BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Analisis Data
4. Uji Hipotesis
a. Uji t atau Uji Parsial
Hasil uji t dapat dilihat dari nilai Prob. t hitung (di tunjukan pada prob) lebih kecil dari tingkat kesalahan alpha 0,05 yang telah ditentukan maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, sedangkan apabila nilai prob. t hitung lebih besar dan tingkat kesalahan 0,05 maka dapat dikatakan
bahwa variabel bebas tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. Dasar pengambilan keputusan:
Thitung > Ttabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima Thitung < Ttabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak Berdasarkan signifikansi:
1) Ho: nilai signifikan t > 0,05
Jika nilai signifikan > 0,05 maka Ho diterima dan H1 ditolak berarti bahwa variabel independen secara parsial tidak berpengaruh signigikan terhadap variabel dependen.
2) H1: nilai signifikan t < tingkat 0,05
Jika nilai signifikan < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 di terima berarti bahwa variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Priyanto, 2014, hal. 163).
b. Uji F atau Uji Simultan
Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan atau keseluruhan. Uji F untuk menguji apakah variabel bebas yang digunakan dalam model mampu menjelaskan perubahan-perubahan nilai variabel tergantung atau tidaknya. Untuk menyimpulkan apakah model masih dalam kategori cocok atau tidaknya. Pengujian ini dapat dilakukan dengan mengamati nilai signifikan F pada tingkat (5)%. Analisis didasarkan pada perbandingan antara nilai signifikan F dengan nilai signifikan 0,05 pengujian ini dapat dilakukan dengan hipotesis.
Berdasarkan nilai signifikansi (Priyanto, 2014, hal 163):
1) Jika nilai signifikan F > tingkat 0,05 maka Ho diterima Ha ditolak berarti bahwa variabel independen secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2) Jika nilai signifikan F < tingkat 0,05 maka Ha diterima Ho ditolak artinya bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.
41 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT Bank Victoria Syariah
1. Sejarah Singkat Bank Victoria Syariah
PT Bank Victoria Syariah yang sebelumnya adalah PT. Bank Swaguna sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Nomor 5 tanggal 6 Agustus 2009 yang dibuat dihadapan Erni Rohaini SH, MBA, Notaris Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang berkedudukan di Jakarta Selatan. Perubahan tersebut telah mendapat persetujuan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan Nomor : AHU-02731.AH.01.02 tahun 2010 tanggal 19 Januari 2010, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 83 tanggal 15 Oktober 2010, Tambahan Nomor 31425.
Terakhir, Anggaran Dasar PT Bank Victoria Syariah diubah dengan Akta Nomor 45 tanggal 30 Maret 2010 yang dibuat dihadapan Sugih Haryati, SH, MKn sebagai pengganti dari Notaris Erni Rohaini, SH, MBA, Notaris Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang berkedudukan di Jakarta Selatan. Perubahan Anggaran Dasar tersebut pada pasal 10 ayat 3 dan telah diterima serta dicatat dalam database Sisminbakum Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Nomor: AHU-AH.01.10-16130 tanggal 29 Juni 2010.
Perubahan kegiatan usaha Bank Victoria Syariah dari bank umum konvensional menjadi bank umum syariah telah mendapatkan izin dari oleh Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor: 12/8/KEP.GBI/DpG/2010 tertanggal 10 Februari 2010. Bank Victoria Syariah mulai beroperasi dengan prinsip syariah sejak tanggal 1 April 2010. Adapun kepemilikan saham PT Bank Victoria International Tbk pada Bank Victoria Syariah adalah sebesar 99,99%. (www.bankvictoriasyariah.co.id).
Dukungan penuh dari perusahaan induk PT Bank Victoria International Tbk telah membantu tumbuh kembang Bank Victoria
Syariah. Bank Victoria Syariah terus berkomitmen untuk membangun kepercayaan nasabah dan masyarakat melalui pelayanan dan penawaran produk yang sesuai dengan prinsip prinsip syariah serta memenuhi kebutuhan nasabah.
