• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. Uji Hipotesis

Proses penguj ian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji beda atau uji-t (t-test) yaitu dengan membandingkan rata-rata skor (mean) dari data skor populasi antara sebelum dilakukan treatment dengan data skor populasi setelah dilakukan treatment. Jenis uji-t yang digunakan dalam penelitian ini adalah paired t-test (uji-t sampel berpasangan). Proses uji-t dibantu menggunakan aplikasi SPSS 16.0 for windows. Berikut merupakan data skor populasi dari sebelum dan sesudah treatment.

Tabel 15. Data skor total sampel sebelum dan setelah treatment

Data tersebut kemudian diolah dengan bantuan aplikasi SPSS 16.00 for windows. Berikut merupakan tabel hasil paired t-test menggunakan SPSS 16.00

for windows.

Tabel 16. Hasil Penghitungan Uji Beda (T-Test)

Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, a. Rumusan hipotesis

H1 : Rata-rata skor populasi sebelum dan sesudah treatment tidak sama b. Menentukan t hitung (to)

c. Menetukan t tabel

Penghitungan nilai t tabel dengan ketentuan sebagai berikut 1) Nilai α = 0,05

2) N = 11

3) Derajat kebebasan atau degree of freedom (df) = (n-1) = (11-1) = 10 Dengan ketentuan tersebut diperoleh t tabel sebesar 2,228

d. Pengambilan keputusan

Apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis tidak ditolak. Diperoleh dari tabel kedua bahwa nilai signifikansi sebesar 0,006. Karena thitung > ttabel (9,690 > 2,228) maka Ho ditolak dan H1 tidak ditolak, maka hipotesis yang diajukan tidak ditolak. Artinya skor pembelajaran musik angklung sebelum dan sesudah dilaksanakan treatment tidak sama, bahkan menunjukkan perbedaan positif. Berdasarkan tabel kedua dapat dilihat bahwa kondisi sebelum dan sesudah dilakukan treatment berkorelasi sebesar 0,763. Artinya, hubungan dua kondisi kuat. Signifikansi 0,006 < 0,05 maka dari itu Ho ditolak sedangkan H1 tidak ditolak.

Pada tabel pertama angka perbedaan rata-rata (mean difference) diperoleh sebesar 2,364, hal ini dikarenakan mean sesudah treatment lebih tinggi dari mean sebelum treatment sehingga menunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan yaitu dari rata-rata mean sebelum treatment sebesar 12,82 dan rata-rata mean setelah treatment sebesar 15,18. Dengan kata lain perbedaan skor hasil pembelajaran musik angklung sebelum dan setelah menggunakan media colour signing dinyatakan signifikan.

C. Pembahasan

Peneleitian dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Angklung Dengan Media Penandaan Warna (Colour Signing) Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SD Negeri Bulakan 1 Sukoharjo” ini telah dilaksanakan di SD Negeri Bulakan 1 Sukoharjo. Data dalam penelitian ini berasal dari populasi siswa berkebutuhan khusus yang berada di SD Negeri Bulakan 1 Sukoharjo yang merupakan Sekolah Inklusi. Siswa berkebutuhan khusus tersebut ditempatkan secara terpisah yaitu di kelas Inklusi. Siswa berkebutuhan khusus tersebut merupakan gabungan dari siswa kelas I sampai dengan kelas VI yang menyandang status sebagai siswa berkebutuhan khusus (special needs) yang berjumlah 11 orang, yang terdiri atas 2 siswa kelas I, 1 siswa kelas II, 3 siswa kelas III, 3 siswa kelas V, dan 2 siswa kelas VI.

Kondisi awal kemampuan bermain musik angklung dalam penelitian ini diketahui dengan melakukan tes awal (pre-test) berupa tes keterampilan memainkan musik angklung. Dalam tes ini lagu “Ibu Kita Kartini” digunakan sebagai materi ajar untuk bermain musik angklung. Hal-hal yang dinilai dalam tes tersebut mencakup ketetapan ritmis, posisi dan cara memegang angklung, cara membunyikan angklung, kekompakkan, dan sikap. Saat kegiatan ini berlangsung terlihat siswa belum sepenuhnya mampu memainkan angklung. Indikasinya adalah beberapa siswa masih belum dapat memainkan angklung sesuai ritmis lagu yang dibawakan, posisi memegang angklung belum benar bahkan beberapa siswa memegang angklung secara terbalik. Ada pula siswa yang sama sekali tidak tertarik untuk belajar angklung dan meletakkan angklungnya di meja. Meskipun

