• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan III Materi Pelajaran:

E. Hasil Pengujian Hipotesis 1. Anava Dua Jalan

2. Uji Lanjut Anava

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan pengaruh antar rerata pada anava, maka dilakukan uji komparasi ganda antar rerata dengan metode Scheffe, yang rangkuman analisisnya sebagai berikut:

Tabe1 18. Rangkuman Komparasi Rerata Pasca Anava Komperen si Xi-Xj 1/ni +1/nj RKG F Kriti k Kesimpul an A1 vs A2 1036.58 24 0.057 2 81.281 9 222.99 41 3.98 Ditolak B1 vs B2 107.536 9 0.057 6 81.281 9 22.982 6 3.98 Ditolak

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Komparasi antar baris

Dari hasil uji lanjut diperoleh FA12 = 222.9941 > F0,05;1;66 = 3,98, berarti terdapat beda rerata metode mengajar yang signifikan antara penggunaan model kooperatif metode jigsaw dan metode ceramah bervariasi. Rerata kemampuan pengajaran dengan model kooperatif metode jigsaw A1= 79,611 dan pengajaran dengan metode ceramah bervariasi A2= 66,324. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model kooperatif metode jigsaw mempunyai pengaruh yang lebih baik terhadap prestasi belajar geografi dibandingkan siswa yang mendapat pengajaran dengan metode ceramah bervariasi.

2) Komparasi rerata antar kolom

Dari hasil uji lanjut diperoleh FBI2 = 22.9826 > F0,05;1;66 = 3,98, berarti terdapat beda rerata hasil belajar geografi siswa yang signifikan antara siswa yang memiliki motivasi tinggi dan

rendah. Rerata motivasi siswa tinggi B1= 82,000 dan motivasi rendah B2 = 77,222. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi yang tinggi mempunyai pengaruh yang lebih baik terhadap hasil belajar geografi dibandingkan siswa dengan motivasi rendah. Hasil perhitungan uji lanjut pasca analisis variasi dua jalan dapat dilihat pada lampiran 32.

F. Pembahasan Hasil Penelitian

Pembelajaran kooperatif mengupayakan siswa untuk mampu mengajarkan kepada siswa lain. Mengajar teman sebaya dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan, ia menjadi nara sumber bagi teman yang lain. Pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerjasama dan bertanggungjawab secara sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam kelompok kecil tersebut, siswa dapat saling berbagi mengenai kelebihan masing-masing, sehingga saling mengembangkan kemampuan dan hubungan interpersonalnya. Selain itu siswa juga dapat belajar bagaimana mengelola konflik yang biasa timbul dalam kelompok. Rasa saling ketergantungan ini muncul karena adanya perbedaan yang dimiliki oleh manusia.

Jika dikomparasikan dengan beberapa penelitian yang relevan menunjukkan ada kesamaan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok eksperimen dengan perlakuan pembelajaran model kooperatif jigsaw dengan pembelajaran ceramah bervariasi. Selain itu belajar melalui mengajari orang lain dan diskusi sebagaimana yang dituntut dalam pembelajaran dengan jigsaw mendorong pemahaman mereka tentang topik yang sedang dibahas dan mereka mengaku bahwa mereka dapat mengingat topik itu dengan lebih baik. Dalam penelitian ini, metode jigsaw membuktikan bahwa belajar bisa menjadi sangat menyenangkan, edukatif, dan sangat kaya akan pengetahuan dan pengalaman.

Pada awal pelaksanaan penerapan pembelajaran model kooperatif metode jigsaw mengalami beberapa masalah antara lain: 1) prinsip utama pola pembelajaran ini adalah ‘peer teaching’, pembelajaran teman sendiri, ini menjadi kendala karena perbedaan persepsi untuk memahami suatu konsep yang akan didiskusikan dengan teman yang lainnya dalam kelompok. Sehingga dalam hal ini pengawasan guru menjadi sangat diperlukan agar tidak terjadi salah persepsi, 2) siswa kurang percaya diri pada awal diskusi. Rasa kurang percaya diri terjadi pada pelaksanan diskusi pertemuan awal, karena belum terkondisi. Selanjutnya pada pertemuan berikutnya, masalah-masalah sudah mulai dapat diatasi, siswa mulai terkondisi sehingga diskusi kelompok bisa berlangsung dengan baik.

