• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

E. Tata cara penelitian

2. Uji kekerasan lipstik

Alat uji kekerasan lipstik dan stopwatch disiapkan. Lipstik yang digunakan dalam pengujian harus memiliki ukuran dan berat yang sama. Lipstik diletakkan pada alat uji dengan posisi bagian ujung menghadap ke bawah. Setelah itu, pengganjal pada alat dilepaskan dilakukan bersamaan dengan dinyalakan stopwatch (alat tanpa ditambah beban = 600 gram). Apabila setelah 1 menit lipstik belum hancur, beban sebesar 200 gram ditambahkan lagi pada alat. Penambahan beban dilakukan hingga total beban 1400 gram atau hingga lipstik hancur. Apabila pada beban 1400 gram lipstik belum hancur, lipstik didiamkan, dan catat hingga waktu lipstik hancur. Pencatatan waktu dan total beban yang digunakan dihentikan ketika lipstik hancur. Pengujian dilakukan selama penyimpanan hari ke 2, 7, 14, 21 dan 30 (Voigt, 1994).

3. Analisis Hasil

Penelitian ini menggunakan metode desain faktorial sebagai rancangan percobaan. Hasil analisis yang diperoleh diolah dengan menggunakan program Design Expert 10. Dalam analisis statistik digunakan tingkat kepercayaan 95%.

Apabila nilai p < 0,05, maka model persamaan yang digunakan signifikan dan persamaan dapat dilanjutkan untuk melihat pengaruh beeswax dan paraffin wax sebagai basis terhadap kekerasan lipstik dengan zat pewarna ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.).

Pengaruh kekerasan formula lipstik diolah dengan menggunakan t-test.

T-test akan menghasilkan p-value. Apabila p-value > 0,05 maka kekerasan lipstik yang didapatkan valid.

Stabilitas fisik dari lipstik diolah dengan menggunakan program RStudio.

Data diolah dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Apabila data normal maka dilanjutkan dengan uji homogenitas Levene Test dan uji ANOVA untuk mendapatkan p-value dan untuk membandingkan perlakuan yang diberikan digunakan uji post hoc Tukey HSD. Apabila data tidak normal maka dilanjutkan dengan uji Kruskall-Wallis’s Test untuk mendapatkan p-value. Lipstik dikatakan stabil apabila p-value < 0,05.

25

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Ektrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) Hasil ekstrak yang diperoleh dari PT. Borobudur Industri Jamu memiliki organoleptis berwarna coklat terang, berbau khas dan memiliki rasa pahit. Bentuk hasil ektrak kulit manggis adalah granul. Ekstrak kulit manggis ini tidak bersifat toksik sehingga aman digunakan sebagai zat pewarna lipstik.

Pada proses ekstraksi ini digunakan pelarut etanol 70% dengan metode perkolasi. Perkolasi merupakan ekstraksi yang dilakukan dengan mengalirkan pelarut melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi (Depkes RI, 2000). Pelarut etanol 70% digunakan karena dapat melarutkan senyawa antosianin. Hal ini diyakinkan dengan penelitian Fatoni, Mando, Dwi dan Suwandri (2008) yang menyatakan bahwa antosianin pada ekstrak kulit manggis dapat diektraksi dengan pelarut etanol dengan konsentrasi terbaik 70%.

Senyawa antosianin merupakan golongan flavonoid, kelas dari senyawa fenolik yang berfungsi sebagai pewarna. Antosianin diekstraksi dari daun kering, buah, akar atau biji. Senyawa ini merupakan senyawa yang larut air. (Konzcak, 2004). Pada penelitian ini digunakan antosianin pada kulit manggis yang terdapat pada kulit luar dan kulit dalam manggis. Kulit bagian luar manggis mengandung antosianin lebih banyak jika dibandingkan dengan kulit bagian dalam manggis.

Jenis antosianin yang ada pada kulit luar manggis adalah cyanidin-3-glucoside yang bertanggung jawab sebagai pigmen merah (Chaovanalikit dkk., 2012).

25

Antosianin merupakan pewarna alami yang memiliki stabilitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pewarna sintetis. Antosianin dapat stabil apabila diperlakukan dalam kondisi tertentu, yaitu tidak terkena paparan cahaya dan tidak berada pada temperatur di atas 50oC. Antosianin juga sangat sensitif terhadap perubahan pH (Kearsley dan Rodriguez, 1981).

Ekstrak kulit manggis dari PT. Borobudur Industri Jamu dikeringkan dengan menggunakan maltodextrin dengan perbandingan ekstrak dengan maltodextrin 1:10. Maltodextrin sebagai pengering pada ekstrak memiliki fungsi sebagai bahan pengisi dan pembentukan film, mengikat rasa dan lemak, dan mengurangi permeabilitas oksigen. Bahan ini juga dapat menutupi bau yang tidak sedap dari ekstrak. Maltodextrin larut pada air (Sansone, Teresa, Patrizia, Matteo, Rita dan Maria, 2011). Maltodextrin memiliki warna putih (Pharmco-Apper, 2013).

Ekstraksi kulit manggis dengan pelarut etanol 70% tidak hanya mengekstraksi antosianin golongan flavonoid tetapi juga golongan lain, seperti golongan alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, tripterpenoid, steroid, dan glukosida (Poeloengan dan Praptiwi, 2010). Beberapa golongan tersebut memiliki rasa pahit sehingga ekstrak kulit manggis memiliki rasa yang pahit, antara lain golongan alkaloid (Encyclopaedia Britannica, 2016), golongan saponin (Dawid dan Hofmann, 2014), golongan tanin (Fontoin, 2008) dan triterpenoid (Indian Council of Medical Research Task Force, 2012). Golongan-golongan tersebut perlu dipartisi untuk menghilangkan rasa pahit pada ekstrak tetapi pada penelitian ini belum dilakukan.

27

B. Formulasi Lipstik

Penelitian yang dilakukan adalah formulasi lipstik. Lipstik merupakan kosmetik yang penting untuk perlindungan bibir sehingga bibir tidak mudah kering dan pecah (Tranggano dan Latifah, 2007). Lipstik yang dibuat dalam penelitian ini adalah lipstik matte, yaitu lipstik yang pekat, tidak mengkilap, dan mengandung sedikit pelembab (Adnan, 2009)

Optimasi formula lipstik dibutuhkan untuk mendapatkan lipstik yang memenuhi kualitas tertentu agar dapat diterima oleh konsumen. Bahan utama yang dioptimasi dalam formula yang dibuat dalam penelitian ini adalah basis dimana pada penelitian ini digunakan dua basis yaitu, beeswax dan paraffin wax.

Kedua bahan ini dioptimasi karena memiliki peran penting terhadap kekerasan lipstik.

Basis lilin sangat berperan penting terhadap kekerasan lipstik. Beeswax sangat sering digunakan dalam penelitian pembutan lipstik untuk meningkatkan kekerasan. Menurut Mercado (1991), batas maksimum penggunaan beeswax dalam suatu formula adalah 5-20% sedangkan dalam penelitian ini digunakan 9-11% sehingga penggunaan basis ini masih dalam batas aman. Paraffin wax dipilih karena dapat meningkatkan kekerasan lipstik tetapi dalam dunia kosmetik masih sangat jarang digunakan. Pada penelitian ini digunakan paraffin wax sebesar 9-11% sedangkan batas aman penggunaan paraffin wax menurut Mozes (1983) adalah <15% sehingga penggunaan pada penelitian ini masih dalam batas aman.

Lipstik dibuat dengan berbagai komponen bahan yang memiliki masing-masing tujuan. Bahan lain yang digunakan adalah lanolin sebagai emollient atau

pelunak tekstur lipstik dan pemberi kelembutan. Gliserol ditambahkan untuk memberikan efek ketahanan pada lipstik. Tween 80 ditambahkan pada pembuatan lipstik sebagai pelembab. Lipstik yang dibuat merupakan tipe matte sehingga perlu agen pemekat pada lipstik, yaitu zinc oxide. ZnO ini juga berfungsi sebagai pemberi tekstur. TiO2 diberikan untuk efek mengkilap lipstik. Metil paraben

ditambahkan sebagai pengawet (Barel dkk., 2001).

