• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

D. UJI ASUMSI KLASIK

Uji asumsi klasik perlu dilakukan sebelum melakukan uji regresi (Ghozali, 2011). Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, peneliti melakukan uji asumsi klasik yang meliputi, pengujian normalitas, pengujian heteroskedastisitas, pengujian multikolinieritas, dan yang terakhir peneliti melakukan pengujian autokorelasi.

commit to user

62

Uji normalitas berguna untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari populasi berdistribusi normal. Lebih lanjut, hal ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa sebelum melakukan regresi, variabel dependen dan independen terdistribusi dengan normal (Ghozali, 2011).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji Kolmogorov

Smirnov dan dilengkapi dengan grafik scatterplots serta histogram. Hasil uji dan gambar dapat dilihat di bawah ini:

a. Dependent variabel kinerja dari perspektif Stakeholder

Gambar 4.1

Grafik Histogram Uji Normalitas (STHR)

Gambar 4.2

Grafik Scatterplot Uji Normalitas (STHR) Tabel 4.6

commit to user 63 Unstandardized Residual N 77 Normal Parameters Mean 0 Std. Deviation 0.41595865 Most Extreme Differences Absolute 0.073 Positive 0.073 Negative -0.069 Kolmogorov-Smirnov Z 0.638

Asymp. Sig. (2-tailed) 0.81

Sumber: Data yang diolah

b. Dependent variabel kinerja dari perspektif Pelaksanaan Tugas Pokok

Gambar 4.3

Grafik Histogram Uji Normalitas (TPKS)

Gambar 4.4

Grafik Scatterplot Uji Normalitas (TPKS) Tabel 4.7

commit to user

64

Uji

One-sample Kolmogorov Smirnov (TPKS)

Sumber: Data yang diolah

Dari gambar di atas (Gambar 4.1, 4.2, 4.3, dan 4.4) dapat dilihat bahwa data terdistribusi dengan normal, sebab pada gambar histogram gambarnya tidak melenceng ke kiri atau ke kanan dan pada gambar scatterplot titik mendekati garis normal. Hal ini didukung dengan tabel uji one-sample Kolmogorov Smirnov (Tabel 4.6 dan Tabel 4.7) yang menunjukkan angka 0,810 untuk variabel dependen STHR dan 0,911 pada variabel dependen TPKS (lebih besar dari 5%), oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa data terdistribusi dengan normal.

2. Uji heteroskedastisitas

N 77

Normal Parameters Mean 0

Std. Deviation 0.3207446 Most Extreme Differences Absolute 0.064 Positive 0.043 Negative -0.064 Kolmogorov-Smirnov Z 0.561

commit to user

65

Pengujian heteroskedastisitas berfungsi untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan asumsi klasik, yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Sebab, syarat utama yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas.

Peneliti menggunakan uji Glesjer untuk menguji heteroskedastisitas. Pengujian ini dilakukan dengan cara meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan absolut residualnya lebih dari 5% maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas (Ghozali, 2011). Selain itu peneliti juga akan menguji dengan menggunakan grafik scatterplot, jika data (titik-titik) menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedasitas.

a. Dependent variabel kinerja dari perspektif stakeholder

Gambar 4.5

Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas (STHR) Tabel 4. 8

Uji Heteroskedastisitas – Glesjer (STHR)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Error Std. Beta

commit to user 66 1 (Constant) 0.765 0.238 3.209 0.002 PHUM 0.065 0.07 0.168 0.922 0.36 TADM -0.128 0.083 -0.288 -1.542 0.128 KPUM -0.057 0.058 -0.151 -0.995 0.323 TRAN 0.048 0.041 0.163 1.166 0.248 PROP -0.063 0.058 -0.203 -1.101 0.275 PROF -0.072 0.081 -0.173 -0.882 0.381 AKUN 0.082 0.078 0.16 1.061 0.292 Sumber: Data yang diolah

b. Dependent variabel kinerja dari perspektif Pelaksanaan Tugas pokok)

Gambar 4.6

Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas (TPKS) Tabel 4. 9

Uji Heteroskedastisitas – Glesjer (TPKS)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Error Std. Beta 1 (Constant) 0.311 0.196 1.583 0.118 PHUM -0.002 0.058 -0.006 -0.03 0.976 TADM 0.042 0.069 0.125 0.615 0.541 KPUM -0.03 0.048 -0.104 -0.633 0.529 TRAN 0.02 0.034 0.087 0.577 0.566 PROP 0.038 0.047 0.162 0.81 0.421

commit to user

67

PROF -0.072 0.067 -0.231 -1.084 0.282 AKUN -0.015 0.064 -0.038 -0.234 0.816 Sumber: Data yang diolah

Dari Gambar 4.5 dan 4.6 dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar dan tanpa membentuk pola tertentu, sehingga data tidak terjadi heteroskedastisitas. Hal ini didukung dengan Tabel 4.8 dan 4.9 yang menunjukkan tidak ada signifikansi yang kurang dari 5%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data bebas dari heteroskedastisitas.

3. Uji multikolinieritas

Pengujian multikoliniearitas digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan asumsi klasik, yaitu ada tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Syarat untuk tidak terjadi multikolinieritas adalah dengan menggunakan/melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi. Jika nilai VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi multikolineritas (Sulistyo, 2012). Hasil pengujian multikolinieritas pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.10 di bawah.

Tabel 4. 10 Uji Multikolinieritas

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1

(Constant)

PHUM 0.356 2.805

commit to user 68 KPUM 0.514 1.946 TRAN 0.609 1.641 PROP 0.35 2.857 PROF 0.309 3.233 AKUN 0.52 1.923

Sumber: Data yang diolah

Dari Tabel 4.10 dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas. Sebab nilai VIF untuk semua variabel independen tidak ada yang di bawah 10.

4. Uji autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan uji asumsi klasik terkait dengan apakah terjadi korelasi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Biasanya untuk data crossectional tidak terdapat korelasi, (Ghozali, 2011). Namun pengujian ini tetap dilakukan untuk menjamin model regresi atas pengujian hipotesis menjadi baik, sebab regresi yang baik adalah regresi yang bebas autokorelasi.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji Durbin-Watson (uji DW). Jika hasil uji DW berada diantara du sampai dengan 4-du, maka tidak terjadi autokorelasi. Uji autokorelasi dapat dilihat pada Tabel 4.11 dan Tabel 4.12 di bawah.

a. Dependent variabel kinerja dari perspektif Stakeholder Tabel 4. 11

commit to user 69 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .614a 0.377 0.314 0.43655 1.918

Sumber: Data yang diolah

b. Dependent variabel kinerja dari perspektif Pelaksanaan Tugas Pokok Tabel 4.12 Uji Autokorelasi (TPKS) Model R Square R Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .759a 0.577 0.534 0.33662 2.048 Sumber: Data yang diolah

Hasil pengujian autokorelasi dari Tabel 4.11 dan 4.12 menunjukkan angka 1,918 untuk variabel dependen STHR dan 2,048 untuk variabel TPKS. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami autokorelasi sebab nilai tersebut berada diantara du sampai dengan 4-du, yaitu 1,834 s.d 2,166 (dengan N=75 dan K=7).

E. STATISTIK DISKRIPTIF dan PENGUJIAN HIPOTESIS

Untuk menjawab pertanyaan/masalah dalam penelitian ini, maka peneliti telah melakukan uji statistik diskriptif terkait dengan pertanyaan apakah implementasi governance di Kementerian Perindustrian RI telah berjalan dengan baik sesuai dengan peraturan dan Undang-Undang yang mengaturnya. Lebih lanjut, untuk menjawab pertanyaan yang kedua, yaitu apakah implementasi

commit to user

70

governance di Kementerian Perindustrian RI berpengaruh terhadap kinerja, maka perlu dilakukan pengujian hipotesis.

Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan teori-teori dan konsep-konsep yang digunakan untuk menganalisis serta model persamaanpun telah dikaji berdasarkan kerangka teoritis tertentu yang dapat menjelaskan hubungan kausalitas variabel-variabel yang diteliti. Selain itu, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah valid dan reliabel, serta telah memenuhi syarat-syarat uji asumsi klasik. Oleh karena itu, pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan analisis regresi linier berganda.

1. Statistik diskriptif

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa total sampel dalam penelitian ini adalah 77 responden. Responden telah memberikan presepsi mereka terkait dengan parameter prinsip-prinsip governance yang dijadikan variabel independen pada penelitian ini serta parameter kinerja (perspektif stakeholder dan perspektif pelaksanaan tugas pokok).

Rata-rata jawaban/presepsi dari responden untuk kesemua prinsip governance adalah di atas tiga, namun untuk prinsip transparansi memiliki rata-rata 2,87 (paling rendah). Prinsip akuntabilitas memiliki rata-rata yang paling tinggi yaitu 3,96. Sedangkan untuk kinerja yang diwakili oleh perspektif stakeholder dan perspektif pelaksanaan tugas pokok adalah 3,37 dan 3,39.

Lebih lanjut, Tabel 4.13 menunjukkan bahwa rata-rata jawaban/persepsi responden atas parameter prinsip-prinsip governance

commit to user

71

adalah sebagai berikut: prinsip penegakan hukum memiliki rata-rata 3,23 dengan variasi penyebaran antara 3,94 sampai dengan 2,51. Prinsip tertib pelaksanaan administrasi negara memiliki rata-rata 3,62 dengan variasi penyebaran antara 3,00 sampai dengan 4,23. Prinsip kepentingan umum memiliki rata-rata 3,43 dengan variasi penyebaran antara 2,71 sampai dengan 4,14. Prinsip transparansi memiliki rata-rata 2,87 dengan variasi penyebaran antara 1,95 sampai dengan 3,79. Prinsip proporsionalitas memiliki rata-rata 3,53 dengan variasi penyebaran 2,66 sampai dengan 4,40. Prinsip profesionalisme memiliki rata-rata 3,36 dengan variasi penyebaran antara 2,70 sampai dengan 4,01. Sedangkan prinsip akuntabilitas memiliki rata-rata 3,96 dengan variasi penyebaran antara 3,43 sampai dengan 4,49.

Kinerja dari perspektif stakeholder memiliki rata-rata 3,37 dengan variasi penyebaran antara 2,84 sampai dengan 3,90. Sendangkan kinerja dari perspektif pelaksanaan tugas pokok memiliki rata-rata 3,39 dengan variasi penyebaran antara 2,90 sampai dengan 3,88.

Tabel 4.13 Statistik Diskriptif

N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation PHUM 77 1.6 4.8 3.126 0.7096 TADM 77 1.89 4.78 3.6156 0.61068 KPUM 77 1.5 4.75 3.4286 0.71619 TRAN 77 1 5 2.8701 0.9191 PROP 77 1.25 5 3.5292 0.86979

commit to user

72

Sumber: Data yang diolah 2. Pengujian hipotesis

Penelitian ini memiliki dua model pengujian hipotesis. Model pertama menguji apakah implementasi prinsip-prinsip governance yang terdiri dari prinsip penegakan hukum, tertib pelaksanaan administrasi negara, kepentingan umum, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas berpengaruh terhadap kinerja (perspektif stakeholder). Sedangkan model kedua menguji apakah prinsip-prinsip governance yang terdiri dari prinsip penegakan hukum, tertib pelaksanaan administrasi negara, kepentingan umum, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas berpengaruh terhadap kinerja (perspektif pelaksanaan tugas pokok).

Hasil pengujian hipotesis untuk model pertama dan kedua dapat ditunjukkan dengan beberapa tabel di bawah.

