• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian 1. Analisa Deskriptif

Dalam dokumen T1 802007093 Full text (Halaman 28-34)

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

C. Hasil Penelitian 1. Analisa Deskriptif

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan uji t, maka didapat rata-rata dari

masing-masing variabel, yaitu lansia yang tinggal di panti werda dan lansia tinggal di rumah.

Pengkategorian tinggi rendahnya atau interval psychological well being pada lansia yang

Tabel 4.3: Interval Psychological Well Being lansia yang tinggal di panti werda

Skor Kriteria F Prosentase min max Mean

35 ≤ x ≤ 56 Sangat rendah 73 123 98,6 56 < x ≤ 77 Rendah 1 3,33% 77 < x ≤ 98 Sedang 12 40,00% 98 < x ≤ 119 Tinggi 16 53,33% 119 < x ≤ 140 Sangat tinggi 1 3,34% Jumlah 30 100% SD = 9,91898

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa psychological well being para lansia yang

tinggal di panti werda memiliki mean sebesar 98,6 dengan standar deviasi sebesar

9,91898 Mean termasuk dalam kategori tingkat psychological well being tinggi.

Selanjutnya, pengkategorian tinggi rendahnya atau interval psychological well

being lansia yang tinggal di rumah dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4: Interval Psychological Well Being lansia yang tinggal di rumah

Skor Kriteria F Prosentase min max Mean

35 ≤ x ≤ 56 Sangat rendah 92 110,1 56 < x ≤ 77 Rendah 77 < x ≤ 98 Sedang 3 10% 98 < x ≤ 119 Tinggi 22 73,33%

119 < x ≤ 140 Sangat tinggi 5 16,67% 136

Jumlah 30 100% SD = 10,18907

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat psychological well being para lansia

yang tinggal di rumah memiliki mean sebesar 110,1 dengan standar deviasi sebesar

10,18907. Mean lansia yang tinggal di rumah termasuk dalam kategori tingkat

psychological well being tinggi.

Selanjutnya, pengkategorian tinggi rendahnya atau interval psychological well

being lansia yang tinggal di rumah dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5: Interval Psychological Well Being lansia yang tinggal di Panti Werda dan di rumah

Skor Kriteria F Prosentas

e

min max Mean

35 ≤ x ≤ 56 Sangat rendah 73 136 104,35 56 < x ≤ 77 Rendah 1 1,7% 77 < x ≤ 98 Sedang 15 25,0% 98 < x ≤ 119 Tinggi 38 63,3% 119 < x ≤ 140 Sangat tinggi 6 10,0% Jumlah 60 100% SD = 11,53304

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat psychological well being para lansia,

yaitu mean sebesar 104,35 dengan standar deviasi sebesar 11,53304. Mean lansia,

2. Uji Analisa

Melihat hasil dari uji homogenitas dapat disimpulkan bahwa data memiliki varians

yang homogen, maka analisis uji beda t-tes menggunakan equal variance assumed (Ghozali,

2006). Dari output SPSS terlihat bahwa nilai t pada equal variance assumed adalah -4,430

dengan probabilitas signifikansi = 0,000 (p < 0,05). Melihat hasil perhitungan tersebut maka

dapat disimpulkan bahwa tolak Hi dan terima Ho. Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat

psychological well being para lansia yang tinggal di panti werda dan lansia yang tinggal di

rumah adalah berbeda secara signifikan. Dari hasil uji t, didapat hasil bahwa rata-rata tingkat

psychological well being para lansia yang tinggal di panti werda lebih rendah daripada

rata-rata tingkat psychological well being para lansia yang tinggal di rumah. Berikut pada tabel

4.6 adalah tabel hasil perhitungan uji t:

Tabel 4.6: Tabel Hasil perhitungan Uji t Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

F Sig. T df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error

Difference Lower Upper

Psychology Well-being

Equal variances assumed .056 .813 -4.430 58 .000 -11.50000 2.59617 -16.69681 -6.30319

Equal variances not assumed -4.430 57.958 .000 -11.50000 2.59617 -16.69688 -6.30312

D. Pembahasan

Dengan menggunakan teknik uji beda teknik Independet Sampel t-test yang dianalisa

melalui SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 17.0 windows yang merupakan

program (software) khusus pengolahan data statistik untuk ilmu sosial, diperoleh uji beda t-tes

sebesar -4,430 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat

psychological well-being lansia yang tinggal di panti werda dan lansia yang tinggal di rumah

sendiri.