Pada akhir tahun 2019, Bank Victoria Syariah mengelola aset sebesar Rp.2,26 Triliun dengan mengoperasikan 6 (enam) kantor Cabang yaitu KCU-Tomang, Bekasi, Bandung, Cirebon, Solo, dan Denpasar dan 3 (tiga) kantor cabang pembantu yaitu Tangerang, Kramat Jati, dan Tebet. Pengurangan Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu ditahun 2019 mengikuti perkembangan usaha pelayanan perbankan yang mengedepankan pelayanan perbankan berbasis teknologi. (www.bankvictoriasyariah.co.id).
Berikut jejak langkah Bank Victoria Syariah: a. 1966 – 1977
PT. Bank Swaguna didirikan di Cirebon pada tahun 1966, Bank ini memulai kegiatan operasionalnya pada tanggal 7 Januari 1967. b. 2007
PT. Bank Victoria mengakuisisi 99.99% saham Bank Swaguna dan mendapat persetujuan BI tanggal 3 Agustus 2007. Modal disetor Bank menjadi Rp. 90 Milyar pada bulan September 2007.
c. 2008
Pada bulan Maret 2008, Pemegang Saham PT. Bank Victoria International Tbk Kembali memperkuat modal Rp. 110 Milyar. d. 2010
Bank Swaguna dikonversi menjadi PT. Bank Victoria Syariah dan Mendapatkan izin operasional sebagai Bank Syariah berdasarkan SK Gubernur Bank Indonesia No. 12/8/KEP-GBI/DpG/2010, Bank beroperasi penuh dengan system syariah pada tanggal 1 April 2010.
e. 2011-2012
f. 2013
Memperkokoh pondasi melalui pengembangan produk dan segmen bisnis baru.
g. 2014
Penambahan setoran modal Rp. 50 Milyar sehinggal modal menjadi Rp. 160 Milyar.
h. 2015
Penataan strategi dan penguatan GCG i. 2016
Tahun transformasi Penambahan setoran modal Rp. 50 Milyar sehingga Modal menjadi Rp.210 Milyar.
j. 2017
Penambahan setoran modal Rp. 100 Milyar sehingga Modal menjadi Rp.310 Milyar.
k. 2018
Perbaikan Kualitas Aset Produktif dan Profitabilitas. l. 2019
Penambahan setoran modal Rp. 50 Milyar sehingga Modal menjadi Rp.360 Milyar.
2. Visi, Misi dan Budaya Perusahaan a. Visi Bank Victoria Syariah adalah
(www.bankvictoriasyariah.co.id):
“Menjadi Bank Syariah yang Amanah, Adil dan Peduli Lingkungan”
b. Misi Bank Victoria Syariah adalah:
1) Memenuhi kebutuhan dan layanan terbaik kepada nasabah dan menjadi partner bisnis yang amanah dan memberikan solusi yang bernilai tambah.
2) Mengembangkan Sumber Daya Insani (SDI) yang profesional dan memiliki nilai-nilai akhlak yang baik yang memahami bahwa tanah dan kekayaan adalah milik Tuhan Yang Maha
Kuasa dan sebagai umat manusia bertanggung jawab untuk mengelolanya seperti yang ditasbihkanNya.
3) Menjalankan operasional perbankan syariah yang efisien, amanah dan selalu menerapkan prinsip kehati- hatian, sehingga menghasilkan nilai tambah.
4) Peduli dan berkontribusi kepada masyarakat dan lingkungan, sebagai bukti bahwa Bank Victoria Syariah mendukung keuangan yang berkelanjutan.
5) Melakukan pengelolaan risiko dan keuangan secara prudent dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan efektif. Untuk lebih mendukung pencapaian visi dan penerapan misi dalam aktivitas operasional perusahaan, maka Bank Victoria Syariah akan melakukan redefinisi terhadap nilai-nilai perusahaan yang lebih komprehensif.
