BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
F. Teknik Analisis Data
4. Uji Hipotesis
Uji hipotesis berguna untuk menguji apakah koefisien regresi yang didapat signifikan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini mengunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% atau α = 5%.
a. Uji Keberartian Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individu. Pengujian dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai t dapat dihitung menggunakan rumus:
t =
Keterangan:
R : koefisien korelasi variabel R2 : koefisien determinasi variabel n : jumlah data
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui apakah pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen sesuai hipotesis atau tidak.
1) Hipotesis stastistik untuk variabel Indeks Pembangunan Manusia: Ho : β ≤ 0 tidak ada pengaruh antara Indeks Pembangunan Manusia terhadap pertumbuhan ekonomi
Hi : β > 0 ada pengaruh antara Indeks Pembangunan Manusia terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Kriteria pengujian:
Jika thitung < ttabel, Ho diterima, maka Indeks Pembangunan Manusia
tidak signifikan berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Jika thitung > ttabel, Ho ditolak, maka Indeks Pembangunan Manusia
berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto 2) Hipotesis stastistik untuk variabel pengangguran :
Ho : β ≤ 0 tidak ada pengaruh antara pengangguran terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Hi : β > 0 ada pengaruh antara pengangguran terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Kriteria pengujian:
Jika thitung < ttabel, Ho diterima, maka pengangguran tidak signifikan
berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Jika thitung > ttabel, Ho ditolak, maka pengangguran berpengaruh
signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto. 3) Hipotesis stastistik untuk variabel pengeluaran pemerintah :
Ho : β ≤ 0 tidak ada pengaruh antara pengeluaran pemerintah terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Hi : β > 0 ada pengaruh antara pengeluaran pemerintah terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Kriteria pengujian:
Jika thitung < ttabel, Ho diterima, maka pengeluaran pemerintah tidak
signifikan berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Jika thitung > ttabel, Ho ditolak, maka pengeluaran pemerintah
berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto. b. Uji Keberartian Regresi (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji hipotesis koefisien (slope) regresi secara bersamaan untuk memastikan bahwa model yang dipilih layak atau tidak dalam mengintepretasikan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Statistik uji :
F =
Keterangan :
R2 = koefisien determinasi k = jumlah variabel bebas n = jumlah data
Hasilnya dibandingkan dengan tabel F, dengan taraf signifikan (alpha) adalah 0,05. Hipotesis adalah sebagai berikut :
Ho : β ≤ 0 tidak ada pengaruh antara Indeks Pembangunan Manusia, pengangguran, dan pengeluaran pemerintah terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Hi : β > 0 ada pengaruh antara Indeks Pembangunan Manusia, pengangguran, dan pengeluaran pemerintah terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak artinya semua variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima artinya seluruh variabel bebas tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat.
c. Perhitungan Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi (Goodness of Fit) dinotasikan dengan R-squares yang merupakan suatu ukuran yang penting dalam regresi, karena dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang terestimasi. Nilai Koefisien Determinasi ini mencerminkan seberapa besar variasi dari variabel terikat dapat diterangkan oleh variabel bebas.
Nilai R2 yang sempurna adalah satu, artinya keseluruhan variasi dependen dapat dijelaskan sepenuhnya oleh variabel independen yang dimasukkan dalam model dimana 0 ≤ R2 ≤ 1. Jika nilai R2 mendekati 0 , artinya kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Jika R2 mendekati satu, artinya kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat semakin tepat.
49 A. Deskriptif Data
Penelitian ini memaparkan deskriptif data berupa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai variabel bebas/independent (X1), pengangguran berdasarkan jumlah pengangguran/independent (X2), dan pengeluaran pemerintah/independent (X3). Data pertumbuhan ekonomi berdasarkan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)menurut harga konstan sebagai variabel terikat/dependent (Y).
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu daerah. PDRB yang di hasilkan suatu daerah mencerminkan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan dan dicapai oleh penduduk selama periode tertentu. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedang PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 2010.
PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, sedangkan atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan 13 kab/kota Kalimantan Selatan. Data tersebut diperoleh berdasarkan angka PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010-2015, dengan tahun dasar 2010. PDRB atas dasar harga konstan mencerminkan pertumbuhan produksi barang dan jasa secara riil (tidak ada pengaruh perubahan harga) dari suatu tahun ke tahun berikutnya.
Berdasarkan pada lampiran I, jumlah perolehan PDRB kabupaten/kota Kalimantan Selatan terbesar dari tahun 2010-2015 adalah Kota Banjarmasinpada tahun 2015 sebesar 17512276 juta rupiah. Sedangkan, perolehan PDRB terendah dari tahun 2010-2015 adalah kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2010 sebesar 2039851 juta rupiah
Tabel 4.1
Data perolehan PDRB Tertinggi dan Terendah (juta rupiah)
Sumber : BPS Prov.Kalsel,diolah peneliti
Kabupaten/Kota Tertinggi Kabupaten/Kota terendah
Tahun provinsi Jumlah Tahun Provinsi jumlah
2010
Kota
Banjarmasin 13067090 2010
Kab Hulu Sungai
Utara 2039851
2011
Kota
Banjarmasin 13740231 2011
Kab Hulu Sungai
Utara 2170793
2012
Kota
Banjarmasin 14588857 2012
Kab Hulu Sungai
Utara 2288015
2013
Kota
Banjarmasin 15600542 2013
Kab Hulu Sungai
Utara 2410138
2014
Kota
Banjarmasin 16553886 2014
Kab Hulu Sungai
Utara 2554597
2015
Kota
Banjarmasin 17512276 2015
Kab Hulu Sungai
Berdasarkan data pada tabel diatas, jumlah perolehan PDRB tertinggi tahun 2010-2015 terdapat di Kota Banjarmasin. Sedangkan jumlah perolehan PDRB terendah pada tahun 2010-2015 adalah kabupaten Hulu Sungai Utara.
2. IPM
IPM merupakan indikator dalam mengukur kualitas hidup masyarakat. Data dalam penelitian ini menggunakan data Indeks Pembangunan Manusia pada 13 kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan perhitungan metode baru yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik provinsi Kalimantan Selatan dari tahun 2010-2015.
Perubahan mendasar dalam perhitungan IPM dengan metode baru mencakup penggunaan indikator Harapan Lama Sekolah (HLS) menggantikan indikator Angka Melek Huruf (AMH) dalam perhitungan indeks pendidikan dan penggunaan indikator Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita menggantikan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dalam perhitungan indeks standar hidup. Agregasi indeks juga mengalami perubahan. Semula, agregasi indeks menggunakan rata-rata hitung. Pada IPM dengan metode baru, perhitungan indeks menggunakan rata-rata geometrik.
Berdasarkan pada lampiran II, IPM di Kabupaten/Kota Kalimantan Selatan terbesar dari tahun 2010-2015 adalah Kota BanjarBarusebesar 77,56 pada tahun 2015. Sedangkan IPM terendah tahun 2010-2015 terdapat pada kabupaten Hulu Sugai Utara sebesar 58,5 pada tahun 2010.
Tabel 4.2
Indeks Pembangunan Manusia Tertinggi dan Terendah Tahun 2010-2015
Kota Tertinggi Kota Terendah
Tahun Provinsi Jumlah Tahun Provinsi Jumlah
2010 Kota BanjarBaru 75,49 2010
Kab Hulu Sungai
Utara 58,5
2011 Kota BanjarBaru 76,23 2011
Kab Hulu Sungai
Utara 59,24
2012 Kota BanjarBaru 76.67 2012
Kab Hulu Sungai
Utara 60.12
2013 Kota BanjarBaru 77.1 2013
Kab Hulu Sungai
Utara 60.77
2014 Kota BanjarBaru 77.3 2014
Kab Hulu Sungai
Utara 61.32
2015 Kota BanjarBaru 77.56 2015
Kab Hulu Sungai
Utara 62.49
Sumber : BPS Prov Kalsel, data diolah
Data pada tabel di atas menggambarkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di kabupaten/kota Kalimantan Selatan tahun 2010-2015 terletak di Kota BanjarBaru, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia terendah tahun 2010-2015 terletak di kabupaten Hulu Sungai Utara.