Adapun, dari kedua kelompok lansia diperoleh data bahwa lansia yang yang tinggal di

panti werda Sosial Salib Putih dan Maria Martha tingkat psychological well being memiliki nilai

rata-rata 98,6, sedangkan lansia yang tinggal di rumah tingkat psychological well being memiliki

nilai rata-rata 110,1.

Adanya perbedaan tingkat psychological well being antara lansia yang tinggal di panti

werda dan lansia yang tinggal di rumah karena psychological well being pada lansia adalah suatu

kondisi yang mencakup beberapa aspek, yaitu: Penerimaan diri (self- acceptance), hubungan

positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan

dari 6 aspek tersebut, psychological well being lansia yang tinggal di panti werda dan di rumah

memiliki perbedaan yang signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa lansia yang tinggal di panti

werda sebagian besar ke panti werda bukan atas keinginan mereka sendiri, melainkan lansia

diantar oleh keluarga, pihak gereja dan dinas sosial. Adapun, lansia yang memilih tinggal di

panti werda karena bermasalah dengan anak, isteri atau keluarga. Lansia yang diantar oleh pihak

gereja karena lansia tersebut tidak menikah dan tinggal sendiri di rumah. Para lansia yang

dibawa oleh pihak gereja merupakan bagian dari komunitas gereja. Sedangkan lansia yang

diantar oleh dinas sosial, dikarenakan pihak dinas sosial bekerjsama langsung dengan lembaga

lingkungan untuk mengantarkan lansia ke panti werda, karena lembaga lingkungan dan dinas

sosial menemukan ada beberapa lansia yang tinggal sendiri, dan merasa lansia akan jauh lebih

baik, terurus, dan terjaga bila lansia tersebut tinggal di panti werda. Peneliti juga melakukan

wawancara ke sebagian besar lansia yang memiliki keterbatasan fisik (penglihatan kurang jelas,

tidak bisa menulis, dan membaca) karena sudah lanjut usia. Ungkapan-ungkapan perasaan dari

para lansia yaitu, ada lansia yang mengatakan lebih merasa nyaman tinggal di rumah sendiri

sekalipun rumah tak layak untuk ditinggali, ada juga yang mengatakan lebih merasa bebas

tinggal di rumah sendiri karena masih bisa melakukan banyak aktivitas (pergi ke pasar, mencuci

baju, dan mencuci piring). Lansia yang tinggal di panti werda merasa tidak sebebas di rumah

karena tinggal di panti werda tidak bisa bebas keluar panti, contohnya saat lansia membeli

jajanan di pagi hari hanya bisa melalui pagar. Lansia juga merasa terbatas tidak bisa mencuci

pakaian sendiri karena mencuci pakaian sudah termasuk dalam fasilitas yang ada didalam panti

werda. Ada juga lansia yang berprinsip tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya, tetapi

dalam waktu yang cukup sering (sebulan 2 sampai 3 kali dikunjungi). Secara tidak langsung

lansia merasa bahwa tinggal bersama keluarga merupakan sumber kepuasan. Sedangkan

sebagian lansia yang tidak menikah merasa nyaman tinggal di panti werda karena hidupnya jauh

lebih baik, terawat, bisa makan, dan mendapat tempat tinggal. Ada juga beberapa permasalahan

psikologis yang muncul yaitu, lansia merasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan

menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, dan merasa kesepian,

Sementara penelitian yang didapat dari lansia yang tinggal di rumah, para lansia merasa

nyaman tinggal di rumah karena lansia merasa bisa bebas beraktivitas, seperti pergi ke pasar,

pergi ke gereja, dan mencuci piring. Ada juga lansia yang mengungkapkan bahwa lansia merasa

senang pada sore hari bertemu dengan tetangga dan bercengkrama. Disisi lain, peneliti

menemukan ungkapan lansia yang merasa bahagia bisa tetap tinggal bersama keluarganya,

menggendong cucu, dan bertemu sanak sodara pada perayaan hari-hari besar (hari Natal, Idul

Fitri, Imlek, dan tahun baru). Adapun lansia yang merasa pendapat mereka tetap diterima ketika

lansia berkumpul bersama keluarga, hal ini membuat para lansia merasa masih dihargai oleh

keluarga. Bagi para lansia yang tinggal dirumah, beban psikologis dapat diminimalkan dan

kemunduran fisiknya yang beresiko pada kelupaan bisa sedikit teratasi melalui aktivitas

keseharian mereka, seperti melakukan aktifitasnya secara mandiri dan perasaan bahagia bisa

tetap tinggal bersama keluarga.

Dalam dokumen T1 802007093 Full text (Halaman 28-34)

Dokumen terkait