METODOLOGI PENELITIAN
B. Pengujian Hipotesis
2. Uji Hipotesis a. Uji t
maka jumlah permintaan daging sapi impor bertambah sebesar 22,9 persen. Sebaliknya jika PDB menurun sebesar 1 persen maka jumlah permintaan daging sapi impor menurun sebesar 22,9 persen.
Selanjutnya jika PDB dan kurs dollar AS tetap sedangkan harga daging sapi impor naik sebesar 1 persen, maka permintaan daging sapi impor menurun sebesar 20,5 persen, dan sebaliknya jika harga daging sapi impor menurun sebesar 1 persen maka jumlah permintaan daging sapi impor meningkat sebesar 20,5 persen. Selanjutnya jika PDB dan harga daging sapi impor dianggap tetap sedangkan kurs dollar AS naik sebesar 1 persen, maka permintaan dagng sapi impor menurun sebesar 2,3 persen. Sebaliknya jika kurs dollar AS menurun sebesar 1 persen, maka permintaan daging sapi impor meningkat sebesar 0,236.
2. Uji Hipotesis a. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, apakah hubungannya signifikan atau tidak signifikan. Selain itu, uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel
dependen. Uji t dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai t-hitung (t-statistik) yang kemudian dibandingkan dengan nilai t-tabel dengan derajat bebas α/2 ; nT-n-k-1. Dari hasil perhitungan SPSS 16.0 didapatkan data sebagai berikut :
Tabel IV. 2
Uji Individual Parameter (t-Test)
Berdasarkan hasil output tersebut untuk variabel PDB diperoleh thitung sebesar 8,950 dan ttabel dapat dicari pada tabel statistik pada signifikansi 0,05/2 = 0, 025 (uji 2 sisi) dengan df = n-k-1 atau 40-3-1 = 36, maka di dapat ttabel (0,05, 36) sebesar 2,028. Diketahui bahwa nilai thitung (8.950) > ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak Ho. Nilai signifikansi variabel PDB adalah 0,000 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih kecil dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel PDB signifikan dan berpengaruh positif terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia.
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Permintaan Daging Sapi Impor
Untuk variabel harga daging sapi impor diketahui bahwa nilai thitung (4,414) > ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak Ho. Nilai signifikansi variabel harga daging sapi impor adalah 0,000 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih kecil dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel hargadaging sapi impor signifikan dan berpengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia.
Untuk variabel kurs dollar AS diketahui bahwa nilai thitung
(0,245) < ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menerima Ho. Nilai signifikansi variabel kurs dollar AS adalah 0,808 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih besar dari α 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95%
bahwa variabel kurs dollar AS menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia.
b. Uji F
Uji F atau uji koefisien regresi secara serentak, yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara serentak terhadap variabel dependen, apakah pengaruhnya signifikan atau tidak. Uji keberartian regresi ini dilakukan dengan membandingkan Fhitung
dengan Ftabel dari ANOVA table pada output SPSS.
Tabel IV.3
Uji Keseluruhan Parameter (Overall F-Test)
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 19.505 3 6.502 49.412 .000a
Residual 4.737 36 .132
Total 24.242 39
a. Predictors: (Constant), Kurs Dollar AS, Harga Daging Sapi, PDB b. Dependent Variable: Permintaan Daging Sapi Impor
Tabel IV.4 menunjukkan Fhitung sebesar 49,412, sementara itu nilai derajat bebas variabel V1 sebesar 3 dan derajat bebas variabel V2 sebesar 36 pada taraf signifikansi 0,05 maka F(0,05,3,36) diperoleh nilai Ftabel sebesar 2,87 jadi 49,412 > 2,87 dimana Ho ditolak dan regresi berarti (signifikan). Hasil pengujian pada tabel tersebut menunjukkan bahwa PDB, harga daging sapi impor dan kurs dollar AS secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah permintaan daging sapi impor.
