TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Diagnosis 1 Gejala Klinik
2.6.1.6 Tumor Ganas Telinga
Gejala pada tumor ganas pada telinga ditegakkan dengan adanya anamnesis berupa: mula-mula terjadi perubahan kulit di daerah daun telinga yang diikuti tumbuhnya benjolan keras, tidak sakit, tampak ulserasi, mudah berdarah. Gejala yang dapat timbul dapat juga berupa keluhan rasa sakit di dalam liang telinga, keluarnya cairan dari telinga yang kadang-kadang bercampur darah, rasa penuh dan kurang pendengaran pada telinga yang sakit, dan keluhan muka perot (Dhingra, 2007).
2.6.2 Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisik, seluruh permukaan mukosa diperiksa secara teliti untuk melihat adanya ulkus, massa submukosa ataupun permukaan tidak rata. Palpasi bimanual pada dasar mulut dan palpasi pada leher juga dilakukan. Pemeriksaan kelenjar getah bening leher juga dilakukan. Region kelenjar getah bening leher dibagi menjadi 5 regio, yaitu :
1. Level I : KGB yang termasuk adalah KGB submental dan submandibula. 2. Level II : KGB yang termasuk adalah KGB jugular atas
3. Level III : KGB yang termasuk adalah KGB jugular tengah 4. Level IV : KGB yang termasuk adalah KGB jugular bawah 5. Level V : KGB yang termasuk adalah KGB segitiga posterior 6. Level VI : KGB yang termasuk adalah KGB kompartemen anterior
Gambar 2. Pembagian Regio Kelenjar Getah Bening Leher (Forastiere & Marur, 2008)
Dengan mengetahui letak pembesaran KGB leher, kita dapat menduga letak tumor primernya. Karsinoma rongga mulut, penyebarannya ke KGB leher level I. Karsinoma nasofaring penyebarannya ke KGB leher level II dan V. Karsinoma laring penyebarannya ke KGB leher level II dan III. Karsinoma sinus paranasal dan karsinoma glotik jarang bermetastase ke KGB leher. Dengan mengetahui ada tidaknya metastase ke KGB leher, kita dapat menentukan prognosis tumor ganas THT-KL (Forastiere & Marur, 2008).
Untuk diagnosis pasti dari tumor ganas adalah biopsi jaringan dari mukosa abnormal atau massa yang kita curigai sebagai tumor ganas. Untuk melihat perluasan tumor dapat kita lakukan pemeriksaan CT-scan, MRI, ataupun PET scan. Untuk melihat metastase jauh dapat kita lakukan pemeriksaan foto thoraks, scan tulang, pemeriksaan fungsi hati, dan USG hepar (Forastiere & Marur, 2008).
2.7 Stadium
Stadium tumor ganas kepala dan leher didasarkan pada sistem TNM oleh AJCC 2006, yang diklasifikasikan sesuai letak anatomi dan perluasan penyakit. Tumor (T) bervariasi, menurut letak tumor tertentu dan pada region tertentu, sedangkan klasifikasi untuk N (Nodul) dan Metastase jauh (M) seragam untuk semua tempat. Pengelompokan stadium ini dapat menjadi stadium awal yaitu stadium I dan II, stadium akhir yaitu stadium III dan IV.
Penelitian Yung dan Piccrillo (2008), dari 183 kasus tumor ganas THT-KL, yang datang dengan stadium I sebesar 18,5 %, stadium II sebesar 16,4%, stadium III sebesar (22,4%), stadium IV sebesar 42,6%.
Ronis et al (2008), dari 316 kasus tumor ganas THT-KL, menemukan pasien yang datang berobat pada stadium 0, I dan II adalah 75 penderita dan stadium III, IV adalah 241 penderita.
Penelitian oleh Bhurgri et al (2006) selama periode 1995-2002 menemukan dua pertiga kasus datang pada stadium III dan IV.
Pada 31 pasien karsinoma sel skuamosa kepala dan leher berumur di < 40 tahun yang diteliti oleh Pytynia et al (2004), ditemukan 10 pasien (32,3%) datang pada stadium awal (stadium I dan II) dan 21 pasien (67,7%) datang pada stadium lanjut (Stadium III dan IV).
