• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

3) Uji anava satu arah

2 1 ∑( ) 2 12 2 12 2 1 ∑( ) 2 2 1 g) Simpulan

0 ditolak jika 2 2(1 )( 1) , dimana 2(1 )( 1)

Budiyono, (2015: 176-177)

Tabel 3.6 Hasil uji homogenitas sebelum penelitian

2 2 Kesimpulan

5,5487 5,9915 Homogen

Hasil yang diperoleh dari uji homogenitas adalah 2 = 5,548dan 2 = 5,991. Karena 2 2 maka H0 diterima yaitu sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman homogen. Perhitungan selengkapnya pada lampiran 6 halaman 114.

3) Uji anava satu arah

Setelah dilakukan uji prasyarat kesetaraan sampel, selanjutnya akan dilakukan uji kesetaraan sampel dengan menggunakan anava satu arah.

0 ( i = 1, 2, 3), artinya tidak ada perbedaan antara kelas eksperimen, kontrol, dan uji coba (sampel setara)

( i = 1, 2, 3), artinya paling sedikit ada satu perbedaan antara kelas eksperimen, kontrol, dan uji coba (sampel tidak setara)

b) Mencari faktor korelasi (FK)

(∑ 1 )2

c) Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( ) = ∑ 1

d) Menghitung Jumlah Kuadrat Kelompok ( )

1 1

1 1 2

2

1 3

3

e) Menghitung Jumlah Kuadrat Dalam ( ) f) Menghitung = g) Menghitung Dalam = h) Menghitung Total =

j) Menghitung Rataan Kuadrat Dalam ( ) =

k) Menghitung Harga 0

0

l) Membuat tabel anava satu jalan Tabel 3.7 Anava Satu Arah

Sumber Variasi Jumlah Kuadrat(JK) Db RK F hit Kelompok (K) 0 Dalam (D) Total (T) - - m) Kesimpulan

Jika maka 0 ditolak Jika maka 0 diterima

Dari perhitungan diperoleh Fhitung = 1,778 dan Ftabel = 3,094 Karena Fhitung < Ftabel , maka H0 diterima. Dengan demikian tidak ada perbedaan antara kelas eksperimen, kelas kontrol, dan kelas uji coba (sampel setara). Perhitungan selengkapnya pada lampiran 7 halaman 117.

1) Instrumen Tes Kemampuan Komunikasi Matematis a) Uji Validitas Tes

Menurut Sugiyono (2013: 5) Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan. Dalam menentukan validitas tes menurut Susongko (2017:85) dapat menggunakan product moment, karena bentuk instrumen berupa uraian, berikut rumusnya:

∑ (∑ )(∑ )

√(( ∑ 2 (∑ )2 ( ∑ 2) (∑ )2)

Keterangan :

: Jumlah responden : Skor butir soal : Skor Total

: Koefisien korelasi antara variabel x dan y

Susongko (2017 :85) Dengan menggunakan taraf signifikansi 5%, dan n= 32, diperoleh rtabel 0,3494. Dari 10 butir soal kemampuan komunikasi matematis yang di uji cobakan diperoleh 7 butir soal kemampuan komunikasi matematis yang valid yaitu nomor 1, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 untuk selanjutnya digunakan sebagai instrument penelitian. Sebagai contoh soal nomor 1 dengan nilai rxy = 0.735 dan rtabel = 0.3494 dengan taraf signifikansi 5%, sehingga rxy rtabel, maka butir soal kemampuan komunikasi matematis nomor 1 dikatakan

lampiran 21 Sebagai contoh soal nomor 2 yang tidak valid dengan nilai rxy = 0.250 dan rtabel = 0.3494 dengan taraf signifikansi 5%, sehingga rxy < rtabel, maka butir soal kemampuan komunikasi matematis nomor 2 dikatakan tidak valid. Untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 23 halaman 214.

b) Uji Reliabilitas Tes

Menurut Susongko (2016:86) reliabilitas tes dapat diukur menggunakan rumus Kuder-Ricardson 20 (KR 20/Alpha Cronbach), berikut rumusnya :

( 2 2 ) Keterangan: rxx : Reliabilitas Instrumen k : Jumlah butir

2 : varian skor suatu butir

2 : Varian skor total

Dari hasil perhitungan reliabilitas kemudian hasil tersebut dikonsultasikan dengan nilai rtabel, apabila rxx rtabel untuk butir soal dikatakan reliabel dan apabila rxx < rtabel maka butir soal dikatakan tidak reliabel.

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% dan n = 32, pada tes kemampuan komunikasi matematis diperoleh rtabel = 0.3494, dimana rxx = 0.7862. Karena rxx rtabel, maka butir soal tersebut dikatan reliabel. Untuk

halaman 216

c) Daya Beda Butir Soal

Menurut Susongko (2017: 102) Cara menghitung Daya Pembeda (DP) yang lebih baik secara metode adalah dengan melihat korelasi skor butir dengan skor total. Bila tes bersifat dikotomus maka korelasi yang digunakan adalah korelasi Point Biserial sedangkan bila tes bersifat politomus, korelasi yang digunakan adalah korelasi product momen(pearson).

