• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

E. Analisis Regresi Linier Berganda

2. Uji Hipotesis

a. Uji Regresi secara Parsial (Uji t)

Dalam Priyatno (2013:120) dijelaskan uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independent secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengujiannya adalah H0 diterima jika -t tabel < t hitung < t tabel dan H0 ditolak jika –t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel

Tabel 4.15

Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7.332 8.110 .904 .371 Budaya_Organisasi .586 .283 .289 2.075 .044 Kepemimpinan_Spiritu al -.145 .129 -.153 -1.118 .270 Efikasi_Diri .725 .232 .452 3.129 .003

a. Dependent Variable: Kinerja_Karyawan

Sumber: Data primer yang diolah

Hasil uji t hitung pada tabel koefisien di atas menunjukan pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dengan penjelasan sebagai berikut.

1) Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan

a) H0 : β1 = 0 ; tidak terdapat pengaruh signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan

b) Ha : β2 ≠ 0 ; terdapat pengaruh signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan tabel 4.16 hasil uji t variabel budaya organisasi (X1) terhadap kinerja karyawan (Y) menunjukkan nilai signifikansi 0.044 (<0,05). Diperoleh t hitung sebesar 2.075. Tabel distribusi t

dicari pada α = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan

(df) n-k-1 atau 47-3-1 =43 (n adalah jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen). Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) diperoleh hasil untuk t tabel sebesar 2.017 karena t hitung > t tabel (2.075>2.017) dan signifikansi (0.044<0.05), maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel budaya organisasi secara parsial (individu) berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Nilai t hitung positif, artinya pengaruh yang terjadi adalah positif, atau dapat diartikan semakin tinggi atau baik motivasi maka semakin meningkatkan kinerja karyawan.

Jadi hasil analisis di atas menunjukan bahwa variabel budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Ciputat. Hasil ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian yang dilakukan Njugi Anne Wanjiku dan Nickson Lumwagi Agusioma (2014) dengan

judul “Effect of Organization Culture on Employee Performance”,

Hairiah (2012) dengan judul “Pengaruh budaya organisasi, komitmen

melalui motivasi sebagai variabel intervening”, dan Aubrey Krekeler Wiete (2013) dengan judul “Connecting Organizational Culture to Performance”. Dimana hasilnya menyatakan bahwa budaya organisasi

memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan. 2) Pengaruh kepemimpinan spiritual terhadap kinerja karyawan

a) H0 : β1 = 0 ; tidak terdapat pengaruh signifikan antara kepemimpinan spiritual terhadap kinerja karyawan

b) Ha : β2 ≠ 0 ; terdapat pengaruh signifikan antara kepemimpinan

spiritual terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan tabel 4.16 hasil uji t variabel kepemimpinan spiritual (X2) terhadap kinerja karyawan (Y) menunjukkan nilai signifikansi 0.270 (>0,05). Diperoleh t hitung sebesar -1.118. Tabel

distribusi t dicari pada α = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat

kebebasan (df) n-k-1 atau 47-3-1 =43 (n adalah jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen). Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) diperoleh hasil untuk t tabel sebesar 2.017 karena t hitung < t tabel (-1.118<2.017) dan signifikansi (0.270>0.05.), maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak, artinya variabel kepemimpinan spiritual secara parsial (individu) tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Nilai t hitung negatif, artinya pengaruh yang terjadi adalah negatif, atau dapat diartikan semakin tinggi atau baik kepemimpinan spiritual maka semakin menurunkan kinerja karyawan.

Penelitian yang dilakukan Thayib, Budiman Christianata, Siti

Sulasmi, Anis Eliyana (2013) dengan judul “Pengaruh Spiritual

Leadership, Stres Kerja, dan Kompensasi terhadap Kepuasan dan

Kinerja Social Worker Organisasi Sosial di Surabaya” menyatakan

bahwa kepemimpinan spiritual tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan social worker organisasi social di Surabaya. Berlainan dengan M. M. Nilam Widyarini, Dr., M.Si (2014) dengan

penelitiannya berjudul “Kontribusi Gaya Kepemimpinan spiritual dan

komunikasi organisasi terhadap kinerja karyawan di PT Surya Artajaya” menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan di PT Surya Artajaya.

Tidak berpengaruhnya kepemimpinan spiritual terhadap kinerja sangat wajar karena kepemimpinan spiritual sudah menjadi kultur dan karakter karyawan LKC DD Ciputat. Hal lain yang patut didugan dan perlu mendapatkan perhatian serius adalah kepemimpinan yang perlu dirubah menjadi lebih egaliter dan menyenangkan bagi karyawan. Kontribusi karyawan untuk bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sudah tertanam. Namun, kepemimpinan yang mencerminkan kesederhanaan dan memberikan imbal balik kepada karyawan kurang terpenuhi. Hal tersebut sangat manusiawi dan merupakan fitrah manusia. Hal ini mencerminkan perbedaan perusahaan konvensional dan perusahaan nirlaba.

