• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

G. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan antara tingkat signifikan (Sig) dengan tingkat kesalahan (α) = 2,5% (0,025). Berdasarkan tabel 4.7 dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengujian hipotesis yang pertama dengan kriteria pengujiannya menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 7,5 % atau taraf signifikansi 2,5 % (α = 0,025).

Dalam penelitian ini untuk variabel Kualitas Audit terdapat sig sebesar 0,505

> 0,025 H1 ditolak maka variabel Kualitas Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern.

2. Pengujian hipotesis yang kedua dengan kriteria pengujiannya menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 7,5 % atau taraf signifikansi 2,5 % (α = 0,025).

Dalam penelitian ini untuk variabel Pertumbuhan Perusahaan terdapat sig

sebesar 0,017 < 0,025 H2 diterima maka variabel Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern 3. Pengujian hipotesis yang ketiga dengan kriteria pengujiannya menggunakan

tingkat kepercayaan sebesar 7,5 % atau taraf signifikansi 2,5 % (α = 0,025).

Dalam penelitian ini untuk variabel Debt Default terdapat sig sebesar 0,639 >

0,025 H3 ditolak maka variabel Debt Default tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

4. Pengujian hipotesis yang keempat dengan kriteria pengujiannya menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 7,5 % atau taraf signifikansi 2,5 % (α = 0,025). Dalam penelitian ini untuk variabel Opini Audit Tahun Sebelumnya terdapat sig sebesar 0,009 < 0,025 H4 diterima maka variabel Opini Audit Tahun Sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern.

5. Pengujian hipotesis yang kelima dengan kriteria pengujiannya menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 7,5 % atau taraf signifikansi 2,5 % (α = 0,025).

Dalam penelitian ini untuk variabel Return On Asset terdapat sig sebesar 0,565

> 0,025 H5 ditolak maka variabel Return On Asset tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern.

H. Uji Klasifikasi

Uji klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan penerimaan opini audit going concern pada perusahaan.

Nilai matrik klasifikasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.8

Uji Klasifikasi Classification Tablea

Observed Predicted

Audit Going Concern Percentage Correct

Classification Table merupakan tabel kontingensi 2 x 2 yang seharusnya terjadi atau disebut juga frekuensi harapan berdasarkan data empiris variabel dependen, dari tabel diatas dapat dikatakan bahwa prekdisi sebanyak 59 perusahaan tidak memperoleh opini audit going concern, sedang dari hasil analisis terdapat 46 perusahaan, atau tingkat prekdisi klasifikasi 78%. Sementara perusahaan yang menerima opini audit going concern diprekdisi sebesar 33 perusahaan, sedangkan dari hasil analisi terdapat 25 perusahaan yang menerima opini audit going concern atau tingkat prekdisi sebesar 58,1. Total ketepatan klasifikasi atau kekuatan prekdisi sebesar 69,6%

I Pembahasan

1. Pengaruh Positif Kualitas Audit Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern.

Hasil dari pengujian variabel kualitas audit menunjukan koefisien regresi negative sebesar -0,316 dengan tingkat signifikasi 0,505 karena tingkat signifikasi yang dimiliki oleh variabel indenpenden lebih besar dari 0,025 maka variabel kualitas audit ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas audit yang diproksikan dengan skala KAP big four dan KAP non big four tidak berpengaruh signifikan dengan koefisien (beta) negatif terhadap penerimaan opini audit going concern. Hal ini dikarenakan ketika sebuah KAP sudah memiliki reputasi yang baik, maka KAP tersebut akan berusaha mempertahankan reputasinya itu dan menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa merusak reputasinya tersebut, sehingga mereka akan selalu bersikap objektif terhadap pekerjaannya (Suharsono, 2018)

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Clara et al., (2017) yang menunjukan variabel kualitas audit yang diproksikan dengan KAP The Big Four tidak berpengaruh. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kualitas audit tidak dapat dijadikan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan opini audit going concern. Meskipun pada kenyataanya banyak perusahaan dan investor yang hanya menggunakan jasa dari KAP yang termasuk big four saja karena ada tanggapan hasil opini audit lebih dipercaya dibandingkan KAP yang tidak termasuk kedalam big four.

2. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Hasil dari pengujian variabel Pertumbuhan Perusahaan menunjukan koefisien regresi negative sebesar -1,273 dengan tingkat signifikasi 0,017 karena tingkat signifikasi yang dimiliki oleh variabel indenpenden lebih kecil dari 0,025 Penelitian ini membuktikan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan berpengaruh dengan koefisien (beta) positif terhadap penerimaan opini audit going concern.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori dan penelitian terdahulu. Pertumbuhan perusahaan digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonomi di dalam industrinya. Data pertumbuhan perusahaan dalam penelitian ini adalah rasio pertumbuhan penjualan. Naiknya volume penjualan menunjukkan indikasi adanya kemampuan perusahaan yang semakin meningkat dalam menghasilkan laba. Jika laba semakin kecil kemungkinan perusahaan akan mendapatkan opini audit going concern. (Arma,2013)

Penelitian ini konsisten dengan penelitian Suharsono, (2018) Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan perusahaan dengan tingkat rasio yang besar, maka akan semakin kecil kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit going concern.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Suparmun, (2014) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Hasil yang tidak signifikan disebabkan peningkatan penjualan bersih tidak menjamin peningkatan laba bersih setelah pajak yang diterima oleh auditee

3. Pengaruh Debt Default Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Hasil dari pengujian variabel Debt Default menunjukan koefisien regresi positif sebesar 0,236 dengan tingkat signifikasi 0,639 karena tingkat signifikasi yang dimiliki oleh variabel indenpenden lebih besar dari 0,025. Maka debt default tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern. Hal ini tidak sesuai dengan konsep teori yang menyatakan bahwa perusahaan yang mengalami status debt default karen perusahaan setiap tahun membayar cicilan hutang, sehingga debt default tidak mempengaruhi penerimaan opini audit going concern. (Osesoga & Hinarno, 2016)

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Clara et al., (2017) menunjukan bahwa debt default berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Hal ini mungkin dikarenakan kegagalan perusahaan untuk memenuhi kewajiban utang dan atau bunga pada saat jatuh tempo serta mengalami kesulitan dalam pembayaran kewajiban sehingga akan mempengaruhi perusahaan dalam menjalankan usahanya. Debt default merupakan indikator yang digunakan oleh auditor dalam menilai kalangsungan hidup suatu usaha.

4. Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Hasil dari pengujian variabel Opini Audit Tahun Sebelumnya menunjukan koefisien regresi positif sebesar 1.215dengan tingkat signifikasi 0,009karena tingkat signifikasi yang dimiliki oleh variabel indenpenden lebih kecil dari 0,025, maka variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.

Hal ini disebabkan karena dengan pemberian opini audit going concern pada tahun sebelumnya, Perusahaan kehilangan kepercayaan dari pihak ekternal mengenai kelangsungan hidup usaha perusahaan sehingga akan mempersulit manajemen untuk memperbaiki kinerja perusahaan yang sempat terpuruk pada tahun berjalan. (Arsianto dan Rahardjo, 2013)

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wati,K,K (2017) Opini audit tahun sebelumnya tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern, hal ini bahwa opini audit tahun sebelumnya belum tentu menjadi pertimbangan bagi auditor untuk memberikan opini audit going concern kembali pada perusahaan, tetapi auditor lebih melihat kondisi-kondisi yang menyebabkan auditor menerbitakan opini audit going concern. Seperti jatuhnya harga saham, hilangnya kepercayaan dari publik akan kelangsungan hidup perusahaan termasuk investor sehingga menyulitkan bagi perusahaan untuk dapat bangkit kembali dari kondisi yang tidak baik.

5. Pengaruh Return On Asset Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern Hasil dari pengujian variabel Return On Asset menunjukan koefisien regresi negative sebesar -0,005dengan tingkat signifikasi 0,565 karena tingkat signifikasi yang dimiliki oleh variabel indenpenden lebih besar dari 0,025, maka variabel Return On Asset berpengaruh negative terhadap penerimaan opini audit going concern.

Hal ini disebabkan karena pada saat auditor melakukan analisis keuangan suatu perusahaan, banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh auditor untuk memberikan

suatu opini audit. Hal yang dipertimbangkan oleh auditor bukan hanya didasarkan pada tingkat return on asset saja, tetapi auditor menilai laporan keuangan perusahaan dengan berdasarkan PSAK yang berlaku. Ratih, (2016)

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristiana (2012) yang menunjukan bahwa return on asset tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern hal ini bahwa semakin besar ROA maka semakin besar potensi menerbitkan opini audit going concern bearti manajemen perusahaan efektif dan efisien dalam mengelola asset perusahaan untuk menghasilkan laba, sebaliknya semakin rendah ROA bearti manajemen perusahaan kurang efektif dan efisien dalam mengelola aset-aset yang ada untuk menghasilkan laba sehingga auditor memiliki keraguan terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan menerbitka opini audit going concern

Bab V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait