• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODELOGI PENELITIAN

3. Pengujian adanya Heteroskedastisitas

4.5. Pengujian Hipotesis

4.5.2. Uji Hipotesis Secara Parsial

Selanjutnya untuk mengetahui secara parsial antara Variabel Unit usaha (X1) terhadap Penyerapan Tenaga Kerja(Y) digunakan uji t dengan langkah – langkah sebagai berikut :

H1 : 1 0 ( ada pengaruh antara variabel X1 dengan variabel Y ) b. 2  = 0,05/2 = 0,025 dengan df = n – k – 1 = 15 – 5 – 1 = 9 c. thitung = ) ( 1 Se 1   = 97.586 288.385 = 2,955 d. ttabel ( 2  = 0,025) = 2,262 e. Pengujian hipotesis : Gambar 2 : kurva Distribusi Penolakan dan Penerimaan Hipotesis secara

parsial untuk variabel X1.

Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho thitung = 2,955 ttabel = 2,262

Dari perhitungan secara parsial diperoleh thitung = 2,955 sedangkan ttabel = 2,262 pada df = 9 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Karena thitung > ttabel

maka Ho ditolak dan H1 diterima. Sehingga secara parsial Unit Usaha (X1) berpengaruh signifikan dan berhubungan positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y). Sedangkan Nilai Koefisien Determinasi Parsial ( r2 ) untuk Unit Usaha sebesar 0,6832 = 0,467 yang berarti dapat menunjukkan bahwa Penyerapan Tenaga Kerja mampu dijelaskan oleh variabel Unit Usaha hingga 46.7%. Sedangkan sisanya sebesar 53.3% dijelaskan oleh faktor lain..

Selanjutnya untuk mengetahui adanya pengaruh antara variabel PDRB (X2) terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y) digunakan uji t dengan langkah – langkah sebagai berikut :

a. Ho : 2 = 0 (tidak ada pengaruh antara varible X2 dengan variabel Y) H1 : 2  0 (ada pengaruh antara variabel X2 dengan variabel Y) b. 2 = 0,025 dengan df = 9 c. thitung = ) ( 2 2   Se = 0.003 0.001 = 0,500 d. ttabel ( 2  = 0,025) = 2,262 e. Pengujian Hipotesis :

Gambar 3 : Kurva Distribusi Penolakan dan Penerimaan Hipotesis secara Parsial untuk variabel X2.

Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho ttabel = 2,262 ttabel = 2,262 thitung = 0,500

Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh thitung = 0,500 sedangkan ttabel = 2,262 pada df = 9 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,05. Karena thitung

lebih kecil dari ttabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak. Sehingga secara parsial PDRB (X2) tidak berpengaruh signifikan dan berhubungan positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y).

Nilai Koefisien determinasi parsial ( r2 ) parsial untuk PDRB sebesar 0,1562 = 0,024 yang berarti dapat menunjukkan bahwa kontribusi pengaruh variabel PDRB Terhadap variabel Penyerapan Tenaga Kerja sebesar 2.4%. Sedangkan sisanya sebesar 97.6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model.

Selanjutnya untuk mengetahui secara parsial antara Variabel Penyerapan Tenaga Kerja (X3) terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y) digunakan uji t dengan langkah – langkah sebagai berikut :

a. Ho : 3 = 0 ( tidak ada pengaruh antara variabel X3, dengan variabel Y ) H1 : 3 0 ( ada pengaruh antara variabel X3 dengan variabel Y ) b. 2  = 0,05/2 = 0,025 dengan df = n – k – 1 = 15 – 5 – 1 = 9 c. thitung = ) ( 3 3   Se = 0.000 0.00000122 = 2,231 d. ttabel ( 2  = 0,025) = 2,262 e. Pengujian hipotesis :

Gambar 4 : kurva Distribusi Penolakan dan Penerimaan Hipotesis secara parsial untuk variabel X3.

thitung = 2,231 ttabel = 2,262 Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho

Dari perhitungan secara parsial diperoleh thitung = 2,231 sedangkan ttabel = 2,262 pada df = 5 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Karena thitung > ttabel

maka Ho ditolak dan H1 diterima. Sehingga secara parsial Investasi berpengaruh signifikan dan berhubungan positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y).

Sedangkan Nilai Koefisien Determinasi Parsial ( r2 ) untuk Penyerapan Tenaga Kerja sebesar 0,5772 = 0,333 yang berarti dapat menunjukkan bahwa Penyerapan Tenaga Kerja mampu dijelaskan oleh variabel Penyerapan Tenaga Kerja hingga 33,3%. Sedangkan sisanya sebesar 66,7% dijelaskan oleh faktor lain.

Selanjutnya untuk mengetahui secara parsial antara Variabel Nilai output tenaga kerja (X4) terhadap Penyerapan Tenaga Kerja(Y) digunakan uji t dengan langkah – langkah sebagai berikut :

a. Ho : 4 = 0 ( tidak ada pengaruh antara variabel X4, dengan variabel Y ) H1 : 4 0 ( ada pengaruh antara variabel X4 dengan variabel Y ) b. 2  = 0,05/2 = 0,025 dengan df = n – k – 1 = 15 – 5 – 1 = 9 c. thitung = ) ( 4 4   Se = 0.046 0.039 = 0,845 d. ttabel ( 2  = 0,025) = 2,262 e. Pengujian hipotesis :

Gambar 5 : kurva Distribusi Penolakan dan Penerimaan Hipotesis secara parsial untuk variabel X4.

Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho thitung = 0,845 ttabel = 2,262

Dari perhitungan secara parsial diperoleh thitung = 0.845 sedangkan ttabel = 2,262 pada df = 9 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Karena thitung < ttabel

maka Ho diterima dan H1 ditolak. Sehingga secara parsial Nilai output tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan dan berhubungan positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja (Y).