terdapat sebagian siswa yang sudah dapat memainkan angklung dengan ritmis yang tepat namun kurang kompak dengan siswa yang lain. Hal tersebut berakibat pada rendahnya nilai siswa (data skor pre-test dapat dilihat pada lampiran nomor 2). Setelah tes awal dilakukan selanjutnya siswa diberikan treatment atau perlakuan, yaitu dengan memberikan latihan pembelajaran musik angklung menggunakan media penandaan warna atau colour signing. Jadi dalam penelitian ini skor pre-test berfungsi sebagai kontrol.

Setelah itu dilakukan tes keterampilan untuk yang kedua kalinya ( post-test). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, seluruh siswa menunjukkan adanya peningkatan skor kemampuan bermain musik angklung setelah diberikan perlakuan yaitu pelatihan musik angklung menggunakan media penandaan warna (colour signing). Hal ini ditunjukkan dari skor total pre-test sebesar 141 meningkat pada post-test menjadi 167. Skor total baik pre-test maupun post-test

tersebut merupakan hasil dari penjumlahan antara skor masing-masing butir kriteria penilaian dalam instrumen penelitian yaitu ‘ketetapan ritmis’, ‘posisi dan cara memegang angklung’, ‘cara membunyikan angklung’, ‘kekompakan’, dan ‘sikap’. Terdapat dua skor pre-test dan post-test karena proses pengambilan nilai dilakukan oleh dua orang (2 rater), oleh karena itu selanjutnya dicari rata-rata skor total baik data skor total pre-test maupun data skor total post-test. Jadi angka 141 merupakan nilai pembelajaran angklung siswa berkebutuhan khusus sebelum diadakannya treatment yang secara keseluruhan mencakup nilai dari kriteria penilaian ketetapan ritmis, posisi dan cara memegang angklung, cara membunyikan angklung, kekompakan, dan sikap yang dinilai oleh dua orang

penilai dan diambil nilai rata-ratanya. Demikian pula dengan skor total post-test

167. Selain itu juga terdapat peningkatan nilai rata-rata (mean) sebesar 2,36 dari yang semula pada pre-test senilai 12,82 meningkat menjadi 15,18 pada post-test. Nilai rata-rata (mean) diperoleh dari rata-rata skor total yang merupakan hasil dari penilaian dua orang rater baik pada pre-test maupun pada post-test.

Apabila membandingkan antara tabel 12 dengan tabel 20 maka keduanya menunjukkan adanya peningkatan nilai siswa yang semula empat siswa memiliki nilai dengan predikat nilai ‘cukup’ ‘menjadi baik’, keseluruhan populasi siswa berkebutuhan khusus memiliki nilai dengan predikat baik, tidak ada siswa yang memiliki nilai dengan predikat sangat kurang, kurang, ataupun cukup. Walaupun masih belum ada siswa yang memiliki nilai dengan predikat sangat baik, namun tabel tersebut telah menunjukkan adanya peningkatan nilai pembelajaran musik angklung.

Setelah dilakukan uji beda (t-test) dengan bantuan SPSS 16.0 for windows, diperoleh nilai t hitung (to) sebesar 9,690 dan signifikansi sebesar 0,006 dengan t tabel sebesar 2,228 dan signifikansi 0,006 < 0,05, serta nilai t hitung > t tabel (9,690 > 2,228) maka dari itu dapat dikatakan bahwa hipotesis yang diajukan tidak ditolak. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dengan skor post-test. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang positif dan signifikan antara siswa yang berlatih musik angklung dengan media penandaan warna (colour signing) dengan siswa yang tanpa menggunakan media penandaan warna (colour signing). Hal tersebut membuktikan bahwa penggunaan media penandaan

warna (colour signing) dinyatakan efektif untuk pembelajaran musik angklung siswa berkebutuhan khusus di SD Negeri Bulakan 1.