3. Analisis Koefisien Determinasi
Tabel IV.4
a. Predictors: (Constant), Kurs Dollar AS, Harga Daging Sapi, PDB b. Dependent Variable: Permintaan Daging Sapi Impor
Koefisien determinasi dapat dilihat dari Tabel VI.5 Model Summary Table pada output SPSS 16.0, yaitu dengan melihat nilai R square. Dari hasil output SPSS 16.0 diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0,788. Hal ini menunjukkan bahwa variasi pengaruh variabel independen (PDB, harga daging sapi impor dan kurs dollar AS) terhadap variabel dependen (permintaan daging sapi impor) sebesar 78,8%, artinya variasi permintaan daging sapi impor dapat dijelaskan oleh perubahan atau variasi dari PDB, harga daging sapi impor dan kurs dollar AS. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak ada di dalam model penelitian.
4. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik merupakan syarat utama untuk menilai persamaan regresi yang digunakan sudah memenuhi syarat utama untuk menilai apakah persamaan regresi yang digunakan sudah memenuhi syarat BLUE (best, linier, unbiased, estimator). Uji asumsi klasik meliputi tiga hal yaitu pengujian terhadap masalah normlitas, heterokedastisitas, multikolinearitas dan autokorelasi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas ini dapat dibuktikan dengan uji Kolmogorov-Smirnov Test pada tabel Test of Normality seperti pada tabel hasil pengolahan SPSS dibawah ini :
rkan tabel IV.5 terlihat nilai signifikansi untuk variabel permintaan daging sapi impor 0,2 > 0,05 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal. Disamping itu, nilai sig. untuk variabel PDB 0,089 > 0,05 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal.
Sementara nilai sig. untuk variabel harga daging sapi impor 0,113 >
0,05 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal.
Selanjutnya nilai sig. Untuk variabel kurs dollar AS 0,052 > 0.05
Tests of Normality
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal. Dengan demikian, keempat variabel dalam penelitian ini berdistribusi normal.
b. Uji Heteroskedastisitas
Berikut ini adalah tabel dari hasil olahan data untuk Uji Heterosdeksitas :
Dari data yang telah diolah menggunakan uji glejser didapat nilai thitung untuk PDB sebesar 0,401 dan harga Daging Sapi Impor sebesar 0,094 dan kurs dollar AS sebesar 1,071 dengan ttabel sebesar 2,028 yang menandakan thitung < ttabel. Pada nilai signifikasinya menunjukkan bahwa ketiga variabel independen lebih dari 0,05, maka dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat gejala heterosdeksitas.
Coefficientsa
a. Dependent Variable: RES2
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear yang sempurna diantara beberapa variabel atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi.
Terjadinya pelanggaran multikolinearitas dapat dilihat melalui nilai Tolerance dan Value Inflation factor (VIF) setiap variabel independen. Model regresi dapat dikatakan lolos uji multikolinearitas apabila nilai tolerance > 0,1 dan apabila nilai VIF < 10 di setiap variabel independen maka tidak terjadi multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dengan menggunakan SPSS 16.0 sebagai berikut :
Tabel. IV.7
Uji Multikolinearitas
Tabel VI.7 diatas menunjukkan bahwa nilai Tolerance untuk variabel bebas berkisar 0,206 – 0,892, ini menunjukkan bahwa nilai tolerace > 0,1 dan nilai VIF untuk masing-masing variabel bebas berkisar 1,112 – 4,853, hal ini berarti nilai VIF <10 sehingga tidak
Model
1 (Constant) -59.285 10.123
PDB 2.294 .256 1.453 .206 4.853
Harga Daging Sapi -2.056 .466 -.699 .217 4.616
Kurs Dollar AS -.236 .964 -.019 .892 1.122
a. Dependent Variable: Permintaan Daging Sapi Impor
terjadi multikolinearitas diantara variabel bebas. Dengan demikian asumsi non-multikolinearitas terpenuhi.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya).
