• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Korelasi Rank Spearman Antara Fase Self-Reflection

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Self-Regulated Learning fase Self-Reflection dengan Prestasi Belajar

4.1. Hasil Penelitian

4.1.4. Uji Korelasi Rank Spearman Antara Fase Self-Reflection

Dalam Self-Regulated Learning dengan Prestasi Belajar

a. Hipotesis Statistik

H0 : rs ≤ 0 : Tidak terdapat hubungan positif antara Fase

Self-Reflection pada Self-Regulated Learning dengan

H1 : rs > 0 : Terdapat hubungan positif antara Fase

Self-Reflection pada Self-Regulated Learning dengan

Prestasi Belajar Matematika.

b. Kriteria Penolakan

H0 ditolak jika sig ≤ α yang berarti H1 diterima.

H0 diterima jika sig > α yang berarti H1 ditolak.

c. Hasil Perhitungan

Tabel 4.7.

Uji Korelasi Rank Spearman Antara Fase Self-Reflection Dalam Self-Regulated

Learning dengan Prestasi Belajar

Tabel 4.8.

Uji Median Fase Self-Reflection Dalam Self-Regulated Learning Fase Self-Reflection

Tinggi Rendah Nilai Median

F % F %

43 55.84% 34 44.16% 67

d. Interpretasi dan Analisis Hasil Statistik

Berdasarkan hasil perhitungan (tabel 4.4.) yang menggunakan α = 0.05 maka diperoleh sig < α sehingga H0 ditolak dan menerima H1. Dari

rs Sig Α

hasil tersebut dapat dinyatakan terdapat hubungan positif dalam taraf sedang antara Fase Self-Reflection pada Self-Regulated Learning dengan prestasi belajar matematika pada siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital Learning System. Keeratan hubungan antara Fase Self-Reflection pada Self-Regulated

Learning dengan Prestasi Belajar sebesar 0,771 artinya semakin rendah

kemampuan dalam Fase Self-Reflection pada Self-Regulated Learning maka semakin rendah pula prestasi belajar matematika siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital

Learning System. Keeratan hubungan tersebut termasuk dalam derajat

korelasi Tinggi.

Didapat pula hasil perhitungan persentase Fase Self-Reflection pada

Regulated Learning yaitu 43 siswa (55,84%) memiliki fase

Reflection yang tinggi dan sebanyak 34 siswa (44,16%) memiliki fase

Self-Reflection yang rendah. Fase Self-Self-Reflection dalam Self-Regulated

Learning memberikan kontribusi sebesar 59.44% terhadap prestasi belajar

Tabel 4.9.

Tabel Jumlah Persentase Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung

Prestasi Belajar

Tinggi Rendah

F % F %

44 57.14% 33 42.86%

Dari hasil tabel diatas terlihat bahwa 44 (57.14%) siswa memiliki prestasi belajar tinggi, dan 33 (42.86%) siswa memiliki prestasi belajar rendah.

Tabel 4.10.

Tabulasi Silang Self-Regulated Learning dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung

Prestasi Belajar

Self-Regulated Learning

Tinggi Rendah Jumlah

F % F % F %

Tinggi 26 33.77% 18 23.38% 44 57.14% Rendah 3 3.90% 30 38.96% 33 42.86% Jumlah 29 37.66% 48 62.34% 77 100%

Dari hasil tabulasi silang diatas terlihat bahwa 26 siswa memiliki

memiliki Self-Regulated Learning tinggi dan mempunyai prestasi belajar rendah. Selain itu, terdapat 18 siswa Self-Regulated Learning rendah dan mempunyai prestasi belajar tinggi, dan 30 siswa Self-Regulated Learning rendah dan mempunyai prestasi belajar rendah.

Tabel 4.11.

Tabel Keseluruhan Hasil Perhitungan Fase dalam Self-Regulated Learning

Fase Tinggi Rendah Jumlah F % F % Forethought 33 42.86% 44 57.14% 77 (100%) Performance/Volitional Control 33 42.86% 44 57.14% 77 (100%) Self-Reflection 43 55.84% 34 44.16% 77 (100%)

Dari hasil perhitungan diatas, didapatkan fase tertinggi ada pada fase

Self-Reflection dan terendah adalah fase Performance/Volitional Control. Hal tersebut

dapat disimpulkan bahwa siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung memiliki evaluasi proses belajar yang tinggi dan kurang dalam hal tampilan belajarnya.