Sedangkan Nilai Koefisien Determinasi Parsial ( r2 ) untuk Nilai output tenaga kerja sebesar 0,2582 = 0,066 yang berarti dapat menunjukkan bahwa Penyerapan Tenaga Kerjamampu dijelaskan oleh variabel Nilai output tenaga kerja hingga 6.6%. Sedangkan sisanya sebesar 93.4% dijelaskan oleh faktor lain.

Kemudian untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh paling dominan keempat variabel bebas terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil Di Kabupaten Sidoarjo : Unit Usaha (X1), Investasi (X3), Nilai output tenaga kerja (X4), dan PDRB (X2) dapat diketahui dengan melihat koefisien determinasi parsial yang paling besar, dimana dalam perhitungan ditunjukkan oleh

variabel Unit Usaha (X1) dengan koefisien determinasi parsial (r2) sebesar 0,467 atau 46.7%.

4.4. Pembahasan

1. Secara simultan variabel bebas Unit Usaha (X1), PDRB (X2), Investasi (X3) dan Nilai output tenaga kerja (X4) berpengaruh secara simultan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo (Y) dengan Fhitung sebesar 19,995 > Ftabel 3,482 maka H0 ditolak dan H1 diterima.

2. Variabel Unit usaha (X1) berpengaruh positf terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo. Namun dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa apabila unit usaha kecil naik maka penyerapan tenaga kerja pada industri kecil di kabupaten Sidoarjo akan meningkat, hal ini sesuai dengan landasan teori. Hal ini disebabkan karena unit usaha kecil dan menengah memang selalu meningkat pada setiap tahun, ini diakrenakan pemerintah memberikan kemudahan di dalam pemberian kredit usaha kecil kepada para elaku ushaa kecil dan menengah sehingga para pelaku usaha kecil dan menengah dapet mengembangkan usahanya menjadi lebih besar dan dapat banyak menyerap tenaga kerja.

3. Variabel PDRB (X2) tidak berpengaruh positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo. Namun dari hasil yang menunjukkan bahwa apabila PDRB menurun maka Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo akan naik, ini tidak sesuai dengan landasan teori. Jika PDRB menurun maka tingkat pendapatan masyarakat menurun, dengan menurunnya tingkat pendapatan akan menaikkan tingkat

penyerapan tenaga kerja di kabupaten Sidoarjo. Tingkat PDRB di Sidoarjo menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh dikarenakan berbagai macam faktor-faktor eksternal yang terjadi di kabupaten Sidoarjo yaitu bencana alam lumpur Lapindo yang banyak mematikan sektor-sektor usaha besar, menengah dan kecil karena banyak pabrik-pabrik dan usaha-usaha kecil dan menengah yang terendam lumpur Lapindo serta menghambat sektor transortasi atau lalu lintas jalur pengiriman barang. Hal ini yang menyebabkan tingkat PDRB kabupaten Sidoarjo menurun juga, dengan menurunnya tingkat pendapatan masyarakat serta tingkat kebutuhan hidup yang tinggi menyebabkan para penduduk akan berusaha untuk mencari pekerjaan sehingga tingkat penyeraan akan naik.

4. Variabel Investasi (X3) berpengaruh positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo. Namun dari hasil yang menunjukkan bahwa apabila investasi naik maka Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo akan naik, ini sesuai dengan landasan teori. Hal ini disebabkan banyaknya investor yang menanamkan investasi di kabupaten Sidoarjo walau banyak masalah yang terjadi di kabupaten Sidoarjo serta pemerintah memberikan modal atau kredit kepada para pelaku usaha kecil dan menengah, dengan adanya investor atau kredit dari pemerintah dapat memberikan suntikan modal kepada para pelaku usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usahanya. Para pelaku usaha kecil tetap bisa mengembangkan usaha kecil dan menyerap tenaga kerja lebih banyak.

5. Variabel Nilai output tenaga kerja (X4) tidak berpengaruh positif terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo. Namun dari hasil yang menunjukkan bahwa nilai output tenaga kerja menurun maka Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kabupaten Sidoarjo akan naik, hal ini tidak sesuai dengan landasan teori. Hal ini disebabkan karena semakin sedikitnya tenaga kerja yang mempunyai skill dan kemampaun menyebabkan banyak usaha-usaha kecil dan menengah mencari para pekerja dengan tingkat skill dan kemamuan yang sesuai dengan kebutuhan pekerja pada usaha kecil dan menengah.

5.1. Kesimpulan

Dari hasil analisis dan pembahasan pada bab IV sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a. Secara simultan bahwa Unit Usaha, PDRB, Investasi dan Nilai output tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja sebagai variabel terikat, karena memiliki nilai Fhitung yang lebih besar dari Ftabel.

b. Variabel Unit Usaha terbukti berpengaruh secara dominan terhadap penyerapan tenaga kerja.

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini, maka saran-saran yang dapat disampaikan oleh peneliti adalah :

a. Hendaknya pemerintah kabupaten Sidoarjo menciptak iklim investasi yang kondusif sehingga para investor tertarik untuk berinvestasi di kabupaten Sidoarjo makin banyak.

b. Dalam rangka mengurangi angka pengangguran yang semakin tahun semakin tinggi, hendaknya pihak industri melalui investasinya lebih banyak menciptakan jumlah lapangan kerja baru.

c. Untuk penelitian selanjutnya mengenai Penyerapan tenaga kerja pada industri kecil hendaknya peneliti menambahkan dengan faktor-faktor lain serta menambahkan rentan waktu penelitian agar diperoleh hasil penelitian yang lebih baik lagi.

Dokumen terkait