• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Data Penelitian

4. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan analisis data dengan metode regresi linier berganda, data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas dengan menggunakan Variance Inflation Factors (VIF) dan tolerance value, serta uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glajser antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

a. Uji Normalitas

Metode uji normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov Smirnov. Kurva nilai residual terstandarisasi dikatakan menyebar dengan normal apabila nilai Kolmogorov-Smirnov Z < Z tabel, atau nilai

Asymp . Sig. (2-tailed) > α, maka distribusi data menyebar dengan normal dan sebaliknya. Tabel 4.10 : Hasil Uji Normalitas

No Variabel Uji Normalitas Sig. Keterangan 1 Unstandardized

Residual

0,675 0,752 Normal

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui nilai signifikansi dari hasil uji normalitas lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua variabel berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinieritas

Untuk menguji keberadaaan multikolinieritas digunakan uji VIF (Variance Inflation Faktor). Jika nilai VIF suatu variabel melebihi 10, maka terdapat masalah multikolinieritas dalam variabel tersebut (Supranto, 2004).

Guna memahami terdapat multikolinieritas apa tidak, maka angka-angka dari hasil analisis tersebut dapat kita pelajari pada tabel berikut ini :

Tabel 4.11 : Hasil Uji Multikolinearitas.

No Variabel Collinearity Statistics

Tolerance VIF 1 2 3 4 Pendidikan Pengalaman Kerja Frekuensi Pelatihan Sertivikasi Profesional 0,924 0,786 0,792 0,899 1,082 1,272 1,262 1,112

Berdasarkan hasil pengujian dapat dilihat pada bahwa nilai VIF pada masing-masing variabel bernilai kurang dari 10 pada tabel 4.11 dan nilai Tolerance kurang dari 1. Sehingga semua variabel bebas dari gejala multikolinieritas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Gejala heteroskedastisitas akan ditunjukkan oleh koefisien regresi dari masing-masing variabel independent terhadap nilai absolut residual (e), jika nilai probabilitasnya > nilai alphanya (0,05), maka dapat dipastikan model tidak mengandung unsur heteroskedastisitas.

Tabel 4.12 : Hasil Uji Heteroskedastisitas.

Model T Sig. Pendidikan Pengalaman kerja Frekuensi pelatihan Sertifikasi profesional -0,410 -0,070 -0,360 1,950 0,684 0,945 0,720 0,058

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sig > alpha dengan alpha 0,05. Dengan demikian tidak terjadi gejala heteroskedastisitas model ini. Analisis regresi pengaruh pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional terhadap kinerja guru.

Untuk mengetahui pengaruh variabel pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional terhadap kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga, dilakukan dengan bantuan program SPSS 18. Berikut adalah hasil analisis regresi linier berganda dengan program SPSS 18:

Tabel 4.13 : Hasil estimasi regresi linier berganda

Variabel Koefisien t hitung Probabilitas

Konstanta 3,824 Pendidikan 2,418 0,744 0,461 Pengalaman Kerja 2,018 1,764 0,085 Frekuensi Pelatihan 1,702 2,822 0,007 Sertifikasi Profesional 10,749 4,169 0,000 R2 = 0,508 F hitung = 11,091

Dari tabel 4.13 dapat dibuat persamaan regresi linier berganda sebagai berikut: Y = 3,824 + 2,418 X1 + 2,018 X2 + 1,702 X3 + 10,749 X4

Nilai konstanta sebesar 3,824 berarti variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga adalah sebesar 3,824 satuan dengan asumsi bahwa variabel pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional konstan.

Koefisien X1 sebesar 2,418 berarti variabel pendidikan mempunyai hubungan yang positif dengan variabel kinerja, hal ini menunjukkan bahwa naiknya variabel pendidikan akan menaikan variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga. Jika terjadi kenaikan variabel pendidikan sebesar satu satuan maka akan menaikan variabel kinerja sebesar 2,418 satuan, dengan asumsi bahwa variabel lain (pengalaman

kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional) tetap pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Koefisien X2 sebesar 2,018 berarti variabel pengalaman kerja mempunyai hubungan yang positif dengan variabel kinerja.

Hal ini menunjukkan bahwa naiknya variabel pengalaman kerja akan menaikan variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga. Jika terjadi kenaikan variabel pengalaman kerja sebesar satu satuan maka akan menaikan variabel kinerja sebesar 2,018satuan, dengan asumsi bahwa variabel lain (pendidikan, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional) tetap pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Koefisien X3 sebesar 1,702 berarti variabel frekuensi pelatihan mempunyai hubungan yang positif dengan variabel kinerja, hal ini menunjukkan bahwa naiknya variabel frekuensi pelatihan akan menaikan variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga. Jika terjadi kenaikan variabel frekuensi pelatihan sebesar satu satuan maka akan

menaikan variabel kinerja sebesar 1,702 satuan, dengan asumsi bahwa variabel lain (pendidikan, pengalaman kerja dan sertifikasi profesional) tetap pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Koefisien X4 sebesar 10,749berarti variabel sertifikasi profesional mempunyai hubungan yang positif dengan variabel kinerja, hal ini menunjukkan bahwa naiknya variabel sertifikasi profesional akan menaikan variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga. Jika terjadi kenaikan variabel sertifikasi profesional sebesar satu satuan maka akan menaikan variabel kinerja sebesar 10,749satuan, dengan asumsi

bahwa variabel lain (pendidikan, pengalaman kerja dan frekuensi pelatihan) tetap pada tingkat kepercayaan 95 persen.

a. Uji Koefisien Determinasi

Melalui perhitungan statistik diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,508 atau 50,8 persen. Artinya bahwa 50,8 persen naik turunnya variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga dipengaruhi oleh variabel pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesional, sedangkan sisanya sebesar 49,2 persen dijelaskan oleh variabel independen lain yang tidak dimasukan dalam model.

b. Uji F. Untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama- sama terhadap variabel dependen digunakan uji F. Dari hasil

perhitungan dengan tingkat keyakinan sebesar 95 persen atau  = 0,05 diperoleh nilai F tabel sebesar 2,61, sedangkan nilai F hitung sebesar 11,091. Dalam kurva dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4.1. Kurva uji F

58 Daerah penolakan H0 Daerah penerimaan H0 2,61 11,091

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa nilai F hitung > nilai

F tabel atau berada pada daerah penolakan H0. Maka dapat disimpulkan

variabel pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesioal secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga.

c. Uji t. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel pendidikan, pengalaman kerja, frekuensi pelatihan dan sertifikasi profesioal terhadap variabel kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga digunakan uji t. Dari hasil analisis dengan menggunakan tingkat

kesalahan () = 0,05 diketahui nilai t tabel sebesar 1,960. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai t hitung seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.2. Kurva uji t

59 t tabel = -1,960 0 t tabel = 1,960 Daerah Penolakan H0 Daerah Penolakan H0 Daerah Penerimaan H0 t X3 = 2,822 t X2 = 1,764 t X1 = 0,744 t X4 = 4,169

BAB V

Dokumen terkait