• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Identifikasi Sampel

4.2 Pengujian Mutu Fisik Sediaan

4.2.1 Uji Homogenitas

Dari uji yang dilakukan pada dasar krim (F0) serta sediaan krim dengan konsentrasi minyak almond 5% (F1), 10% (F2) dan 15% (F3) diperoleh hasil krim yang homogen yang ditandai dengan tidak adanya butiran-butiran kasar pada objek gelas. Hasil uji homogenitas sediaan krim dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil uji homogenitas

Keterangan: Formula F0 = Blanko (dasar krim tanpa minyak almond) Formula F1 = Konsentrasi minyak almond 5%

Formula F2 = Konsentrasi minyak almond 10%

Formula F3 = Konsentrasi minyak almond 15%

Maka sediaan krim tersebut telah memenuhi persyaratan uji homogenitas yaitu jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, menunjukkan susunan yang homogen (Ditjen POM, 1979).

4.2.2 Penentuan Tipe Emulsi Sediaan Krim

Menurut Ditjen POM (1985), penentuan tipe emulsi sediaan krim dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Pengenceran dengan air.

Jika sediaan mudah diencerkan dengan air, maka krim tersebut adalah tipe m/a, tetapi jika tidak, maka emulsi tersebut tipe a/m.

2. Perubahan warna.

Dilakukan dengan menambahkan sedikit biru metil ke dalam krim, jika larut sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut merupakan tipe m/a, jika tidak larut maka emulsi tersebut merupakan tipe a/m. Hasil penentuan tipe emulsi sediaan krim dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil penentuan tipe emulsi

No. Formula Penentuan tipe emulsi sediaan krim

Kelarutan krim dalam air Kelarutan biru metil dalam krim

1. F0 - -

2. F1 - -

3. F2 - -

4. F3 - -

Keterangan: Formula F0 = Blanko (dasar krim tanpa minyak almond) Formula F1 = Konsentrasi minyak almond 5%

Formula F2 = Konsentrasi minyak almond 10%

Formula F3 = Konsentrasi minyak almond 15%

√ = Larut

- = Tidak larut

Berdasarkan pengujian tipe emulsi yang dilakukan pada sediaan krim formula F0, F1, F2 dan F3 diperoleh krim yang tidak dapat dilarutkan dengan air yang membuktikan bahwa krim tersebut mempunyai tipe emulsi a/m. Diperoleh biru metil yang tidak larut pada sediaan dan warna tidak homogen yang memperkuat bukti bahwa krim tersebut mempunyai tipe emulsi a/m (Ditjen POM, 1985).

4.2.3 Uji pH

Pengujian pH pada sediaan krim formula F0, F1, F2 dan F3 dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Hasil pengukuran pH sediaan krim saat selesai dibuat dan setelah penyimpanan selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil pengukuran pH sediaan krim saat selesai dibuat

No. Formula pH

Tabel 4.4 Hasil pengukuran pH sediaan krim setelah penyimpanan selama12 minggu

Keterangan: Formula F0 = Blanko (dasar krim tanpa minyak almond) Formula F1 = Konsentrasi minyak almond 5%

Formula F2 = Konsentrasi minyak almond 10%

Formula F3 = Konsentrasi minyak almond 15%

Berdasarkan hasil pengukuran pH sediaan krim di atas diketahui bahwa pH rata-rata sediaan krim setelah selesai dibuat yaitu formula F0: 7,77; F1: 7,57;

F2: 7,47 dan F3: 7,4 sedangkan pH rata-rata sediaan krim setelah penyimpanan selama 12 minggu yaitu formula F0: 7,73; F1: 7,5; F2: 7,43 dan F3: 7,33.

Setelah penyimpanan 12 minggu pH sediaan krim mengalami sedikit penurunan pH dibandingkan dengan pH sediaan krim setelah selesai dibuat.

Semakin banyak konsentrasi minyak almond pada formula krim maka pH krim semakin menurun atau semakin asam. Penurunan pH juga dipengaruhi oleh

memiliki pH asam lemah dan adanya produk sampingan dari beberapa bahan asam minyak almond seperti asam oleat, asam palmitat dan lainnya (Stephanie, 2014; Akhtar dkk., 2008).

Tetapi walaupun terjadi penurunan nilai pH, sediaan krim tersebut tetap memenuhi persyaratan pH sediaan krim untuk pemakaian pada kulit yaitu 4,5-8 dan ketahanan kulit terhadap pH kisaran 3-9 (Fitriansyah dan Gozali, 2014;

Aulton, 2002).

4.2.4 Uji Stabilitas

Uji stabilitas sediaan krim dilakukan dengan cara penyimpanan sediaan pada suhu kamar selama 12 minggu dan pengamatan pada saat selesai dibuat serta setelah 1, 4, 8 dan 12 minggu penyimpanan. Hasil pengujian stabilitas sediaan krim dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil pengujian stabilitas sediaan

No. Formula

Keterangan: Formula F0 = Blanko (dasar krim tanpa minyak almond) Formula F1 = Konsentrasi minyak almond 5%

Formula F2 = Konsentrasi minyak almond 10%

Formula F3 = Konsentrasi minyak almond 15%

x = Pemisahan fase

y = Perubahan warna

z = Perubahan bau

√ = Terjadi perubahan - = Tidak terjadi perubahan

Dari hasil pengujian stabilitas sediaan yang tertera pada Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa sediaan krim formula F0, F1, F2 dan F3 tidak mengalami

dibuat serta setelah 1, 4, 8 dan 12 minggu penyimpanan. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh sediaan krim memiliki stabilitas yang baik selama penyimpanan 12 minggu pada suhu kamar (Ansel, 2008).