Bahan-bahan tersebut memiliki batas maksimal masing-masing sehingga dapat aman untuk digunakan. Menurut Mercado (1991), lanolin yang diperbolehkan dalam penggunaan lipstik adalah 3-30%. Dalam penelitian ini lanolin yang digunakan adalah 24% sehingga masih dalam batas aman. Pewangi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pewangi sintetik yang memiliki batas 0,1-0,8%. Pada penelitian ini pewangi yang digunakan adalah 0,1% sehingga masih aman untuk digunakan. Satu jenis paraben yang digunakan memiliki batas penggunaan, yaitu 0,4% sehingga metil paraben yang digunakan pada penelitian ini sesuai. Zinc oxide aman jika digunakan < 40% dan pada penelitian ini sudah memenuhi batas aman tersebut.

Tahap awal pembuatan lipstik adalah melelehkan beeswax dan paraffin wax pada cawan porselen di atas penangas air dengan suhu 80oC. Beeswax memiliki titik lebur 63oC dan ketika dipanaskan di atas suhu 150oC akan terjadi esterifikasi karena terjadi pengurangan jumlah asam sehingga pemanasan pada suhu 80oC ini dapat dilakukan. Pemanasan yang dilakukan pada paraffin wax yang memiliki titik lebur antara 45-65oC pada 80oC dapat dilakukan karena sejauh penelusuran peneliti tidak dicantumkan adanya kerusakan basis jika pemanasan

29

dilakukan di atas suhu tersebut. Pelelehan seluruh basis ini dilakukan selama 20 menit.

Zat pewarna yang digunakan pada formulasi lipstik ini adalah kulit manggis. Formula acuan yang digunakan adalah formula dengan zat pewarna larut minyak sedangkan zat pewarna antosianin pada kulit manggis merupakan senyawa yang larut pada pelarut polar sehingga modifikasi formula dilakukan.

Modifikasi yang dilakukan adalah dengan melarutkan zat pewarna ke dalam aquadest dan melakukan penambahan gummi arabicum sehingga aquadest sebagai fase air dan lanolin sebagai fase minyak dapat tercampur.

Gummi arabicum berfungsi sebagai agen pengemulsi dan agen stabilisasi antara fase air dan fase minyak yang digunakan. Gummi arabicum dipilih karena bahan ini dapat digunakan dalam formulasi kosmetik dan sifatnya tidak toksik.

Perbandingan gummi arabicum untuk larut di air adalah 1:2,7 (Rowe dkk., 2009).

Pada penelitian ini perbandingan yang digunakan untuk gummi arabicum : fase air : fase minyak adalah 3:7:10 yang didapat dari hasil orientasi. Perbandingan ini selanjutnya dimasukan ke dalam persentase emollient dalam formula.

Gummi arabicum merupakan agen pengemulsi tipe natural. Gummi arabicum merupakan gum karbohidrat yang larut pada air dan akan membentuk emulsi tipe O/W. Emulsi yang dibuat dengan gummi arabicum ini stabil dalam area pH yang luas. Mekanisme gummi arabicum untuk membentuk emulsi yaitu dengan membentuk lapisan multimolekuler di sekitar droplet dari minyak yang terdispersi (Remington, 2000).

Tahap selanjutnya adalah melakukan pencampuran wax ke dalam emulsi zat warna. Penambahan ini dilakukan pada mortir panas. Hal ini dilakukan karena beeswax dan paraffin wax mudah membeku. Setelah itu, dilakukan penambahan zinc oxide, titanium dioksida, gliserin, tween 80 dan metil paraben secara bertahap. Penambahan ini dilakukan dengan urutan bahan dengan bobot paling banyak ke bobot paling sedikit dengan tujuan agar bahan lipstik tercampur secara homogen.

