BAB IV KETERANGAN LAIN
4.11 TULISAN, LOGO DAN/ATAU GAMBAR YANG TERKAIT DENGAN
▪ Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan kelestarian lingkungan dapat dicantumkan pada label. ▪ Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan
kelestarian lingkungan dapat berupa ekolabel, bahan kemasan yang terbarukan atau istilah lain yang semakna. ▪ Pencantuman tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait
dengan kelestarian lingkungan harus disertai dengan data dukung yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Beberapa contoh penulisan keterangan mengenai kelestarian lingkungan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 87. Logo ekolabel Indonesia
Gambar 88. Logo klaim aspek lingkungan
4.12 TULISAN, LOGO DAN/ATAU GAMBAR YANG TERKAIT DENGAN KEMASAN PANGAN
▪ Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan kemasan pangan dapat dicantumkan pada label.
▪ Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan kemasan pangan antara lain logo tara pangan, kode daur ulang, ramah lingkungan, 100% daur ulang, atau istilah lain yang semakna.
▪ Pencantuman tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan kemasan pangan harus disertai dengan data
dukung yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Beberapa contoh penulisan keterangan mengenai kelestarian lingkungan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 89. Kode daur ulang plastik
Gambar 90. Logo tara pangan
4.13 KETERANGAN UNTUK MEMBEDAKAN MUTU SUATU PANGAN OLAHAN
1. Keterangan untuk membedakan mutu suatu pangan olahan dapat digunakan dalam hal pangan olahan tersebut memiliki perbedaan terkait karakteristik mutu dan/atau kandungan zat gizi dengan pangan olahan sejenis.
2. Pangan olahan sejenis merupakan pangan olahan yang diproduksi oleh perusahaan yang sama dan telah beredar.
3. Keterangan mengenai mutu suatu pangan olahan dapat berupa tulisan dan/atau gambar.
4. Perbedaan kandungan gizi harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Keterangan yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan mutu dan/atau kandungan gizi suatu pangan olahan dapat berupa “spesial”, “premium”, “gold”, “platinum”, “ekstra”, “plus (+)”, “advanced”, “asterik (*)”, atau kata lain yang semakna. Contoh pencantuman keterangan mengenai mutu suatu pangan olahan dapat dilihat pada Gambar 91.
Gambar 91. Pangan olahan yang mencantumkan kata ‘ekstra’ 6. Keterangan berupa alami, murni, 100%, dengan ... (diikuti nama
bahan), dari (diikuti nama bahan), segar, dan asli dapat dicantumkan pada label.
a. Pernyataan “alami” hanya dapat digunakan untuk pangan olahan yang tidak dicampur dan tidak diproses; atau pangan olahan yang diproses secara fisika tetapi tidak mengubah sifat dan kandungannya.
b. Pernyataan “murni” atau “100%” hanya dapat digunakan untuk pangan olahan yang tidak ditambahkan/dicampur dengan bahan lain. Contoh penulisan 100% dapat dilihat pada Gambar 92.
Gambar 92. Pangan olahan yang mencantumkan kata ‘100%’ c. Pernyataan “Dengan (diikuti nama bahan)” atau kata yang
semakna dapat digunakan jika bahan tersebut merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam pangan olahan yang bersangkutan. Penggunaan kata “dengan” atau kata yang semakna harus mencantumkan jumlah bahan yang digunakan. Contoh penulisan kata ‘dengan’ dapat dilihat pada Gambar 93.
Gambar 93. Pangan olahan yang mencantumkan kata ‘dengan’ d. Pernyataan “Dari (diikuti nama bahan)” dapat digunakan jika bahan tersebut merupakan salah satu bahan baku utama yang digunakan dalam pangan olahan yang bersangkutan (kandungan bahan tersebut minimal 50%). Contoh penulisan kata ‘dari’ dapat dilihat pada Gambar 94.
Susu UHT
100% dari susu sapi segar
Dengan Daging Sapi
Daftar bahan: daging sapi (54%), penstabil nabati, bawang putih, garam, pengemulsi pati asetat, pewarna alami karamel I, pengawet kalium sorbat
Gambar 94. Pangan olahan yang mencantumkan kata ‘dari’ e. Pernyataan “segar” tidak boleh digunakan pada label
pangan yang terbuat dari pangan olahan antara atau pangan olahan lainnya.
f. Pernyataan “asli” tidak dapat digunakan untuk pangan olahan yang dicampur dengan bahan yang dapat mengaburkan keasliannya, seperti penggunaan perisa. Contoh penulisan pada produk minuman serbuk kopi rasa cokelat hazelnut yang menggunakan kopi tanpa perisa kopi, dapat mencantumkan tulisan “Dengan kopi asli” dapat dilihat pada Gambar 95.