Autokorelasi dapat diukur melalui nilai Durbin-Watson (DW) dengan me-Lag variabel Y-nya. Hasil dari perhitungan Durbin Watson melalui SPSS 16.0 sebagai berikut:
a. Predictors: (Constant), Lag_Y, Kurs, Price Import, PDB b. Dependent Variable: D Import
Dari hasil perhitungan diatas diketahui bahwa nilai Durbin-Watson adalah 1,660 sementara pada taraf signifikansi 5% dengan jumlah data (n) 40 dan jumlah variabel independent (k) 3, menunjukkan nilai dL sebesar 1,3384 dan nilai du sebesar 1,6589.
Karena dU < dw < 4-du maka peneliti mengambil keputusan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam penelitian ini.
C. Pembahasan
Daging sapi impor memiliki nilai rata – rata koefisien elastisitas harga sebesar 2,963 dimana elastisitasnya > 1. Maka dapat dikatakan bahwa daging sapi impor merupakan barang elastis. Bila terjadi perubahan harga maka akan menyebabkan perubahan permintaan yang besar. Untuk elastisitas pendapatan diperoleh nilai rata – rata koefisien sebesar 5,508 sedangkan elastistasnya > 1. Maka dapat dikatakan bahwa daging sapi impor merupakan barang mewah atau superior.
Berdasarkan hasil penelitian regresi berganda, diperoleh persamaan linear sebagai berikut: LnY = -59,285 + 2,294 X1 – 2,056 X2 – 0,236 X3 + µ, yang artinya jika PDB, harga daging sapi impor dan kurs dollar AS nilainya nol, maka permintaan daging sapi impor sebesar -59,285. Variabel PDB memiliki pengaruh positif terhadap permintaan daging sapi impor. Hal ini dapat dilihat pada koefisien PDB pada tabel Coefficients yaitu sebesar 2,294. Artinya kenaikan PDB akan meningkatkan permintaan daging sapi impor sebesar 22,9 persen. Hasil estimasi tersebut sesuai dengan hipotesis yang peneliti ajukan yaitu adanya pengaruh positif antara PDB terhadap permintaan daging sapi impor. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kemampuan impor suatu negara sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasionalnya. Artinya jka suatu negara pendapatan nasionalnya naik maka akan mendorong impor bagi negara tersebut dan sebaliknya.
Variabel harga daging sapi impor memiliki pengaruh yang negatif terhadap permintaan daging sapi impor dengan koefisien sebesar 2,056.
Artinya kenaikan harga daging sapi impor akan menurunkan permintaan daging sapi impor sebesar 20,56 persen. Hasil estimasi tersebut sesuai dengan hipotesis yang peneliti ajukan yaitu adanya pengaruh negatif antara harga daging sapi impor terhadap permintaan daging sapi impor. Sesuai dengan hukum permintaan dimana hubungan harga barang terhadap permintaan barang itu sendiri adalah negatif atau berbanding terbalik.
Dengan demikian pengaruh harga daging sapi impor terhadap permintaan daging sapi impor adalah negatif.
Variabel kurs dollar AS memiliki pengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi impor dengan koefisien sebesar 0,236. Artinya kenaikan kurs dollar AS akan menurunkan permintaan daging sapi impor sebesar 2,36 persen, begitu juga sebaliknya. Dalam teori ekonomi, kurs memiliki pengaruh yang negatif terhadap permintaan suatu barang impor, karena jika terjadi kenaikan pada kurs akan megakibatkan kenaikan harga barang yang akan di impor sehingga menyebabkan permintaan akan daging sapi impor menurun.
Berdasarkan uji hipotesis, yaitu uji F dilakukan dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel dari ANOVA table pada output SPSS. Dari tabel terlihat Fhitung sebesar 49,412, sementara pada taraf signifikansi 0,05 maka F(0,05,2,33) diperoleh nilai Ftabel sebesar 2,87 jadi 49,412 > 2,87 dimana Ho ditolak dan regresi berarti (signifikan). Hasil pengujian pada tabel tersebut menunjukkan bahwa PDB, harga daging sapi impor dan kurs dollar AS secara serentak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah permintaan daging sapi impor.