Tabel 4.12.

Tabel Keseluruhan Fase Dalam Self-Regulated Learning Dengan Prestasi Belajar

Self-regulated Learning

Prestasi Belajar

Tinggi Rendah Jumlah

F % F % F % Forethought Tinggi 30 38.96% 3 3.89% 33 42.86% Rendah 12 15.58% 32 41.56% 44 57.14% Performance/ Volitional Control Tinggi 28 36.36% 5 6.49% 33 42.86% Rendah 10 12.99% 34 44.16% 44 57.14% Self-Reflection Tinggi 34 44.16% 9 11.69% 43 55.84% Rendah 10 12.99% 24 31.17% 34 44.16%

Dari hasil perhitungan diatas, didapatkan hasil sebagai berikut:

- Terdapat 30 siswa (38.96%) memiliki perencanaan yang tinggi dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 12 siswa (15.58%) memiliki perencanaan yang rendah dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 3 siswa (3.89%) memiliki perencanaan yang tinggi dan mendapat prestasi yang rendah.

- Terdapat 32 siswa (41.56%) memiliki perencanaan yang rendah dan mendapat prestasi yang rendah.

- Terdapat 28 siswa (36.36%) memiliki tampilan dalam belajar (performance) yang tinggi dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 10 siswa (12.99%) memiliki tampilan dalam belajar (performance) yang rendah dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 5 siswa (6.49%) memiliki tampilan dalam belajar (performance) yang tinggi dan mendapat prestasi yang rendah.

- Terdapat 34 siswa (44.16%) memiliki tampilan dalam belajar (performance) yang rendah dan mendapat prestasi yang rendah.

- Terdapat 34 siswa (44.16%) memiliki evaluasi diri dalam belajar

(Self-Reflection) yang tinggi dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 10 siswa (12.99%) memiliki evaluasi diri dalam belajar

(Self-Reflection) yang rendah dan mendapat prestasi yang tinggi.

- Terdapat 9 siswa (11.69%) memiliki evaluasi diri dalam belajar

(Self-Reflection) yang tinggi dan mendapat prestasi yang rendah.

- Terdapat 24 siswa (31.17%) memiliki evaluasi diri dalam belajar

4.2.Pembahasan

Dari hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diketahui bahwa terdapat hubungan yang positif antara Self-Regulated Learning dengan Prestasi Belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centari Bandung. Dalam penelitian ini hipotesis yang diajukan untuk melihat hubungan antara Self-Regulated

Learning dengan Prestasi Belajar diterima. Berdasarkan hasil perhitungan,

diperoleh sig < α, sehingga H0 ditolak dan menerima H1 dengan rs = 0,641. Dari hasil tersebut dapat dinyatakan terdapat hubungan yang positif antara

Self-Regulated Learning dengan Prestasi Belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Alfa

Centauri Bandung yang berarti semakin tinggi Self-Regulated Learning maka semakin tinggi pula Prestasi Belajar yang dicapai oleh siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung. Self-Regulated Learning memberikan kontribusi sebesar 41,09% terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung. Hal tersebut dapat diartikan bahwa Self-Regulated Learning mempengaruhi Prestasi Belajar sebesar 41,09%. Sedangkan dari hasil perhitungan Prestasi Belajar Matematika, didapat bahwa 44 siswa memiliki prestasi belajar matematika tinggi dan 33 siswa memiliki prestasi belajar matematika rendah.

Self-Regulated Learning didefinisikan sebagai proses aktif dan konstruktif

dengan jalan siswa menetapkan tujuan untuk proses belajarnya dan berusaha untuk memonitor, meregulasi, dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku, yang kemudian semuanya diarahkan dan didorong oleh tujuan dan disesuaikan dengan konteks lingkungan (Boekaerts dkk, 2000:453). Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa apabila siswa memiliki Self-Regulated Learning yang tinggi dan didukung oleh metode belajar yang baik, maka prestasi belajar

yang diraihpun akan tinggi. Menurut Zimmerman (1999), metode belajar yang tepat dalam proses belajar dapat meningkatkan kualitas belajarnya. Dengan metode belajar yang tepat tersebut perilaku siswa diharapkan menjadi lebih terencana dan terotomatisasi. Terencana karena perilaku siswa yang melaksanakan

Self-Regulated Learning memiliki tujuan dan kesadaran diri yang jelas. Dengan

demikian, metode belajar yang digunakan siswapun menjadi faktor penentu dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Hal ini terjadi pada siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital Learning

System. Sebagian siswa kelas XI IPA mempunyai perencanaan yang baik dan

mampu mengatur dirinya untuk mengikuti proses belajar dan memenuhi tuntutan akademik dari pihak sekolah berupa pencapaian nilai ujian dan try out yang baik serta tugas latihan soal yang memenuhi kriteria yang ditentukan sekolah.