3. Budaya Perusahaan
Adapun Nilai-nilai Budaya Perusahaan yang disepakati dan dianut oleh seluruh Karyawan Bank Victoria Syariah dapat disingkat H-E-B-A-T. Penjabaran dari H-E-B-A-T tersebut adalah sebagai berikut (www.bankvictoriasyariah.co.id):
a. Honest
Kejujuran menjadi landasan budaya kerja yang sangat penting bagi setiap perusahaan, terlebih perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan seperti Bank. Seluruh Sumber Daya Insani (SDI) Bank Victoria Syariah tanpa terkecuali harus memiliki sikap kejujuran yang tinggi sehingga dapat dipercaya dalam mengemban amanah yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya.
b. Energic
Seiring dengan era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat dinamis saat ini, semangat dan jiwa muda dalam setiap kepribadian karyawan Bank Victoria Syariah menjadi
keharusan agar bank dapat terus berkembang dalam menjalankan aktivitas operasional-nya.
c. Brilliant
Dalam mengembangkan bisnis secara berkesinambungan, setiap individu maupun team harus memiliki kemampuan yang brilliant untuk melihat setiap peluang maupun tantangan yang ada sehingga dapat menjaga pertumbuhan bisnis Bank Victoria Syariah secara berkesinambungan (sustainable growth).
d. Accurate
Sebagai lembaga keuangan yang merupakan kepercayaan masyarakat, keakurasian data terkait dengan penyebaran informasi baik formal maupun informal sudah menjadi suatu keharusan dari bank untuk dipenuhi.
e. Trust
Bank merupakan lembaga kepercayaan bagi para nasabah untuk menyimpan dana, untuk itu unsur trust (kepercayaan) wajib menjadi nilai budaya yang harus melekat pada seluruh Sumber Daya Insani Bank Victoria Syariah.
4. Produk Bank Victoria Syariah
a. Produk pembiayaan (www.bankvictoriasyariah.co.id): 1) KMG-ViS (Kepemilikan Multi Guna)
KMG-ViS adalah fasilitas pembiayaan kepemilikan barang multiguna untuk kebutuhan konsumtif yang diberikan kepada nasabah perorangan dengan akad murabahah. Pembiayaan ini dapat digunakan untuk:
a) Pembelian motor
b) Kebutuhan rumah tangga seperti barang elektronik, furniture, dan barang rumah tangga lainnya.
c) Pembelian barang/benda multiguna lainnya terkait dengan modal kerja, investasi, pengembangan usaha, dan pembiayaan konsumtif lainnya.
2) Pembiayaan komersial
Adalah pembiayaan produktif untuk usaha komersial dengan menggunakan akad jual beli dan bagi hasil sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Tujuannya untuk pembiayaan investasi usaha dan atau pembiayaan modal kerja. Pembiayaan ini diberikan kepada nasabah perorangan dan badan hukum, hasil penjualan (omset) nasabah dalam satu tahun yaitu minimal Rp. 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah) dan maksimum Rp. 50.000.000.000. (lima puluh milyar rupaih). Jenis usaha yang dibiayai adalah usaha produktif, usaha perdagangan, usaha jasa/service, jenis usaha yang yang tidak dilarang oleh pemerintah dan usaha yang tidak bertentangan dengan syariah.
3) KPM-ViS
KPM-ViS adalah pembiayaan kepemilikan mobil untuk kebutuhan konsumtif yang diberikan kepada nasabah perorangan dengan akad murabahah. Plafond pembiayaan per nasabah minimum Rp. 50.000.001 (lima puluh juta satu rupiah), maksimum Rp. 5.000.000.000 (lima milyar rupiah). Jangka waktu 1-10 tahun.
4) KPR-ViS
Merupakan pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR) untuk perorangan dengan akad murabahah.
