• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Hasil Penelitian

2. Uji Asumsi Klasik

Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik, analisis regresi

memerlukan pengujian asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis.

Apabila terjadi penyimpangan dalam pengujian asumsi klasik perlu dilakukan

perbaikan terlebih dahulu. Pengujian asumsi klasik yang telah dilakukan adalah

sebagai berikut.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Penelitian ini

menggunakan dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal

adalah hasil grafik variabel pengganggu atau residual dalam model regresi

berganda yang digunakan.

Gambar 4.1 Grafik Histogram

Gambar 4.2 Grafik Normal Plot

Grafik histogram dan grafik plot di atas menunjukkan bahwa variabel

penggangu atau residualnya berdistribusi normal, denga melihat gambar

histogram di atas dapat disimpulkan bahwa kurva histogram tidak menceng ke kiri

maupun ke kanan. Sedangkan pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar

di sekitar garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model

regresi telah terditribusi secara normal.

Analisis statistik yang digunakan adalah uji statistik non parametrik

terdistribusi normal jika nilai signifikansi atau Sig. Atau probabilitas > 0.05, dan

2) data dikatakan tidak terdistribusi normal jika nilai signifikansi atau Sig. Atau

probabilitas < 0.05. Berikut adalah hasil pengujian menggunakan analisis

Kolmogorov Smirnov.

Tabel 4.2

Nonparametric-test Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 36

Normal Parametersa,,b Mean .0000000

Std. Deviation .54460087

Most Extreme Differences Absolute .198

Positive .198

Negative -.114

Kolmogorov-Smirnov Z 1.185

Asymp. Sig. (2-tailed) .120

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Dari hasil pengolahan data tersebut diatas, besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 1.185 dan signifikansinya pada 0,120 dimana lebih besar dari 0.05 (p = 0.120 > 0.05), maka disimpulkan data terdistribusi secara normal.

b. Uji multikolonieritas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam model

regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebasnya. Pengujian

Inflation Factor (VIF) data yang diolah. Hasil pengujian multikolinearitas dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Koefisien Coefficient Correlationsa

Model Dividen INST Struktur_Aset MOWN

1 Correlations Dividen 1.000 -.018 .033 .218 INST -.018 1.000 .135 .205 Struktur_Aset .033 .135 1.000 -.406 MOWN .218 .205 -.406 1.000 Covariances Dividen .045 -.002 .004 .097 INST -.002 .243 .042 .211 Struktur_Aset .004 .042 .407 -.540 MOWN .097 .211 -.540 4.343

a. Dependent Variable: DER

Dari tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang

cukup tinggi diantara variabel independennya. Hal ini berarti tidak terdapat gejala

multikolinearitas dalam model regresi yang digunakan. Tabel berikut akan

menguatkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas dalam model regresi ini

Tabel 4.4 Koefisien Korelasi Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1(Constant) MOWN .710 1.409 INST .892 1.122 Struktur_Aset .766 1.306 Dividen .925 1.081

Dari tabel 4.4 telihat bahwa nilai tolerance untuk kepemilikan manajerial

(MOWN) adalah 0.710, nilai tolerance untuk kepemilikan institusional (INST)

0.892, nilai tolerance untuk Struktur_Aset 0.766 dan nilai tolerance untuk Dividen

0.925. Nilai VIF untuk kepemilikan manajerial (MOWN) 1.409, nilai VIF untuk

kepemilikan institusional (INST) 1.122, nilai VIF untuk Struktur_Aset 1.308 dan

nilai VIF Dividen 1.081.

maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas antara

variabel independen, dengan dasar nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0.1 dan nilai VIF untuk setiap variabel tidak ada yang lebih besar dari 10, maka dapat

dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan model regresi linear

berganda.

c. Uji heterokedastisitas

Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya gejala

heteroskedastisitas adalah dengan melihat plot grafik yang dihasilkan dari

pengolahan data dengan menggunakan program SPSS. Dasar pengambilan

keputusannya adalah:

1. jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu

yang terartur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka

mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas,

2. jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah

angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau terjadi

Berikut ini adalah grafik scatterplot untuk menganalisis apakah terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homoskedastisitas dengan mengamati penyebaran

titik-titik pada grafik.

Gambar 4.3 Scatterplot

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu serta tersebar baik di atas maupun di bawah

angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai

untuk memprediksi DER berdasarkan masukan variabel independen MOWN,

titik-titik yang lain dikarenakan adanya data observasi yang sangat berbeda

dengan data observasi yang lain.

d. Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear

ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan

penggangu pada periode t-1. Autokorelasi muncul karena observasi yang

berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Hal ini sering

ditemukan pada data time series. Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya dalam penelitian ini adalah uji Durbin-Waston (DW Test). Hasil

pengolahan data adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Durbin Watson Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of

the Estimate Durbin-Watson

1 .761a .579 .525 .57867 1.941

a. Predictors: (Constant), Dividen, INST, Struktur_Aset, MOWN b. Dependent Variable: DER

Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah

1.941. Nilai ini akan kemudian diuji berdasarkan ketentuan ada tidaknya gejala

autokorelasi, yakni jika nilai Durbin-Watson (D-W) ada pada batas du (atas) dan

4-du (du < D-W < 4-du), model regresi tidak mengalami gejala autokorelasi. Nilai

signifikansi yang digunakan adalah 5% dengan jumlah sampel 36 (n=36) dan

Durbin-Watson diperoleh nilai batas bawah (dl) sebesar 1.236 dan nilai batas atas

(du) sebesar 1.724. Nilai D-W (1.941) berada di antara du (1.724) dan 4-du

(2.276) atau 1.724 < 1.941 < 2.276. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

model regresi tidak mengalami gejala autokorelasi.

Dokumen terkait