• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Masyarakat .1 Kondisi Masyarakat

5.2.6 Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan

Beberapa masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sering membuat kerajinan untuk dimanfaatkan sendiri bahkan untuk dijual. Bentuk kerajinan yang dibuat oleh beberapa masyarakat adalah anyaman tikar dari bahan mendong (Fimbristylis globulods). Dahulu masyarakat banyak membuat tikar untuk dijual, namun karena keterbatasan bahan baku untuk membuat tikar tersebut saat ini masyarakat sudah tidak dapat membuat tikar dari mendong.

Sulitnya memperoleh bahan baku untuk membuat kerajinan memang menjadi alasan utama, namun kurangnya promosi dan sulitnya pemasaran juga menjadi faktor mulai hilangnya kearifan masyarakat dalam membuat tikar dari mendong. Bagi masyarakat jika ada alur pemasaran yang jelas sebenarnya masih banyak usaha yang bisa diupayakan untuk memperoleh bahan baku tersebut. Tikar dari mendong sekarang sudah tidak banyak diminati lagi, karena banyaknya tikar dari bahan lain yang lebih banyak diminati di pasaran. Harapan masyarakat adalah dapat mengembangkan usaha dalam membuat tikar seiring dengan pengembangan kawasan TAHURA sebagai lokasi wisata. Masyarakat berharap beberapa kerajinan dari masyarakat dapat digunakan sebagai sarana dalam objek wisata tersebut.

Gambar 27 Anyaman a) Mendong (bahan anyaman), b) Tikar dari mendong.

Spesies bambu khususnya bambu petung (Dendrocalamus asper) dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kerajinan berupa keranjang, tumbu, kukusan dan gedhek (dinding rumah dari anyaman bambu). Tidak semua spesies bambu dapat digunakan untuk membuat anyaman. Bambu yang digunakan biasanya siperoleh dengan membeli dari pedagang dari Karangpandan. Namun

selain itu di hutan kawasan TAHURA juga masih ada bambu yang digunakan untuk kerajinan.

Gambar 28 Kerajinan a) Bambu (bahan kerajinan), b) Keranjang dari bambu.

Kayu keras juga dapat digunakan untuk bahan kerajinan, misalnya akar atau batangnya. Di Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo ada beberapa masyarakat yang memanfaatkan akar dan batang pohon sebagai meja atau kursi yang unik. Namun hasil tersebut jarang diperjual balikan. Jenis pohon yang sering digunakan adalah pinus (Pinus merkusii).

Gambar 29 Hasil kerajinan dari pohon pinus.

Beberapa spesies tumbuhan juga dimanfaatkan untuk tali, misalnya rilarat (Rubus chrysophyllus) dan banyon (Tetrastigma papilosum). Namun spesies tumbuhan tersebut hanya terbatas untuk tali yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengikat kayu bakar yang mereka ambil di dalam hutan atau untuk mengikat rumput.

Masyarakat sekitar TAHURA KGPAA Mangkunagoro I kurang banyak mengetahui kegunaan tumbuhan sebagai bahan penghasil tali, anyaman dan kerajinan karena menurut mereka tali yang banyak dijual dengan bahan plastik lebih kuat dan praktis. Menurut Anggana (2011) kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pemanfataan tumbuhan sebagai penghasil tali, anyaman dan kerajinan dikarenakan proses regenerasi dari generasi tua ke generasi muda tidak

berjalan dengan baik sehingga pada saa ini hanya beberapa orang saja yang masih menggunakan tumbuhan sebagai bahan tali, anyaman dan kerajinan.

5.2.7 Tumbuhan penghasil kayu bakar

Masyarakat Dukuh Sukuh masih banyak yang menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Meskipun subsidi kompor gas sudah masuk di tempat ini namun masyarakat masih banyak yang memanfaatkan kayu bakar. Oleh sebab itu kayu bakar mejadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat. Kayu bakar sebagian besar diperoleh dari hutan. Kayu bakar yang mereka ambil dari hutan biasanya hanya berupa rencek (ranting pohon yang sudah jatuh ke tanah) (Gambar 30). Selain itu hika ada pohon yang tumbang terkadang masyarakat juga mengambilnya untuk kayu bakar. Keterbatasan masyarakat dalam mengambil kayu bakar dipengaruhi oleh status kawasan yang menjadi TAHURA.