4.3 Pengujian Iritasi terhadap Sukarelawan

Pengujian iritasi dilakukan terhadap sediaan dengan tujuan untuk mengetahui sifat iritatif sediaan. Pengujian iritasi ini dilakukan pada 10 orang sukarelawan dengan mengoleskan krim dengan konsentrasi minyak almond tertinggi yaitu 15% di kulit bagian depan lengan bawah sukarelawan dan dibiarkan 24 jam. Hasil pengujian iritasi pada sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Hasil pengujian iritasi terhadap sukarelawan

No. Sukarelawan Gejala iritasi

Kemerahan Gatal-gatal Bengkak

Dari pengujian iritasi yang dilakukan, seluruh sukarelawan tidak mengalami gejala reaksi iritasi yaitu kemerahan, gatal-gatal dan bengkak. Hal ini membuktikan bahwa sediaan krim minyak almond tidak mengiritasi kulit dan aman untuk digunakan (Wasitaatmaja, 1997).

4.4 Pengujian Kemampuan Sediaan untuk Penyembuhan Xerosis Tumit Kaki Pengujian dilakukan pada 10 sukarelawan yang terdiri dari wanita berumur 30-55 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kriteria tumit kaki pecah-pecah dengan tingkat keparahan sedang hingga parah yang tidak sampai mengalami pendarahan. Skala tingkat keparahan xerosis pada tumit kaki ditunjukkan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Skala penilaian xerosis pada tumit kaki

Tingkatan Skala Keterangan

Ringan 0 Kulit normal

1 Penampilan bersisik dengan serpihan kulit 2 Penampilan bersisik dengan banyak serpihan kulit

Mungkin terdapat garis atau retak kecil

Sedang 3 Retak terlihat jelas

4 Retak lebih jelas dan pecah-pecah tidak dalam Parah 5 Retak lebar dan pecah-pecah yang dalam

6 Pecah-pecah besar dan dalam hingga muncul eritema Sumber: Rogers dkk., 1989.

Tiap sukarelawan diberikan krim dengan konsentrasi minyak almond berbeda-beda dan krim pembanding yaitu krim Kanna®. Penilaian tingkat keparahan xerosis dilakukan sebelum pemberian krim, setelah pemakaian 1, 2, 3 dan 4 minggu lalu difoto. Foto tumit kaki dapat dilihat pada Lampiran 13, halaman 49. Penilaian tingkat penyembuhan xerosis tumit kaki diukur berdasarkan rata-rata nilai perubahan sebelum pemakaian dan setelah 4 minggu pemakaian sediaan krim. Hasil uji efektivitas sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Hasil uji efektivitas sediaan

Keterangan: Formula F0 : Blanko (dasar krim tanpa minyak almond) Formula F1 : Konsentrasi minyak almond 5%

Formula F2 : Konsentrasi minyak almond 10%

Formula F3 : Konsentrasi minyak almond 15%

Dari hasil penilaian efektivitas sediaan, didapatkan rata-rata nilai perubahan tingkat keparahan xerosis untuk krim formula F0 atau blanko adalah 1.

Hal ini menunjukkan bahwa blanko yaitu dasar krim tanpa minyak almond memberikan efek untuk penyembuhan xerosis tumit kaki. Di dalam krim formula F0 terdapat beeswax dan paraffin cair yang memiliki sifat oklusif, sehingga dapat memperlambat kehilangan air transepidermal dan merawat kulit kering (Baumann, 2009).

Sedangkan rata-rata nilai perubahan tingkat keparahan xerosis untuk krim formula F1, F2 dan F3 berturut-turut adalah 1,33; 2 dan 2,33. Hal ini menunjukkan bahwa krim dengan kandungan minyak almond memberikan efek untuk penyembuhan xerosis tumit kaki lebih tinggi dibandingkan dengan blanko.

Krim formula F3 memiliki nilai tertinggi diantara seluruh formula sediaan krim

yang dibuat. Dimana di dalam krim formula F3 terdapat konsentrasi minyak almond tertinggi yaitu 15%.

Minyak almond memiliki sifat oklusif yang meningkatkan kemampuan kulit untuk menahan air dan melembabkan kulit. Minyak almond mengandung asam lemak yang penting untuk merawat barrier kulit yaitu asam oleat, asam linoleat dan asam palmitat. Asam linoleat berperan menyediakan kebutuhan lipid stuktural untuk integritas barrier. Asam oleat dianggap berperan dalam kemampuan antioksidan dan baik untuk melembabkan serta melembutkan kulit.

Asam palmitat di dalamnya memastikan bahwa minyak almond meresap dengan baik di dalam kulit sehingga cocok sebagai pelembab dan penghalus kulit. Selain itu kandungan vitamin E nya berperan sebagai antioksidan (Kusumaningrum, 2016; Maharani, 2015; Vermaak dkk., 2011; Ahmad, 2010; Baumann, 2009).

Didapatkan rata-rata nilai perubahan tingkat keparahan xerosis untuk krim pembanding di pasaran yaitu Kanna® adalah 2,33. Nilai ini sebanding dengan krim formula F3 yang menunjukkan bahwa krim F3 memiliki efektivitas yang sama baiknya dengan produk pembanding dalam penyembuhan xerosis tumit kaki. Dimana di dalam produk Kanna® terdapat zat yang bersifat oklusif yaitu petrolatum dan lesitin kedelai serta humektan yaitu propilen glikol. Krim pelembab akan lebih baik jika mengkombinasikan oklusif dan humektan. Maka, kemungkinan krim minyak almond dapat memberikan efek yang lebih baik dari produk Kanna® bila dikombinasi dengan humektan (Baumann, 2009).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait