Ke dalam bangsa Mesir seperti ini, seorang anak muda bangsa Ibrani di bawa sebagai budak yang diperjual be likan. Yusuf dibawa ke Mesir yang hi dup beragamanya menguasai se luruh sendi kebudayaan, dengan Fi raun sebagai perwujudan dewa Ho rus, Raja Mesir, yang menjadi dewa elang yang menguasai langit, juga de wa panglima perang yang gagah be rani. Itulah Firaun, yang menjadi per wujudan Horus.
Pada masa itu, beragama menyatu de ngan kerajaan, menjadi penentu ke hidupan. Yusuf, anak muda dari Tanah Ka naan, dari keluarga Yakub yang se derhana, bukan penguasa, harus me ng ikuti apapun yang dipercaya dan di perintahkan oleh tuannya, Potifar. Apa kah mudah?
Ketika istri Potifar menginginkan Yu suf, itu bukan hal aneh bagi orang Mesir. Bukankah dewa dewi sa ling kawin dan berselingkuh? Sek sua li tas bukan hal terlarang di Mesir. Se orang istri tidak merasa malu un tuk bergairah memandang tubuh bu dak mudanya, selama hal itu te tap tersembunyi dari suaminya.
Ten tu saja, bagi sang suami ada ke cemburuan besar, mendatangkan mur ka yang tidak bisa dipadamkan. Demikianlah Yusuf difitnah istri yang cabul itu, hingga di masukkan ke penjara tanpa pe ng adilan, tan pa harapan untuk ke luar. Yusuf ber hadapan dengan ke muraman Nep hthys dan tidak jauh da ri dunia orang ma ti, yang disebut Duat.
Bagi orang lain, kondisi ini mem buat mereka takluk dan hancur da lam de presi. Tetapi Yusuf tidak meng ala minya, karena ia telah memiliki se jarah hidup. Yusuf mengerti se jarah hidupnya, dengan segala peng alaman Yakub, ayahnya. Ini bukan ke percayaan, melainkan pengalaman hi dup yang nyata. Yakub telah meng alami perjumpaan dengan Tuhan, su dah bergumul. Bukankah kini ping gang Yakub cacat?
Tuhan juga hadir dalam kehidupan Is hak, ayah Yakub, kakek Yusuf. Per jan jian dengan Tuhan dibuat oleh Ab raham, ayah Ishak, kakek Yakub, bu yutnya Yusuf. Tuhan bukan cerita, bu kan mitos. Tu han adalah sosok Ila hi yang hadir da lam pengalaman
hi dup Abraham, Is hak, Yakub dan Yu suf. Tuhan ber ca kapcakap de ngan Abraham, mem be ri kan ba nyak pengertian langsung ten tang ke hi dup an. Pengertian itu yang membuat Ab raham memberikan per sembahan ba gi Melkisedek, raja Sa lem.
Itu adalah halhal yang tidak kita ke tahui, karena tidak ada catatannya. Te tapi semua itu diturunkan kepada Yu suf dan semua mitologi dewa dewi Me sir tidak membuatnya berubah. Se baliknya, Yusuf sendiri mengalami kua sa Tuhan dalam dirinya, melalui ke mampuannya mengerti tentang mim pi dan arti mimpi membuka pe ngertian tentang masa depan. Kepercayaan mungkin membuat ma nusia mampu bekerja secara me nakjubkan, hingga membuat mo numen seperti piramida di Mesir. Te tapi kepercayaan tidak membuat ma nusia mampu mengerti apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan Fi raun tidak bisa memahami masa de pan, maka ia sangat terganggu de ngan mimpinya. Maka, seorang Fi raun yang gagah berani, yang men jadi perwujudan Horus, toh tetap ter pesona dengan kemampuan Yusuf. Ia te lah membuktikan kebenaran tafsir mim pinya juru minuman. Yusuf juga mam pu menafsirkan mimpi Firaun, dan demikianlah masa depan menjadi ke nyataan.