Carvalho et al (2002) dalam studi cross sectional nya di berbagai daerah di brazil, menemukan 676 kasus penderita tumor ganas THT-KL, dimana pasien datang stadium awal (I dan II) sebesar 20,9 %, sedangkan pasien dengan stadium lanjut (III dan IV) sebesar 79,1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah pasien stadium lanjut dan stadium awal dengan letak tumor yang sulit dilihat dengan pemeriksaan biasa
(hipofaring, laring) dan letak tumor yang dapat dilihat dengan pemeriksaan biasa(rongga mulut, orofaring), pada penelitian didapatkan pasien dengan tumor ganas hipofaring dan laring stadium lanjut (88%) lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan tumor ganas rongga mulut dan orofaring (74,6%) (p<0,001).
Penelitian retrospektif oleh Puspitasari (2011) pada salah satu tumor ganas THT- KL yaitu tumor ganas nasofaring, menemukan frekuensi penderita tumor ganas THT- KL stadium dini paling tinggi pada kelompok umur >48 tahun sebesar 59.5%. Sedangkan stadium lanjut antara kelompok umur ≤48 tahun dan >48 tahun hanya berbeda sedikit yaitu 0.6%. Analisa statistik dengan uji Chi-square diperoleh p=0.177 sehingga secara statistik tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok umur dengan stadium. Sementara itu, penelitian case series oleh Nurhalisah (2009) menemukan bahwa kelompok umur stadium dini paling tinggi pada kelompok umur >50 tahun sebesar 52.6% dan stadium lanjut 52.8%.
Studi retrospektif di Universitas Nuremberg Jerman periode 1970-1990 menemukan 3247 kasus keganasan kepala dan leher dan ditemukan pasien yang datang pada stadium I sebesar 17,9%, stadium II sebesar 18,9%, stadium III sebesar 21,5% dan stadium IV 41,8% (Iro & Waldfahrer, 1998).
Hoffman et al (1998) dalam penelitiannya terhadap 295.022 kasus tumor ganas THT-KL, menemukan pasien yang datang pada stadium I (35,8%), stadium II (19%), stadium III (17,5%), stadium IV (24,8%).
Studi retrospektif oleh hutagalung (1996) di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode 1991 – 1995, dari 1001 kasus tumor ganas THT-KL, yang datang pada stadium I sebesar 3,28%, stadium II sebesar 18,35%, stadium III sebesar 38,44% dan stadium IV sebesar 39,54%.
Tabel 2.7.1 Staging Tumor Ganas Hidung dan Sinus Paranasal berdasarkan AJCC 2006 Maxillary Sinus
Tis : Carcinoma in situ
T1 : Tumor terbatas pada sinus maksila T2 : Tumor menyebabkan erosi tulang termasuk palatum durum dan meatus media, tanpa penyebaran ke dinding posterior sinus maksila.
T3 : tumor menginvasi dinding posterior sinus maksila, jaringan subkutaneus, dinding medial dan dasar orbita, fossa pterygoid, sinus etmoid.
T4a : tumor menginvasi dinding anterior orbita, kulit pipi, fossa intratemporal, lempeng pterygoid, plate cribiformis, sinus frontal dan sphenoid.
T4b : Tumor menginvasi atap orbita, dura, kranial, fosa media kranial, saraf kranial.
Nasal Cavity and Ethmoid Sinus Tis : Carcinoma in situ
T1 :tumor terbatas pada satu sisi, dengan atau tanpa destruksi tulang.
T2 : tumor menginvasi dua sisi termasuk complex nasoethmoidal, dengan atau tanpa destruksi tulang.
T3 : tumor meluas ke dinding medial dan dasar orbita, sinus maksila, palatum atau plate cribiformis.
T4a : tumor menginvasi orbita anterior, kulit dari hidung dan pipi, ekstensi minimal dari fossa kranial anterior, plate pterygoid, sinus sphenoid dan frontal.
Regional Lymph Nodes (N)
N0 : tidak ada penyebaran ke KGB leher N1 : Metastase single KGB leher
ipsilateral, dengan ukuran ≤ 3cm N2a : metastase ke single KGB leher ipsilateral, dengan ukuran 3≤x<6 cm N2b : metastase ke multiple KGB leher ipsilateral, dengan ukuran 3≤x<6 cm N3 : metastase ke single/multiple KGB leher, dengan ukuran ≥ 6 cm
Distant Metastasis (M) M0: tidak ada metastase jauh M1 : ditemukan metastase jauh STAGE GROUPING