Schunk dan Zimmerman (1998) mengatakan bahwa teori self regulation memandang belajar sebagai open ended process yang membutuhkan aktivitas yang berkesinambungan dalam proses belajar dan terdiri dari tiga fase yaitu fase

Forethought, fase Performance/Volitional Control, dan fase Self-Reflection.

Sebagai sebuah proses, Self-Regulated Learning merupakan suatu proses internal tanpa henti yang dilakukan oleh individu. Siswa yang kurang mampu dalam mengatur dirinya dalam belajar, dimana siswa gagal dalam proses perencanaan untuk dapat memenuhi target dari tuntutan akademik dari pihak sekolah pada fase

Forethought, siswa akan mengalami kesulitan dalam fase berikutnya yaitu fase

Performance/Volitional Control, dan akhirnya pada fase Self-Reflection siswa

tidak dapat mengevaluasi hasil kerja mereka sebagai hasil usaha yang telah mereka lakukan di fase sebelumnya.

Apabila siswa berhasil pada fase-fase sebelumnya, maka siswa dapat mengatasi tuntutan akademik yang diberikan oleh pihak sekolah, sehingga siswa dapat menggunakan secara optimal hasil feedback dari proses Self-Regulated

Learning yang dilakukannya untuk memenuhi tuntutan akademik dan mencapai

prestasi belajar yang optimal.

Dari hasil perhitungan tabulasi silang, didapatkan 26 siswa memiliki

Self-Regulated Learning tinggi dan mempunyai prestasi belajar tinggi, dan 3 siswa

memiliki Self-Regulated Learning tinggi dan mempunyai prestasi belajar rendah. Selain itu, terdapat 18 siswa Self-Regulated Learning rendah dan mempunyai prestasi belajar tinggi, dan 30 siswa Self-Regulated Learning rendah dan mempunyai prestasi belajar rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan siswa yang menjadi sampel penelitian ini memiliki Self-Regulated Learning rendah dan mendapat Prestasi Belajar yang rendah pula.

Berdasarkan hasil perhitungan Fase Forethought pada Self-Regulated

Learning, diperoleh rs = 0.757. dari hasil tersebut dapat dinyatakan terdapat hubungan positif antara fase Forethought pada Self-Regulated Learning dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital Learning System, yang berarti semakin tinggi kemampuan siswa dalam Fase Forethought pada Self-Regulated Learning, maka semakin tinggi pula prestasi belajar yang diraih oleh siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital Learning

System. Fase Forethought dalam Self-Regulated Learning memberikan kontribusi

Bandung. Hal tersebut dapat diartikan bahwa Fase Forethought dalam

Self-Regulated Learning mempengaruhi Prestasi Belajar sebesar 57.30%.

Fase Forethought merupakan suatu proses yang terjadi sebelum adanya usaha untuk bertindak dan akan mempengaruhi usaha-usaha yang akan dilakukan setelahnya dengan cara melakukan perencanaan pelaksanaan tindakan tersebut. Fase Forethought mengarah pada proses dan keyakinan yang mempengaruhi dan mendahului usaha untuk belajar dan menentukan tahap pembelajaran. Siswa yang berhasil pada fase ini adalah siswa yang mampu membuat perancanaan secara bertahap dalam bidang akademik seperti menyusun target yang berhirarki yaitu target jangka pendek dan jangka panjang serta menyusun strategi belajar yang efktif untuk mencapai target yang telah ditentukan. Hasil perhitungan yang didapat, terdapat 33 siswa (42.86%) yang memiliki perencanaan yang tinggi yang artinya siswa mampu merencanakan tindakan atau usaha yang akan dilakukan oleh siswa dalam proses belajarnya. Sedangkan 45 siswa (57.14%) memiliki perencanaan yang rendah yang berarti siswa tidak mempunyai perencanaan tindakan atau usaha yang dilakukan oleh siswa dalam proses belajarnya.