Yang satu adalah silsilah dewa de wi yang dipercaya manusia. Ten tang dewa Ra yang menjelajahi la ngit dan setiap malam berperang me lawan dewa Apep atau Apophis yang berwujud seperti ular, menjadi sum ber kekacauan dan ketiadaan.
Eh sebentar, Apep berwujud ular? Bu kankah si iblis juga berwujud ular di Taman Firdaus? Mungkin orang Me sir masih mengingat sedikit kisah ku no dari ribuan tahun sebelumnya, ke tika ma nusia masih saling kawin antar sau dara dan bagaimana Tuhan per ta matama menciptakan sepasang ma nusia Adam dan Hawa....?
Yusuf mengetahui kisah yang le bih lengkap, lebih jelas. Bukan ten tang Ra yang membuat Shu dan Tefnut, yang terus kawin dan pu nya anak, melainkan Tuhan yang mem buat Adam dan Hawa dan menata du nia untuk pertama kalinya. Yusuf me ngetahui dan mengalami kuasa Ila hi, sebagai kenyataan, bukan kisah. Rahasia kebenaran tentang Tu han itu membawa Yusuf menjadi pe nguasa Mesir. Lalu, kelaparan mem ba wa seluruh keluarga Yakub mi grasi ke Mesir, dan hidup berabadabad di sa na. Orang Ibrani mulai me lu pa kan ke nyataan tentang Tuhan dan mereka se telah 4 abad jadi budak di Mesir. Ketika Musa ada di padang, ia kem bali menemui kenyataan tentang Tu han pada semak yang nampak me nyala, namun tidak terbakar. Ke nyataan tentang Tuhan menjadi ben turan dengan keyakinan agamawi orang Mesir dan kekuatan sihir me re ka. Semula, orang Mesir hanya me lihat bahwa Musa mempunyai ke kuat an sihir yang lebih besar, men jadi la wan yang kuat. Tetapi tidak cu kup un tuk Firaun dan bangsa Mesir me le paskan orangorang Ibrani, para bu dak yang berharga ini. Dibutuhkan 10 tulah, ketika kuasa Tu han menjadi ke nyataan yang me nge rikan, hingga
mem bunuh se mua anak sulung di Me sir. Bangsa Me sir ter hempas dalam ke nyataan ke kua sa an Tuhan. Tidak ada Ra atau Horus yang berkuasa. Bi sakah di ba yangkan ba gaimana para pen deta Mesir saat itu berdoa dengan nya ring kepada Ho rus, juga kepada Isis atau kepada ba nyak dewa dewi lain ketika tulah me landa?
Pada akhirnya, mereka patah dan me ratap keraskeras. Bahkan anak su lung Firaun juga mati! Orang Israel ke luar dari Mesir.
Firaun, setelah melalui guncangan ji wanya, kembali kepada sosok Horus se bagai dewa perang yang membalas. Ia mengejar dengan pasukannya, ke kuatan angkatan perang yang me nakutkan segala bangsa di sekitar Me sir. Berderapderap mengejar se kumpulan besar orang Israel yang le mah, kumpulan orang yang baru be bas dari perbudakan dan masih ti dak percaya apa yang terjadi pada hi dup mereka. Jelas mereka sangat ke takutan ketika mengetahui bahwa Fi raun dengan angkatan perangnya ber derap mengikuti di belakang! Dan di depan, ada laut Merah! Apa yang ha rus dilakukan?
Tuhan membelah laut Merah bagi bang sa Israel. Rombongan besar itu me langkah dengan susah di daratan yang basah, lumpur dari dasar laut Me rah yang terbelah, memandang din ding air yang tinggi di sebelah kiri dan kanan. Itulah kenyataan akan kua sa Tuhan.
Kita tahu bagaimana akhirnya, Fi raun terbenam di dalam laut yang kem bali menutup di atas kepala me reka. Tidak ada kegagahan manusia di bawah hantaman kekuatan alam.
Bang sa Israel lepas dari Firaun, te rus ke gunung Sinai dan kembali me ng alami kekuasaan Tuhan.