3) Pengaruh efikasi diri terhadap kinerja karyawan

a) H0 : β1 = 0 ; tidak terdapat pengaruh signifikan antara efikasi diri terhadap kinerja karyawan

b) Ha : β2 ≠ 0 ; terdapat pengaruh signifikan antara efikasi diri terhadap

kinerja karyawan.

Berdasarkan tabel 4.16 hasil uji t variabel efikasi diri (X3) terhadap kinerja karyawan (Y) menunjukkan nilai signifikansi 0.003

(<0,05). Diperoleh t hitung sebesar 3.129. Tabel distribusi t dicari pada α

= 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 atau 47-3-1 =43 (n adalah jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen). Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) diperoleh hasil untuk t tabel sebesar 2.017 karena t hitung > t tabel (3.129>2.017) dan signifikansi (0.003<0.05), maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel budaya efikasi diri secara parsial (individu) berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Nilai t hitung positif, artinya pengaruh yang terjadi adalah positif, atau dapat diartikan semakin tinggi atau baik motivasi maka semakin meningkatkan kinerja karyawan.

Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh penelitian yang dilakukan Mahfuz Judeh (2012) dengan judul “Assessing the Influence of Job Characteristics and Self Efficacy on Job Performance”,

Olayiwola Olusola (2011) dengan judul “Intrinsic Motivation, Job Satisfaction and Self-Efficacy as Predictors of Job Performance of Industial Workers Ijebu Zone of Ogun State”, dan Hairiah (2012) dengan

judul “Pengaruh budaya organisasi, komitmen organisasi, dan efikasi diri (self efficacy) terhadap kinerja karyawan melalui motivasi sebagai variabel intervening”. Hasilnya menyatakan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.

4) Variabel Dominan

Kartika & Sudibia (2014) dalam jurnalnya menyatakan untuk menentukan variabel bebas yang paling dominan dalam mempengaruhi nilai variabel terikat dalam suatu model regresi, dapat dilihat pada nilai koefisien Beta (Standardized Coefficient Beta). Nilai koefisien Beta paling besar pada tabel 4.16 adalah efikasi diri (0.452). Jadi variabel independen yang paling berpengaruh terhadap dependen (kinerja karyawan) dalam penelitian ini adalah variabel efikasi diri.

b. Uji F (simultan)

Dalam Priyatno (2013: 122) dijelaskan, uji F digunakan untuk menguji apakah variabel independent secara simultan berpengaruh terhadap variabel dpenden. Kriteria pengujiannya adalah H0 diterima bila F hitung < F tabel dan H0 ditolak bila F hitung > F tabel.

1) H0 : β1,2,3 ≠ 0 ; terdapat pengaruh signifikan antara budaya organisasi, kepemimpinan spiritual, dan efikasi diri secara simultan terhadap kinerja karyawan.

2) Ha : β1,2,3 = 0 ; tidak terdapat pengaruh signifikan antara budaya organisasi, kepemimpinan spiritual, dan efikasi diri secara simultan terhadap kinerja karyawan.

Tabel 4.16

Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ANOVAb

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 521.008 3 173.669 7.471 .000a

Residual 999.630 43 23.247

Total 1520.638 46

a. Predictors: (Constant), Efikasi_Diri, Kepemimpinan_Spiritual, Budaya_Organisasi b. Dependent Variable: Kinerja_Karyawan

Berdasarkan tabel 4.17 diperoleh F hitung sebesar 7.471. Nilai F tabel ditentukan dengan menggunakan tingkat keyakinan 95%, α = 5%, df 1

(jumlah variabel – 1 atau 4 -1 = 3 dan df 2 (n-k-1) atau 47-3-1 = 43 (n adalah julah data dan k adalah jumlah variabel independen). Hasil yang diperoleh untuk F tabel sebesar 2.280. karena nilai F hitung > F tabel, 7.471 > 2.280, maka dapat disimpulakan H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel budaya organisasi, kepemimpinan spiritual, dan efikasi diri secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel kinerja karyawan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan dari data tentang penilaian responden terhadap pengaruh budaya organisasi, kepemimpinan spiritual, dan efikasi diri terhadap kinerja karyawan Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma di Ciputat, Tangerang Selatan dapat ditarik kesimpulan, yaitu:

1. Secara parsial budaya organisasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap

Dokumen terkait