabel 4. di atas terlihat bahwa rataan K-tukar tanah pada kedalaman 0-20 cm pada bagian puncak bukit sebesar 0.340 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.568 me/100g dan pada bagian lembah sebesar 0.221 me/100g. Sedangkan pada kedalaman 20-40 cm nilai K-tukar tanah pada bagian puncak bukit sebesar 0.150 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.070 me/100g dan pada bagian lembah 0115 me/100g. Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah Bogor (2005) hasil analisis K-tukar tanah pada setiap posisi lahan tersebut tergolong sangat rendah hingga sedang.

Ca-Tukar Tanah

Data pengukuran Ca-tukar tanah dari setiap posisi lahan pada kedalaman tanah (0-20 cm) dan (20-40 cm) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Ca-tukar tanah (me/100 g) dari setiap posisi lahan Kedalaman Tanah (cm) Posisi lahan Ulangan Rataan Kriteria I II III 0-20

Puncak bukit 0.546 0.550 0.741 0.610 Sangat rendah Lereng bukit 0.538 0.850 0.590 0.659 Sangat rendah Lembah 0.249 0.655 0.487 0.464 Sangat rendah 20-40

Puncak bukit 0.652 0.949 0.351 0.650 Sangat rendah Lereng bukit 0.370 0.597 0.905 0.624 Sangat rendah Lembah 0.675 0.554 0.249 0.493 Sangat rendah Dari Tabel 5. di atas terlihat bahwa rataan Ca-tukar tanah pada kedalaman 0-20 cm pada bagian puncak bukit sebesar 0.610 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.659 me/100g dan pada bagian lembah sebesar 0.464 me/100g. Sedangkan pada kedalaman 20-40 cm nilai Ca-tukar tanah pada bagian puncak bukit sebesar 0.650 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.624 me/100g dan pada bagian lembah sebesar 0.493 me/100g. Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah Bogor (2005) hasil analisis Ca-tukar tanah pada setiap posisi lahan tersebut tergolong sangat rendah.

Mg-Tukar Tanah

Data pengukuran Mg-tukar tanah dari setiap posisi lahan pada kedalaman tanah (0-20 cm) dan (20-40 cm) dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Mg-tukar tanah (me/100 g) dari setiap posisi lahan Kedalaman Tanah (cm) Posisi lahan Ulangan Rataan Kriteria I II III 0-20

Puncak bukit 0.087 0.308 0.204 0.200 Sangat rendah Lereng bukit 0.179 0.341 0.131 0.217 Sangat rendah Lembah 0.097 0.149 0.111 0.119 Sangat rendah 20-40

Puncak bukit 0.055 0.113 0.118 0.100 Sangat rendah Lereng bukit 0.060 0.107 0.067 0.078 Sangat rendah Lembah 0.063 0.052 0.075 0.063 Sangat rendah Dari Tabel 6. di atas terlihat bahwa rataan Mg-tukar tanah pada kedalaman 0-20 cm pada bagian puncak bukit sebesar 0.200 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.217 me/100g dan pada bagian lembah sebesar 0.119 me/100g. Sedangkan pada kedalaman 20-40 cm nilai Mg-tukar tanah pada bagian puncak bukit sebesar 0.100 me/100g, pada bagian lereng bukit sebesar 0.078 me/100g dan pada bagian lembah sebesar 0.063 me/100g. Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah Bogor (2005) hasil analisis Mg-tukar tanah pada setiap posisi lahan tersebut tergolong sangat rendah.

Pembahasan

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa pada bagian lereng bukit memiliki nilai pH yang lebih rendah dibandingkan dengan bagian puncak bukit dan lembah. Rendahnya nilai pH bagian lereng bukit dapat terjadi karena pada posisi lahan ini lebih rentan terkena pukulan hujan secara langsung. Air hujan ini memiliki sifat masam yang dapat terlarut di dalam tanah sehingga membuat pH tanah menjadi lebih masam. Menurut Winarso (2005) bahwa pada lahan dengan curah hujan tinggi umumnya kemasaman meningkat sesuai dengan kedalaman lapisan tanah, sehingga kehilangan top soil oleh erosi dapat menyebabkan lapisan olah tanah menjadi lebih masam. Mukhlis et al (2011) menambahkan bahwa tanah secara

bumi bersifat asam. Air hujan murni sebenarnya adalah air destilasi, namun begitu turun melalui atmosfir dapat menjadi asam berpH 5,6 karena bereaksi dengan CO2 atmosfir akan menghasilkan ion H+, akibatnya pH menjadi 5,6. Reaksinya : H2O + CO2> H2CO3> H+ + HCO3 <-> 2H+ + CO

