• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

3. Uji Hipotesis

Uji statistik ini digunakan untuk membuktikan signifikan atau tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas secara individual (parsial) sebagai berikut:

{ }1/2 Keterangan:

r =korelasi produk momen n =jumlah responden

jika thitung> ttabel pada tingkat kesalahan tertentu misalnya 5%

(0,05) maka terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas yaitu X dengan variabel terikat yaitu Y, begitu sebaliknya (Asnawi, 2011:182).

b. Uji-F

Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat (Asnawi, 2011:182).

( )( ) Keterangan:

F = pendekatan distribusi probabilitas fischer R = koefisien korelasi berganda

K = jumlah variabel bebas n = Banyaknya sampel

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua variable independent yang terdapat di dalam model secara bersama-sama (simultan) terhadap variable independen.Dengan tingkat signifikansi sebesar 5% nilai F ratio dari masing‐masing koefisien regresi kemudian dibandingkan dengan nilai t tabel. Jika F rasio > F table atau prob‐sig <a = 5% berarti bahwa masing-masing variable independent berpengaruh secara positif terhadap dependen.

c. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketepatan paling baik dalam analisis regresi, dimana hal yang ditunjukan oleh besarnya koefisien determinasi (R2) antara 0 dan 1.

Koefisien determinasi ini ditunjukkan dengan R square dalam model

47

summary yang dihasilkan oleh program SPSS 21. Apabila nilai R2 semakin mendekati angka 1, maka model regresi dianggap semakin baik karena variabel independen yang dipakai dalam penelitian ini mampu menjelaskan variabel dependennya.

48 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Sejarah Organisasi

1. Gambaran Umum

Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Dharmasraya adalah sebuah instansi Pemerintah yang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah pada tanggal 19 juni sebagai Pengganti Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah maka Pemerintah Kabupaten Dharmasraya telah melakukan penataan perangkat daerah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan daerah dengan ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Dharmasraya Nomor 6 Tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan Perangkat Daerah Kabupaten Dharmasraya.

BKD mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan dan tugas pembantuan yang diberikan kepada daerah. Dalam melaksanakan tugasnya BKD mempunyai fungsi seperti penyusunan kebijakan teknis urusan penunjang keuangan, Pelaksanaan tugas dukungan teknis urusan penunjang keuangan, Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis urusan penunjang keuangan, Pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi-fungsi penunjang urusan pemerintahan daerah bidang keuangan dan Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati terkait dengan tugas dan fungsinya.

BKD Kabupaten Dharmasraya juga memiliki visi yaitu menjadi SKPD yang handal dalam mengoptimalkan pendapatan daerah dan profesional dalam mengelola keuangan dan aset daerah. Untuk mewujudkan visi tersebut ditempuh melalui sebuah misi yaitu meningkatkan pendapatan asli daerah dalam rangka memperkuat kapasitas fiskal daerah dan mengelola keuangan dan aset daerah secara profesional dengan memperhatikan azas tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab,

49

serta memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

Adapun Struktur Organisasi Badan Keuangan Daerah adalah sebagai berikut :

a. Kepala Badan b. Sekretariat

Sekretariat terdiri dari :

1) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2) Sub Bagian Keuangan dan Pelaporan

3) Sub Bagian Program dan Teknologi Informasi c. Bidang Perbendaharaan

Bidang Perbendaharaan terdiri dari : 1) Sub Bidang Belanja Langsung 2) Sub Bidang Belanja Tidak Langsung d. BidangAkuntansi

Bidang Akuntansi terdiri dari : 1) Sub Bidang Akuntansi Umum

2) Sub Bidang Akuntansi Perangkat Daerah 3) Sub Bidang Pelaporan Keuangan

e. Bidang Perencanaan dan Evaluasi Pendapatan

Bidang Perencanaan dan Evaluasi Pendapatan terdiri dari : 1) Sub Bidang Perencanaan Pendapatan

2) Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan Pendapatan 3) Sub Bidang Informasi dan Dokumentasi Pendapatan f. Bidang Pendapatan Daerah

Bidang Pendapatan terdiri dari : 1) Sub Bidang PBB dan BPHTB 2) Sub Bidang PAD

3) Sub Bidang Pendapatan Lain-Lain

g. Bidang Anggaran

Bidang Anggaran terdiri dari : 1) Sub Bidang Kebijakan Anggaran 2) Sub Bidang Penyusunan Anggaran