Spesies yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat terdiri dari 16 spesies dari 14 famili. Contoh spesies yang digunakan oleh masyarakat sebagai kayu bakar antara lain codo (Elaeagnus loureirii), cuwut (Cyrtandra sp.), lempeni (Ficus ribes), suren (Toona sureni), riralat (Rubus chrysophyllus) dan beberapa spesies lainnya (Lampiran 5). Famili yang banyak dimanfaatkan untuk kayu bakar adalah Myrtaceae. Selain dari spesies yang diperoleh dari hutan beberapa spesies juga berasal dari hasil budidaya di ladang maupun pekarangan masyarakat. Kayu bakar yang diambil oleh masyarakat selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi juga dijual keluar desa misalnya dijual ke daerah Karangpandan dan sekitarnya.

Gambar 30 a)buah pinus, b) kayu yang digunakan untuk kayu bakar.

a b

5.2.8 Tumbuhan penghasil bahan bangunan

Bentuk rumah masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo sudah berupa bangunan permanen dari tembok bahkan beton. Meskipun demikian masyarakat juga masih memanfaatkan kayu sebagai bahan bangunan (Gambar 31). Kayu-kayu tersebut digunakan untuk membuat reng (rangka), tiang maupun hanya sekedar kusen pintu dan jendela. Hasil wawancara menunjukan ada 10 spesies yang sering digunakan masyarakat sebagai bahan bangunan. Misalnya jati (Tectona grandis), pinus (Pinus merkusii), suren (Toona sureni) dan beberapa jenis lainnya (Lampiran 11).

Masyarakat menyatakan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan kondisi mereka dahulu. Dahulu masyarakat memanfaatkan kayu dari dalam hutan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bangunan. Namun saat ini masyakarakat sudah menggunakan kayu dari hasil budidaya mereka atau dari membeli. Karena menurut mereka jika mereka masih tergantung pada hutan maka akan berdampak pada lingkungan mereka, misalnya pada ketersediaan air dan bencana alam. Spesies yang banyak dibudidayakan pleh masyarakat adalah pinus, jati, suren dan kayu dari pohon-pohon buah.

Gambar 31 Kayu sebagai bahan bangunan.

5.2.9 Tumbuhan penghasil warna

Tumbuhan juga dapat dimanfatkan sebagai penghasil warna. Dari hasil wawancara yang diperoleh hanya diperoleh 2 spesies tumbuhan dari 2 famili yang berbeda. Tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna adalah jati (Tectona grandis) dan kunyit (Curuma domestica).

Bagian pohon jati yang dimanfaatkan sebagai pewarna adalah daun. Daun jati dapat menghasilkan warna merah kecoklatan, daun jati biasanya digunakan

dalam pewarna pada sayur atau masakan. Menurut Heyne (1987) kulit akar dan daun-daun muda pada pohon jati dapat digunakan untuk mewarnai bahan anyaman.

Sedangkan kunyit yang digunakan adalah bagian rimpang. Rimpang kunyit menghasilkan warna kuning. Kunyit juga hanya digunakan sebagai pewarna makanan. Selain digunakan sebagai bahan pewarna pada makanan menurut Heyne (1987) rimpang kunyit juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna pada anyaman, terkadang juga digunakan untuk bahan-bahan tenunan.