Pengamatan pembelajaran model kooperatif jigsaw dilakukan dengan memberikan skor 1 sampai 4 pada lima aspek yang diamati yaitu: kerjasama dalam kelompok, peran dalam kelompok, aktivitas bertanya, sikap dalam mengikuti diskusi, dan menjawab atau membahas permasalahan. Daftar skor pengamatan pembelajaran kooeparti jigsaw dapat dilihat pada lampiran 34.

Tabel 19. Rata-rata Skor Pengamatan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

No Aspek Pengamatan*

Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan 5

Skor rata-rata % Skor rata-rata % Skor rata-rata % Skor rata-rata % Skor rata-rata % 1 Kerjasama dalam kelompok 2.7 67 2.8 71 3.3 82 3.6 90 3.9 97 2 Peran dalam kelompok 2.4 60 2.7 67 2.9 72 3.4 84 3.5 88 3 Aktivitas bertanya 2.2 54 2.5 62 2.8 70 2.9 74 3.1 78 4 Sikap dalam mengikuti diskusi 2.9 72 3.1 76 3.1 78 3.3 81 3.6 91 5 Menjawab/mem-bahas permasalahan 2.4 61 2.6 66 2.9 72 3.0 76 3.4 86 *Keterangan : Skor maksimal 4

Gambar 11. Diagram Garis Peningkatan Proses Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Pada pertemuan pertama pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan metode kooperatif jigsaw belum berjalan seperti yang diharapkan. Kegiatan diskusi masih cenderung terpusat pada tim ahli yang menyampaikan materi yang menjadi bagiannya. Dari hasil pengamatan dijumpai ada siswa yang kurang memperhatikan penyampaian materi, seperti membuka-buka buku, berbisik-bisik pada temannya, rasa kurang percaya diri karena ada pengamat dan petugas dokumentasi, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta diskusi masih sebatas materi yang disampaikan oleh pembawa materi. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor aktivitas bertanya sebesar 2,2 atau sekitar 54 persen. Secara umum, sikap mengikuti diskusi sudah cukup baik dengan skor 2,9 atau 72 persen. Pada akhir pertemuan peneliti

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 I II III IV V Sk o r R at a -r at a Pertemuan Aktivitas bertanya Peran dalam kelompok Aktivitas bertanya Sikap dalam mengikuti diskusi

Menjawab/membahas permasalahan

membahas pelaksanaan diskusi, mengenai hambatan-hambatan belajar dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw. Dari sisi aktivitas siswa selama belajar dengan metode kooperatif jigsaw pada pertemuan pertama, tampak masih ada rasa kurang percaya diri dalam menyampaikan materi, peserta masih merasa kesulitan utuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan dibahas dalam diskusi. Peneliti menyampaikan kembali tentang tata cara pembelajaran dengan metode kooperatif jigsaw, yaitu mengembangkan perilaku sosial dan motivasi belajar yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar. Siswa diharapkan dapat mempersiapkan diri secara lebih baik pada pertemuan berikutnya.

Berdasarkan hasil pertemuan pertama, dilakukan perbaikan pada pertemuan kedua. Siswa diharapkan dapat mempersiapkan materi yang akan disampaikan pada pertemuan kedua. Sikap dalam mengikuti diskusi dan kerjasama dalam kelompok mulai semakin terlihat cukup baik. Sikap dalam mengikuti diskusi memperoleh skor tertinggi 3,1 atau 76 persen dan kerjasama kelompok memperoleh skor 2,8 atau 71 persen. Namun dari kelima aspek yang diamati, aktivitas bertanya masih memiliki skor terendah yaitu 2,5 atau 62 persen. Pada akhir pertemuan peneliti membahas pelaksanaan diskusi, untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam pertemuan kedua. Masih ada hambatan terutama aktivitas bertanya dari peserta untuk dibahas dalam diskusi. Peneliti memberikan

motivasi agar dalam diskusi muncul banyak pertanyaan yang akan menjadi materi dalam diskusi.