57   

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan positif dan signifikan antara hasil pembelajaran musik angklung siswa yang menggunakan media penandaan warna (colour signing) dengan yang tidak. Perolehan rata-rata skor dari yang semula pada pre-test senilai 12,82 meningkat menjadi 15,18 pada post-test. Jadi rata-rata nilai hasil pembelajaran musik angklung siswa setelah menggunakan media penandaan warna (colour signing) meningkat sebesar 2,36. Hasil paired sample t-test menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for windows menghasilkan t hitung senilai 9,690. T tabel diperoleh dari penghitungan derajat kebebasan (df) = n-1 dengan n adalah jumlah sampel yaitu 11 orang => 11 – 1 = 10, lalu dari ketentuan tersebut selanjutnya melihat tabel t dan diperoleh t tabel sebesar 2,228. Karena nilai thitung > ttabel

(9,690 > 2,228), maka dari itu hipotesis alternatif yang berbunyi “terdapat perbedaan positif dan signifikan antara hasil pembelajaran musik angklung yang menggunakan media colour signing dengan hasil pembelajaran musik angklung yang tidak menggunakan media colour signing dalam proses pembelajaran musik angklung” tidak ditolak, oleh karena itu media tersebut dikatakan efektif. Pernyataan tersebut juga didukung kenyataan di lapangan bahwa proses latihan angklung hanya memerlukan waktu tiga kali pertemuan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa media penandaan warna (colour signing) dapat digunakan sebagai media pembelajaran alternatif yang dapat membantu untuk mempermudah siswa dalam menerima dan menguasai materi pembelajaran terkhusus pembelajaran musik angklung. Namun hal tersebut haruslah didukung dengan komitmen kuat serta kedisiplinan dari pihak guru maupun siswa. Media penandaan warna (colour signing) dapat dikatakan sebagai media yang efektif karena perbedaan hasil pembelajaran siswa kebutuhan khusus sebelum dan sesudah menggunakan media tersebut positif dan signifikan sesuai dengan tujuannya, yaitu keefektifan media penandaan warna (colour signing) dalam pembelajaran musik angklung bagi siswa berkebutuhan khusus di SD Negeri Bulakan 1 Sukoharjo.

B. IMPLIKASI

Berdasarkan kesimpulan tersebut, penggunaan media penandaan warna (colour signing) sebagai media pembelajaran alternatif terbukti efektif digunakan dalam pembelajaran musik angklung untuk siswa berkebutuhan khusus. Maka dari itu, media penandaan warna dapat digunakan sebagai media pembelajaran alternatif dalam pembelajaran musik angklung khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari implikasi tersebut, peneliti ingin menyampaikan beberapa saran dan masukan seperti berikut,

1. Guru sebaiknya menggunakan media yang lebih bervariasi seperti media penandaan warna (colour signing) dalam proses pembelajaran musik angklung untuk mempermudah siswa dalam menerima dan menguasai keterampilan bermain musik angklung. Selain itu pembelajaran menggunakan media penandaan warna (colour signing) lebih menarik perhatian siswa berkebutuhan khusus dan membantu memusatkan perhatian mereka.

2. Siswa sebaiknya lebih mendisiplinkan diri dalam mengikuti proses pembelajaran agar dapat lebih menguasai materi keterampilan bermain musik angklung yang diajarkan oleh guru. Salah satu alternatif media adalah dengan menggunakan media penandaan warna (colour signing)

3. Bagi penelitian selanjutnya, agar mengkaji kelemahan media penandaan warna (colour signing) atau mencari media lain yang juga berperan dalam meningkatkan efektifitas pembelajaran angklung khususnya untuk siswa berkebutuhan khusus.

4. Bagi sekolah dan pemerintah selaku penyelenggara sistem pendidikan inklusi agar lebih maksimal dalam menyediakan sarana dan prasarana yang cukup terutama tenaga pengajar untuk sekolah inklusi yang selama ini kekurangan tenaga pengajar pendidikan khusus agar sistem pendidikan inklusi dapat berjalan dengan optimal.

60   

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. ________________. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Banoe, Pono. 2006. Pengetahuan Alat Musik. Jurnal Volume 3. Jakarta:

Universitas Pelita Harapan.

Budiyanto. 2005. Pengantar Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya Lokal. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

Carrington, Suzanne. 2012. Teaching in Inclusive School Communities. Milton: John Wiley & Sons Australia, Ltd.

Dunne, Richard. 1996. Pembelajaran Efektif (Terjemahan). Jakarta: Grasindo. Hartono. 2008. SPSS 16.0 (Analisis Data Statistika dan Penelitian). Cet. 1.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iswari, Mega. 2007. Kecakapan Hidup Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: DEPDIKBUD.