Penuturan tentang bangsa Israel ada lah kesaksian mengenai realitas Tu han suatu rahasia yang dicari oleh berbagaibagai bangsa di dunia. Bang sa lain tidak menemukan realita Tu han, yang mereka buat adalah kon struksi keyakinan dari berbagai ki sah yang diturunkan dari leluhur. Me reka tahu bahwa ada kekuasaan be sar, tahu bahwa ada ketuhanan yang melebihi alam, tetapi tidak ada yang tahu realitanya seperti apa. Ja dilah, yang muncul adalah mitos demi mi tos.
Tetapi semua penuturan ten tang Perjanjian dengan Tuhan, me nunjukkan Tuhan yang nyata, yang ha dir dalam kehidupan manusia. Ma nusia mengalami perjumpaan de ngan Tu han dan bukan berdasarkan ima jinasi.
Sebaliknya, bangsa Israel men ja di bangsa yang pertama me ng alami kedahsyatan dan betapa me ngerikannya Tuhan. Manusia yang berdosa tidak sanggup ber ha dapan dengan Tuhan yang ma ha kudus. Kenyataan itu tidak se pe nuhnya memenuhi keinginan dan ke gembiraan hidup manusia.
Tuhan beserta kita ini bukan hal yang sederhana.
Bagian 1 dari 4 tentang Tuhan beserta kita.
“Menikah memang mudah, tetapi berumah tangga itu susah,
bahkan sangat susah. Semua rumah tang ga sekali waktu mengalami pertengkaran dan
terancam keretakan.” ~ Andar Ismail Menikah berarti menyatukan dua pri badi berbeda dalam satu bahtera ru mah tangga. Masalah umum se perti perbedaan karakter, prinsip, pi kiran dan latar belakang yang bi sa menimbulkan pertengkaran, ma sih bisa dihadapi bila salah satu mau mengalah. Tetapi, tantangan yang lebih besar biasanya akan di hadapi pada pernikahan beda suku. Ka rena budaya, kebiasaan dan cara di besarkan atau diasuh juga pasti ber beda.
Kedua orang tua saya menikah bu kan hanya berbeda suku dan pen didikan, tetapi juga berbeda ke yakinan. Pada akhirnya, jika ter lalu banyak toleransi dan pe ngor banan harus dilakukan oleh ke dua belah pihak, cinta menjadi ta war dan pernikahan itu menjadi su lit dipertahankan. Un tuk mem per tahankan sebuah per nikahan, harus ada salah satu ber korban baik perasaan, maupun ke biasaan dan aturan, sehingga rumah tang ga itu tetap berjalan sesuai ke ingin an.
Banyak perbedaan juga dirasakan pa da pernikahan saya dan suami yang berbeda suku. Mulai dari bahasa se
harihari, nama panggilan terhadap ke luarga serta budaya dari keluarga ma singmasing. Sejak awal, kami ber usaha untuk saling memaklumi ka rena kepribadian yang berbeda. Per bedaan suku, budaya dan cara ka mi dibesarkan tentu menimbulkan ke biasaan yang tidak sama juga. Suami saya yang lahir dan di be sarkan di Sumatera, tentu ter bia sa dengan makanan khas dari dae rahnya. Di samping itu, mertua ju ga suka memasak makanan khas Tiong hoa yang belum pernah saya ma kan sebelumnya. Sementara saya sen diri dibesarkan di Bandung, tetapi ke luarga selalu memasak makanan khas Ma nado.
Jadi, setelah tinggal bersama, mau tidak mau saya harus belajar me masak makanan yang bisa kami ma kan bersama. Setelah anakanak la hir, saya memasak makanan yang me reka sukai. Tentu saja, perbedaan da lam selera makan bukan masalah be sar dan bisa diatasi dengan mudah. Per bedaan lain yang biasanya ada da lam rumah tangga berbeda suku ada lah kritik terhadap kebiasaan pa sangan sesuai perspektif masing ma sing. Tak jarang kita sedikit kuatir ka rena pasangan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan kita, begitupun se ba liknya. Namun, meski saling kritik, ak hirnya bisa saling memahami dan be lajar atau mengajar banyak hal ber sama pasangan.