• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

B. Analisis Data

2. Uji Homogenitas Varians

Hasil uji Homogenitas Levene disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 4.3. Uji Homogenitas Varians

Nilai p

Volume Urin 4 Jam I .002

Volume Urin 4 Jam II .089

Volume Urin 4 Jam III .041

Volume Urin 4 Jam IV .068

Interpretasi uji Homogenitas Levene adalah jika p > 0,05 berarti varians datanya homogen. Dari di atas terlihat volume urin 4 jam I dan III mempunyai varians data tidak homogen, oleh karena itu untuk uji Post-Hoc nya digunakan teknik Dunnet T3. Volume urin 4 jam II dan IV mempunyai varians data homogen, oleh karena itu untuk uji Post-Hoc nya digunakan teknik Bonferroni.

commit to user 3. Uji Anova

Adapun hasil uji Anova dirangkum pada tabel berikut ini: Tabel 4.4. Uji Anova

Nilai p

Volume Urin 4 Jam I .000

Volume Urin 4 Jam II .000

Volume Urin 4 Jam III .000

Volume Urin 4 Jam IV .000

Pada uji ANOVA diperoleh nilai p = 0.000 untuk data volume urin 4 jam I, II, III, dan IV sehinga dapat dikatakan terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah volume urin tikus putih jantan pada keempat waktu pengamatan tersebut.

Untuk mengetahui pada kelompok manakah terdapat perbedaan yang bermakna maka dilakukan uji Post-Hoc Bonferroni atau Dunnet T3. 4. Uji Post-Hoc

Berikut ini ringkasan hasil uji Post-Hoc untuk volume urin 4 jam I, II, III, dan IV. Data lengkap dapat dilihat di Lampiran.

Hasil uji Post-Hoc terhadap data volume urin adalah sebagai berikut:

a. Waktu pengamatan 4 jam I

Ketiga dosis kemangi tidak berbeda signifikan dengan hidroklorotiazid. Ketiga dosis kemangi dan hidroklorotiazid berbeda signifikan dengan aquadest.

commit to user b. Waktu pengamatan 4 jam II

Ketiga dosis kemangi tidak berbeda signifikan dengan hidroklorotiazid. Ketiga dosis kemangi dan hidroklorotiazid berbeda signifikan dengan aquadest.

c. Waktu pengamatan 4 jam III

Kemangi dosis II dan III tidak berbeda signifikan dengan hidroklorotiazid.

Kemangi dosis I tidak berbeda signifikan dengan aquadest. d. Waktu pengamatan 4 jam IV

Ketiga dosis kemangi berbeda signifikan dengan hidroklorotiazid. Ketiga dosis kemangi tidak berbeda signifikan dengan aquadest.

commit to user

33 BAB V PEMBAHASAN

Menurut Guyton dan Hall (2008), diuresis merupakan proses mempercepat pengeluaran urin dengan mekanisme menghambat reabsorbsi ion natrium di tubulus sehingga ion natrium yang tersisa di tubulus bekerja secara osmotik menurunkan reabsorbsi air. Dari penelitian yang dilakukan, dibuktikan bahwa ekstrak daun kemangi memiliki efek diuresis. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prakash dan Gupta (2005) bahwa daun kemangi juga memiliki kemampuan untuk meluruhkan air seni. Salah satu zat aktif dalam daun kemangi yang berperan sebagai diuretik ini adalah flavonoid. Hal ini didukung seperti yang dikatakan Xiao dkk (2005) bahwa flavonoid secara ekperimental dapat berfungsi sebagai diuretik alami. Adapun mekanisme kerja flavonoid seperti yang dikutip dari Juniora dkk (2010) bahwa dengan cara merangsang aliran darah regional atau vasodilatasi awal atau dengan menghambat reabsorpsi air dan anion pada tubulus.

Penelitian ini memerlukan pengendalian variabilitas biologis. Variabilitas hewan uji dapat dihilangkan dengan memggunakan teknik randomisasi. Seperti yang dikatakan Murti (2004) bahwa teknik randomisasi pada studi eksperimental berguna sebagai pengendali faktor- faktor perancu dalam suatu penelitian.