Dari Daging Ayam
Daftar bahan:
Daging ayam (60%), air, minyak nabati, tepung roti, tepung batter, tepung terigu, gula, bawang merah, bawang putih, lada, garam, dan merica.
BAB V
KETENTUAN LAIN-LAIN
5.1 PANGAN DENGAN LUAS PERMUKAAN LABEL KURANG DARI ATAU SAMA DENGAN 10 CM2 (SEPULUH SENTIMETER PERSEGI)
▪ Keterangan yang wajib dicantumkan paling sedikit yaitu nama produk, tanggal kedaluwarsa, dan nomor izin edar. ▪ Untuk produk dengan luas permukaan label kurang dari atau
sama dengan 10 cm2 (sepuluh sentimeter persegi) dan tidak dijual eceran, keterangan tanggal kedaluwarsa dapat dicantumkan pada kemasan sekunder.
Contoh penulisan keterangan pada pangan olahan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama dengan 10 cm2 dapat dilihat pada Gambar 96.
Gambar 96. Pangan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama dengan 10 cm2
5.2 PANGAN OLAHAN YANG DIJUAL DAN DIKEMAS SECARA LANGSUNG DI HADAPAN KONSUMEN
▪ Keterangan tentang pangan olahan tersebut dicantumkan pada media informasi lain yang diletakkan di tempat penjualan atau berdekatan dengan tempat penjualan sedemikian rupa sehingga dapat dilihat dan dibaca. Media informasi lain misalnya brosur, leaflet, atau banner.
▪ Keterangan yang dicantumkan pada media informasi paling sedikit memuat informasi mengenai nama produk, daftar bahan yang digunakan, halal bagi yang dipersyaratkan, dan
Contoh penulisan keterangan pada pangan olahan yang dijual dan dikemas secara langsung di hadapan konsumen dapat dilihat pada Gambar 97.
Gambar 97. Pangan olahan yang dijual dan dikemas secara langsung di hadapan konsumen
BAB VI
PENJELASAN TENTANG LARANGAN
1. Pernyataan bahwa pangan olahan mengandung suatu zat gizi lebih unggul daripada pangan olahan lain yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Contoh: produk mengandung ginkgo biloba secara perundang-undangan belum diizinkan digunakan sebagai pangan.
2. Pernyataan bahwa pangan olahan dapat menyehatkan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk sereal siap santap yang mencantumkan pernyataan “untuk kesehatan prima” dapat dilihat pada Gambar 98.
Gambar 98. Pangan olahan untuk kesehatan prima
3. Pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk acar bawang terdapat pernyataan “dapat menyembuhkan penyakit jantung koroner” dapat dilihat pada Gambar 99.
Gambar 99. Pangan olahan berfungsi sebagai obat
4. Pernyataan bahwa pangan olahan dapat meningkatkan kecerdasan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label susu bubuk terdapat pernyataan “membuat anak lebih pintar” dapat dilihat pada Gambar 100.
Gambar 100. Pangan olahan dapat meningkatkan kecerdasan 5. Pernyataan keunggulan pada pangan olahan jika keunggulan
tersebut tidak seluruhnya berasal dari pangan olahan tersebut tetapi sebagian diberikan dari pangan olahan lain yang dapat dikonsumsi bersama-sama.
X
X
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada produk susu bubuk full cream terdapat pernyataan “memenuhi kebutuhan gizi setiap hari”. Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan gizi tidak hanya didapat dari mengonsumsi produk ini saja, namun juga bersama dengan bahan sumber gizi lain sesuai konsep gizi seimbang dapat dilihat pada Gambar 101.
Gambar 101. Pangan olahan memenuhi kebutuhan gizi setiap hari 6. Pernyataan yang memuat ketiadaan suatu komponen yang secara
alami tidak ada dalam pangan olahan, kecuali ada data pendukung/standar umum pangan olahan yang mengandung komponen tersebut.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk minyak goreng sawit mencantumkan keterangan “non-kolesterol”. Hal ini akan menyesatkan karena pada dasarnya minyak yang berasal dari tumbuhan memang tidak mengandung kolesterol dapat dilihat pada Gambar 102.
Gambar 102. Keterangan tanpa kolesterol pada produk minyak nabati 7. Pernyataan bebas bahan tertentu tetapi mengandung bahan
tertentu tersebut baik tidak disengaja maupun sebagai bahan/senyawa ikutan (Carry Over).
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk biskuit cokelat mencantumkan pernyataan “tanpa pengawet”, padahal dalam komposisinya menggunakan gula yang mengandung BTP ikutan pengawet dapat dilihat pada Gambar 103.
