PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
C. UJI ASUMSI DAN HASIL PENELITIAN
2. Uji Hipotesis
Teknik uji hipotesis dalam penelitian ini adalah korelasi Pearson
Product Moment yang terdapat dalam program SPSS versi 17.0. Hasil
uji hipotesis dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut ini :
Tabel 11
Hasil Uji Hipotesis
Correlations
PROKRASTINA
SI POLAASUH PROKRASTINASI Pearson Correlation 1 -.479**
Sig. (1-tailed) .000
N 120 120
POLAASUH Pearson Correlation -.479** 1 Sig. (1-tailed) .000
N 120 120
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan hasil perhitungan, koefisien korelasi antara pola asuh demokratis orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa sebesar -0,479 dengan signifikansi sebesar 0.000. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang negatif dan signifikan antara variabel pola asuh demokratis orang tua dengan variabel prokrastinasi akademik mahasiswa. Semakin tinggi tingkat pola asuh demokratis orang tua maka semakin rendah tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat pola asuh demokratis orang tua maka semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terpenuhi.
D. PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pola asuh demokratis orang tua sebagai variabel bebas dengan prokrastinasi akademik mahasiswa sebagai variabel terikat. Berdasarkan hasil penelitian pada 120 sampel mahasiswa dengan menggunakan perhitungan korelasi Pearson Product Moment memperoleh hasil koefisien korelasi sebesar -0,479 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,01). Dengan demikian dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara pola asuh demokratis orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa.
Mean teoritis skala pola asuh demokratis sebesar 95 dan mean empirisnya sebesar 119,73. Hal ini menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar dari pada mean teoritis, sehingga dapat diartikan bahwa subjek penelitian mempunyai pola asuh demokratis yang tinggi.
Esensi hubungan antara orang tua dengan anak sangat ditentukan oleh sikap orang tua dalam mengasuh anak, bagaimana perasaan dan apa yang dilakukan orang tua. Hal ini bercermin pada pola asuh orang tua, yakni cara-cara yang dipilih dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak (Fini, 2008).
Pola asuh demokratis orang tua adalah pola asuh yang memberikan kebebasan kepada anak dengan batasan dan pengendalian perilaku sesuai nilai-nilai standar yang ada, serta terdapat komunikasi timbal balik yang
hangat antara orang tua dan anak, sehingga orang tua bisa memberikan perhatian ataupun pngertian kepada anak tentang perilaku tertentu yang diharapkan (Mahrita,2007).
Berdasarkan hasil penelitian Anastasia (2004) tentang hubungan antara pola asuh demokratis dengan kemandirian pada remaja, hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara pola asuh demokratis dengan kemandirian pada remaja, dengan nilai koefisien korelasi Pearson (xy ) sebesar 0,396 dengan P = 0,006 ( P < 0,01 ) yang menyatakan bahwa semakin tinggi pola asuh demokratis semakin tinggi kemandirian dan sebaliknya, semakin rendah pola asuh demokratis maka semakin rendah kemandirian. Nilai koefisien determinasi ( r2 ) sebesar 0,156 yang berarti sumbangan pola asuh demokratis terhadap pembentukan kemandirian adalah 15,6 %, sedangkan untuk sisanya 84,4 % disumbang oleh faktor-faktor lain, baik dari faktor internal maupun faktor eksternal menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara pola asuh demokratis orang tua dengan kemandirian pada remaja. Pola asuh demokratis orang tua merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kemandirian pada remaja.
Mean teoritis skala prokrastinasi akademik mahasiswa sebesar 82,5 dan mean empirisnya sebesar 74.35. Hal ini menunjukkan bahwa mean empiris lebih kecil dari pada mean teoritis, sehingga dapat diartikan bahwa subjek penelitian mempunyai prokrastinasi akademik mahasiswa yang rendah.
Prokrastinasi adalah kecenderungan untuk menunda dalam memulai, melaksanakan dan mengakhiri suatu aktivitas. Prokrastinasi akademik adalah prokrastinasi yang terjadi di lingkungan akademik (Rumiani, 2006). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Solomon dan Rothblum (Nadia & Nela, 2013) bahwa prokrastinasi akademik yang paling banyak dilakukan oleh mahasiswa adalah mengerjakan tugas paper laporan, belajar untuk ujian, dan membaca tugas mingguan. Ketiga area tersebut mengindikasikan bahwa tugas ini harus dilihat sebagai sesuatu yang penting.