3) Sub Bidang Perencanaan Anggaran PPKD h. Bidang Aset

Bidang Aset terdiri dari :

1) Sub Bidang Penatausahaan dan Pelaporan Aset

2) Sub Bidang Perencanaan Kebutuhan, Pengendalian dan Pemanfaatan Aset

3) Sub Bidang Penghapusan, Pemindahtanganan dan Penilaian Aset i. UPT

j. Kelompok Jabatan Fungsional

Gambar 4. 1

Struktur Organisasi Badan Keuangan Daerah (BKD) KabupatenDharmasraya

51

B. Analisis Deskriptif

1. Karakteristik Responden

Kuesioner penelitian disebar kepada 31 responden yaitu Pegawai Negri Sipil Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Dharmasraya.

Karakteristik responden yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, pendidikan dan usia responden. Setelah kuesioner disebar maka didapatkan karakteristik responden seperti berikut ini:

a. Karakteristik berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin terhadap 41 responden dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4. 1

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 12 38,71 %

Perempuan 19 61,29%

Total 31 100,0

Sumber : Data Primer yang diolah 2019

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 12 responden (38,71%) dan responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 19 responden (61,29%).

Dapat disimpulkan bahwa mayoritas pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya berjenis kelamin perempuan.

b. Karakteristik berdasarkan pendidikan

Hasil frekuensi jawaban responden berdasarkan pendidikan dikelompokkan menjadi 6 kelompok tingkat pendidikan yang dijelaskan dalam tabel 4.2 berikut :

Tabel 4. 2

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Persentase

SMP 0 0 %

SMA 1 3,22 %

D3 2 6,45 %

S1 17 54,84 %

S2 11 35, 48 %

S3 0 0%

Total 31 100,0 %

Sumber : Data Primer yang diolah 2019

Berdasarkan hasil jawaban responden pada tabel 4.2 terdapat sejumlah 0 responden (0%) yang memiliki pendidikan SMP dan pendidikan Doktor (S3), sebanyak 1 responden (3,22%) memiliki pendidikan SMA, 2 responden (6,45 %) memiliki pendidikan Diploma, 17 responden (54,84 %) memiliki pendidikan S1 dan sebanyak 11 responden (35, 48 %) memiliki pendidikan terakhir Magister (S2). Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pegawai BKD Kabupaten Dharmasraya memiliki pendidikan terakhir sarjana (S1), artinya pegawai memiliki kualitas dan integritas yang lebih baik karena dibekali teori dan praktik yang cukup mumpuni. Sehingga akan menunjang kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya meningkat.

c. Karakteristik berdasarkan usia

Hasil frekuensi jawaban responden berdasarkan pendidikan dikelompokkan menjadi 4 kelompok tingkat pendidikan yang dijelaskan dalam tabel 4.3 berikut :

53

Tabel 4. 3

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi Persentase

< 20 Tahun 0 0 %

20 – 30 Tahun 0 0 %

30 - 40 Tahun 15 48,39 %

> 40 Tahun 16 51,62 %

Total 31 100,0 %

Sumber : Data Primer yang diolah 2019

Berdasarkan hasil jawaban responden terdapat sejumlah 0 responden (0%) yang berusia < 20 tahun, sebanyak 0 responden (0%) berusia 20- 30 tahun, sebanyak 15 responden (48,39 %) berusia 30- 40 tahun, dan 16 responden (51,62 %) berusia > 40 tahun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pegawai BKD Kabupaten Dharmasraya berusia > 40 tahun, artinya pada rentang usia > 40 tahun karyawan memiliki pengalaman, kepercayaan diri yang tinggi, dan keterampilan yang menjadi faktor utama keunggulan dalam bekerja.

2. Deskriptif Variabel Penelitian a. Disiplin Preventif

Sumber: data primer (diolah) 2019 Diagram 4. 1

Berdasarkan hasil angket dilihat dari Diagram 4.1 diperoleh jumlah jawaban untuk variabel disiplin preventif adalah sebesar 20,35%

responden mengatakan selalu, 59,80% responden mengatakan sering, 19,85% responden mengatakan kadang-kadang, 0% responden mengatakan jarang dan 0% responden mengatakan tidak pernah. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa deskriptif variabel disiplin preventif memiliki kategori sering yang menunjukkan bahwa disiplin pegawai BKD Kabupaten Dharmasraya belum maksimal, hal ini terlihat dari masih ada beberapa karyawan yang datang terlambat, belum menaati peraturan kerja dan standar kerja.