Gambar 103. Keterangan tanpa pengawet pada produk berpengawet 8. Tulisan atau gambar seolah-olah bahan pangan sintetik berasal dari
alam.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk sediaan pemanis buatan (table top sweetener),
Biskuit Cokelat Daftar Bahan:
Tepung terigu, gula (mengandung pengawet sulfit), minyak nabati, susu bubuk, laktosa, cokelat bubuk (5%).
Tanpa pengawet.
X
X
mencantumkan gambar tebu, sehingga seolah-olah produk terbuat dari bahan alami dapat dilihat pada Gambar 104.
Gambar 104. Penggunaan gambar bahan pada produk yang tidak mengandung bahan tersebut
9. Nama, logo, atau identitas lembaga yang melakukan pembinaan, memberikan rekomendasi dan/atau melakukan analisis tentang pangan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk keripik pisang yang mencantumkan logo universitas/institusi pembina dapat dilihat pada Gambar 105.
Gambar 105. Logo universitas/institusi pembina
10. Gambar atau keterangan terkait tenaga kesehatan, tokoh agama atau pejabat publik, atau berperan sebagai tenaga kesehatan, tokoh agama, atau pejabat publik.
X
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu produk label produk serbuk minuman sereal tercantum gambar tenaga kesehatan, sehingga seolah-olah produk ini direkomendasikan oleh tenaga kesehatan dapat dilihat pada Gambar 106.
Gambar 106. Tokoh tenaga kesehatan
11. Nama dan gambar tokoh yang telah menjadi milik umum, kecuali mendapat izin dari yang bersangkutan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk susu mencantumkan gambar atlet Indonesia Susi Susanti, namun belum terdapat izin dari yang bersangkutan dapat dilihat pada Gambar 107
Gambar 107. Tokoh publik namun tidak mendapatkan izin terlebih dahulu
X
X
X
12. Pernyataan atau keterangan yang secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa pihak lain.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk minuman serbuk kopi terdapat pernyataan “kopi paling josss, yang lain jeblosss” dapat dilihat pada Gambar 108. Hal ini secara tidak langsung merendahkan produk lain, tidak sebaik/senikmat produk ini.
Gambar 108. Pangan olahan yang merendahkan produk lain 13. Keterangan, tulisan, atau gambar yang menyinggung suku, agama,
ras, dan/atau golongan tertentu.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk minuman serbuk kopi terdapat gambar dan tulisan suku suatu daerah dapat dilihat pada Gambar 109. Gambar atau simbol tersebut berkaitan dengan menonjolkan suku budaya tertentu sehingga dilarang dicantumkan.
Gambar 109. Pencantuman simbol suku daerah tertentu yang bermaksud merendahkan suku lain
14. Keterangan mengenai undian, sayembara, hadiah, dan tulisan atau gambar apapun yang tidak sesuai dengan label yang disetujui yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari izin edar.
15. Keterangan, tulisan, atau gambar lainnya yang bertentangan dan dilarang oleh ketentuan perundang-undangan.
16. Keterangan yang menimbulkan gambaran/persepsi yang bertentangan dengan norma kesusilaan, etika, atau ketertiban umum.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada produk makaroni dengan saus pedas mencantumkan gambar bibir merah yang memberikan persepsi bertentangan dengan norma kesusilaan dapat dilihat pada Gambar 110.
Gambar 110. Ilustrasi yang bertentangan dengan norma kesusilaan 17. Pernyataan bahwa konsumsi pangan olahan tersebut dapat
memenuhi kebutuhan semua zat gizi.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label susu bubuk full cream mencantumkan pernyataan “memenuhi kebutuhan gizi setiap hari” sedangkan hanya mengonsumsi produk ini saja tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang dalam sehari dapat dilihat pada Gambar 111.
Gambar 111. Pangan olahan yang memenuhi kebutuhan gizi setiap hari 18. Keterangan yang menyatakan pangan olahan bersifat tonik, hanya
karena pangan olahan tersebut mengandung alkohol, gula atau karbohidrat lain, protein, kafein, atau zat yang berasal dari hidrolisis protein atau turunan purin. Pencantuman kata “tonik”
X
hanya dapat digunakan jika merupakan nama jenis pangan olahan sesuai dengan kategori pangan.
19. Logo atau keterangan lain yang tidak terkait pangan olahan atau berlebihan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk cokelat susu mencantumkan deskripsi tentang peternakan sapi perah di Eropa dapat dilihat pada Gambar 112. Deskripsi tersebut sebetulnya tidak diperlukan karena dipandang berlebihan untuk produk cokelat susu.
