• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

19 Tanjung Barus

4.4. Uji Asumsi Klasik 1 Normalitas 1 Normalitas

4.4.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji statistik Glejser dipilih karena lebih dapat menjamin keakuratan hasil dibandingkan dengan uji grafik plot yang dapat menimbulkan bias. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan variabel bebas terhadap nilai absolute residual-nya terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013). Kriteria yang digunakan untuk menyatakan apakah terjadi heteroskedastisitas atau tidak di antara data pengamatan dapat dijelaskan dengan menggunakan koefisien signifikansi.

Koefisien signifikansi harus dibandingkan dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan sebelumnya (5%). Apabila koefisien signifikansi lebih besar dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas (homoskedastisitas). Jika koefisien signifikansi lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, maka dapat disimpulkan terjadi heteroskedastisitas.

1. Dependent Variable: Glejser_Heteroskedasticity

Gambar 4.3

Uji Glejser Heterokedastisitas

Berdasarkan Tabel 4.16, diketahui nilai probabilitas atau Sig. Glejser dari luas lahan adalah 0,358, nilai probabilitas atau Sig. Glejser dari modal adalah 0,138 dan nilai probabilitas atau Sig. Glejser dari tenaga kerja adalah 0,114. Diketahui seluruh nilai Sig Glejser > 0,05, maka disimpulkan tidak terjadi heteroskedastistas.

4.4.5Atokorelasi

Uji Durbin-Watson selanjutnya digunakan untuk menguji autokorelasi. Nilai Durbin-Watson yang diharapkan adalah di antara -2 dan 2, yakni menandakan tidak terjadinya gejala autokorelasi. Tabel 4.6 disajikan hasil dari uji autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin-Watson.

Tabel 4.17

Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson

Model Durbin-Watson

1 1.152

Berdasarkan hasil uji Durbin-Watson pada Tabel 4.17, diketahui nilai statistik Durbin-Watson adalah 1,152, yakni -2 < 1,152 < 2 (berada di antara -2 dan 2), maka disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.

4.5 Pembahasan

Hasil analisis regresi berganda diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Y

Melihat koefiesien regresi variabel luas lahan (X1) sebesar 8,835 dan bertanda positif berarti variabel ini mempunyai pengaruh yang searah dengan variabel produksi, untuk variabel modal (X2) koefisien regresi 1,695 dan bertanda positif berarti variabel ini mempunyai pengaruh yang searah dengan produksi. Untuk variabel tenaga kerja (X3) koefisien regresi sebesar 0,885 dan bertanda positif berarti variabel ini mempunyai pengaruh yang searah dengan produksi. Untuk pengujian secara bersama-sama (Uji F) luas lahan, modal dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil produksi tanaman jeruk dengan nilai sebesar 6.085 yang memperoleh nilai signifikan 0,001.

Variabel luas secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap produksi petani di Kecamatan Barusjahe Kabupaten Tanah Karo karena nilai probabilitasnya (0,032 < 0,05) dengan hasil uji t sebesar (2,198 > 1,672). Hal inisesuai dengan penelitian Desky Syahroel (2007) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara, mengemukakan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi.

Semakin luas lahan yang dimiliki petani maka akan semakin besar produksi padi yang dihasilkan. Luas lahan yang memadai dan didukung dengan tingkat

kesuburan tanah yang baik, maka akan meningkatkan produksi padi yang dihasilkan. Selain itu juga sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa, semakin luas lahan yang (digarap/ditanami), semakin besar pula jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut (Abd.Rahim, 2007).

Variabel modal secara parsial berpengaruh secara signifikan produksi jeruk di Kecamatan Barusjahe Kabupaten Tanah Karo, ini dibuktikan dari hasil uji t sebesar (2,016 > 1,672) dengan nilai probabilitas (0,049 < 0,05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nasution Rusdiah (2008) mengenai pengaruh modal terhadap produksi padi di Desa Nambongan, Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa modal berpengaruh signifikan terhadap produksi padi.

Semakin besar modal yang dimiliki oleh petani, maka semakin besar pula jumlah produksi padi yang dihasilkan, sehingga jumlah modal akan mendorong peningkatan hasil produksi padi oleh petani. Data empiris penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan modal berkisar antara Rp.5000.000 – 10.000.000 dengan rata-rata luas lahan sebesar 1 Ha. Dalam hal ini, para petani di Kecamatan Barusjahe Kabupaten Karo dalam proses produksi tanaman jeruk menggunakan modal sendiri, karena dengan adanya modal sendiri petani tanaman jeruk bisa menikmati hasilnya dan hasil dari penjualan jeruk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa faktor modal masih merupakan faktor utama dalam meningkatkan nilai produksi.

Ini sesuai dengan pendapat Moehar Daniel (2004) yang menyatakan bahwa modal adalah faktor penting dalam pertanian khususnya bahan produksi. Dengan kata lain, keberadaan modal sangat menentukan tingkat atau macam teknologi

yang diterapkan. Kekurangan modal bisa menyebabkan kurangnya masukan yang diberikan pada proses pertanian sehingga menimbulkan resiko kegagalan atau rendahnya hasil yang diterima.

Variabel tenaga kerja secara parsial tidak berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap produksi jeruk di Kecamatan Barusjahe Kabupaten Tanah Karo hal ini dibuktikan dari hasil uji t sebesar (1.386 < 1.672) dengan nilai probabilitas 0,171>0,05. Untuk itu, dalam penelitian ini penggunaan faktor tenaga kerja tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi jeruk, bahwa dengan penggunaan jumlah tenaga kerja yang banyak maupun sedikit pada luas lahan 1 Ha hasil produksinya pun akan sama. Data empiris dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja berkisar 5 – 10 orang saja. Hal ini para petani di Kecamatan Barusjahe Kabupaten Tanah Karo kebanyakan menggunakan tenaga kerja yang berasal dari keluarga itu sendiri. Disamping itu tingkat usia tenaga kerja itu sendiri relatif sudah tua-tua dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga penggunaan faktor tenaga kerja tidak berpengaruh besar, dan apabila penggunaan jumlah tenaga kerja berkurang maka tidak akan berpengaruh terhadap tingkat produksi jeruk.

Hal ini sesuai dengan penelitian Besse Ani Kasturi (2012) yang menyatakan bahwa banyak ataupun sedikitnya tenaga kerja yang dipekerjakan pada lahan pertanian tidak menjadikan patokan untuk peningkatan produksi padi yang dihasilkan, melainkan mengutamakan keahlian dan keuletan, keuletan para tenaga kerja. Bisa saja lahan yang luas dikerjakan oleh sedikit tenaga kerja tapi mereka

memiliki kemampuan yang lebih sehinga dapat mengefisienkan waktu produksi dan dapat pula meningkatkan hasil produksi padi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait