• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA A.Landasan Teori

2. Uang Beredar Dalam Arti Luas ( Broad money = M2)

1. Uang Beredar Dalam Arti Sempit (Narrow Money = M1)

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa uang beredar dalam arti sempit adalah seluruh uang kartal dan uang giral yang ada di tangan masyarakat. Sedangkan uang kartal milik pemerintah (Bank Indonesia) yang disimpan di bank-bank umum atau bank sentral itu sendiri, tidak dikelompokkan sebagai uang kartal. Sedangkan uang giral merupakan simpanan rekening koran (giro) masyarakat pada bank-bank umum. Simpanan ini merupakan bagian dari uang beredar, karena sewaktu-waktu dapat digunakan oleh pemiliknya untuk melakukan berbagai transaksi. Namun saldo rekening giro milik suatu bank yang terdapat pada bank lain, tidak dikategorikan sebagai uang giral.

2. Uang Beredar Dalam Arti Luas (Broad money = M2)

Dalam arti luas, uang beredar merupakan penjumlahan dari M1 (uang beredar dalam arti sempit) dengan uang kuasi. Uang kuasi atau near money adalah simpanan masyarakat pada bank umum dalam bentuk deposito berjangka (time deposits) dan tabungan. Uang kuasi diklasifikasikan sebagai uang beredar, dengan alasan bahwa kedua bentuk simpanan masyarakat ini dapat dicairkan menjadi uang tunai oleh pemiliknya, untuk berbagai keperluan transaksi yang dilakukan. Dalam sistem moneter di Indonesia, uang beredar dalam arti luas ini (M2) sering disebut dengan likuiditas perekonomian. Menurut Diulio (1998:133).

25 c. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar

Menurut Yuliadi (2008: 86) faktor – faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar adalah sebagai berikut:

a. Keadaan neraca pembayaran (surplus atau defisit)

Apabila neraca pembayaran mengalami surplus, berarti ada devisa yang masuk ke dalam negara, hal ini berarti ada penambahan jumlah uang beredar. Demikian pula sebaliknya, jika neraca pembayaran mengalami defisit, berarti ada pengurangan terhadap devisa negara. Hal ini berari ada pengurangan terhadap jumlah uang beredar.

b. Keadaan APBN (surplus atau defisit)

Apabila pemerintah mengalami defisit dalam APBN, maka pemerintah dapat mencetak uang baru. Hal ini berarti ada penambahan dalam jumlah uang beredar. Demikian sebaliknya, jika APBN negara mengalami surplus, maka sebagian uang beredar masuk ke dalam kas negara. Sehingga jumlah uang beredar semakin kecil.

c. Perubahan kredit langsung Bank Indonesia

Sebagai penguasa moneter, Bank Indonesia tidak saja dapat memberikan kredit kepada bank-bank umum, tetapi BI juga dapat memberikan kredit langsung kepada lembaga-lembaga pemerintah yang lain seperti Pertamina, dan badan usaha milik negara (BUMN) lainnya. Perubahan besarnya kredit langsung ini akan berpengaruh terhadap besar kecilnya jumlah uang beredar.

26 d. Perubahan kredit likuiditas Bank Indonesia

Sebagai bankers bank, BI dapat memberikan kredit likuiditas kepada bank-bank umum. Sebagai contoh, ketika terjadi krisis ekonomi sejak tahun 1997 lalu, BI memberikan kredit likuiditas dalam rangka mengatasi krisis likuiditas bank-bank umum, yang jumlahnya mencapai ratusan trilyun rupiah. Hal ini berdampak pada melonjaknya jumlah uang beredar. Di samping itu, adanya pinjaman luar negeri, kebijakan tarif pajak, juga dapat mempengaruhi besar kecilnya jumlah uang beredar. d. Jenis-jenis Uang Beredar

1. Uang kartal (currencies) adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah dan atau bank sentral dalam bentuk uang kertas atau uang logam.

2. Uang giral (deposit money) adalah uang yang dikeluarkan oleh suatu bank umum. Contoh uang giral adalah cek, bilyet giro.