Tabel 4.14 Regresi PROF 77 1.5 5 3.3571 0.65698 AKUN 77 2.6 5 3.961 0.52919 STHR 77 2.15 4.62 3.3713 0.52695 TPKS 77 2.17 4.39 3.3907 0.49304 Model

commit to user

73

Sumber: Data yang diolah

* signifikan pada 0% , ** signifikan pada 5%, dan *** signifikan pada 10% Hasil pengujian hipotesis pada pada Tabel 4.14 menunjukkan adjusted R square 0,314. Angka tersebut berarti bahwa pengaruh governance terhadap kinerja (dalam hal ini perspektif stakeholder) dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu prinsip penegakan hukum, tertib administrasi pelaksanaan negara, kepentingan umum, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas sebesar 31,4%. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Lebih jauh lagi, hasil pengujian pada Tabel 4.14 menunjukkan bahwa model pertama yang digunakan dalam penelitian ini sangat bagus (fit), hal ini ditunjukkan dengan tingkat signifikansi (P value) pada uji F sebesar 0%. Hasil regresi untuk pengujian hipotesis pada model pertama ditunjukkan pada Tabel 4.14. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya prinsip kepentingan umum yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja – perspektif stakeholder pada level 10%, oleh

I II B t Sig B t Sig PHUM 0,159 1,341 0,184 0,109 1,201 0,234 TADM 0,008 0,058 0,954 0,123 1,139 0,259 KPUM 0,194 1,988 0,051*** 0,182 2,426 0,018** TRAN 0,033 0,474 0,637 0,05 0,935 0,353 PROP 0,042 0,429 0,669 0,101 1,34 0,185 PROF 0,086 0,63 0,531 0,07 0,663 0,51 AKUN 0,025 0,189 0,851 -0,017 -0,173 0,863 R Square 0,377 0,577 Adj R Square 0,314 0,534 F test 5,962* 13,434*

commit to user

74

karena itu H5 diterima. Sedangkan prinsip-prinsip yang lain seperti prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak signifikan atau dapat dikatakan bahwa H1, H3, H7, H9, H11, dan H13

ditolak, sebab masing-masing hasil regresi dari hipotesis tersebut memiliki P value lebih dari 10%.

Hasil pengujian pada model dua dapat dilihat pada Tabel 4.14. Pada Tabel 4.14 dapat dijelaskan bahwa adjusted R square untuk model kedua lebih besar daripada model pertama yaitu sebesar 0,534. Angka tersebut memiliki arti bahwa pengaruh governance terhadap kinerja (dalam hal ini perspektif pelaksanaan tugas pokok) dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu prinsip penegakan hukum, tertib administrasi pelaksanaan negara, kepentingan umum, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas sebesar 53,4%. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hasil pengujian pada Tabel 4.14 menunjukkan bahwa model kedua yang digunakan dalam penelitian ini sangat bagus (fit), hal ini ditunjukkan dengan tingkat signifikansi (P value) pada uji F sebesar 0%. Hasil regresi untuk pengujian hipotesis pada model kedua ditunjukkan pada Tabel 4.14. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya prinsip kepentingan umum yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja – perspektif pelaksanaan tugas pokok pada level 5%, yaitu dengan

commit to user

75

P value 0,018oleh sebab itu H6 diterima. Sedangkan prinsip-prinsip yang lain seperti prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak signifikan atau bisa dikatakan bahwa H2, H4, H8, H10, H12, dan H14 ditolak, sebab masing-masing hasil regresi dari hipotesis tersebut memiliki P value lebih dari 10%.

F. PEMBAHASAN

Berdasarkan nilai mean (rata-rata) dari setiap variabel independen yang ditunjukkan Tabel 4.13 di atas. Maka prinsip-prinsip governance yang meliputi: prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, kepentingan umum, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas bisa dibuat penilaian implementasi governance di Kementerian Perindustrian RI, yaitu dengan membagi setiap mean (rata-rata) pada setiap prinsip dengan lima (nilai maksimal setiap item pernyataan yang diajukan kepada responden), hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.15. Penilaian tersebut didasarkan atas tipologi keberhasilan governance TUGI (sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2.1).