Sebagian siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung ini mampu menetapkan target jangka pendek dan jangka panjang yang mereka ingin capai ditambah dengan cita-cita mereka untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi negeri yang mereka inginkan. Selain itu, mereka juga mampu membuat strategi belajar untuk mencapai target mereka dan mengatur waktu belajarnya. Hal tersebut terlihat dari target mendapat nilai lebih dari KKM dan mencapai nilai terbaik di kelas serta mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Namun, ada pula siswa yang menetapkan target namun mereka tidak memiliki strategi belajar dan tidak

mengatur waktu belajarnya dengan baik. Hal tersebut menyebabkan tingkah laku belajarnya yang kurang terarah. Siswa memiliki keyakinan akan kemampuannya sehingga mereka merasa bisa mencapai target yang dimilikinya. Namun, sebagian siswa juga merasa tidak yakin dengan kemampuannya karena mata pelajaran matematika dianggap sulit untuk dipahami oleh mereka. Dalam hal orientasi tujuan, siswa fokus kepada hasil kerja yang harus dicapainya karena untuk memasuki ke Perguruan Tinggi dan lulus ujian haruslah mendapat nilai yang tinggi. Mereka beranggapan nilai tinggi penting tanpa harus benar-benar menguasai materinya karena mereka sudah mendapat cara cepat seperti yang didapat dari bimbingan belajar mereka. Dalam memenuhi tugas-tugas dan beban akademik dari pihak sekolah, siswa tidak tergantung pada reward yang akan didapatnya. Perilaku yang ditampilkannya adalah sebagian siswa yang tetap belajar meski tidak ada ujian, tidak malu bertanya ketika mereka merasa kesulitan memahami materi matematika. Mereka akan terus bertanya sampai mereka memahami cara menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

Dari hasil perhitungan yang didapat, terdapat 30 siswa (38.96%) yang memiliki perencanaan tinggi dan mendapatkan prestasi belajar matematika yang tinggi pula. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa mampu merencanakan kegiatan belajarnya dan dapat membuat siswa mendapat prestasi belajar matematika yang memuaskan atau sesuai dengan yang diinginkan. Terdapat pula 12 siswa (15.58%) yang memiliki perencanaan rendah namun siswa tersebut memiliki prestasi belajar matematika yang tinggi. Hal tersebut kemungkinan adanya faktor Intelegensi siswa sehingga siswa yang kurang memiliki perencanaan namun meraih prestasi belajar matematika yang tinggi. Menurut hasil

wawancara kepada siswa, siswa mengaku bahwa mereka memang tidak banyak berencana dan mengikuti kegiatan belajar yang diajarkan disekolah. Selain itu juga, terdapat 3 siswa (3,89%) yang memiliki perencanaan yang tinggi namun siswa tersebut meraih prestasi belajar matematika yang rendah. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal diantaranya Intelegensi siswa atau tampilan belajar siswa yang kurang sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan terdapat 32 siswa (41.56%) yang memiliki perencanaan yang rendah dan mendapat prestasi belajar yang rendah. Hal tersebut bisa dikatakan siswa kurang ada persiapan dan perencanaan yang matang untuk mencapai keinginan siswa.

Berdasarkan hasil perhitungan fase Performance/Volitional Control pada

Self-Regulated Learning diperoleh rs = 0.633. dari hasil tersebut dapat dinyatakan terdapat hubungan yang positif antara fase Performance/Volitional Control pada

Self-Regulated Learning dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Alfa

Centauri Bandung, yang berarti semakin tinggi kemampuan dalam fase

Performance/Volitional Control pada Self-Regulated Learning maka semakin

tinggi pula prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Alafa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital Learning System. Fase

Performance/Volitional Control dalam Self-Regulated Learning memberikan

kontribusi sebesar 40.07% terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung.. Hal tersebut dapat diartikan bahwa Fase

Performance/Volitional Control dalam Self-Regulated Learning mempengaruhi

Prestasi Belajar sebesar 40.07%.

