Untuk pengujian hipotesis, pengujian dilakukan dengan menggunakan koefisien determinasi (R2): koefisien determinasi memiliki fungsi untuk menjelaskan sejauh mana kemampuan variabel (pengetahuan, profesionalitas, akses, fasilitas, fatwa MUI tentang riba, sosialisasi, keuntungan, dan produk) berpengaruh terhadap variabel dependen (Preferensi)
Tabel 4. 20 Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
1 .808a .653 .611 1.083
a. Predictors: (Constant), Produk, Akses, Pengetahuan, Fasilitas, Sosialisasi, Profesionalitas, Keuntungan, fatwa_MUI_tentang_Riba
Dari tampilan output SPSS model summary besarnya adjusted R2 adalah 0.611, hal ini berarti 61,1% variasi Preferensi dapat dijelaskan oleh variasi dari ke delapan variabel independen yaitu pengetahuan, profesionalitas, akses, fasilitas, fatwa MUI tentang Riba, sosialisasi, keuntungan, dan produk. Sedangkan sisanya (100%−61,1%=38.9%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Standar Error of estimate(SEE) sebesar 1.083 ribu dolar. Makin kecil nila SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.
Tabel 4. 21 ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean
Square F Sig. 1 Regression 145.954 8 18.244 15.551 .000a
Residual 77.432 66 1.173
Total 223.387 74
a. Predictors: (Constant), Produk, Akses, Pengetahuan, Fasilitas, Sosialisasi, Profesionalitas, Keuntungan, fatwa_MUI_tentang_Riba
b. Dependent Variable: Preferensi Sumber: Output SPSS 2016
Dari uji Anova atau f test didapat nilai f hitung sebesar 15.551 dengan probabilitas 0.000. karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0.05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi preferensi atau dapat
dikatakan bahwa Pengetahuan, profesionalitas, akses, fasilitas, fatwa MUI tentang riba, sosialisasi, keuntungan dan produk bersama-sama berpengaruh terhadap preferensi. Tabel 4. 22 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -1.948 1.464 -1.330 .188 Pengetahuan .388 .090 .350 4.322 .000 Profesionalitas .140 .086 .139 1.621 .110 Akses -.021 .104 -.015 -.201 .841 Fasilitas .014 .111 .011 .127 .899 fatwa_MUI_tentang_Riba -.149 .085 -.166 -1.757 .084 Sosialisasi .129 .106 .102 1.216 .228 Keuntungan .369 .117 .286 3.159 .002 Produk .429 .108 .381 3.982 .000
a. Dependent Variable: Preferensi
Sumber: Output SPSS 2016
Hasil analisis dengan menggunakan bantuan SPSS diperoleh sebagai berikut:
1. Pada tabel diatas Konstanta sebesar -1.948 menyatakan bahwa jika variabel independen nilainya adalah 0, maka preferensi masyarakat pesantren terhadap perbankan syariah nilainya adalah sebesar -1.48.
2. Pada tabel diatas variabel pengetahuan prinsip nilai
t
0.000 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel pengetahuan secara parsial signifikan berpengaruh positif terhadap Preferensi masyarakat pesantren.
3. Pada tabel diatas variabel profesionlitas prinsip nilai
t
hitung = 1.621 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.110 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel profesionalitas secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap Preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
4. Pada tabel diatas variabel akses prinsip nilai thitung = -201< ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.841 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel akses secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap Preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
5. Pada tabel diatas variabel fasilitas prinsip nilai thitung = 127< ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0,899 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel fasilitas secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap Preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
6. Pada tabel diatas variabel fatwa MUI tentang Riba prinsip nilai thitung = -1.757 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.84 > 0.05. dengan demikian
H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel fatwa MUI tentang riba secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap Preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
7. Pada tabel diatas variabel sosialisasi prinsip nilai
t
hitung = 1.216 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0,228 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel sosialisasi secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
8. Pada tabel diatas variabel keuntungan prinsip nilai
t
hitung = 3.159 > ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.002 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel keuntungan secara parsial signifikan berpengaruh terhadap Preferensi masyarakat pesantren. 9. Pada tabel diatas variabel produk prinsip nilai thitung =
3.982 > ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.000 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel produk secara parsial signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren.
4.2.7 Pembahasan
Pengaruh dari masing-masing variabel independen (pengetahuan, profesionalitas, akses, Fatwa MUI tentang riba, fasilitas, sosialisasi, keuntungan, dan produk) dan
variabel dependen (preferensi masyarakat pesantren) dapat dijelaskan sebagai berikut:
Dari hasil pengujian yang dilakukan terbukti bahwa faktor independent (pengetahuan, keuntungan dan produk) berpengaruh signifikan terhadap preferensi masyarakat pesantren terhadap perbankan syariah. Hal ini bisa ditunjukkan dengan hasil jawaban responden pada masing-masing item pertanyaan yang menghasilkan urutan besarnya pengaruh variabel pertanyaan yang menghasilkan urutan besarnya pengaruh variabel independen yang berbeda, adapun besarnya faktor variabel bebas sebagai berikut: 1. Pada variabel pengetahuan prinsip nilai thitung = 4,322 >
t
tabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.000 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel pengetahuan secara parsial signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren. Hasil penelitian tersebut mendukung penelitian Arifatul Aini (2014) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat menjadi nasabah bank syariah. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran pengetahuan tentang bank Syari’ah berpengaruh positif signifikan terhadap minat nasabah.