Tabel 4.15

Penilaian Implementasi Governance

Prinsip Governance Nilai Keterangan

Penegakan Hukum 63 Cukup

Tertib Penyelenggaran Administrasi Negara 72 Baik

Kepentingan Umum 69 Baik

Transparansi 57 Cukup

Proporsionalitas 71 Baik

commit to user

76

Akuntabilitas 79 Baik

Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan presepsi responden yang telah diolah (Tabel 4.15) implementasi governance di Kementerian Perindustrian RI dapat dijelaskan sebagai berikut: implementasi prinsip tertib administrasi penyelenggaraan negara, kepentingan umum, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas sudah diimplementasikan dengan baik. Namun demikian, implementasi atas prinsip-prinsip tersebut belum maksimal – seharusnya masih bisa ditingkatkan lagi (The Urban Governance Initiative). Jika dibandingkan dengan range nilai untuk kategori baik sesuai dengan kriteria dari TUGI, maka implementasi governance di Kementerian Perindustrian RI berada pada nilai yang sangat minim untuk kategori baik.

Lebih lanjut, menurut presepsi responden, prinsip penegakan hukum dan transparansi di Kementerian Perindustrian RI belum diimplementasikan dengan baik – masih dalam kategori cukup. Menurut The Urban Governance Initiative, Kementerian Perindustrian RI seharusnya melakukan perbaikan-perbaikan terkait dengan implementasi prinsip penegakan hukum dan transparansi.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi prinsip-prinsip governance di Kementerian Perindustrian RI belum berjalan dengan baik, sebab menurut Solihin (2007) implementasi governance yang baik didefinisikan jika sebuah organisasi telah menerapkan prinsip-prinsip governance secara komprehensif dengan baik. Lebih lanjut, alasan tersebut diperkuat oleh Siddiquee dan Mohamed (2007) yang berpendapat bahwa suatu negara bisa dikatakan

commit to user

77

memiliki pemerintahan baik jika pemerintahnya dianggap legitimate, operasi kegiatan yang terbuka dan transparan, tetap bertanggung jawab kepada publik serta memiliki sistem administrasi yang kompeten, bebas dari korupsi, dan salah menejemen.

Implementasi prinsip-prinsip governance yang belum berjalan dengan baik di Kementerian Perindustrian RI kemungkinan disebabkan karena pelaksanaan/implementasi governance di Kementerian Perindustrian RI secara efektif baru dimulai pada tahun 2010, hal tersebut dibuktikan dengan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No: 41/M-IND/PER/3/2010 tentang Peta Strategi dan Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian. Sehingga para pelaksana (pegawai) masih perlu waktu untuk memahami atau bahkan mengenal apa itu governance dan prinsip-prinsipnya.

Alasan lain adalah lemahnya penegakan hukum di Indonesia khususnya di Kementerian Perindustrian RI (Tabel 4.15 menunjukan bahwa menurut presepsi responden implementasi penegakan hukum di Kementerian Perindustrian RI masih cukup), sebagaimana pernyataan dari World Bank (2010); Daniri (2008); dan Sachiko & Zaelke (2007) yang menyatakan bahwa penerapan governance dipengaruhi oleh law enforcement. Ketika law enforcement lemah maka implementasi governance tidak akan berjalan maksimal, sebab para pelaku merasa mereka tidak akan mendapatkan sanksi atau punishment ketika mereka tidak melaksanakan prinsip-prinsip governance dengan baik. Lebih jauh lagi, dengan lemahnya law enforcement dan kurangnya transparansi membuat pelaksana menjadi kurang berkomitmen, sehingga menyebabkan implementasi governance

commit to user

78

di Kementerian Perindustrian RI belum baik, alasan tersebut sejalan dengan Nofianti (2009) yang menyatakan bahwa, implementasi governance dipengaruhi oleh tingkat komitmen, ketika tingkat komitmen pelaksana tinggi maka implementasinya akan berhasil, dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, perlu adanya sosialisai, perbaikan, dan peningkatan secara menyeluruh terhadap implementasi prinsip-prinsip governance sesuai dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, SK Menpan No: 63/Kep/M.Pan/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik, dan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Hal tersebut perlu untuk dilakukan agar aspek fungsional dalam pemerintahan dapat dijalankan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan (Bank Dunia, 1989 dan 1992 serta UNDP, 1995).