Keberhasilan dalam fase ini adalah ketika siswa dapat menjalankan apa yang telah dipersiapkan di fase sebelumnya. Dalam menjalankan perencanaan

yang telah dibuat tentu saja siswa harus disiplin melaksanakannya dan mengontrol tingkah lakunya. Fase Performance/Volitional Control melibatkan proses yang terjadi selama usaha pembelajaran serta mempengaruhi konsentrasi dan kinerja. Dari hasil perhitungan, terdapat 33 siswa (42.86%) memiliki Fase

Performance/Volitional Control yang tinggi yang berarti siswa mampu

mengarahkan tindakan atau usahanya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya. Dan sebanyak 44 siswa (57.14%) memiliki Fase

Performance/Volitional Control yang rendah yang berarti siswa tidak dapat

mengontrol tindakan atau usahanya kepada tujuan yang sudah direncanakannya atau dapat juga siswa tidak memiliki perencanaan yang baik pada Fase

Forethought sehingga mempengaruhi pada Fase Performance/Volitional Control.

Dalam kegiatan belajar dikelas, siswa diharuskan tetap berkonsentrasi pada materi yang dipelajarinya. Seluruh siswa diharuskan berkonsentrasi atau memfokuskan dirinya kepada pelajaran yang diberikan oleh guru yang sedang mengajar. Pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang dibutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar mampu memahami rumus perhitungan yang dipelajari oleh siswa. Meskipun jam pelajaran matematika cukup lama berlangsung karena latihan soal yang begitu banyak, siswa harus tetap memperhatikan dan mengerjakan soal-soal latihan dengan baik dan benar. Bagi siswa yang tidak disiplin dalam menjalankan perencanaan belajarnya, mereka cenderung tidak fokus dan terlihat sering mengobrol ketika guru sedang menjelaskan atau sedang mengerjakan latihan soal. Sebagian siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung berusaha untuk mengatakan kepada diri sendiri mengenai bagaimana cara menyelesaikan tugas. Mereka mengatakan pada diri

mereka apabila tidak mengerti apa yang disampaikan atau tidak mengerti tentang latihan soal yang dihadapinya mereka akan bertanya kepada guru yang mengajar. Selain itu, mereka juga mengatakan kepada diri mereka mengenai ketelitian dalam membaca setiap soal latihan soal yang diberikan oleh guru. Siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung juga melihat kemajuan belajarnya dari hasil-hasil yang telah diraihnya dari proses belajarnya. Kemajuan tersebut dijadikan cerminan untuk proses belajar berikutnya. Sebagian siswa yang mengalami kegagalan dalam proses belajarnya, mereka mencoba untuk berkonsultasi dengan guru BK yang mengajar mereka guna meningkatkan prestasi belajar mereka. Tapi tidak seluruh siswa yang mencari tahu kemajuan belajarnya. Ada sebagian siswa juga yang bersikap acuh tak acuh dengan kemajuan belajarnya dan menganggapnya berlalu begitu saja. Sebagian siswa mencoba mengumpulkan hasil ujian dan tugas matematika yang diterimanya serta mempelajari apa yang menjadi kekurangannya dari hasil yang diterimanya.

Dari hasil perhitungan yang didapatkan, terdapat 28 siswa (36.36%) memiliki tampilan dalam belajar tinggi dan mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan siswa dapat berkonsentrasi dalam belajar dan menunjukkan kinerja yang baik dalam proses belajarnya. Terdapat 10 siswa (12.99%) yang memiliki tampilan dalam belajar yang rendah namun memiliki prestasi belajar yang tinggi. Hal tersebut dapat dikarenakan adanya faktor intelegensi yang mempengaruhi pencapaian prestasi belajarnya. Terdapat 5 siswa (6.49%) yang memiliki tampilan belajar yang tinggi namun mendapatkan prestasi belajar yang rendah. Hal tersebut dapat dikarenakan oleh faktor intelegensi siswa. Sedangkan 34 siswa (44.16%) memiliki tampilan belajar yang rendah dan

memiliki prestasi belajar yang rendah. Hal tersebut dikarenakan kurangnya usaha yang keras dalam proses belajar baik dikelas maupun di rumah.