b. Disiplin Korektif

Sumber: data primer (diolah) 2019 Diagram 4. 2

Deskriptif Variabel Disiplin Korektif

Berdasarkan hasil angket dilihat dari Diagram 4.2 diperoleh jumlah jawaban untuk variabel disiplin korektif adalah sebesar 14,92% responden mengatakan selalu, 41,94% responden mengatakan sering, 35,08% responden mengatakan kadang-kadang, 5,24% responden mengatakan jarang dan 2,82% responden mengatakan tidak pernah. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa deskriptif variabel disiplin korektif memiliki kategori sering yang menunjukkan

2,82% 5,24%

55

bahwa masih ada pegawai BKD Kabupaten Dharmasraya belum merasa sadar akan tentang sanksi yang membuat mereka menjadi jera.

c. Kinerja Pegawai

Sumber: data primer (diolah) 2019 Diagram 4. 3

Deskriptif Variabel Kinerja Pegawai

Berdasarkan hasil angket dilihat dari Diagram 4.3 diperoleh jumlah jawaban untuk variabel kinerja pegawai adalah sebesar 33,55% responden mengatakan selalu, 43,01% responden mengatakan sering, 23,44% responden mengatakan kadang-kadang, 0,0% responden mengatakan jarang dan 0% responden mengatakan tidak pernah. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa deskriptif variabel kinerja pegawai memiliki kategori sering yang menunjukkan bahwa masih ada pegawai BKD Kabupaten Dharmasraya belum maksimal, hal ini dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas kerja pegawai yang sudah baik, akan tetapi belum di atas standar yang ditentukan oleh BKD Kabupaten Dharmasraya.

0% 0,00%

23,44%

43,01%

33,55%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

C. Uji Instrumen Angket 1. Uji Validitas Instrumen

Angket atau kuesioner peneliti sebarkan kepada 31 orang responden atau pegawai Badan Keuangan Daerah Kabupaten Dharmasraya, pada hari Senin 17 September 2019. adapun angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Angket Disiplin Preventif

Angket ini digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh disiplin preventif terhadap kinerja pegawai. Untuk pernyataan angket, maka skornya dapat dilihat di tabel 4.4

Berdasarkan hasil validitas uji coba angket disiplin preventif yang dilakukan menggunakan teknik korelasi pearson ini diperoleh hasil yaitu 13 butir pernyataan pada angket. Berikut hasil validitas angket disiplin preventif dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel 4. 4

Hasil Validitas Angket Disiplin Preventif No. Butir

Angket rhitung rtabel Kategori

1 0,716 0,3550 Valid

2 0,490 0,3550 Valid

3 0,783 0,3550 Valid

4 0,716 0,3550 Valid

5 0,382 0,3550 Valid

6 0,399 0,3550 Valid

7 0,570 0,3550 Valid

8 0,783 0,3550 Valid

9 0,609 0,3550 Valid

10 0,609 0,3550 Valid

11 0,637 0,3550 Valid

12 0,492 0,3550 Valid

13 0,575 0,3550 Valid

57

Sumber: data uji coba instrument angket (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa untuk disiplin preventif untuk ke 13 item pernyataan dinyatakan valid karena rhitung

> rtabel.

b. Angket Disiplin Korektif

Angket ini digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh disiplin korektif terhadap kinerja pegawai. Untuk pernyataan angket, maka skornya dapat dilihat di tabel 3.10.

Berdasarkan hasil validitas uji coba angket disiplin korektif yang dilakukan menggunakan teknik korelasi pearson ini diperoleh hasil yaitu 8 butir pernyataan pada angket. Berikut hasil validitas angket disiplin korektif dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel 4. 5

Hasil Validitas Angket Disiplin Korektif No. Butir

Angket rhitung rtabel Kategori

1 0,540 0,3550 Valid

2 0,550 0,3550 Valid

3 0,686 0,3550 Valid

4 0,777 0,3550 Valid

5 0,690 0,3550 Valid

6 0,607 0,3550 Valid

7 0,548 0,3550 Valid

8 0,625 0,3550 Valid

Sumber: data uji coba instrument angket (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa untuk variabel disiplin korektif untuk ke 8 item dinyatakan valid karena rhitung > rtabel.

c. Angket Kinerja Pegawai

Angket ini digunakan untuk melihat seberapa besarnya pengaruh terhadap kinerja pegawai pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Dharmasraya. Untuk pernyataan angket, maka skornya dapat dilihat di tabel 3.10.