Pengujian hipotesis pada model pertama dan kedua menunjukkan hasil yang konsisten, yaitu pengujian regresi pada model satu dan dua (Tabel 4.14) menunjukkan bahwa prinsip kepentingan umum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja baik pada perspektif stakeholder ataupun pelaksanaan tugas pokok, sehingga H5 dan H6 diterima. Sedangkan implementasi prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja baik pada perspektif stakeholder maupun pelaksanaan tugas pokok, sehingga H1, H2, H3, H4, H7, H8, H9, H10, H11, H12, H13, dan H14

commit to user

79

Implementasi prinsip kepentingan umum memiliki pengaruh positif yang signifikan pada kedua perspektif kinerja, sehingga ketika implementasi prinsip pelayanan publik meningkat maka kinerja baik pada perspektif stakeholder dan pelaksanaan tugas pokok juga akan meningkat – dan sebaliknya. Prinsip kepentingan umum memiliki parameter yang langsung berhubungan dengan kepentingan masyarakat (publik), sehingga publik (pihak eksternal) langsung dapat memberikan penilaian atau melakukan pengawasan terhadap fasilitas pelayanan publik yang diberikan oleh satuan kerja atau Kementerian Perindustrian RI. Pengawasan dari pihak eksternal memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap kinerja suatu organisasi, terlebih apabila organisasi tersebut adalah sektor publik – dalam hal ini pemerintah/Kementerian Perindustrian RI (Tuasikal, 2008). Lebih jauh lagi, Diaswati, et.al (2008) dan Santiso (2001) menyatakan bahwa, masyarakat akan langsung menilai kinerja pemerintah dari fasilitas/pelayanan publik yang disediakan, jika fasilitas publik/pelayanan publik baik/memadahi maka masyarakat akan menilai kinerja pemerintah baik, dan sebaliknya. Oleh karena itu, organisasi (satuan kerja) akan lebih termotivasi untuk melaksanakan parameter-parameter prinsip kepentingan umum guna mewujudkan kinerja yang maksimal – sesuai dengan keinginan publik.

Hasil pengujian hipotesis pada model pertama dan kedua (Tabel 4.14) menunjukkan hasil yang konsisten terkait dengan implementasi prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dua perspektif kinerja, yaitu perspektif stakeholder dan perspektif

commit to user

80

pelaksanaan tugas pokok. Salah satu penyebab prinsip-prinsip tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja karena implementasi prinsip governance di Kementerian Perindustrian RI belum sepenuhnya berjalan dengan baik, bahkan untuk prinsip penegakan hukum dan transparansi masih dalam kelompok cukup (menurut penilaian di Tabel 4.15) sehingga implementasi governance tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja, pendapat ini sejalan dengan (Beaufort, 2004; Kouzmin, et.al, 1999; Chaudhry, et.al, 2009).

Alasan lain adalah sebenarnya tidak terdapat pengaruh governance terhadap kinerja, sebab kinerja dan governance secara bersama-sama ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, pendapat ini sejalan dengan Schultz, David, dan Kathleen (2010); Hermalin dan Weisbach (2007); Himmelberg et, al (1999); Denis dan Kruse (2000); serta Wintoki et, al (2008). Selain itu, dimungkinkan karena satuan kerja (Kementerian Perindustrian RI) masih dalam proses belajar tentang governance, sehingga mereka hanya fokus pada prinsip-prinsip dan aturan-aturan dalam governance. Hal itu mengakibatkan mereka terlalu fokus pada bagaimana cara menerapkan governance sehingga mengabaikan kinerja mereka (Heracleous, 2001).

