Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Validitas alat ukur menentukan sejauh mana alat ukur penelitian mampu mengukur variabel yang terdapat dalam suatu variabel penelitian.
Menurut kartini kartino, alat ukur dapat dikatakan valid apabila alat ukur tersebut dapat mengukur secara tepat. Dan alat pengukur yang berfungsi dengan baik itu akan mampu mengukur dengan tepat mengenai gejala-gejala sosial tertentu. Di samping itu juga ia mengatakan bahwa: alat pengukur dikatakan valid jika ia mampu memberikan Reading atau score yang akurat yaitu mampu secara cermat menunjukkan besar kecilnya gradasi dari suatu gejala.
Sebuah angket dapat dinyatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriteria yakni memiliki kesejajaran antara hasil angket dengan kriteria yang
ada, dengan mengukur validitas, perhatian ditunjukkan kepada isi dan kegunaan instrument. rumus yang digunakan untuk menghitung validitas item (butir soal) adalah rumus Product Moment yang rumus lengkapnya adalah sebagai berikut:
rxy= ∑ (∑ )(∑ ) √, ∑ (∑ ) -, ∑ (∑ ) -Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y.
Ʃxy = jumlah hasil kali antara deviasi skor – skor X (yaitu x) dan deviasi skor –
skor Y (yaitu skor y).
Ʃx2 = jumlah kuadrat dari deviasi tiap skor X.
Ʃy2 = jumlah kuadrat dari deviasi tiap skor Y.9
Nilai rxy akan dibandingkan dengan koefisien korelasi table nilai “r” product moment pada taraf signifikan 5%. Apabila nilai rxy hasil koefisien korelasi lebih besar (>) dari nilai r tabel, maka hasil yang diperoleh adalah signifikan, artinya butir soal tes dinyatakan valid.
Tabel 6
Kriteria untuk validitas butir soal
Nilai r Kategori 0,80-1,00 Sangat tinggi 0,60-0,79 Tinggi 0,40-0,59 Sedang 0,20-0,39 Rendah 0,00-0,19 Sangat rendah
2. Uji Reliabilitas Angket
Reliabilitas berkenaan dengan konsistensi dan stabilitas data yang dihasilkan. Dinyatakan reliabel jika pengukurannya konsisten, cermat dan akurat. Tujuan dari uji
9
reliabilitas adalah untuk menguji keajegan soal yang digunakan dan mengetahui konsistensi dari instrumen sebagai alat ukur, sehingga hasil pengukurannya dapat dipercaya. Formula yang dipergunakan untuk menguji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini adalah menggunakan Koefisien Cronbach Alpha, yaitu: 10
r11 = (
) ( Ʃ ) Keterangan:
r11 : Reabilitas instrument secara keseluruhan k : Banyaknya item/butir soal
Si2 : Varians total
ƩSi2 : Jumlah seluruh varians masing-masing soal
Harga yang diperoleh dibandingkan dengan dengan taraf signifikan 5%. Jika harga tabel maka soal yang diujikan memiliki kriteria reliabel.
3. Uji Validitas Tes
Instrumen pada penelitian menggunakan tes uraian, validitas ini dapat
dihitung koefisien korelasi “r” product moment sebagai berikut:11 rxy= ∑ (∑ )(∑ )
√, ∑ (∑ ) -, ∑ (∑ ) -Keterangan:
rxy = Koefisien validitas n = Jumlah peserta tes
10
Novalia, Muhammad Syazali, Olah Data Penelitian Pendidikan (Bandar Lampung: Anugrah Utama Raharja: 2014), h. 39.
11
x = skor masing-masing butir soal y = skor total
Harga menunjukkan indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan. Kriteria dianggap suatu tes valid apabila nilai indeks validitas 0.30. bila 0.30 maka dapat dianggap bahwa butir instrumen tersebut tidak valid dan harus diperbaiki atau diganti dengan soal yang valid.12
4. Uji Reliabilitas Tes
Perhitungan uji reliabilitas yang dihitung dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach yaitu:
r11 = (
) ( Ʃ ) Keterangan:
r11 : Reabilitas instrument secara keseluruhan k : Banyaknya item/butir soal
Si2 : Varians total
ƩSi2 : Jumlah seluruh varians masing-masing soal
Harga yang diperoleh dibandingkan dengan dengan taraf signifikan 5%. Jika harga tabel maka soal yang diujikan memiliki kriteria reliabel.
12
5. Uji Tingkat Kesukaran
Menganalisis tingkat kesukaran soal artinya mengkaji soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sukar dengan kata lain tingkat kesukaran suatu item soal dapat dikatakan sedang. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Tingkat kesukaran suatu butir item soal dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:13
P =
Keterangan:
P : Indeks kesukaran
B : Jumlah siswa yang menjawab soal tes dengan benar JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes.
Kriteria yang digunakan adalah makin kecil indeks yang diperoleh, makin sulit soal tersebut. Sebaliknya, makin besar indeks yang diperoleh makin mudah soal tersebut. Kriteria indeks soal yang digunakan adalah sebagai berikut.14
13
Nana Sudjana, Metode Statistik (Bandung: Tarsito, 2001), h. 222.
14
Tabel 7
Indeks Tingkat Kesukaran
Indeks Tingkat Kesukaran Interpretasi
0,00 – 0,30 Sukar
0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 1,00 Mudah
Sumber : Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013, Hal. 372.
6. Uji Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah). Bagi suatu soal yang dapat dijawab dengan benar oleh siswa pandai maupun siswa kurang pandai, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Demikian pula jika semua siswa baik pandai maupun kurang pandai tidak dapat menjawab dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang dapat diajawab benar oleh siswa yang pandai saja.15 Indeks daya pembeda dapat diukur dengan menggunakan rumusan seperti dibawah ini:16
Di mana :
D = Discriminatory power (angka indeks deskriminasi item)
PA = Proporsi peserta didik kelompok atas yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan.
PA ini diperoleh dengan rumus : PA = 15 Ibid, h. 226. 16 Ibid, h. 228.
Keterangan :
BA = Banyaknya peserta didik kelompok atas yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan.
JA = jumlah peserta didik yang termasuk dalam kelompok atas.
PB = Proporsi peserta didik kelompok atas yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan.
PB ini diperoleh dengan rumus : PB = Di mana :
BB= Banyaknya peserta didik kelompok bawah yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan.
JB = Jumlah peserta didik yang termasuk dalam kelompok bawah.17 Klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut:
Tabel 8
Klasifikasi Uji Daya Pembeda
Daya Beda (DP) Interprestasi Daya Beda
DP < 0,20 Jelek
0,21 ≤ DP ≤ 0,40 Cukup
0,41 ≤ DP ≤ 0,70 Baik
0,71 ≤ DP ≤ 1,00 Sangat Baik
Sumber : Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013, Hal. 389.
G. Uji Persyaratan Analisis Data