Berdasarkan hasil validitas uji coba angket kinerja pegawai yang dilakukan menggunakan teknik korelasi pearson ini diperoleh hasil yaitu 15 butir pernyataan pada angket. Berikut hasil validitas angket kinerja pegawai dapat dilihat pada table di bawah ini :

Tabel 4. 6

Hasil Validitas Angket Kinerja Pegawai No.

Butir Angket

rhitung rtabel Kategori

1 0,646 0,3550 Valid

2 0,683 0,3550 Valid

3 0,516 0,3550 Valid

4 0,768 0,3550 Valid

5 0,712 0,3550 Valid

6 0,719 0,3550 Valid

7 0,532 0,3550 Valid

8 0,734 0,3550 Valid

9 0,816 0,3550 Valid

10 0,645 0,3550 Valid

11 0,777 0,3550 Valid

12 0,638 0,3550 Valid

13 0,643 0,3550 Valid

14 0,610 0,3550 Valid

15 0,481 0,3550 Valid

59

Sumber: data uji coba instrument angket (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.6 dapat disimpulkan bahwa untuk variabel disiplin korektif ke 15 item dinyatakan valid karena rhitung > rtabel.

2. Uji Reabilitas Instrumen

Berikut hasil uji reliabilitas angket yang telah peneliti lakukan dengan menggunakan SPSS 21 :

a. Angket Disiplin Preventif

Tabel 4. 7

Hasil Reliabilitas Disiplin Preventif Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

,843 13

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21 Dari tabel 4.7 dapat dilihat hasil reabilitas yang dilakukan terhadap angket disiplin preventif adalah nilai cronbach's alpha 0,843 lebih besar > 0,60, dapat disimpulkan bahwa angket uji coba kinerja pegawai memiliki reabilitas baik.

b. Angket Disiplin Korektif

Tabel 4. 8

Hasil Reliabilitas Disiplin Korektif Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

,773 8

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.8 dapat dilihat hasil reabilitas yang dilakukan terhadap angket disiplin korektif adalah nilai cronbach's alpha 0,773 lebih besar > 0,60, dapat disimpulkan bahwa angket uji coba kinerja pegawai memiliki reabilitas baik.

c. Angket Kinerja Pegawai

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.9 dapat dilihat hasil reabilitas yang dilakukan terhadap angket kinerja pegawai adalah nilai cronbach's alpha 0, 902 lebih besar > 0,60, dapat disimpulkan bahwa angket uji coba kinerja pegawai memiliki reabilitas baik.

Berdasarkan uji validitas dan uji reliabilitas yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa angket disiplin preventif untuk ke 13 item pernyataan dapat digunakan , untuk disiplin korektif untuk ke 8 item pernyataan dapat digunakan, untuk variabel kinerja pegawai untuk ke 8 item pernyataan dapat digunakan,. jadi total item pernyataan dalam penelitian ini adalah 36 pernyataan.

D. Analisis Data

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, semuia variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual terdistribusi secara normal (Priyatno, 2014: 90)

Uji normalitas diujikan pada masing-masing variabel penelitian yang meliputi: disiplin preventif, disiplin korektif dan kinerja pegawai. Pengujian normalitas menggunakan kolmogrov-smirnov dan untuk perhitungannya menggunakan SPSS 21 for windows. Data dikatakan berdistribusi normnal apabila nilai signifikasi lebih besar dari

61

0,05 pada taraf signifikani = 0,05. Hasil uji normalitas untuk masing-masing variabel dan variabel penelitian disajikan berikut ini:

Tabel 4. 10 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz

ed Residual

N 31

Normal Parametersa,b

Mean ,0000000

Std.

Deviation

5,44757401

Most Extreme Differences

Absolute ,115

Positive ,074

Negative -,115

Kolmogorov-Smirnov Z ,642

Asymp. Sig. (2-tailed) ,804

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.10 hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai signifikan (Asymp.Sig 2-Tailed) mempunyai nilai sebesar 0,804, karena signifikansi lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.