5) UKM-ViS (Usaha Kecil Menengah)
Merupakan pembiayaan investasi usaha dan atau modal kerja dengan pengembalian pembiayaan sesuai akad pembiayaan yang disepakati antara bank dan pelaku Usaha Kecil Menengah. Pembiayaan ini memakai akad murabahah, mudharabah atau musyarakah dan IMBT. Plafond pembiayaan minimum Rp. 500.000.001 (lima ratus satu juta rupiah) dan maksimum Rp. 5.000.000.000 (lima milyar rupiah)
b. Produk pendanaan (www.bankvictoriasyariah.co.id): 1) Giro Vis iB
Merupakan rekening giro untuk nasabah perorangan maupun badan hukum, yang memiliki fasilitas cek dan bilyet giro. Produk ini memakai akad wadiah (titipan). Setoran awal perorangan Rp. 500.000 dan perusahaan Rp. 1.000.000
2) Giro Vis Prima iB
Merupakan giro yang diperuntukan untuk segment perusahaan dengan memakai akad mudharabah yang mendapat bagi hasil sesuai dengan saldo harian nasabah. Setoran awal Rp. 10.000.000 dan saldo minimal Rp. 100.000.000
3) SimPel (Simpanan Pelajar)
Tabungan untuk siswa yang diterbitkan oleh Bank-Bank di Indonesia, dengan persyaratan mudah dan sederhana serta fitur yang menarik dalam rangka edukasi dan inklusi keuangan untuk mendorong budaya menabung sejak dini. Produk ini memakai akad Mudharabah. Setoran awal minimal Rp. 1.000 4) Tabungan V Bisnis
Merupakan jenis tabungan dengan prinsip mudharabah, diperuntukan bagi nasabah perorangan dan perusahaan. Setoran awal minimal Rp. 5.000.000 dan saldo minimal Rp. 5.000.000 5) Tabungan V Plan
Merupakan jenis tabungan dengan prinsip mudharabah yang penarikannya memiliki jangka waktu sesuai kesepakatan dengan nasabah. Jangka waktu 1-18 tahun dengan setoran bulanan mulai Rp. 100.000 sampai Rp. 5.000.000
6) Tabungan Vis Berhadiah X-Tra
Merupakan tabungan yang diperuntukan untuk perorangan dan perusahaan yang mendapat hadiah dimuka sesuai keinginan nasabah dengan penempatan nominal dana tertentu
dan jangka waktu tertentu. Setoran awal adalah Rp. 5.000.000. Tabungan ini prinsipnya bagi hasil.
7) Tabungan Visya
Adalah simpanan dalam bentuk investasi syariah dengan prinsip bagi hasil yang saling menguntungkan. Tabungan Visya memakai akad mudharabah. Setoran awal perorangan adalah Rp. 100.000 dan perusahaan Rp. 1.000.000
8) Tabungan Visya Payroll
Merupakan jenis tabungan yang memakai akad mudharabah dan diperuntukkan untuk pembayaran payroll karyawan.
Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Bank Victoria Syariah Direktur Bisnis Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Direktur Operasi Sekretaris Direktur Utama RUPS DPS
Dewan
Komisaris Komite Sanksi dan Personalia Komite PTI-PP Komite Pembelian Barang dan jasaKomite ALSYCO Komite Kebijakan dan Manajemen Risiko Komite Pembiayaan Kepala SKAI Komite PemantauanRisiko Komite Audit Komite Nominasi Dan Remunerasi
65 B. Hasil Analisis Data
Tabel 4. 1
Jumlah DPK, Pembiayaan dan pendapatan PT. Bank Victoria Syariah periode 2012-2019 Dalam Bentuk Triwulan
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun/Triwulan DPK Pembiayaan Pendapatan
2012 I 504.241 360.178 38.954 II 476.865 414.726 79.722 III 444.466 421.702 129.153 IV 646.324 476.814 172.105 2013 I 632.049 51.984 50.393 II 583.712 571.184 108.156 III 802.605 648.755 172.591 IV 1.015.792 859.944 224.246 2014 I 1.144.506 99.653 80.982 II 930.307 1.024.516 160.936 III 974.569 1.051.513 246.421 IV 1.185.686 1.076.881 306.597 2015 I 1.058.521 1.083.786 83.268 II 10.195 996.916 177.570 III 992.158 1.013.072 245.196 IV 1.128.908 1.075.681 295.213 2016 I 971.403 923.541 59.916 II 930.522 892.613 117.657 III 955.417 934.343 179.940 IV 1.204.681 1.212.691 252.935 2017 I 1.237.984 1.067.047 88.503 II 1.238.823 1.141.231 166.326 III 1.539.092 1.225.089 249.877 IV 1.511.159 1.262.927 304.700 2018 I 1.711.850 1.320.901 85.980
II 1.475.226 1.225.230 174.662 III 1.414.206 1.281.328 260.681 IV 1.491.441 1.234.571 347.460 2019 I 1.334.181 1.085.809 86.069 II 1.335.902 1.039.857 162.984 III 1.666.240 1.229.843 250.151 IV 1.529.485 1.231.613 339.630 Sumber: www.ojk.go.id
Berdasarkan data diatas, maka data akan di analisis dengan menggunakan program SPSS 25, dengan memasukan data laporan keuangan per triwulan dari tahun 2012 sampai 2019.
1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang normal. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan cara melihat gambar Normal P-P Plot Of Regression Standardized
Residual, dimana jika penyebaran titik mengikuti dan mendekati
garis diagonalnya maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya, data dikatakan tidak terdistribusi normal jika data menyebar jauh dari arah garis atau tidak mengikuti diagonal (Priyanto, 2014, hal. 90-94).
Gambar 4. 2
Hasil Uji Normalitas dengan Grafik Normal P-P Plot
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Tampak pada gambar P-P Plot bahwa data yang menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut. Maka regresi memenuhi asumsi normalitas karena model penelitian ini berdistribusi normal. Pengujian normalitas juga dapat dilihat melalui
Uji Kolmogorov Smirnov. Untuk lolos asumsi normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov nilai signifikan harus diatas 0,05. Berikut
adalah uji Kolmogorov Smirnov: Tabel 4. 2
Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 32
Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation 72277,9203848
2 Most Extreme Differences Absolute ,096 Positive ,096 Negative -,090
Test Statistic ,096 Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Berdasarkan uji normalitas Kolmogorov Smirnov Test pada tabel diatas menunjukan nilai Asymp.sig. (2-tailed) 0,200 hal ini menunjukan bahwa nilai signifikasi lebih besar dari nilai tingkat kepercayaan α = 0,05 oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data residual model regresi dalam penelitian itu terdistribusi normal. b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan (korelasi) yang signifikan di antara dua atau lebih variabel independen dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance
Inflation Factor (VIF). Nilai Tolerance yang rendah sama dengan
nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cuttof yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai
Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2013,
hal. 105-106).
Hasil uji multikolinieritas pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 4. 3 Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Unstandardize d Coefficients Standard ized Coefficie nts t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF
1 (Constant) 34069, 405 40650, 073 ,838 ,409 DPK ,015 ,046 ,069 ,336 ,739 ,526 1,902 PEMBIAYA AN ,138 ,053 ,542 2,629 ,014 ,526 1,902
a. Dependent Variable: PENDAPATAN
Sumber: Hasil Output SPSS 25
1) Nilai Tolerance untuk variabel DPK sebesar 0,526 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,902 ≤ 10, sehingga variabel DPK dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinieritas.
2) Nilai Tolerance untuk variabel Pembiayaan sebesar 0,526 ≥ 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,902 ≤ 10, sehingga variabel Pembiayaan dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinieritas. c. Uji Autokeralasi
Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi yang disusun menurut waktu atau tempat. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi autokorelasi. Metode pengujian menggunakan uji Durbin Watson. Pengambilan keputusan pada uji
Durbin Watson sebagai berikut (Purnomo, 2017, hal. 123):
4) DU < DW < 4-DU, artinya tidak terjadi autokorelasi 5) DW < DL atau DW > 4-DL, artinya terjadi autokorelasi
6) DL < DW < DU atau 4-DU < DW < 4-DL, artinya tidak ada kepastian atau kesimpulan yang pasti.
Tabel 4. 4 Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,592a ,351 ,306 74728,712 2,053 a. Predictors: (Constant), PEMBIAYAAN, DPK
b. Dependent Variable: PENDAPATAN
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Berdasarkan tabel uji autokorelasi diatas nilai Durbin-Watson sebesar 2,053. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel
signifikansi sebesar 0,05 dengan jumlah sampel N=32, maka diperoleh nilai dU sebesar 1,5736. Nilai DW sebesar 2,053 lebih besar dari nilai dU yaitu 1,5736 dan harus kurang dari (4-du) yakni 4-1,5736 = 2,4264 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini uji heteroskedastisitas menggunakan metode gjejser dengan cara meregresi nilai absolute residual terhadap variabel dependen atau
undstandarlized residual sesuai variabel dependen. Sedangkan untuk
pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikansi lebih besar dari nilai α (0,05) maka data tidak mengandung heteroskedastisitas, jika nilai signifikansi kurang dari nilai α (0,05) maka terdapat gejala heteroskedastisitas (Ghozali, 2013, hal. 142)
Tabel 4. 5 Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -1887,369 20722,824 -,091 ,928 DPK ,030 ,023 ,287 1,285 ,209 PEMBIAYAAN ,030 ,027 ,248 1,112 ,275 a. Dependent Variable: Abs_Res
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Dari tabel uji heteroskedastisitas diatas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi pada variabel DPK sebesar 0,209 dan variabel Pembiayaan sebesar 0,275 lebih besar dari nilai α =0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.
2. Regresi Linear Berganda
Regresi Linear Berganda adalah model regresi linear dengan melibatkan lebih dari satu variabel bebas (Ghodang, 2020, hal. 90)
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menguji pengaruh lebih dari satu variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh DPK dan Pembiayaan terhadap Pendapatan. Persamaan regresinya adalah:
Y = a+ b1X1 + b2X2 Keterangan:
Y = Pendapatan
X1 = Dana Pihak Ketiga (DPK) X2 = Pembiayaan
α = Konstanta
b1, b2 = Koefisien regresi
Tabel 4. 6
Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Coefficientsa Model Unstandardize d Coefficients Standard ized Coefficie nts T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Constant) 34069, 405 40650, 073 ,838 ,409 DPK ,015 ,046 ,069 ,336 ,739 ,526 1,902 PEMBIAYA AN ,138 ,053 ,542 2,629 ,014 ,526 1,902
a. Dependent Variable: PENDAPATAN
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Berdasarkan tabel diatas dengan memperhatikan angka yang berada pada kolom Unstandardized Coefficients Beta, maka dapat disusun persamaan regresi berganda yaitu sebagai berikut:
Dari persamaan regresi diatas maka dapat disimpulkan diantaranya yaitu:
a. Nilai konstanta persamaan diatas ialah 34069,405. Angka ini menunjukkan bahwa tanpa adanya pengaruh variabel bebas besarnya pendapatan adalah 34069,405. b. Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) memiliki nilai
koefisien sebesar 0,015 yang berarti Dana Pihak Ketiga (DPK) memiliki hubungan positif terhadap pendapatan. Hal ini menggambarkan jika Dana Pihak Ketiga (DPK) dinaikkan Rp. 1 maka nilai pendapatan akan naik sebesar 0,015 dengan asumsi variabel lain tetap.
c. Variabel Pembiayaan memiliki nilai koefisien sebesar 0,138 yang berarti pembiayaan memiliki hubungan positif terhadap pendapatan. Hal ini menggambarkan jika pembiayaan dinaikkan Rp. 1 maka nilai pendapatan akan naik sebesar 0,138 dengan asumsi variabel lain tetap. 3. Koefisien Determinasi (R2 )
Koefisien Determinasi merupakan besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel tidak bebas, semakin tinggi koefisien determinasi, semakin tinggi kemampuan variabel bebas (dependent) dalam menjelaskan variasi perubahan pada variabel tidak bebas (independent).