Prokrastinasi merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian, karena kebiasaan prokrastinasi akademik dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang tidak optimal. Pada mahasiswa prokrastinasi akademik saat awal kuliah dapat berkelanjutan pada saat mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Kecenderungan prokrastinasi akademik juga dapat mengganggu pencapaian akademis. Unsur dari prokrastinasi akademik diantaranya yaitu Penundaan dan keterlambatan menyelesaikan ( Nadia & Nela, 2013).
Faktor yang mempengaruhi prokrastinasi adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantaranya fisik dan psikologis. Faktor eksternal yaitu pola asuh orang tua, level sekolah, reward/ punishment, tugas terlalu banyak, linkungan.
Pola orang tua berpengaruh terhadap tingkat prokrastinasi mahasiswa, bagaimana orang tua mengasuh dan persepsi anak terhadap disiplin orang tua berpengaruh terhadap tingkat prokrastinasi akademik remaja. Pola asuh demokratis yaitu gaya mengasuh orang tua dengan memprioritaskan kepentingan anak, bersikap realistis pada kemampuan anak dan memberi kebebasan anak (Nadia & Nela, 2013).
Hasil uji hipotesis dengan menggunakan perhitungan korelasi
Pearson Product Moment memperoleh hasil koefisien korelasi sebesar
-0,479 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,01). Sehingga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang negative dan signifikan antara pola asuh demokratis orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa. Semakin tinggi tingkat pola asuh demokratis orang tua semakin rendah tingkat prokrastinai akademik mahasiswa. Dan begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat pola asuh demokratis orang tua semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Kristen Maranatha bahwa ada hubungan yang positif antara pola asuh orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa. Semakin sering mahasiswa menghayati menerima control dan afeksi dari orang tua maka kecenderungan derajat prokrastinasi akademik pun semakin tinggi.
Pola asuh demokratis orang tua memiliki karakteristik utama yaitu mengutamakan pendekatan berdasarkan nilai-nilai demokratis, kebebasan berpendapat serta hubungan yang bersifat terbuka, dan saling menghargai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memberikan sumbangan sebesar 4,1% terhadap peningkatan kemampuan remaja dalam pemecahan masalah ( Mahrita, 2007).
Prokrastinasi yang dilakukan oleh seseorang menjadi indikasi kurangnya motivasi berprestasi ( need for achievement) seseorang untuk tampil optimal seperti sering terlambat, persiapan yang terlalu lama sehingga tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu (Rumiani, 2006). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slamet (2012) menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memberikan pengaruh sumbangan terhadap kedisiplinan anak sebesar 48,1%.
Secara umum faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Friend berpendapat bahwa prokrastinasi akademik dipengaruhi beberapa faktor yaitu tidak yakin diri, toleransi rendah, menuntut kesempurnaan, perbedaan jenis kelamin, pandangan fatalistic. Braid juga mengemukakan bahwa prokrastinasi akademik dapat dipengaruhi oleh faktor kerumitan dan ketakutan. Menurut burka dan yuen terbentuknya tingkah laku prokrastinasi dipengaruhi oleh faktor kecemasan terhadap evaluasi yang akan diberikan, kesulitan dalam mengambil keputusan, pemberontakan
terhadap control dari figure otoritas, kurangnya tuntutan dari tugas, standar yang terlalu tinggi mengenai kemampuan individu (Yemima, 2008).
Prokrastinasi yang terjadi pada mahasiswa perlu untuk ditangani, cara menangani prokrastinasi dapat dilihat dari factor penyebab prokrastinasi akademik itu sendiri dan dapat dilakukan dengan pendekatan tertentu. Boice (Ilfiandra, 2006) mengemukakan sepuluh sepuluh prinsip efikasi diri untuk membantu procrastinator, yaitu : (1) bersikap tenang dan sabar sebelum menulis, (2) sebelum merasa siap menulis, kumpulkan informasi, susun dan buat kerangka gagasan, (3) rinci tugas ke dalam aktivitas harian, (4) berhenti dan lakukan istirahat ketika diperlukan, (5) seimbangkan antara kerangka gagasan dengan kerja actual, (6) cermati pikiran dan kebiasaan negatif selama mengerjakan tugas, (7) kelola emosi selama bekerja dengan cara menghindari sikap tergesa-gesa dan supervisial, (8) hindari melibatkan emosi yang terlalu berlebihaan dalam pekerjaan, (9) ijinkan orang lain untuk mengkritisi hasil pekerjaan, (10) hindari upaya menghamburkan energy, seperti bekerja sampai kelelahan dan tidak toleran terhadap kritik.
60
BAB V