Setelah campuran homogen, campuran lipstik dilakukan pemanasan kembali di atas cawan porselen pada suhu 80 oC selama 7 menit sehingga campuran meleleh. Campuran dituang ke dalam cetakan lipstik yang sebelumnya telah dipanaskan dan dioleskan parafin cair. Tujuan pemberian paraffin cair pada cetakan adalah agar lipstik mudah dilepaskan dari cetakan ketika lipstik sudah membeku. Setelah itu, campuran didiamkan hingga suhu ruangan lalu dimasukkan ke dalam lemari pendingin selama 24 jam. Tujuan pendiaman hingga suhu ruangan adalah agar lipstik yang dibuat tidak mengalami shock thermal. Lipstik dikeluarkan dari cetakan dan diletakkan dalam wadah dan disimpan pada suhu ruangan selama 48 jam.

Hasil lipstik pada penelitian ini memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah lipstik tidak mudah dioleskan. Hal ini dikarenakan jumlah persen emollient yang digunakan pada formula berkurang karena adanya penambahan aquadest dan gummi arabicum pada formula. Selain itu, pewarna ekstrak kulit manggis yang digunakan mengandung maltodextrin yang menyebabkan bahan pengisi pada lipstik jumlah penggunaannya menjadi lebih tinggi. Kelemahan

31

lainnya adalah warna lipstik tidak sesuai dengan warna nude yang diharapkan. Hal ini dikarenakan sifat maltodextrin yang larut air sehingga menyebabkan bahan ini ikut terlarut pada pelarut ketika ekstrak kulit manggis dilarutkan. Partisi maltodextrin atau ekstraksi ulang pada ekstrak perlu dilakukan agar dapat menghasilkan warna nude yang sesuai pada lipstik.

C. Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Lipstik

Lipstik yang telah dibuat memerlukan uji sifat fisik dan uji stabilitas.

Tujuan dari uji fisik adalah untuk memastikan bahwa lipstik yang dibuat telah memenuhi kualitas lipstik yang baik. Uji sifat fisik yang dilakukan adalah uji kekerasan lipstik. Lipstik diuji dengan alat uji kekerasan lipstik setelah didiamkan di suhu ruangan selama 48 jam agar lipstik stabil pada suhu ruangan. Seluruh lipstik yang diuji harus memiliki bobot yang sama. Pada penelitian ini ditetapkan bobot 2,3 gram untuk seluruh lipstik yang diuji.

Salah satu persyaratan lipstik agar dapat diterima oleh konsumen adalah memenuhi stabilitas jangka panjang (long-term stability). Menurut Popp (2014), uji stabilitas jangka panjang dilakukan selama 12 bulan, uji stabilitas intermediate selama 3 bulan dan uji stabilitas dipercepat selama 1 bulan. Adanya keterbatasan waktu pada penelitian ini maka dilakukan uji stabilitas selama 1 bulan dari 12 bulan yang seharusnya. Uji stabilitas dilakukan dengan tujuan untuk melihat ada tidaknya perubahan yang tejadi dalam formulasi atau dalam proses pembuatan.

Data sifat fisik dan pergeseran stabilitas yang didapat kemudian diolah dengan Design Expert 10 untuk melihat efek masing-masing faktor dan interaksi

kedua faktor tersebut. Program ini juga akan mengolah persamaan desain faktorial untuk respon kekerasan lipstik.

1. Uji Sifat Fisik Lipstik

Hasil uji kekerasan lipstik yang didapat dinyatakan dalam satuan detik.

Berdasarkan uji kekerasan lipstik yang saat ini ada di pasar, rata-rata kisaran kekerasan lipstik adalah 120 detik – 3600 detik. Lipstik pasaran yang diuji sebanyak 2 produk, yaitu lipstik dengan merek Avon dan Botanica. Untuk hasil uji kekerasan formula lipstik yang dibuat dalam penelitian dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel IV. Hasil pengukuran sifat fisik kekerasan lipstik Formula Replikasi Kekerasan (detik) X (detik) ± SD

F1 1 124

Hasil pengujian kekerasan lipstik pada Tabel IV menunjukan bahawa beeswax level rendah dan paraffin wax level rendah (formula 1) memiliki rata-rata kekerasan paling rendah sedangkan beeswax level tinggi dan paraffin wax level tinggi (formula ab) memiliki kekerasan yang paling tinggi.