Apabila angka koefisien determinasi semakin mendekati satu, maka variabel independen terhadap variabel dependen semakin kuat, yang berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Sedangkan nilai koefisien determinasi (Adjusted R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel dependen adalah terbatas (Wahyuni S. , 2020, hal. 79)
Uji koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen (Dana Pihak Ketiga
dan Pembiayaan) menjelaskan variabel dependen (Pendapatan) untuk mengetahui besar persentase variabel terikat yang dijelaskan pada variabel independen. Tabel 4. 7 Hasil Uji R2 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,592a ,351 ,306 74728,712 2,053 a. Predictors: (Constant), PEMBIAYAAN, DPK
b. Dependent Variable: PENDAPATAN
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Berdasarkan tabel uji R2 diatas, diperoleh nilai R Square sebesar 0,351, ini mengartikan bahwa variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) (X1) dan Pembiayaan (X2) berpengaruh terhadap pendapatan sebesar 35,1% sedangkan sisanya 64,9% dipengaruhi oleh variabel bebas lain yang tidak ada dalam penelitian ini.
4. Uji Hipotesis a. Uji t
Uji t bertujuan untuk menguji apakah secara individu ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Pengujian secara parsial untuk setiap koefisien regresi diuji untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel bebas dengan variabel terikat pada tingkat signifikansi yang dipilih.
Hasil uji t dapat dilihat dari nilai Prob. t hitung (di tunjukan pada prob) lebih kecil dari tingkat kesalahan alpha 0,05 yang telah ditentukan maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, sedangkan apabila nilai prob. t hitung lebih besar dan tingkat kesalahan 0,05 maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. Dasar pengambilan keputusan (Priyanto, 2014, hal. 163):
2) Thitung < Ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
Uji t dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. T tabel diperoleh dengan rumus 0,05/2;n-k-1 (0,025;29) sehingga dari distribusi T tabel diperoleh sebesar 2,045.
Tabel 4. 8 uji T Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standard ized Coefficie nts t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Consta nt) 34069,4 05 40650,0 73 ,838 ,409 DPK ,015 ,046 ,069 ,336 ,739 ,526 1,902 PEMBIA YAAN ,138 ,053 ,542 2,629 ,014 ,526 1,902
a. Dependent Variable: PENDAPATAN
Sumber: Hasil Output SPSS 25
Berdasarkan tabel (4.8) diatas, dapat disimpulkan bahwa: 1) Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pendapatan
Dengan hipotesis sebagai berikut:
1:Dana Pihak Ketiga (DPK) tidak berpengaruh terhadap pendapatan PT. Bank Victoria Syariah periode 2012-2019
1:Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh terhadap pendapatan PT. Bank Victoria Syariah periode 2012-2019
Dari hasil analisis uji t nilai t hitung dari DPK sebesar 0,336 dan t tabel yang diperoleh sebesar 2,045 sehingga t hitung < t tabel atau sig. > dari 0,05 maka 1 diterima dan 1 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan.
2) Pengaruh Pembiayaan Terhadap Pendapatan Dengan hipotesis sebagai berikut:
2 : Pembiayaan tidak berpengaruh terhadap pendapatan PT. Bank Victoria Syariah periode 2012-2019
2 : Pembiayaan berpengaruh terhadap pendapatan PT. Bank Victoria Syariah periode 2012-2019
Dari hasil analisis uji t nilai t hitung dari Pembiayaan sebesar 2,629 dan t tabel yang diperoleh sebesar 2,045 sehingga t hitung > t tabel atau sig. < dari 0,05 maka 2