3. Pengangguran
Pengertian pengangguran merupakan suatau keadaan dimana seseorang yang sudah berada pada usia kerja/angkatan kerja yang berkeinginan bekerja dan telah berusaha mencari pekerjaan, namun tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, atau sementara waktu tidak bekerja karena sedang dalam persiapan untuk bekerja di kemudian hari.
Penelitian ini menggunakan data jumlah pengguran/mencari kerja (jiwa) pada 13 Kabupaten/Kota yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan tahun 2010-2015.
Berdasarkan pada lampiran III, jumlah pengangguran tertinggi di Kabupaten/Kota provinsi Kalimantan Selatan terletak di Kota Banjarmasin pada tahun 2011sebesar 32674 jiwa dan jumlah pengangguran terendah terletak di Kabupaten Balangan pada tahun 2014 sebesar 883 jiwa.
Tabel 4.3
Jumlah Pengangguran Tertinggi dan Terendah Tahun 2010-2015
(jiwa)
Kota Tertinggi Kota Terendah
Tahun Provinsi Jumlah Tahun Provinsi Jumlah
2010 Kota Banjarmasin 22033 2010 Kab Balangan 1474 2011 Kota Banjarmasin 32674 2011 Kab Balangan 1079 2012 Kota Banjarmasin 22094 2012 Kab Balangan 2604 2013 Kota Banjarmasin 15114 2013 Kab Balangan 1740 2014 Kota Banjarmasin 18780 2014 Kab Balangan 883 2015 Kota Banjarmasin 27197 2015 Kab Balangan 2801
Sumber : BPS Prov Kalsel, data diolah
Data pada tabel diatas menggambarkan bahwa jumlah pengangguran tertinggi di kabupaten/kota Kalimantan Selatan tahun 2010-2015 terletak di kota Banjarmasin dan jumlah pengangguran terendah tahun 2010-2015 terletak di kabupaten Balangan.
4. Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran Pemerintah merupakan perbelanjaan yang dilakukan oleh pemerintah untuk barang-barang modal, barang-barang konsumsi dan jasa-jasa yang terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung.
Penelitian ini menggunakan data pengeluaran pemerintah secara keseluruhan baik belanja pemerintah secar langsung maupun tidak langsung yang diperoleh dari
data badan pusat statistik provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan data APBD menurut 13 Kabupaten/Kota provinsi Kalimantan Selatan tahun 2010-2015.
Berdasarkan data pada lampiran IV, pengeluaran pemerintah tertinggi di kabupaten/kota Kalimantan Selatan terletak di kabupaten Tanah Laut tahun 2015 sebesar 2.592.533.002, sedangkan pengeluran pemerintah terendah di kabupaten/kota Kalimantan Selatan terletak di Kota BanjarBarupada tahun 2010 sebesar 424131226.
Tabel 4.4
Pengeluaran Pemerintah Tertinggi dan Terendah Tahun 2010-2015
(ribu rupiah)
Kota Tertinggi Kota Terendah
Tahun Provinsi Jumlah Tahun Provinsi Jumlah
2010
Kota
Banjarmasin 870917220 2010 Kota BanjarBaru 424131226 2011
Kab Tanah
Laut 1279087106 2011 Kota BanjarBaru 546325478
2012
Kab Tanah
Laut 1760981711 2012 Kota BanjarBaru 685984477
2013
Kab Tanah
Laut 2240513555 2013 Kota BanjarBaru 932812395
2014
Kab Tanah
Laut 2440523255 2014 Kab Balangan 932427646
2015
Kab Tanah
Laut 2592533002 2015 Kab Balangan 1048189827
Sumber : BPS Prov Kalsel, data diolah
Data pada tabel di atas menggambarkan bahwa pengeluaran pemerintah tertinggi di kabupaten/kota Kalimantan Selatan tahun 2010 terletak di kota Banjarmasin. Tahun 2011-2015pengeluaran pemerintah tertinggi terletak di kabupaten Tanah Laut. Sedangkan pengeluaran pemerintah terendah tahun 2010-2013 terletak di Kota BanjarBarudan tahun 2014-2015 terletak di Kabupaten Balangan.