Lebih jauh lagi, Keban (2010) menyatakan bahwa walaupun reformasi birokrasi sudah berjalan dengan baik, namun hal itu tidak menjamin adanya perbaikan kinerja pemerintah dimasa yang akan datang, kecuali terdapat komitmen untuk memperbaiki validitas dari standar penilaian kinerja kelembagaan dan aparat pemerintahan; menggunakan nilai yang ada pada governance sebagai indikator utama dalam standar penilaian kinerja; dan

commit to user

81

pengukuruan kinerja difokuskan pada capacity building yaitu kemampuan atau strategi yang dibangun untuk menangani bidang-bidang strategis.

Selain itu, pada penelitian ini peneliti menanyakan kepada responden apakah opini dari BPK (wajar tanpa pengecualian) yang diberikan kepada Kementerian Perindustrian RI pada beberapa tahun terakhir ini dipengaruhi oleh implementasi governance dan realisasi anggaran. Dari 77 responden, lebih dari 90% responden menjawab bahwa opini BPK dipengaruhi oleh implementasi governance dan realisasi anggaran. Jika melihat dari hasil penelitian ini, maka seharusnya Kementerian Perindustrian RI melakukan perbaikan/peningkatan implementasi goverance sebab implementasi governance merupakan salah satu faktor kunci untuk mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK. Selain itu, Kementerian Perindustrian RI sebaiknya juga memperhatikan capaian/tingkat realisasi anggaran, sebab bisa dikatakan bahwa realisasi anggaran merupakan salah satu faktor penting untuk mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian dari BPK.

commit to user

82

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang apakah prinsip-prinsip governance telah diimplementasikan dengan baik oleh Kementerian Perindustrian RI dengan mengacu pada Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, SK Menpan No: 63/Kep/M.Pan/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik, dan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Penilaian implementasi governance tersebut berdasarkan tipologi kualitas governance oleh The Urban Governance Initiative (TUGI). Lebih lanjut lagi, penelitian ini menguji pengaruh implementasi govenance terhadap kinerja yang parameternya telah ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dalam Peraturan Menteri Perindustrian No: 41/M-IND/PER/2010. Kinerja dalam penelitian ini dibagi ke dalam dua perspektif, yaitu perspektif stakeholder dan perspektif pelaksanaan tugas pokok. Hasil penelitian ini didasarkan pada presepsi responden (pegawai Kementerian Perindustrian RI).

Hasil dari penelitian ini memberikan bukti empiris terkait dengan tujuan dari penelitian ini, adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Implementasi prinsip-prinsip governance di Kementerian Prindustrian RI – sesuai dengan Undang-Undang dan peraturan yang dijadikan acuan pada penelitian ini sebagian besar sudah baik – berdasarkan tipologi TUGI, walaupun nilai yang di dapat sangat minim untuk

commit to user

83

kategori baik. Adapun implementasi prinsip governance yang memiliki nilai baik, yaitu: implementasi prinsip tertib administrasi penyelenggaraan negara, kepentingan umum, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas. Namun, implementasi prinsip penegakan hukum dan transparansi masih cukup. Hasil yang kurang maksimal ini kemungkinan disebabkan karena implementasi penerapan governance baru efektif dilaksanakan pada tahun 2010, sehingga pelaksana masih perlu waktu untuk menyesuaikan dan memahami governance secara komprehensif.

2. Hanya prinsip kepentingan umum yang memiliki pengaruh di dua perspektif kinerja (perspektif stakeholder dan perspektif pelaksanaan tugas pokok). Sedangkan prinsip penegakan hukum, tertib administrasi penyelenggaraan negara, transparansi, proporsionalitas, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak memiliki pengaruh yang

Dokumen terkait