Mulyasa, E. 2012. Manajemen Berbasis Sekolah. Cet. 14. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Nurgiantoro, Burhan, Gunawan, & Marzuki. (2004). Statistik Terapan: Untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Parwoto. 2007. Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Rai, I Gusti Agung. 2008. Audit Kinerja Pada Sektor Publik, Konsep, Praktik, Studi Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

 

Riskiandini, Alviana. 2015. Keefektifan Media MIDI Dalam Pembelajaran Ansambel Musik di SMP Negeri 8 Yogyakarta. Skripsi S1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, FBS, UNY.

Rudiyati, Sari. 2013. Kompetensi Dan Tugas Guru Sekolah Inklusif. Yogyakarta: Ash-Shaff.

Safrina, Rien. 1999. Pendidikan Seni Musik. Jakarta: DEPDIKBUD.

Sanaky, Hujair A.H. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Siregar, Sofian. 2012. Statistika Deskriptif untuk Penelitian: Dilengkapi Penghitungan Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17. Jakarta: Rajawali Press. Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sugiyono. 2012. Cara Mudah Menyusun: Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Cet. 15. Bandung: ALFABETA.

________. 2013. Cara Mudah Menyusun: Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Cet. 16. Bandung: ALFABETA.

Sarwono, Jonathan. 2015. Rumus-rumus Populer Dalam SPSS 22 untuk Riset Skripsi. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.

Sudrajat, Akhmad. 2010. Definisi Pendidikan Menurut UU No.20 Tahun 2003. Diakses pada tanggal 20 Desember 2015 pukul 14.58 dari

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas/

Suwanda. 2011. Desain Eksperimen untuk Penelitian Ilmiah. Bandung: ALFABETA.

Ubun, Kubarsah R. 1994. Mengenal Alat-alat Kesenian Daerah Jawa Barat. Bandung: CV. Sampurna.

Uno, Hamzah B. & Mohamad Nurdin. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAIKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Wiramihardja, Obby. 2010. Panduan Bermain Angklung. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

62                     

Lampiran 1

Instrumen Penelitian

63    No. Ururt Nama Siswa Aspek Penilaian Jumlah Skor Teknik Pembawaan K ete p ata n Ri tm

is Posisi dan Cara

Memegang Angklung Cara Membunyikan Angklung K ekom pa ka n Si kap 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

64      No Indikator Penilaian Skor Penjabaran 1. Ketepatan Ritmis

4 Ketetapan ritmis yang tepat dalam memainkan

notasi dalam partitur ≥81%

3 Ketetapan ritmis yang tepat dalam memainkan

notasi dalam partitur ≥61% - 80%

2 Ketetapan ritmis yang tepat dalam memainkan

notasi dalam partitur ≥41% - 60%

1 Ketetapan ritmis yang tepat dalam memainkan

notasi dalam partitur ≤40%

2.

Posisi Memegang

Angklung

4

Posisi memegang angklung yang tepat ≥81% 3

Posisi memgang angklung yang tepat ≥61% - 80% 2 Posisi memegang angklung yang tepat ≥41% -

60% 1

Posisi memegang angklung yang tepat ≤40%

3.

Cara Membunyikan

Angklung

4 Cara membunyikan angklung yang tepat dalam

memainkan nada sesuai dengan partitur ≥81%

3 Cara membunyikan angklung yang tepat dalam

memainkan nada sesuai dengan partitur ≥61% - 80%

2 Cara membunyikan angklung yang tepat dalam

memainkan nada sesuai dengan partitur ≥41% - 60%

1 Cara membunyikan angklung yang tepat dalam

memainkan nada sesuai dengan partitur ≤40%

4. Kekompakan

4 Kekompakan saat memainkan lagu secara

bersama-sama ≥81%

3 Kekompakan saat memainkan lagu secara

bersama-sama ≥61% - 80%

2 Kekompakan saat memainkan lagu secara

bersama-sama ≥41% - 60%

1 Kekompakan saat memainkan lagu secara

65   

5. Sikap

3 Sikap dalam bermain angklung secara

bersama-sama ≥61% - 80%

2 Sikap dalam bermain angklung secara

bersama-sama ≥41% - 60%

1 Sikap dalam bermain angklung secara

bersama-sama ≥40%

     

66   

Lampiran 2

Dokumen terkait