2. Pada tabel diatas variabel profesionalitas prinsip nilai
t
hitung = 1.621 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.110 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak,
yang berarti variabel profesionalitas secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren terhadap bank syariah. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Abimantra dkk (2013) berpengaruh positif namun tidak signifikan. 3. Pada tabel diatas variabel akses prinsip nilai thitung =
-201< ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.841 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel akses secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan masyarakat pesantren terhadap bank syariah. Semakin jauh akses yang dijangkau masyarakat semakin rendah preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syriah.
4. Pada tabel diatas variabel fasilitas prinsip nilai thitung = 127< ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0,899 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel fasilitas secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren terhadap bank syariah.
5. Pada tabel diatas variabel fatwa MUI tentang Riba prinsip nilai thitung = -1.757 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.84 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel fatwa MUI tentang riba secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat
pesantren terhadap bank syariah. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil wawancara kepada Tokoh Masyarakat di Desa Karangmangu bahwa fatwa itu sifatnya tidak mengikat, tapi kalau Qodho’ sifatnya mengikat, fatwa itu sifatnya memberikan penjelasan kepada umat tapi fatwa itu tidak harus dilakukan oleh umat, kecuali Qodho’ itu wajib dilakukan, di dalam perbankan syariah antara teori dan praktik sering terjadi pergeseran, maka di dalam Islam jangan melihat aspek syariatnya, akan tetapi melihat aspek hakikatnya. di Desa Karangmangu mayoritas Nahdliyin, karena NU memahami ada 3 pendapat yaitu Mutlak Halal, Mutlak Haram, dan darurat boleh jadi masyarakat di Desa Karangmangu tidak mengambil jalan yang hati-hati (Haram Mutlak) tetapi mengambil pendapat yang mutlak Halal karena alasan NU mengambil pendapat mutlak halal bukan berarti tidak menghargai mutlak haram dengan kata lain sistem perbankan syariah itupun lebih hati-hati. Karena para Nahdlatul Ulama berpikir seperti itupun berdasarkan berkembangnya ahli fikih yang ada diberbagai belahan Negara, bukan hanya di Indonesia saja, tapi di Syiria, Mesir, tapi bukan berarti kita menyalahkan yang haram, karena watak fikih itu memang khilafiyah.78
78
6. Pada tabel diatas variabel sosialisasi prinsip nilai thitung = 1.216 < ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0,228 > 0.05. dengan demikian H02 diterima Ha1 ditolak, yang berarti variabel sosialisasi secara parsial tidak signifikan berpengaruh terhadap preferensi masyarakat pesantren terhadap bank syariah. Hasil penelitian sesuai dengan hasil wawancara kepada Tokoh Masyarakat KH. Fathurrahman Alfa Ali bahwa sosialisasi bank syariah masih kurang, seharusnya banyak melakukan sosialisasi terutama di Pesantren karena bagaimanapun pesantren itu adalah kubangan kaum Nahdhiyin, ketika kita bicara Nahdhatul Ulama kita bicara pesantren seharusnya sosialisasi banyak dilakukan di Pesantren. 79
7. Pada tabel diatas variabel keuntungan berpengaruh posittif dan signifikan, prinsip nilai thitung = 3.159 > ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.002 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel keuntungan secara parsial signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Endang Tri Wahyuni berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan nasabah menggunakan perbankan syariah. Sementara hasil
79
Hasil Wawancara kepada tokoh masyarakat.KH. Fathurrohman Alfa Ali
penelitian Hendi Irawan (2009) yang menyimpulkan bahwa variabel tingkat keuntungan bagi hasil berpengaruh signifikan terhadap keputusan penggunaan jasa bank syariah.
8. Pada tabel diatas variabel produk prinsip nilai
t
hitung = 3.982 > ttabel 1,67. signifikansinya sebesar 0.000 < 0.05. dengan demikian H01 ditolak, yang berarti variabel produk secara parsial signifikan berpengaruh terhadap kecenderungan masyarakat pesantren. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Abimantra dkk (2013:176) berpengaruh positif dan signifikan, Hal ini menunjukkan bahwa penawaran yang menarik dari produk Bank Syariah tersebut masih menjadi pemikiran utama bagi nasabah untuk memilih menabung di Bank Syariah. sementara hasil penelitian ini sesuai dengan teori kotler bahwa salah satu bauran pemasaran masyarakat yang mempengaruhi konsumen adalah produk (Product). Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pengetahuan, keuntungan dan produk berpengaruh terhadap preferensi masyarakat pesantren terhadap perbankan syariah. Hal ini sejalan dengan pengujian hipotesa yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel terhadap preferensi masyarakat pesantren terhadap
perbankan syariah dengan ditunjukkan nilai P value 0.000a pada tabel, dimana lebih kecil dari taraf signifikansi 5%. Ini artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara preferensi masyarakat pesantren terhadap perbankan syariah.