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai N-total tanah pada lahan tersebut cenderung mengalami peningkatan pada bagian lembah dibandingkan dengan bagian puncak bukit dan lereng bukit. Hal ini dapat terjadi karena unsur hara N bersifat labil karena mudah berubah bentuk dan mudah hilang. Hilangnya unsur hara N dapat disebabkan karena terangkut pada saat panen, terjadinya erosi, hilang dalam bentuk gas dan lain-lain. Menurut Damanik et al (2011) ditinjau dari berbagai hara nitrogen yang paling banyak mendapat perhatian. Hal ini disebabkan jumlah nitrogen yang terdapat di dalam tanah sedikit sedangkan yang diangkut tanaman dalam bentuk panenan setiap musim cukup banyak. Di samping itu senyawa nitrogen anorganik sangat mudah larut dan mudah hilang dalam air drainase, tercuci, dan menguap ke atmosfir.

3.

Dari hasil analisis nilai P-tersedia tanah yang terdapat pada lahan tersebut memiliki nilai yang relatif sama pada setiap posisi lahan dan memiiki kriteria yang sangat rendah. Pada umumnya sebagian P di dalam tanah tidak tersedia bagi tanaman, yang dapat terjadi karena P terikat dalam berbagai persenyawaan. Menurut Damanik et al (2011) sebagian P di dalam tanah umumnya tidak tersedia untuk tanaman, meskipun jumlah totalnya lebih besar daripada nitrogen. Winarso (2005) menambahkan bahwa sebagian besar pupuk yang diberikan kedalam tanah tidak dapat digunakan tanaman karena bereaksi dengan bahan-bahan tanah lainnya sehingga tidak dapat digunakan tanaman.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai K-tukar tanah pada lahan tersebut cenderung mengalami penurunan pada bagian lembah dibandingkan dengan bagian puncak bukit dan lereng bukit. Pada umumnya kadar kalium total tanah umumnya cukup tinggi namun yang tersedia di dalam tanah cukup rendah. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar kalium berada dalam lapisan mineral liat. Unsur hara kalium ini juga mudah hilang akibat tercuci dan erosi. Menurut Yulipriyanto (2010) bahwa jumlah kalium total dalam tanah cukup besar, tetapi ketersediannya bagi pertumbuhan tanaman sangat sedikit. Sebagian besar kalium

ditahan oleh struktur mineral, atau di dalam lapisan mineral liat, dan tersedia sangat lambat. Damanik et al (2011) menambahkan bahwa kehilangan

kalium dari tanah dapat terjadi dengan beberapa cara seperti: terangkut tanaman bersama pemanenan, tercuci, tererosi dan terfiksasi.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Ca-tukar tanah pada lahan tersebut cenderung mengalami penurunan pada bagian lembah dibandingkan dengan bagian puncak bukit dan lereng bukit. Keadaan kapasitas tukar kation (KTK) dan persen kejenuhan basa dapat mempengaruhi konsentrasi Ca dalam larutan tanah. Nilai Ca juga dapat terpengaruh karena adanya proses pencucian. Menurut Hanafiah (2005) bahwa ketersediaan Ca dan Mg terkait dengan kapasitas tukar kation (KTK) dan persen kejenuhan basa-basa (Ca, Mg, K dan Na). Kejenuhan basa yang rendah mencerminkan ketersediaan Ca dan Mg yang rendah. Winarso (2005) menambahkan bahwa kadar Ca2+ dalam larutan tanah pada daerah-daerah dengan curah hujan tinggi biasanya sedikit, sehingga dapat membatasi pertumbuhan tanaman.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Mg-tukar tanah pada lahan tersebut cenderung mengalami penurunan pada bagian lembah dibandingkan dengan bagian puncak bukit dan lereng bukit. Ketersediaan Mg untuk pertumbuhan tanaman tergantung pada tingkat ketersediaan Mg yang dapat dipertukarkan dan konsentrasi Mg dalam larutan tanah. Menurut Winarso (2005) seperti halnya Ca di dalam tanah Mg terdapat di larutan tanah dan dalam kesetimbangan dengan tapak-tapak jerapan tanah, sehingga dapat saling dipertukarkan. Biasanya kadar Mg lebih rendah dibandingkan dengan Ca, hal ini disebabkan Mg lebih lemah diikat oleh tapak-tapak jerapan dibandingkan dengan Ca sehingga lebih peka terhadap pencucian.

Dokumen terkait