Pada pertemuan ketiga secara umum pelaksanaan diskusi dengan metode kooperatif jigsaw sudah berjalan dengan lancar. Suasana kelas nampak ramai tetapi dalam rangka pembelajaran. Kerjasama dalam kelompok sudah terjadi, peran setiap peserta diskusi, sikap dalam mengikuti diskusi nampak serius, aktivitas bertanya ada peningkatan, serta kegiatan tanya jawab dalam kelompok diskusi terjadi dengan baik. Pada akhir pertemuan disampaikan permasalahan yang muncul yaitu suasana yang gaduh sedikit banyak akan mengganggu kelompok lain dalam melakukan diskusi, sehingga diharapkan pada pertemuan berikutnya suasanya bisa lebih nyaman.

Pada pertemuan keempat dan kelima, pelaksanaan diskusi semakin menunjukkan perbaikan dibandingkan pertemuan sebelumnya. Meskipun suasana kelas agak gaduh, namun dalam suasana pembelajaran. Kerjasama dalam kelompok dan sikap mengikuti diskusi dengan metode kooperatif jigsaw semakin baik.

Setelah kegiatan pada diskusi dengan metode kooperatif jigsaw selesai kemudian dilakukan penilaian dengan menggunakan instrumen yang sudah disusun dan dipersiapkan sebelumnya. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan statistik dan dilakukan analisis. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa: ada pengaruh positif pendekatan pembelajaran menggunakan model

kooperatif metode jigsaw terhadap prestasi belajar Geografi, ada pengaruh positif motivasi belajar terhadap prestasi belajar Geografi, dan tidak ada pengaruh positif pada interaksi pembelajaran menggunakan model kooperatif metode jigsaw dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Geografi.

Berdasarkan data prestasi belajar, jumlah siswa yang memiliki hasil belajar tinggi dan motivasi tinggi berjumlah 2 siswa. Untuk mendapatkan data kualitatif dilakukan wawancara dengan 3 siswa yang memiliki nilai tertinggi dengan motivasi yang tinggi yaitu Choirul Fuadi, Nur Tri Rahayu, dan Rizky Rahayu. Siswa yang hasilnya menyimpang, Didik Indrawan memiliki motivasi tinggi namun prestasi belajarnya rendah. Sebaliknya Listyaningsih, motivasinya rendah namun prestasi belajarnya tinggi. Sedangkan Eka Puji Lestari dan Yuliani Sri Mulyani motivasinya rendah, prestasi belajarnya juga rendah.

Menurut Choirul Fuadi pembelajaran dengan pendekatan model kooperatif jigsaw sangat menarik, karena menuntut keaktifan siswa. Siswa tidak hanya sekedar berdiskusi, namun memiliki tanggung jawab yang penuh baik secara individu maupun kelompok. Secara individu harus mampu menguasai materi yang menjadi bagiannya kemudian menjelaskan kepada teman anggota kelompoknya, sedangkan secara kelompok harus berusaha saling membantu dan saling melengkapi. Menurutnya pembelajaran kooperatif jigsaw memudahkan dalam memahami materi dan belajar saling berkomunikasi. Kelemahannya menurutnya ada siswa yang kurang menguasai materi yang menjadi bagiannya sehingga kurang bisa menjelaskan kepada teman dalam kelompoknya dan kadang-kadang ramai sendiri.

Harapannya semoga ada model-model pembelajaran yang baru yang dapat diterapkan di kelas untuk mengurangi kejenuhan.

Nur Tri Rahayu mengatakan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif jigsaw sangat menarik karena mendorong siswa untuk berperan aktif. Siswa diberikan materi dan diharapkan dapat menguasai materi dan mengajarkannya kepada teman dalam kelompoknya. Dengan demikian siswa termotivasi untuk belajar. Salain itu penggunaan variasi model pembelajaran membuat proses belajar mengajar tidak jenuh. Meskipun awalnya mengalami kendala karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif jigsaw, tetapi yakin bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan pemahaman materi. Pembelajaran dengan model kooperatif jigsaw berbeda dengan metode diskusi, karena dalam metode diskusi ada kecenderungan siswa yang pandai akan menguasai jalannya diskusi, namun pada model kooperatif jigsaw semua anggota berperan sesuai dengan materi yang harus dikuasainya.