Pada penelitian diuresis, hasil urin tidak lepas dari pengaruh volume air minum masing-masing tikus. Dari hasil uji homogenitas Levene, didapatkan

commit to user

bahwa varians data volume air minum tikus homogen. Data lengkap dapat dilihat di Lampiran.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan adanya efek diuretik ekstrak daun kemangi baik pada dosis I, dosis II, maupun dosis III pada waktu pengamatan tertentu.

Kontrol positif memiliki puncak pada 4 jam II. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Anderson dkk (2002) bahwa mula kerja hidroklorotiazid terjadi dalam 2 jam setelah pemberian oral dengan kadar plasma tertinggi dicapai dalam 4 - 6 jam dan masa kerja 6 - 12 jam.

Pada kurva terlihat ketiga kelompok dosis mengalami kenaikan volume urin sampai pada 4 jam II dan mengalami puncaknya pada titik pengukuran tersebut kemudian mulai mengalami penurunan. Peningkatan volume urin ketiga dosis tersebut berjalan tidak terlalu cepat. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kepekatan yang dimiliki ekstrak daun kemangi tidak menghambat proses absorbsinya. Selain itu, pada 4 jam III kelompok dosis telah mengalami penurunan volume urin, tetapi penurunan yang terjadi semakin cepat sesuai dengan bertambahnya dosis. Hal ini dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi dosis yang diberikan maka semakin cepat eliminasi zat aktif pada daun kemangi dari tubuh tikus. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa ekstrak daun kemangi diabsorbsi dengan baik sampai efek maksimalnya dan eliminasi yang semakin cepat sesuai dengan bertambahnya dosis.

Pengaruh diuretik ekstrak daun kemangi dapat dilihat pada kurva rerata volume urin tampung terhadap waktu pengukuran di Gambar 4.1. Kurva dosis III

commit to user

berada di atas dosis II, begitu pula dosis II berada di atas dosis I. Dosis III merupakan dosis yang paling tinggi yang digunakan, sehingga dapat diasumsikan kadar flavonoid yang dikandung paling banyak dibandingkan dosis I dan dosis II. Dengan demikian, semakin besar dosis ekstrak daun kemangi yang diberikan maka semakin kuat pula efek diuresisnya.

Dari penelitian ini terlihat bahwa ekstrak daun kemangi mempunyai efek diuresis yang sebanding dengan hidroklorotiazid untuk kurun waktu tertentu dan perbedaan efek diuresis ekstrak daun kemangi pada ketiga kelompok dosis disebabkan karena adanya perbedaan dosis yang diberikan pada ketiga kelompok tersebut, sehingga kadar kandungan kimia yang terdapat di dalamnya juga berbeda. Pada ekstrak daun kemangi dosis III kandungan kemanginya lebih banyak daripada ekstrak daun kemangi dosis I dan dosis II, sehingga dapat dinyatakan bahwa flavonoid yang terkandung di dalamnya juga lebih banyak dan dapat memberikan pengaruh diuresis yang lebih kuat.

Kelemahan yang didapatkan pada penelitian ini yaitu tidak dilakukannya pengukuran intake cairan setiap 4 jam. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya kerancuan hasil urin tampung selama penelitian ini.

commit to user

36 BAB VI PENUTUP

A. Simpulan

1. Ekstrak daun kemangi memiliki efek diuresis yang sebanding hidroklorotiazid dengan durasi lebih pendek pada tikus putih jantan.

2. Ekstrak daun kemangi dengan dosis 195 mg/3ml memiliki efek diuresis yang paling kuat pada penelitian ini.

B. Saran

1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dosis efektif dari ekstrak daun kemangi sebagai diuretik dengan metode penelitian yang berbeda dan pada hewan uji yang lebih tinggi tingkatannya.

2. Diperlukan pengukuran intake cairan setiap 4 jam untuk tiap tikus demi mengurangi kerancuan hasil urin tampung selama penelitian.

3. Pada penelitian ini dosis daun kemangi yang dapat diaplikasikan untuk masyarakat agar menghasilkan efek diuresis paling efektif adalah 37,5 gram.

Dokumen terkait