33

Hasil uji kekerasan lipstik tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan Design Expert 10 untuk mengetahui nilai efek dari faktor beeswax, paraffin wax, dan interaksi antara beeswax dengan paraffin wax terhadap respon kekerasan lipstik dan kontribusi yang diberikan. Uji statistik yang digunakan adalah uji ANOVA pada Design Expert 10 dengan tingkat signifikansi nilai probabilitas < 0,05. Uji ANOVA yang didapat ditunjukkan dalam tabel V.

Tabel V. Hasil uji ANOVA dengan Design Expert 10 untuk respon kekerasan lipstik

Persamaan desain faktorial yang diperoleh pada respon kekerasan lipstik yaitu:

Y= 499,66667 – 102,08333(X1) – 110,41667(X2) + 29,16667(X1X2) Tabel V menunjukkan bahwa nilai probabilitas yang diperoleh < 0,0001 (< 0,05 = signifikan) sehingga model persamaan yang digunakan siginifikan. Dari persamaan yang diperoleh Y menunjukkan respon kekerasan, X1 sebagai beeswax, X2 sebagai paraffin wax dan X1X2 sebagai interaksi antara beeswax dan paraffin wax.

Tahap selanjutnya adalah melihat efek yang diberikan dari kedua faktor dan interaksi kedua faktor tersebut yang berpengaruh terhadap respon kekerasan.

Kontribusi masing-masing faktor dan interaksinya juga dapat dilihat dalam satuan persen. Hasil yang diperoleh dapat dilihat dari tabel VI.

Tabel VI. Efek beeswax, paraffin wax, dan interaksinya terhadap respon kekerasan lipstik

Faktor Efek % Kontribusi

Beeswax 30,33 53,24

Paraffin wax 23,67 32,41

Interaksi 9,83 5,04

Tabel VI menunjukkan bahwa efek pemberian beeswax merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kekerasan lipstik. Nilai dari efek dapat bernilai positif atau negatif. Efek pada beeswax menunjukkan hasil yang positif, yaitu 30,33. Hal ini menunjukkan bahwa beeswax memberikan efek peningkatan terhadap kekerasan lipstik. Hasil ini juga menunjukkan bahwa paraffin wax juga memberikan efek bernilai positif yang artinya paraffin wax juga memberikan efek peningkatan kekerasan lipstik tetapi dengan pengaruh lebih kecil dari pada beeswax.

Interaksi antara beeswax dan paraffin wax juga menghasilkan nilai efek yang positif yang berarti interaksi antara kedua faktor ini memberikan efek peningkatan terhadap kekerasan lipstik. Pengaruh antara interaksi kedua faktor ini dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.

35

Gambar 2. Grafik hubungan paraffin wax terhadap respon kekerasan lipstik

Gambar 3. Grafik hubungan beeswax terhadap respon kekerasan lipstik Pada Gambar 2 dan 3 terdapat dua buah garis berwarna merah dan hitam.

Warna merah menunjukkan level tinggi suatu faktor dan warna hitam

Keterangan:

Level tinggi Level rendah Keterangan:

Level tinggi Level rendah

menunjukkan level rendah suatu faktor. Gambar 2 menunjukkan peningkatan paraffin wax mampu meningkatkan kekerasan lipstik pada beeswax pada level rendah maupun level tinggi. Gambar 3 menunjukkan peningkatan beeswax mampu meningkatkan kekerasan lipstik pada paraffin wax baik pada level rendah maupun pada level tinggi.

Gambar 4. Contour plot kekerasan lipstik

Pada Gambar 4 terdapat daerah contour plot berwarna biru hingga berwarna merah. Warna biru menunjukkan kekerasan dengan nilai rendah sedangkan warna merah menunjukkan kekerasan dengan nilai tinggi. Contour plot menunjukkan semakin tinggi beeswax dan paraffin wax yang digunakan maka semakin tinggi nilai kekerasan lipstik pada formulasi ini. Nilai kekerasan lipstik yang diinginkan adalah 120-3600 detik yang mengacu pada lipstik pasaran.