Fase yang terakhir adalah fase Self-Reflection, berdasarkan perhitungan fase Self-Reflection pada Self-Regulated Learning diperoleh rs = 0.771. dari hasil tersebut dapat dinyatakan terdapat hubungan yang positif antara fase

Self-xReflection pada Self-Regulated Learning dengan prestasi belajar siswa kelas XI

IPA SMA Alfa Centauri Bandung yang menggunakan Sony Sugema Digital

Learning System, yang berarti semakin tinggi kemampuan dalam fase

Self-Reflection pada Self-Regulated Learning maka semakin tinggi pula prestasi belajar

siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung. Fase Reflection dalam

Self-Regulated Learning memberikan kontribusi sebesar 59.44% terhadap prestasi

belajar siswa kelas XI IPA SMA Alfa Centauri Bandung. Hal tersebut dapat diartikan bahwa Fase Self-Reflection dalam Self-Regulated Learning

mempengaruhi Prestasi Belajar sebesar 59.44%.

Dalam fase ini siswa mampu mengevaluasi hasil usaha mereka pada fase sebelumnya. Hasil usaha yang akan dievaluasi adalah nilai yang diperoleh oleh siswa baik nilai tugas maupun nilai ujian tengah semester yang telah dilaluinya. Hal tersebut dilakukan agar siswa mengetahui kemajuan hasil belajar mereka dan membandingkannya dengan pekerjaan teman-temannya juga membandingkan dengan hasil yang mereka dapat sebelumnya. Dalam mengevaluasi hasil belajar yang didapatkan oleh para siswa kelas XI IPA di SMA Alfa Centauri, selain mengevaluasi sendiri, siswa juga dibantu oleh guru BK disesi konseling setelah hasil ujian diumumkan. Para siswa kelas XI IPA, baik yang mendapat nilai tinggi maupun rendah, akan mendapat evaluasi berupa feedback dari guru BK dan

mereka juga diberitahu mengenai kemajuan belajar mereka dari hasil ujian tersebut. Fase Self-Reflection melibatkan proses yang terjadi setelah usaha pembelajaran dan mempengaruhi reaksi individu terhadap pengalaman tersebut. Fase ini mempengaruhi fase Forethought dan akhirnya melengkapi siklus

Self-Regulated Learning. Dari hasil perhitungan, terdapat 43 siswa (55,84%) yang

memiliki Fase Self-Reflection yang tinggi yang berarti siswa mau mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan mereka dalam pencapaian tujuan dalam belajar dari hasil yang didapatkannya. Dan sebanyak 34 siswa (44,16%) memiliki Fase

Self-Reflection yang rendah yang berarti siswa tidak mengevaluasi kegagalan atau

kesalahan serta keberhasilan mereka dari hasil yang didapatkan dalam belajarnya.

Dalam penelitian ini, siswa dapat mengevaluasi hasil kerjanya dengan baik dengan cara membandingkan hasil pekerjaan yang didapatkannya dengan hasil yang didapatkan sebelumnya. Siswa juga berusaha membandingkan dengan hasil pekerjaan temannya dan apabila menemukan kekurangan siswa mau berusaha untuk memperbaikinya. Namun tidak seluruh siswa yang mau membandingkan dan cenderung mengabaikan hasil yang didapatkannya. Ketika siswa mendapat nilai yang baik dan sesuai dengan target, siswa menganggap bahwa hasil tersebut adalah karena usahanya yang begitu keras mendapatkannya. Dengan keberhasilan tersebut membuat siswa tetap menjalankan strategi belajar tersebut.

Dari hasil penelitian yang didapat, terdapat 34 siswa (44.16%) memiliki evaluasi diri yang tinggi dan mendapat prestasi belajar yang tinggipula. Hal tersebut dikarenakan siswa yang memiliki kemauan untuk mengevaluasi dirinya dan adanya bantuan dari guru BK yang membuat siswa lebih mudah mengevaluasi diri mereka didalam proses belajarnya. Terdapat 10 siswa (12.99%) yang

memiliki evaluasi diri yang rendah namun memiliki prestasi belajar yang tinggi. Menurut hasil wawancara, siswa merasa nilai yang didapat sudah bagus dan beranggapan cara belajar mereka sudah cukup baik dan berhasil mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan. Terdapat pula 9 siswa (11.69%) memiliki evaluasi diri yang tinggi namun prestasi belajar yang didapatkan rendah. Hal tersebut dapat dikarenakan selain oleh faktor intelegensi, dapat juga dikarenakan kurang adanya kemauan siswa untuk merubah cara belajar untuk mendapatkan

Dokumen terkait