Uji normalitas yang dilakaukan dengan melihat grafik Normal P-P Plot Of Regression Residual yang dapat dilihat melalui grafik dibawah ini:

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21 Gambar 4. 2

Hasil Uji Normalitas Grafik Normal P-P Plot

Berdasarkan gambar 4.2 uji normalitas dengan menggunakan Grafik Normal P-P Plot terlihat bahwa data tersebar disekitar garis diagonal dan menyebar disepanjang garis histogramnya.

Menurut Imam Ghozali (2011:161) model regresi dikatakan berdistribusi normal jika data ploting (titik-titik) yang menggambaran data sesungguhnya mengikuti garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian memiliki pola distribusi normal. Distribusi normal membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal.

b. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas artinya antar variabel independen yang terdapat dalam model regresi memiliki hubungan linear yang sempurna atau mendekati sempurna. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi sempurna atau mendekati sempurna di antara variabel

63

bebasnya. Konsekuensinya multikolinearitas adalah koefisien korelasi tidak tertentu dan kesalahan menjadi sangat besar.

Uji Multikolinearitas artinya antar variabel independen yang terdapat dalam model regresi memiliki hubungan linear yang sempurna atau mendekati sempurna (koefisien korelasinya tinggi atau bahkan Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi sempurna atau mendekati sempurna diantara variabel bebasnya.

Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien korelasi tidak tertentu dan kesalahan menjadi sangat besar (Priyatno, 2014: 99). Hasil uji Multikolinearitas untuk regresi pada penelitian ini disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. 11

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model Collinearity

Statistics Tolerance VIF (Constant)

Disiplin Preventif ,935 1,070 Disiplin Korektif ,935 1,070 a. Dependent Variable: Kinera Pegawai

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21 Dari tabel 4.11 memperlihatkan nilai tolerance dan VIF dari semua variable bebas. Nilai tolerance yang didapat adalah disiplin preventif dan disiplin korektif sama-sama 0,935 dan nilai VIF disiplin preventif dan disiplin korektif 1,070. Menurut Imam Ghozali (2011:

107 – 108) tidak terjadi gejala multikolinearitas, jika nilai tolerance

>0,100 dan VIF < 10,00. Dari semua variable memenuhi kriteria nilai tolerance besar dari 0,1 dan VIF kecil dari 10, artinya tidak terjadi multikolinearitas antar variable bebas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak sama pada semua pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang baik seharusnya tidak terjadi Heteroskedastisitas (Priyatno, 2014: 108).

Uji heteroskodastisitas dengan metode Scatterplot yaitu dengan meliahat sebaran pola titik pada scatterplot regresi. Heteroskedastisitas tidak terjadi jika titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka nol.

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21 Gambar 4. 3

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari gambar 4.3 dapat dilihat grafik Scatterplot dapat dilihat titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y. Menurut Imam Ghozali (2011: 139) tidak terjadi heteroskodastisitas, jika tidak ada polos yang jelas (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada gambar Scatterplot, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah anga 0 dan sumbu Y. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

65

heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi disiplin preventif dan disiplin korektif berdasrkan variabel dependen yaitu kinerja pegaawai

2. Analisis Regresi Linear Berganda

Uji ini berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil analisis regresi linear berganda adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 12

Rangkuman Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa

a. Dependent Variable: Kinera Pegawai

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21 Dari tabel 4.12 hasil analisis regresi dapat diketahui persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y= a+b1X1 + b2X2 Keterangan:

Y = Kinerja Pegawai a = Konstanta

X1` = Disiplin Kerja Preventif

X2` = Disiplin Kerja Korektif

b1 = Koefisein regresi untuk Disiplin Kerja Preventif b2 = Koefisien regresi untuk Disiplin Kerja Korektif

Y = 15,752 + 0, 325X1 + 1,001X2

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut maka hasil koefisien regresi dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

a. Besarnya nilai konstanta, yakni 15,752 dapat diartikan bahwa apabila semua variabel (disiplin preventif dan disiplin korektif) bernilai 0 (nol), maka kinerja pegawai bernilai 15,752

b. Besarnya nilai koefisien (b1), yakni 0,325 menunjukan apabila disiplin preventif (variabel X1) berubah satu satuan maka kinerja pegawai akan mengalami perubahan sebesar 0,325 dengan asumsi variabel lain (disiplin korektif) tetap. Koefisien disiplin preventif bernilai positif, maka disiplin preventif berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya. Peningkatan satu satuan disiplin preventif akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 0,325. Dan sebaliknya penurunan satu satuan disiplin preventif akan menurunkan kinerja pegawai sebesar 0,325. Jika disiplin preventif meningkat, maka kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya juga akan meningkat.