Pada penelitian ini tes bersifat politomus. Sehingga menggunakan rumus:

∑ (∑ )(∑ )

√(( ∑ 2 (∑ )2 ( ∑ 2) (∑ )2)

Keterangan :

: Jumlah responden : Skor butir soal : Skor Total

: Koefisien korelasi antara variabel x dan y

Susongko (2017 :85)

Kriteria yang digunakan untuk menginterprestasikan indeks daya pembeda menurut Lestari (2017: 217) sebagai berikut : 0,70 < DP ≤ 1,00 : Sangat baik

0,40 < DP ≤ 0,70 : Baik 0,20 < DP ≤ 0,40 : Cukup

DP ≤ 0,00 : Sangat Buruk

Berdasarkan perhitungan daya pembeda, pada tes kemampuan komunikasi matematis dari 10 butir soal yang di uji cobakan diperoleh. Dengan kriteria cukup, ada 2 soal yaitu soal nomor 2 dan 9. Dengan kriteria baik, ada 2 soal yaitu soal nomor 1 dan 5. Dengan kriteria sangat baik ada 5 soal yaitu soal nomor 3, 4, 6, 7 dan 8. Dengan kriteria jelek, ada 1 soal yaitu soal nomor 10. Untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 25 halaman 217. d) Tingkat Kesukaran Soal

Tingkat kesukaran butir tes ditunjukan oleh besarnya angka persentase dari penempuh yang mendapat soal betul (Susongko 2016 :93)

( )

Keterangan:

TK : Tingkat kesukaran butir S : Jumlah seluruh skor : Jumlah penempuh tes

: skor maksimum suatu butir

(Susongko, 2016: 93) Indeks kesukaran suatu butir soal menurut Lestari (2017:224) diinterpretasikan dalam kriteria sebagai berikut: IK = 0,00 : Terlalu Sukar

0,00 < IK ≤ 0,30 : Sukar 0,30 < IK ≤ 0,70 : Sedang

IK = 1,00 : Terlalu Mudah

Berdasarkan perhitungan tingkat kesukaran, pada tes kemampuan komunikasi matematis dari 10 butir soal yang diujicobakan diperoleh kriteria sedang, ada 6 soal yaitu soal nomor 1, 3 ,4 ,6, 7 dan 8. Dengan kriteria sukar, ada 4 soal yaitu soal nomor 2, 5, 9, dan 10. Untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 25 halaman 217.

Setelah diuji validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran pada tes kemampuan komunikasi matematis dari 10 butir soal yang diujicobakan yang dipakai hanya 7 soal yaitu soal nomor 1, 3, 4, 5, 6 ,7 dan 8.

2) Instrumen Observasi

Instrumen observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang presentase keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dengan metode Outdoor Learning dengan media visual. Rumus untuk mencari presentase keaktifan peserta didik sebagai berikut:

( ) Kriteria: 75% < P ≤ 100% : Sangat Aktif 50 % < P ≤ 75% : Aktif 25% < P ≤ 50 % : Cukup Aktif 0 ≤ P ≤ 25% : Kurang Aktif (Amalia, 2018: 35)

a. Uji Prasyarat Hipotesis 1) Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data penelitian kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas univariat dilakukan sebagai syarat dalam perhitungan hipotesis yaitu uji proporsi dan uji t. Dalam penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah dengan uji Lilieforse (Budiyono, 2015: 168-170). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

(1) Menentukan hipotesis

0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

: sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal

(2) Taraf signifikasi yang digunakan adalah α = 5% (3) Daerah kriteria

Menolak 0 jika (4) Menghitung

Pengamatan 1 2 dijadikan bilangan baku

1 2 dengan menggunakan rumus ̂

: simpangan baku sampel

(5) Untuk setiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F( ) = P( )

(6) Menghitung proporsi 1 2 yang lebih kecil atau sama dengan .

Jika proporsi dinyatakan oleh S( ) maka S( ) =

(7) Menghitung | ( ) ( )|

(8) Menghitung max | ( ) ( )| (9) Kesimpulan

Jika , maka 0 diterima Jika , maka 0 ditolak

(Budiyono, 2015: 170-171)

Adapun hasil perhitungan uji normalitas data sebagai berikut: Tabel 3.8 Hasil uji normalitas setelah penelitian

No. L0 maks Ltabel Keputusan

1. 0,1183 0,1566 Normal

Hasil yang diperoleh dari uji normalitas menunjukkan bahwa nilai L0 maks Ltabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Dengan demikian, persyaratan untuk

lampiran 27 halaman 219. 2) Uji Homogenitas

Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Bartlett. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

a) Menentukan formulasi hipotesis

Ho : sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman homogen

Ha : sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman tidak homogen

b) Menentukan taraf signifikansi dan nilai 2

(1) Taraf signifikansi yang digunakan adalah α = 5% (2) Nilai 2 2

(1 )( 1) diperoleh dari daftar

distribusi Chi-Kuadrat dengan peluang (α) dan ( )

c) Menentukan kriteria pengujian (1) Ho diterima apabila 2 2

(1 )( 1)

(2) Ho ditolak apabila 2 2

(1 )( 1)

d) Menentukan nilai uji statistika

Untuk menentukan nilai 2 diperlukan hal berikut : (1) Menghitung variansi setiap sampel

22 (∑ )2

2 ∑( ) 2

∑( )

(3) Menentukan nilai 2 dengan rumus :

2 ( )( ∑( ) 2 Dimana : ( 2) ∑( ) e) Kesimpulan (1) Apabila 2 2 maka Ho diterima. (2) Apabila 2 2 maka Ho ditolak. Tabel 3.9 Tabel Kerja Uji Bartlett

Sampel ke Dk 1/dk 2 2 (dk) 2 1 1 1/ 1 12 12 ( 1 ) 12 2 2 1/ 2 22 22 ( 2 ) 22 K 1/ 2 2 ( ) 2 Jumlah 1/∑( ) - - ∑( ) 2

Tabel 3.10 Hasil uji homogenitas setelah penelitian

2 2 Kesimpulan

0,0023 3,8415 Homogen

Hasil yang diperoleh dari uji homogenitas adalah 2 = 0,0023 dan 2 =3,8415. Karena 2 2 maka H0

diterima yaitu sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman homogen. Perhitungan selengkapnya pada lampiran 28 halaman 223.

Dokumen terkait