Sedangkan secara parsial, uji koefisien regresi secara parsial dapat dibuktikan dengan membandingkan thitung dengan ttabel dari kolom t di dalam Coefficients Table pada output SPSS. Berdasarkan hasil output tersebut untuk variabel PDB diperoleh thitung sebesar dan ttabel sebesar 2,028.
Diketahui bahwa nilai thitung (8,950) > ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak Ho. Nilai signifikansi variabel PDB adalah 0,000 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih kecil dari α 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel PDB signifikan dan berpengaruh positif terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia. Variabel harga daging sapi impor diketahui bahwa nilai thitung (4,414) > ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak Ho. Nilai signifikansi variabel harga daging sapi impor adalah 0,000 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih kecil dari α 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel harga daging sapi impor signifikan dan berpengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia. Variabel harga kurs dollar AS diketahui bahwa nilai thitung (0,245) < ttabel (2,028), maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menerima Ho. Nilai signifikansi variabel kurs dollar AS adalah 0,808 yang menyatakan tingkat signifikansi lebih besar dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan pada tingkat
kepercayaan 95% bahwa variabel kurs dollar AS berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia.
PDB lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan harga daging sapi impor dan kurs dollar AS terhadap permintaan daging sapi impor di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari koefisien PDB sebesar 2,294, lebih besar dari koefisien harga daging sapi impor sebesar 2,056 dan kurs dollar AS 0,236. Artinya dalam perubahan 1 persen pada PDB lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan perubahan 1 persen pada harga daging sapi impor dan kurs dollar AS. PDB menunjukkan pola konsumsi penduduk suatu negara.
Dinegara berkembang seperti Indonesia, pola konsumsi yang meningkat berbanding lurus dengan naiknya impor. Hal ini disebabkan produktivitas dinegara tersebut belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kurang berpengaruhnya kurs dollar AS terhadap permintaan daging sapi impor disebabkan karena jika dilihat dari data, perubahan kurs dari tahun 2003 – 2012 tidak terlalu besar gapnya sehingga efek yang ditimbulkan juga tidak terlalu besar bagi perekonomian indonesia.
Uji koefisien determinasi, diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,788 yang artinya bahwa 78,8 % besarnya permintaan daging sapi impor dapat dijelaskan oleh variabel PDB, Harga daging sapi impor dan kurs dollar AS. Sedangkan 21,2 % sisanya di jelaskan oleh variabel-variabel lain seperti kebijakan pemerintah dan jumlah produksi daging sapi nasional. Dalam mengimpor daging sapi pemerintah tidak hanya mengacu pada PDB, harga daging sapi impor dan kurs namum pemerintah harus menyesuaikan dengan
kebutuhan daging sapi dalam negeri. Pemerintah juga harus berhati-hati dalam mengimpor daging sapi karena selain harus memikirkan konsumen pemerintah juga harus memikirkan para peternak sapi di Indonesia. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri tercukupi hanya dengan mengandalkan impor. Dengan demikian jumlah permintaan daging sapi impor juga dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Berdasarkan uji asumsi klasik yaitu normalitas, multikolinearitas, heteroskedatisitas, dan autokorelasi, dapat diketahui dari hasil uji normalitas dengam meggunakan Kolmogorov Smirnov bahwa variabel PDB, harga daging sapi impor, kurs dollar AS, dan permintaan daging sapi impor dinyatakan berdistribusi normal karena signifikansi dari masing-masing variabel lebih dari 0.05. Pada uji multikolinearitas menunjukkan bahwa nilai Tolerance untuk masing-masing variabel bebas sebesar 0,206 – 0,892, ini menunjukkan bahwa nilai tolerace > 0,1 dan nilai VIF untuk masing-masing variabel bebas berkisar 1,112 – 4,853, hal ini berarti nilai VIF <10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas diantara variabel bebas. Dengan demikian asumsi non-multikolinearits terpenuhi. Selanjutnya untuk uji heteroskedastisitas menggunakan uji glejser didapat nilai thitung
untuk PDB sebesar 0,401 dan harga daging sapi impor sebesar 0,094 dan kurs dollar AS sebesar 1,071 dengan ttabel sebesar 2,028 yang menandakan thitung < ttabel. Pada nilai signifikasinya menunjukkan bahwa ketiga variabel independen lebih dari 0,05, maka dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat gejala heterosdeksitas. Dan untuk uji autokorelasi, peneliti menggunakan
metode Durbin Watson dengan cara me-Lag variabel Y-nya. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah 1,660 sementara pada taraf signifikansi 5% dengan jumlah data (n) 40 dan jumlah variabel independent (k) 3, menunjukkan nilai dL sebesar 1,3384 dan nilai du
sebesar 1,6589. Karena dU < dw < 4-du maka peneliti mengambil keputusan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam penelitian ini..