Gambar 112. Keterangan yang tidak berkaitan dengan produk pangan 20. Keterangan teknologi terbaru/modern/terkini atau kalimat
semakna yang kondisinya dipengaruhi oleh waktu.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada produk sari buah apel mencantumkan kalimat “dengan teknologi terbaru pulse electric field (PEF)” sedangkan jenis ini bukan merupakan teknologi yang terdapat pada kategori pangan dan kondisinya dipengaruhi oleh waktu dapat dilihat pada Gambar 113.
Gambar 113. Pencantuman jenis teknologi yang kondisinya dipengaruhi waktu
21. Klaim gizi, klaim kesehatan, dan klaim lainnya pada label pangan olahan yang diperuntukkan bagi bayi.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada produk formula bayi mencantumkan kalimat ‘meningkatkan imunitas dan kecerdasan bayi anda’ sedangkan pada pangan tidak boleh mencantumkan klaim kecerdasan dapat dilihat pada Gambar 114.
Gambar 114. Klaim kecerdasan pada pangan olahan yang diperuntukkan bagi bayi
X
22. Pernyataan/visualisasi yang menggambarkan bahwa susu kental dan analognya disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu dan sebagai satu-satunya sumber gizi.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk Susu Kental Manis mencantumkan gambar berupa segelas susu sebagai hidangan tunggal (tanpa pangan lain sebagai pendamping) dapat dilihat pada Gambar 115.
Gambar 115. Produk susu kental manis
23. Pernyataan/visualisasi yang semata-mata menampilkan anak di bawah usia 5 (lima) tahun pada susu kental dan analognya. Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk Susu Kental Manis menampilkan anak seorang diri tanpa anggota keluarga yang lain dan terdapat gambar segelas susu yang dapat dilihat pada Gambar 116. Hal ini dikhawatirkan memberikan persepsi kepada masyarakat bahwa produk ini dapat dikonsumsi sebagai pemenuhan gizi anak.
√
Gambar 116. Menampilkan anak dibawah usia 5 tahun pada produk susu kental dan analognya
24. Pernyataan/visualisasi yang menggambarkan peruntukan bagi kelompok tertentu pada pangan olahan umum. Pangan olahan yang tidak diperuntukkan untuk kelompok tertentu tidak boleh mencantumkan pernyataan/visualisasi seolah-olah produk tersebut untuk kelompok tertentu.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label minuman sari buah mencantumkan gambar anak dibawah lima tahun dapat dilihat pada Gambar 117. Hal ini seolah-olah menggambarkan bahwa produk ini memiliki peruntukan bagi anak dibawah lima tahun.
Gambar 117. Pencantumam ilustrasi anak-anak pada produk umum
X
25. Keterangan tanpa BTP selain sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 ayat (4) Peraturan Badan POM Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, meliputi penggunaan dan/atau pencantuman nama jenis BTP, keterangan atau pernyataan “bebas BTP”, “tidak menggunakan BTP”, “tidak menambahkan BTP”, “tidak terdapat BTP”, “tidak mengandung BTP”, atau yang semakna.
Contoh pencantuman keterangan tanpa BTP pada produk keripik rasa bawang dapat dilihat pada Gambar 118.
Contoh pencantuman yang benar
Contoh pencantuman yang salah
Gambar 118. Keterangan tanpa BTP
26. Pernyataan pada label harus disertai dengan data dukung yang dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu contoh penulisan label yang salah yaitu pada label produk selai kacang tercantum pernyataan “selai terlezat pilihan Indonesia” dapat dilihat pada Gambar 119. Kalimat ‘terlezat’ bersifat selera yang berbeda-beda untuk setiap orang sehingga tidak tepat dicantumkan.
Daftar bahan:
Tepung terigu, telur, mentega, susu bubuk, daun bawang, garam, bubuk bawang putih, lada.
Tanpa Penguat Rasa.
Daftar bahan:
Tepung terigu, telur, mentega, susu bubuk, daun bawang, garam, bubuk bawang putih, lada.
Non-MSG.
X
Gambar 119. Pernyataan ‘terlezat’ bersifat selera sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan
27. Informasi yang terdapat dalam label tidak boleh bertentangan dengan aspek keamanan pangan, gizi, dan kesehatan.
28. Pelaku usaha dilarang memproduksi pangan olahanmenggunakan nama dagang dan desain yang sama denganpangan olahan untuk keperluan medis khusus.
29. Setiap orang dilarang menghapus, mencabut, menutup, mengganti label, melabel kembali, dan/atau menukar tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa pangan olahan yang diedarkan. 30. Setiap orang dilarang memberikan keterangan atau pernyataan
yang tidak benar dan/atau menyesatkan padalabel.