2.10 Kajian Sebelumnya
2.10.7 Ujaran Interpersonal Dalam Wacana Kelas (Analisis Linguistik Sistematik Fungsional) (Andriany, 2011)
Andriany (2011) meneliti tentang ujaran interpersonal dalam, dengan tujuan untuk menjelaskan terjadinya sistem modus, struktur mood, modalitas dan interpretasi konteks sosial dalam wacana kelas. Analisis dilakukan terhadap teks menurut satuan leksikogramatika yang merealisasikan ujaran interpersonal dengan menggunakan teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF).
Andriany (2011) menemukan bahwa satuan leksiko gramatika unsurnya dibangun dari subjek, predikator, komplemen dan keterangan dan representasi leksikogramatika ujaran interpersonal dalam teks-teks yang diteliti menunjukkan bahwa seluruh modus (modus IND – DEK , IND - INT, IMP dan PEN) ditemukan pada setiap teks, baik yang direalisasikan guru, maupun siswa. Modus yang dominan digunakan adalah Modus DEK. Penggunaan modus IND – DEK didorong oleh fungsi guru, maupun siswa. Modus yang dominan digunakan adalah modus DEK. Penggunaan modus IND – DEK didorong oleh fungsi guru sebagai pemberi informasi/ ilmu. Peringkat kedua yang dominan adalah modus IND – INT, modus ini digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar-mengajar.
Urutan ketiga dominan adalah modus IMP. Modus IMP memotivasi siswa untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan kesiapan memulai serangkaian aksi atau perbuatan dalam mencapai tujuan tertentu. Modus keempat adalah modus PEN. Modus ini bersifat persuasif.
2.11 Pantun
Pantun adalah sejenis puisi yang dilisankan dan biasa memakai nada/lagu. Pantun terdiri atas unsur-unsur kalimat yang berjumlah empat baris dalam satu bait dan bersajak (a-b-a-b) (Alisyahbana, 2008). Tiap – tiap baris berisi 8 sampai 10 suku kata, biasanya baris pertama dan kedua disebut Sampiran, baris ketiga dan keempat disebut isi. Pada umumnya pantun memiliki tekanan matra, rima dan irama.
Tekanan (suara atau bunyi) adalah ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata, sehingga suku kata atau kata tersebut lebih keras atau lebih tinggi ucapannya. Dalam tekanan ini juga dijumpai aksen, yaitu tekanan dalam bahasa dan biasanya terdapat pada suku akhir.
Matra adalah ukuran banyaknya tekanan irama dalam puisi atau musik atau bahagian yang dipakai dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah panjang atau tekanan suku kata (KBBI, 1993 : 638).
Rima yaitu perulangan bunyi yang berselang baik dalam lirik maupun pada lirik sajak yang berdekatan. Rima atau sajak disebut juga persamaan bunyi. Seperti contoh berikut :
Sungguh ada bunga di taman Sudah ditilik dengan teli Mana agaknya jadi ida
ti
Mawar merah atau mela man
ti
Menurut KBBI (1993 : 386) irama merupakan alunan yang terjadi karena perulangan dan penggantian kesatuan bunyi dalam arus yang panjang pendek pada bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendahnya nada dalam puisi-puisi pantun.
Sekumpulan alunan bunyi, yang menjadikan irama yang tetap dan beraturan timbulnya pada sajak dinamakan kaki sajak. Hal ini ditandai dengan :
a. Jambe : ___ / b. Anapes :
c. Troche : d. Dactylus :
(Brooks, et al, 1952 : 321 dalam Tarigan, 1984) Keterangan : berarti arsis (keras)
Berarti thesis (lunak)
Dengan demikian kita akan dapat mengetahui kaki sajak yang terdapat pada setiap lirik atau bait sebuah puisi, setelah kita mendengarkan atau membaca iramanya adalah troche, karena tekanan secara suara pada kata-kata bahasa Melayu terletak pada suku akhir.
Ketika pantun Melayu diucapkan, akan terdengar keindahan dan kemerduan nada-nada pantun itu. Keindahan dan kemerduan nada-nada itu juga bergantung pada situasi, tempat dan peristiwa dimana pantun tersebut digunakan. Untuk memperjelas apa isi perasaan itu dapat dirasakan dalam pantun.
Coba-coba menanam mumbang Moga-moga tumbuh kelapa Coba-coba bertanam sayang Moga-moga manjadi cinta
Anak lintah banyak bersua Lintah melilit batang padi Peluk cium kita berdua Tandanya cinta dalam hati
(Hidayati, 2007 : 28)
Dua bait pantun di atas merupakan ungkapan cinta pada seseorang, dan biasanya pantun ini digunakan oleh orang muda yang sedang berkasih-kasihan. Pada masyarakat Melayu Deli dan Serdang dalam mencari jodoh untuk dijadikan suami ataupun istri selalu memberi syarat, yaitu satu akidah, benih asal yang baik, berakhlak dan jasmani yang sehat atau sempurna.
Pantun mudah dikenal dan dibedakan dengan karya-karya sastra lama lainnya, seperti pantun kilat (karmina), talibun, seloka, gurindam dan syair. Perbedaan itu bukan saja dalam unsur luarnya seperti bentuk dan struktur, ikatan dan konvensi tetapi juga unsur dalamnya, seperti bahan pembicaraan.
Demikian isi dan fungsi serta unsur-unsur estetiknya struktur tematik atau struktur makna pantun, terikat menurut aturan jenis pantun, serta ada ikatan yang memberikan nilai keindahan tersendiri dalam struktur setiap barisnya, jumlah baris baitnya, dan aturan dalam hal rima dan ritmanya.
Pada tata cara perkawinan adat Melayu Deli dan Serdang selalu digunakan acara berbalas pantun, sehingga apa saja yang hendak dinyatakan untuk mencapai
tujuan selalu menggunakan pantun. Dengan pantun, kedua belah pihak mengerti akan maksud dan tujuan masing-masing.
Pantun sebagai sastra lisan adalah kepunyaan orang banyak. Pada umumnya tidak diketahui siapa pengarangnya (anonim). Oleh karena itu ada sedikit perubahan langgam dan susunan kata-kata yang disesuaikan dengan zaman dan tempatnya. Sesuai dengan ungkapan Melayu "sekali air bah, sekali tepian berubah".
Isi pantun mencakup pelbagai masalah dalam kehidupan, misalnya nasihat, berkasih-kasihan, jenaka, sindiran, agama dan segala jenis pengalaman manusia. Sehingga pantun mempunyai bermacam-macam jenis. Berdasarkan isi dan temanya pantun dibagi menjadi tiga (3) bagian, yaitu:
1. Pantun anak-anak 2. Pantun orang muda 3. Pantun orang tua
Di bawah ini akan dijelaskan satu demi satu pantun tersebut. 1. Pantun Anak-anak
Pantun anak-anak biasanya menggambarkan tentang dunia anak-anak, maka isi pantunnya tentulah sangat sederhana, tidak lepas dari pikiran anak-anak. Pantun anak-anak isinya berkisar antara lain mengenai ibu-bapak, permainan, makanan, pakaian, dan kehidupan sehari-hari. Dan biasanya pantun anak-anak berisi tentang rasa senang dan rasa sedih. Oleh karena itu, pantun anak dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Pantun bersuka cita, seperti contoh di bawah ini: Elok rupanya kumbang jati
Dibawa itik pulang petang Tidak terkata besar hati- Melihat ibu sudah datang
(Pantun bersuka cita)
Ke balai membawa labu Labu amanat dari si tunggal Orang memakai baju baru
Hamba menjerumat baju bertambal (Pantun berdukacita)