5.2.10 Tumbuhan penghasil pestisida nabati

Pada masyarakat yang mayoritas sebagai petani biasanya sangat mengenal pestisida. Pestisida juga dapat berasal dari tumbuhan yang biasanya disebut dengan pestisida nabati. Menurut masyarakat jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati antara lain daun mimba (Azadirachta indica), jarak (Ricinus communis), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan tembakau (Nicotina tabacum). Meskipun masyarakat mengetahui jenis tanaman yang digunakan sebagai pestisida nabati, masyarakat tidak dapat menjelaskan bagian yang digunakan, jenis hama yang menjadi sasaran dan proses pembuatannya. Hal ini dikarenakan pada saat ini masyarakat sudah bergeser dalam penggunaan pestisida dari pestisida nabati ke kimiawi. Menurut masyarakat alasan utama mereka menggunakan pestisida kimiawi adalah arena sulitnya ditemukan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Sehingga atas dasar kepraktisan mereka lebih memilih menggunakan pestisida kimiawi.

Menurut Rachmat dan Wahyono (2007) dari pohon mimba (Azadirachta indica) yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah bagian biji dan daun. Biji mimba mengandung 25 senyawa limonoid dan daunnya mengandung 57 senyawa limonoid dengan zat bioaktif utama azadiractin (C35H44O16). Zat bioaktif ini bekerja sebagai zat penlak, pencegah nafsu makan, penghambat tumbuh, larvasida, bakterisida (untuk mencegah aflatoksin), mitisida (obat kudisa), virisida (mengendalikan virus mosaic pada tembakau), rodentisida, ovisida, spermatisida, fungisida, nematisida dan moluskisida. Bahan aktif ini dapat ditemukan diseluruh bagian tumbuhan mumba, namun demikian kandungan bahan aktif paling tinggi pada biji. Keunggulan dari azadiractin adalah

fitotiksisitasnya kecil bahkan tidak ada pada dosis efektif, tidak toksik untuk manusia dan vertebrata lainnya dan daya kerja utama adalah menghambat nafsu makan pada serangga hama.

Cengkeh (Syzygium aromaticum), bagian yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah daun dan biji (bunnga) yang mengandung minyak atsiri metal eugenol (Rachmat & Wahyono 2007). Pada tembakau (Nicotina tabacum) bagian yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah daun dan batang. Namun bagian yang umum digunakan adalah daunnya. Tembakau mengandung bahan aktif alkaloid seperti anabarine, anatobine, myosinine, nicotinoid, nicotelline, nicotine, nicotyrine, norotine dan piperidine. Kandungan nicotine paling tinggi terdapat pada rsnting dan tulang daun (Rachmad & Wahyono 2007).

Semua bagian tumbuhan jarak (Ricinus communis) beracun untuk nematode, cendawan dan serangga karena kandungan bioaktif ricin sebesar 80-90% dan sisanya adalah minyak castor. Ekstrak daun jarak 50-100 gr dalam 1 liter air ditambah sabun cair diendapkan 1 malam, kemudian diperas dan disaring lalu disiramkan pada tanaman dapat mengendalikan cendawan, nematode, hama yang ada di dalam tanah (Rachmat & Wahyono 2007).

Spesies yang dulunya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pestisida nabati berasal dari hutan disekitar tempat tinggal masyarakat tersebut. Hingga saat ini tidak banyak ditemukan spesies tersebut di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat sebagai bentuk budidaya. Karena masyarakat sudah tidak banyak memanfaatkannya sehingga masyarakat merasa kurang perlu membudidayakannya. Biasanya masyarakat akan membudidayakan spesies yang dpaat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Alasan utama masyarakat tidak memanfaatkan pestisida nabati adalah karena lebih praktis menggunakan obat kimia. Sehingga perlu adanya sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat mengemas pengetahuan masyarakat mengenai spesies yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dalam bentuk produk yang siap digunakan namun tetap dengan konsep alami (hanya sedikit menggunakan unsure kimia). Menurut Wisjnuprapto (2010) ketersediaan teknologi pendukung kualitas sumberdaya manusia setempat perlu diperhatikan

dalam menentukan teknologi yang akan diaplikasikan guna menjamin keberlangsungan pembangunan tersebut. Dengan demikian diharapkan pengetahuan masyarakat tersebut akan tetap hidup dan masyarakat dapat tetap menggunakan pestisida nabati dengan cara yang lebih praktis.

5.3 Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat

Dokumen terkait