• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Bank yang memberikan KKB atau PKB wajib memenuhi ketentuan Uang Muka sebagai berikut:

a. untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua paling rendah sebesar 20% (dua puluh persen);

b. untuk pembelian kendaraan bermotor roda tiga atau lebih dengan peruntukan kegiatan produktif paling rendah sebesar 20% (dua puluh persen) jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) merupakan kendaraan yang memiliki izin untuk angkutan orang atau barang yang dikeluarkan oleh pihak berwenang; atau

2) diajukan oleh perorangan atau badan hukum yang memiliki izin usaha tertentu yang dikeluarkan oleh pihak berwenang dan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dari usaha yang dimilikinya; dan

c. untuk pembelian kendaraan bermotor roda tiga atau lebih yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam huruf b paling rendah sebesar 25% (dua puluh lima persen).

2. Ketentuan mengenai Uang Muka sebagaimana dimaksud dalam angka 1 berlaku bagi Bank yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. rasio Kredit bermasalah dari total Kredit atau rasio Pembiayaan bermasalah dari total Pembiayaan secara bruto (gross) kurang dari 5% (lima persen); dan

b. rasio KKB bermasalah dari total KKB atau rasio PKB bermasalah dari total PKB secara bruto (gross) kurang dari 5% (lima persen).

3. Bagi Bank yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 maka Bank wajib memenuhi ketentuan Uang Muka sebagai berikut:

a. untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua paling rendah sebesar 25% (dua puluh lima persen);

b. untuk pembelian kendaraan bermotor roda tiga atau lebih dengan peruntukan kegiatan produktif paling rendah sebesar 20% (dua puluh persen) jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) merupakan kendaraan yang memiliki izin untuk angkutan orang atau barang yang dikeluarkan oleh pihak berwenang; atau

2) diajukan oleh perorangan atau badan hukum yang memiliki izin usaha tertentu yang

dikeluarkan oleh pihak berwenang dan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dari usaha yang dimilikinya; dan

c. untuk pembelian kendaraan bermotor roda tiga atau lebih yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam huruf b paling rendah sebesar 30% (tiga puluh persen).

B. Bank dilarang memberikan Kredit atau Pembiayaan untuk pemenuhan Uang Muka dalam rangka KKB dan PKB kepada debitur atau nasabah. Termasuk pengertian debitur atau nasabah antara lain debitur atau nasabah yang merupakan karyawan Bank yang bersangkutan.

C. Perhitungan Rasio Kredit Bermasalah, Rasio Pembiayaan Bermasalah, Rasio KKB Bermasalah, dan Rasio PKB Bermasalah

1. Perhitungan rasio Kredit bermasalah dilakukan dengan membagi hasil penjumlahan Kredit dengan kualitas kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M) kepada pihak ketiga bukan Bank terhadap total Kredit kepada pihak ketiga bukan Bank.

Formula perhitungan rasio Kredit bermasalah adalah sebagai berikut:

Kredit kualitas KL + Kredit kualitas D + Kredit

kualitas M x 100%

Total Kredit

2. Perhitungan rasio Pembiayaan bermasalah dilakukan dengan membagi hasil penjumlahan Pembiayaan dengan kualitas kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M) kepada pihak ketiga bukan Bank terhadap total Pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.

Formula perhitungan rasio Pembiayaan bermasalah adalah sebagai berikut:

Pembiayaan kualitas KL + Pembiayaan kualitas D +

Pembiayaan kualitas M x 100%

Total Pembiayaan

3. Perhitungan rasio KKB bermasalah dari total KKB dilakukan dengan membagi jumlah KKB dengan kualitas kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M) terhadap total KKB.

Formula perhitungan rasio KKB bermasalah adalah sebagai berikut:

KKB kualitas KL + KKB kualitas D + KKB kualitas M x 100%

Total KKB

4. Perhitungan rasio PKB bermasalah dari total PKB dilakukan dengan membagi jumlah PKB dengan kualitas kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M) terhadap total PKB.

Formula perhitungan rasio PKB bermasalah adalah sebagai berikut:

PKB kualitas KL + PKB kualitas D + PKB kualitas M x 100%

Total PKB

D. Sumber Data, Laporan Lain, dan Nilai yang Digunakan

1. Penetapan masing-masing komponen dalam perhitungan rasio Kredit bermasalah atau rasio Pembiayaan bermasalah dan perhitungan rasio KKB bermasalah atau rasio PKB bermasalah dilakukan berdasarkan:

a. LBU atau LSMK BUS UUS periode 2 (dua) bulan sebelum tanggal perjanjian Kredit atau akad Pembiayaan ditandatangani; atau

b. Laporan lain berupa laporan KP dan KKB, dalam hal LBU belum dapat menyediakan komponen perhitungan rasio KKB bermasalah.