3. Uang kuasi meliputi tabungan, deposito berjangka, dan rekening valuta asing. Subagyo, (1997:10)

e. Hubungan Jumlah Uang Beredar Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia

Sebagai Ibu Kota yang menjadi pusat perputaran uang dan perekonomian Indonesia, hubungan antara jumlah uang beredar (M2) dengan tingkat investasi suatu negara menjadi menarik. Menurut Sukirno (2010), uang beredar adalah semua jenis uang yang beredar di perekonomian, yaitu jumlah dari mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral dalam

27 bank-bank umum. Jumlah uang yang beredar di masyarakat akan mencerminkan kondisi perekonomian negara tersebut. Kondisi perekonomian inilah yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap tingkat investasi di negara yang bersangkutan. Karena sebelum memutuskan melakukan investasi di negara tersebut, para investor pasti melihat terlebih dahulu kondisi perekonomian negara tersebut. Analisa hubungan antara Jumlah Uang Beredar dengan Investasi ini diukur dengan cara melihat seberapa banyak peredaran uang yang berada di tengah-tengah masyarakat. Jumlah uang beredar di suatu negara akan mempengaruhi tingkat investasi seseorang, tidak terkecuali dengan investasi dalam keuangan syariah yaitu melalui Indeks Saham Syariah Indonesia.

5. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) a. Definisi SBIS

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah surat berharga berdasarkan prinsip Syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) atau yang dulu disebut Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) diatur dalam PBI No. 2/9/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 PBI No.6/7/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang Perubahan Atas PBI No. 2/9/PBI/2000 tentang Sertifikat Wadiah Bank Indonesia. Selain itu juga terdapat fatwa yang menguatkan SWBI, yaitu fatwa DSN No. 36/DSN-MUI/X/2002

28 yang dikeluarkan tanggal 23 oktober 2002.

Pada tahun 2008 dilakukan penyempurnaan kerangkaoperasi moneter syariah yang diawali dengan introduksi Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) sebagai pengganti SWBI. Pergantian ini dilakukan secara formal pada 31 Maret 2008 dengan penerbitan PBI No. 10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah. Salah satu penyempurnaan yang dilakukan adalah penyempurnaan akad yang semula

wa’diah menjadi ju’alah. Jualah merupakan akad yang berarti hadiah yang dijanjikan seseorang ketika berhasil mengerjakan suatu pekerjaan.

Perbankan konvensional mengenal istilah SBIS dengan SBI. Perbedaan antara Sertifikat Bank Indonesia Syariah dengan Sertifikat Bank Indonesia yang digunakan dalam sistem konvensional yaitu SBI menggunakan suku bunga satu bulanan atau tiga bulanan sedangkan SBIS menggunakan bonus dari sejumlah dana yang ditanamkan di perbankan syariah.

b. Karakterisik Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)

Menurut Wirdyaningsih, Perwataatamadja, Gemala dan Yeni (2006:149) SWBI yang sekarang disebut SBIS merupakan instrument kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah. Beberpa karakteristik SBIS sebagai berikut :

29 Menggunakan akad ju’alah ( berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional dan Majelis Ulama Indonesia, SBIS juga dapat diterbitkan dengan menggunakan akad mudharabah, musyarakah, wadiah, qardh, dan wakalah).

1. Diterbitkan oleh bank Indonesia.

2. Merupakan tanda bukti penitipan dana berjangka pendek.

3. Berjangka waktu paling kurang 1(satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan.

4. Satuan unit sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah). 5. Diterbitkan tanpa warkat (Scripless ).

6. Merupakan instrument kebijakan moneter dan sarana penitipan dana sementara (www.bi.go.id ).

7. Tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

c. Hubungan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

Menurut Aisiyah (2015) Tujuan terbentuknya SBIS sebagai pengendali moneter tentu perubahan kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia mampu mempengaruhi bank syariah ataupun pasar modal syariah. SBIS juga berfungsi sebagai salah satu instrumen untuk membantu dalam investasi bank syariah apabila terjadi kelebihan dana (Overlikuiditas). Dalam penerbitan SBIS akad yang digunakan adalah ju’alah. Maka bank syariah yang menempatkan dana pada SBIS berhak mendapatkan upah (ujrah) atas

30 jasa membantu pemeliharaan keseimbangan moneter Indonesia. Tingkat imbalan yang diberikan oleh Bank Indonesia mengacu pada SBI konvensional, sehingga tidak akan memicu kesenjangan profit yang diperoleh dari penempatan dana tersebu oleh bank syariah. Ketika imbalan yang diperoleh bank syariah dalam melakukan investasi SBIS itu besar tentu keuntungan akan diperoleh bank syariah dan perusahaan. Selanjutnya return yang dibagi hasilkan pada DPK (Dana Pihak Ketiga) yaitu para nasabah yang menabung, deposito juga akan tinggi. Hal tersebut mampu menarik investor untuk beralih berinvestasi dibank syariah dari pada instrumens investasi lainnya yaitu pasar modal syariah. Ketika minat investor turun untuk berinvestasi dipasar modal syariah tentu hal itu akan memicu menurunya indeks saham syariah.

Dokumen terkait