37

Lipstik dengan perwarna kulit manggis ini sudah memenuhi tingkat kekerasan lipstik yang beredar di pasaran.

2. Validasi Formula

Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melihat pengaruh kekerasan formula. Pengaruh kekerasan secara teoritis dapat dilihat pada contour plot kekerasan lipstik. Pada penelitian ini diambil titik pada contour plot dengan 5,2 gram beeswax dan 4,6 gram paraffin wax. Hasil dari penelitian ini ditunjukkan dalam tabel VII.

Tabel VII. Hasil validasi contour plot

Perhitungan Teoritis Hasil Validasi Rata-rata p-value Kekerasan

(detik)

155, 156 156 151 0,4492

152 145

Hasil validasi diolah dengan menggunakan t-test. T-test pada peelitian ini digunakan untuk melihat perbandingan hasil teoritis dan hasil validasi. Hasil p-value pada t-test > 0,05 yang menunjukkan bahwa hasil formulasi yang didapatkan valid.

3. pH Lipstik

pH lipstik ekstrak kulit manggis yang dibuat harus memiliki pH yang sama dengan bibir. Menurut Lauffer (cit., Adliani, Nazliniwaty, dan Purba, 2012) pH bibir adalah 4 sedangkan pH lipstik dengan pewarna ekstrak kulit manggis ini adalah 5. Hasil lipstik yang telah dibuat mendekati pH bibir sehingga aman untuk digunakan. Pengukuran pH lipstik yang benar seharusnya menggunakan pH meter

(Mishra dan Sumeet, 2011). Pada penelitian ini pengukuran pH 5 pada lipstik menggunakan pH strip indikator universal sehingga pengukuran pH pada penelitian ini belum valid.

4. Stabilitas Lipstik

Uji stabilitas lipstik dibutuhkan untuk melihat ada tidaknya perubahan dalam formulasi dan penyimpanan. Uji stabilitas yang dilakukan pada penelitian ini dilihat dari pergeseran kekerasan lipstik setelah penyimpanan selama satu bulan. Pengambilan data dilakukan pada minggu ke 0, 1, 2, 3, dan 4 yaitu hari ke 2, 7, 14, 21, dan 30. Hasil yang didapatkan dapat dilihat pada gambar 5 dengan perhitungan statistik yang terdapat pada lampiran.

Gambar 5. Grafik pergeseran kekerasan lipstik dengan zat pewarna ekstrak kulit manggis

Hasil menunjukkan terjadinya pergeseran kekerasan lipstik yang ditunjukkan dengan peningkatan kekerasan selama penyimpanan. Pada gambar 5

0

39

terlihat bahwa cenderung terjadi peningkatan kekerasan. Hal ini terjadi mungkin karena adanya penguapan air pada sediaan selama penyimpanan. Data yang didapat kemudian diolah dengan uji ANOVA (lampiran 7). Hasil didapatkan menunjukkan bahwa kenaikan yang terjadi memiliki perbedaan bermakna (p-value <0,05) pada formula b dan formula ab sedangkan pada formula 1 dan formula a memiliki perbedaan tidak bermakna (p-value >0,05).

5. Stabilitas Warna

Hasil lipstik pada penelitian ini mengalami ketidakstabilan warna setalah penyimpanan selama satu bulan. Kestabilan lipstik ditunjukan dari warna lipstik yang semakin tua. Hal ini dikarenakan campuran akhir lipstik dilakukan pemanasan kembali hingga suhu 80oC agar dapat dituang ke dalam cetakan sedangkan senyawa antosianin tidak stabil pada suhu di atas 50oC. Pada penelitian ini seharusnya dilakukan penambahan senyawa sodium metabisulphite untuk menjaga kestabilan dari antosianin (Kearsley dan Rodriguez, 1981).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Komposisi beeswax dan paraffin wax memberikan pengaruh peningkatan kekerasan lipstik dengan zat pewarna ekstrak kulit manggis dengan formula 4,4 gram beeswax dan 4,4 gram paraffin wax untuk respon paling rendah, yaitu 120 detik.

B. Saran

1. Perlu dilakukan optimasi jumlah zat pewarna yang digunakan untuk mendapatkan hasil warna lipstik yang lebih menarik.

2. Perlu dilakukan uji pendahuluan untuk mengetahui stabilitas dari ekstrak.

3. Perlu dilakukan peningkatan jumlah emollient agar lipstik mudah untuk dioles.

4. Perlu dilakukan uji iritasi mengingat persyaratan lipstik adalah aman secara dermatologis.

40

41

DAFTAR PUSTAKA

Adliani, N., Nazliniwaty, dan Purba, D., 2012, Formulasi Lipstiik Menggunakan Zat Warna dari Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.), Journal of Pharmaceutics and Pharmacology, 1(2), 87-94.

Adnan, I., 2009, Tampil Cantik dan Alami dalam 15 Menit, Demedia Pustaka, Jakarta, hal. 16.

Arifin, B., Awang, B., Ho, C.M., dan Mariani, R., 2002, Lipstick Formulation:

Effect of Composition Variation on Physical Properties and Consumer Acceptance, Borneo Science, 12, 79-88.

Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I., 2001, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker Inc., New York, hal. 671, 680.

Bolton, S., dan Bon, C., 2010, Pharmaceutical and Clinical Applications, Fifth Edition, Taylor & Francis Group, Boca Raton, hal. 222-223, 442.

Brown, V.J., 2013, Metals in Lip Product – A Cause for Concern, Environmental Health Perspectives, 121 (6), 196.

Chairat, M., Bremner, J.B., dan Chantrapromma, K., 2007, Dyeing of Cotton and Silk Yarn with the Extracted Dye from the Fruit Hulls of Mangosteen, Garcinia mangostana Linn, Fibers and Polymers, 8 (6), 613-619.

Chaovanalikit, A., Mingmuang, A., Kitbunluewit, T., Choldumrongkool, N., Sondee, J. dan Chupratum, S., 2012, Anthocyanin and total phenolics content of mangosteen and effect of processing on the quality of mangosteen products, International Food Research Journal, 19 (3), 1047-1053.

Dawid, C., dan Hofmann, T., 2014, Quantitation and Bitter Taste Contribution of Saponins in Fresh and Cooked White asparagus (Asparagus officinalis L.), Food Chem, 145, 427-436.

Departemen Kesehatan RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, hal. 10.

Encyclopaedia Britannica, 2016, Alkaloid, Encyclopaedia Britannica Inc., USA.

Fatoni, A., Mando, H., Dwi A.V., dan Suwandri, 2008, Penentuan Jenis dan Konsentrasi Pelarut untuk Isolasi Zat Warna Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.), Molekul, 3 (1), 34-39.

Fontoin, H., 2008, Effect of pH, Ethanol and Acidity on Astringency and Bitterness of Grape Seed Tannin Oligomers in Model Wine Solution, Food Quality and Preference, 19, 286-291.

Gould, K., Kevin, D., dan Chris, W., 2009, Anthocyanins: Biosynthesis, Functions, and Applications, Springer, New Zealand, hal. 245.

Indian Council of Medical Research Task Force, 2012, Assessment of Effects on Health Due to Consumption of Bitter Bottle Gourd (Lagenaria siceraria) Juice, Indian Journal of Medical Research, 135, 49-55.

Kearsley dan Rodriguez, 1981, The Stability and Use of Natural Colours in Foods: Anthocyanin, β-carotene and Riboflavin, J. Fd Technol, 16, 421-431.

Konzcak, I., dan Wei, Z., 2004, Anthocyanin – More Than Nature’s Colours, Journal of Biomedicine and Biotechnology, 5, 239-240.

Mercado, C.G., 1991, Lipstick Formulation and Method, Red Bank, USA.

Minami, T., 2005, Composition for Lipstick,

http://www.google.com/patents/US6890543, diakses tanggal 17 Mei 2015.

Mishra, P., dan Sumeet, D., 2011, Formulation and Evaluation of Lipstick

Mishra, P., dan Sumeet, D., 2011, Formulation and Evaluation of Lipstick

Dokumen terkait