2. Laporan KP dan KKB sebagaimana dimaksud dalam butir 1.b wajib disampaikan oleh Bank kepada Bank Indonesia dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Penyampaian laporan KP dan KKB mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir III.C.10.

b. Penyampaian laporan KP dan KKB dilakukan sampai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

c. Penetapan batas waktu penghentian penyampaian laporan KP dan KKB, disampaikan oleh Bank Indonesia melalui surat pemberitahuan.

3. Perhitungan nilai Kredit bermasalah dan nilai total Kredit mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir III.C.2 dan butir III.C.4.

4. Perhitungan nilai Pembiayaan bermasalah dan nilai total Pembiayaan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir III.C.5 dan butir III.C.7.

5. Nilai PKB bermasalah dan PKB untuk Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah diatur dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Nilai PKB bermasalah berasal dari hasil penjumlahan angka dalam:

1) form 10 untuk Akad Murabahah, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan saldo harga pokok (Kolom XIX) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900 untuk kualitas (Kolom XXIV) kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M);

2) form 11 untuk Akad Istishna’, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan saldo harga pokok (Kolom XVIII) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900 …

002900 untuk kualitas (Kolom XXIII) kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M) ;

3) form 12 untuk Akad Qardh, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan jumlah bulan laporan (Kolom XVIII B) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900 untuk kualitas (Kolom XXI) kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M); 4) form 13 untuk akad bagi hasil, pada golongan

nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan jumlah bulan laporan (Kolom XXI B) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900 untuk kualitas (Kolom XXV) kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M); dan

5) form 14 untuk akad sewa, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan dari harga perolehan (Kolom XVII B.3) dikurangi dengan akumulasi penyusutan/amortisasi (Kolom XXII) dan cadangan kerugian penurunan nilai aset ijarah (Kolom XXIII) dan ditambahkan dengan tunggakan pokok (Kolom XXIV B), dengan formula sebagai berikut:

Harga Perolehan - (Akumulasi Penyusutan/ Amortisasi + Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Aset Ijarah) + Tunggakan Pokok

Penjumlahan di atas dilakukan untuk sektor ekonomi (Kolom XIII) dengan sandi sektor 002100, 002200, 002300, dan 002900 untuk kualitas (Kolom XXVI) kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M).

b. Nilai PKB berasal dari hasil penjumlahan angka dalam:

1) form 10 untuk Akad Murabahah, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan saldo harga pokok (Kolom XIX) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900; 2) form 11 untuk Akad Istishna’, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan saldo harga pokok (Kolom XVIII) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900;

3) form 12 untuk Akad Qardh, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan jumlah bulan laporan (Kolom XVIII B) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900;

4) form 13 untuk akad bagi hasil, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan jumlah bulan laporan (Kolom XXI B) dengan sektor ekonomi (Kolom XIII) sandi 002100, 002200, 002300, dan 002900; dan

5) form 14 untuk akad sewa, pada golongan nasabah (Kolom II) dengan sandi pihak ketiga bukan bank yaitu hasil penjumlahan dari harga perolehan (Kolom XVII B.3) dikurangi dengan akumulasi penyusutan/amortisasi (Kolom XXII) dan cadangan kerugian penurunan nilai aset ijarah (Kolom XXIII) dan ditambahkan dengan tunggakan pokok (Kolom XXIV B), dengan formula sebagai berikut:

Harga Perolehan - (Akumulasi Penyusutan/ Amortisasi + Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Aset Ijarah) + Tunggakan Pokok

Penjumlahan di atas dilakukan untuk sektor ekonomi (Kolom XIII) dengan sandi sektor 002100, 002200, 002300, dan 002900.

c. Sandi sektor 002100, 002200, 002300, dan 002900 sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai laporan stabilitas moneter dan sistem keuangan bulanan bank umum syariah dan unit usaha syariah, yaitu sebagai berikut:

Sandi Sektor Sektor

002100 Rumah Tangga untuk Pemilikan Mobil Roda Empat

002200 Rumah Tangga untuk Pemilikan Sepeda Bermotor

002300

Rumah Tangga untuk Pemilikan Truk dan Kendaraan Bermotor Roda Enam atau lebih 002900

Rumah Tangga untuk Pemilikan Kendaraan Bermotor lainnya

6. Contoh Perhitungan dan Penetapan Uang Muka KKB atau PKB tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini.

Dokumen terkait