c. Besarnya nilai koefisien (b2), yakni 1,001 menunjukan apabila disiplin korektif (variabel X2) berubah satu satuan maka kinerja pegawai akan mengalami perubahan sebesar 1,001 dengan asumsi variabel lain (disiplin preventif) tetap. Koefisien disiplin korektif bernilai positif, maka disiplin korektif berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya. Peningkatan satu satuan disiplin korektif akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 1,001. Dan sebaliknya penurunan satu satuan disiplin korektif akan menurunkan kinerja pegawai sebesar 1,001. Jika disiplin korektif meningkat, maka kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya juga akan meningkat.

Berdasarkan persamaan regresi di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin preventif dan disiplin korektif terhadap kinerja pegawai di BKD

67

Kabupaten Dharmasraya yaitu positif, yang berarti ketika disiplin preventif dan disiplin korektif maka kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya juga akan meningkat.

3. Hipotesis a. Uji (T)

Uji T merupakan pengujian untuk menunjukkan pengaruh secara individu variabel bebas yang ada didalam model terhadap variabel terikat. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas menjelaskan variabel terikat. Apabila nilai thitung > ttabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat.

a. Dependent Variable: Kinera Pegawai

Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.13 didapatkan thitung dan signifikansi dari masing-masing variabel bebas. Menurut Menurut Imam Ghozali (2011:

101) jika nilai Sig. < 0,05 maka artinya variabel independen (X) secara persial berpengaruh terhadap variabel dependent (Y). Sedangkan menurut V Wiratna Sujawerni (2014:155), jika nilai thitung > ttabel maka artinya variabel independen (X) secara persial berpengaruh terhadap variabel dependent (Y). Selanjutnya thitung penelitian dibandingkan denagan ttabel dengan rumus mencari ttabel adalah = (α/2; n-k-1) = (0,05/2; 31-2-1) = (0,025 ; 28) maka didapatkan nilai dari ttabel adalah 2,048. dari tabel di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:

1) Disiplin Preventif

Hasil statistik uji t untuk variabel disiplin preventif (X1) diperoleh thitung sebesar 1,356 dan ttabel 2,048 dengan tingkat signifikan 0,05, karena thitung< ttabel (1,356< 2,048). Sedangkan untuk signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,186> 0,05). Maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi dapat disimpulkan disiplin preventif tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya

2) Disiplin Korektif

Hasil statistik uji t untuk variabel disiplin korektif (X2) diperoleh thitung sebesar 3,737 dan ttabel 2,048 dengan tingkat signifikan 0,05, karena thitung > ttabel (3,737 > 2,048). Sedangkan untuk signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,001< 0,05). Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan disiplin korektif berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya

b. Uji Simultan (Uji-F)

Analisis regresi berganda dengan menggunakan uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel yang meliputi disiplin preventif dan disiplin korektif secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya. Menurut Menurut Imam Ghozali (2011: 101) jika nilai Sig. < 0,05 maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel

69

dependent (Y). Sedangkan menurut V Wiratna Sujawerni (2014:155), jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara persial berpengaruh terhadap variabel dependent (Y). Selanjutnya Fhitung penelitian dibandingkan denagan Ftabel dengan rumus mencari ttabel adalah = (k;n-k) = (2; 31-2) = (2; 29) maka didapatkan nilai dari Ftabel adalah 2,028. dari tabel 4.8 dapat di jelaskan sebagai berikut:

Tabel 4. 14

a. Dependent Variable: Kinera Pegawai

b. Predictors: (Constant), Disiplin Korektif, Disiplin Preventif Sumber: data primer (diolah) menggunakan SPSS 21

Dari tabel 4.14 hasil pengujian diperoleh nilai Fhitung sebesar 7,068 dan Ftabel sebesar 3,34 dengan signifikan sebesar 0,003. Oleh karena Fhitung> Ftabel (7,068 > 3,34) dengan signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,003 < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa disiplin preventif dan disiplin korektif secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai di BKD Kabupaten Dharmasraya.

4. Uji Koefisien determinasi (R2)

Koefisien determinasi merupakan suatu alat untuk mengukur

Koefisien determinasi merupakan suatu alat untuk mengukur

Dokumen terkait