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diinterpretasikan bahwa PDB berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah permintaan daging sapi impor atau dapat dikatakan semakin tinggi PDB maka kecenderungan pemerintah untuk mengimpor daging sapi bertambah. Hal ini didukung dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Asima Ronitua Samosir Pakpahan (2012), dalam penelitiannya yang berjudul Analisis faktor – faktor yang mempengaruhi impor daging sapi di Indonesia, menjelaskan bahwa impor daging sapi Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh variabel PDB dan harga daging sapi impor. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara PDB terhadap impor daging sapi Indonesia dengan koefisien variabel 4,330359. Penelitian ini juga menyatakan bahwa adanya pengaruh yang negatif dan signifikan antara harga daging sapi impor terhadap impor daging sapi Indonesia dengan koefisien vairabel -0,402794. Tanda negatif menunjukkan semakin tinggi harga daging sapi impor, maka impor daging sapi Indonesia akan mengalami penurunan.59
59Asima Ronitua Samosir Pakpahan, “Analisis faktor – faktor yang mempengaruhi impor daging sapi di Indonesia”, Unnes, 2012.
Selanjutnya kurs dollar AS memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan daging sapi impor. Artinya jika kurs dollar AS mennguat, maka jumlah permintaan daging sapi impor belum tentu menurun dan begitu pula sebaliknya. Hasil estimasi tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aditya Bangga Yoga (2013) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh jumlah produksi kedelai dalam negeri, harga kedelai dalam negeri dan kurs dollar Amerika terhadap volume impor kedelai Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial kurs dollar AS memilki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan kedelai impor.Pengaruhnya tidak signifikan karena m=besarbya nilai thitung -0,048 < ttabel -1,796 dan nilai signifikansinya sebesar 0,963 > α = 0,05.60
Selanjutnya harga daging sapi memiliki pengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi impor. Artinya jika harga daging sapi impor meningkat, maka permintaan daging sapi impor akan menurun dan begitu pula sebaliknya. Hasil estimasi tersebut sesuai dengan hipotesis yang penulis ajukan yaitu adanya pengaruh negatif antara harga daging sapi impor terhadap permintaan daging sapi impor. Hal ini didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Achmad Zaini, dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh harga gula impor, harga gula domestik, dan produksi gula domestik terhadap permintaan gula impor di Indonesia. Hasil yang didapati menyatakan bahwa variabel X1 (harga gula impor) berpengaruh nyata
60 Aditya Bangga Yoga, “Pengaruh jumlah produksi dalam negeri, Harga kedelai dalam negeri dan Kurs dollar AS terhadap volume impor kedelai nasional”, Universitas Udayana: Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol.2 No.3, Maret 2013. hal. 129-134
terhadap permintaan gula impor jika faktor lain dianggap konstan. Artinya pemerintah akan melakukan impor gula jika harga gula impor turun.61