Sementara itu Didik Indrawan memiliki motivasi tinggi, tetapi prestasi belajarnya rendah. Responden ini yakin bahwa pembelajaran model kooperatif jigsaw sangat menarik dan mampu meningkatkan prestasi belajar. Namun jika kontrol dari guru kurang maka yang terjadi adalah “ngobrol bersama”. Kesulitan yang dialaminya adalah kurang mampu menguasai materi pelajaran yang dijadikan sebagai eksperimen penelitian ini. Didik Indrawan adalah ketua OSIS di SMA Negeri 1 Cepogo, selain itu dalam beberapa evaluasi memang ada kecenderungan nilainya tidak termasuk kelompok dengan nilai tinggi. Namun motivasi belajarnya cukup tinggi, dan berusaha untuk mengembangkan kemampuannya.

Listyaningsih memiliki nilai yang tinggi namun motivasinya rendah. Menurutnya mata pelajaran Geografi bukan merupakan mata pelajaran favorit,

namun dia tidak ingin nilainya rendah. Untuk itu dia belajar agar tidak mendapatkan nilai yang rendah. Penggunaan model-model pembelajaran cukup menarik untuk mengurangi kebosanan dalam proses belajar mengajar.

Sedangkan Eko Puji Lestari dan Yuliani Sri Mulyani motivasinya rendah, demikian juga prestasi belajarnya. Menurut pendapatnya sebenarnya pembelajaran dengan model kooperatif jigsaw sangat menarik, tetapi karena pelajaran geografi terlalu luas sehingga mengalami kesullitan dalam belajar. Selain motivasinya rendah, ada kecenderungan siswa ini kurang menguasai teknik-teknik belajar memahami materi geografi. Hal ini menjadi tantangan bagi peneliti untuk dapat membuat suasana pembelajaran yang menarik, serta mengajarkan teknik-teknik penguasaan materi pelajaran.

Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif jigsaw adalah siswa belum terkondisi dengan model pembelajaran ini. Awalnya ada kecanggungan siswa dalam memyampaikan materi yang menjadi tugasnya untuk disampaikan kepada anggota kelompoknya. Namun dengan beberapa masukan dan evaluasi dari peneliti, pada pertemuan berikutnya kendala itu dapat diminimalisir. Selain itu ketersediaan buku pegangan siswa sangat terbatas, sehingga wawasan siswa untuk mengembangkan materi juga berkurang.

Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif jigsaw atau model-model yang lainnya perlu diterapkan oleh guru. Selain itu, motivasi siswa juga harus diupayakan peningkatannya. Motivasi siswa dapat muncul karena faktor dari dalam dan faktor dari luar siswa. Faktor dari dalam karena adanya ketertarikan dan keingintahuan siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran akan mendorong siswa untuk belajar sehingga hasil belajar yang dicapai dapat meningkat. Sedangkan faktor dari luar karena adanya rangsangan yang berasal dari luar diri siswa, misalnya

penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dan menarik, hal ini akan dapat memotivasi siswa. Siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi maka hasil belajar yang dicapai akan cenderung tinggi. Demikian pula sebaliknya siswa yang mempunyai motivasi rendah cenderung hasil belajarnya juga rendah. Motivasi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan seseorang. Ada keterkaitan antara pendekatan pembelajaran kooperatif metode jigsaw dan motivasi yang ada pada diri siswa sebagai penunjang tingginya prestasi belajar siswa.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Ada pengaruh positif pendekatan pembelajaran menggunakan model kooperatif metode jigsaw terhadap prestasi belajar Geografi. Pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw lebih baik daripada pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah bervariasi jika dilihat dari prestasi belajarnya, khususnya pada materi menganalisis fenomena biosfer.

2. Ada pengaruh positif motivasi belajar terhadap prestasi belajar Geografi. Ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang memiliki motivasi tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi rendah. Siswa yang memiliki motivasi rendah memiliki kecenderungan prestasinya rendah, dan siswa yang memiliki motivasi tinggi memiliki kecenderungan prestasinya tinggi.

3. Tidak ada pengaruh positif pada interaksi pembelajaran yang menggunakan model kooperatif metode jigsaw dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar Geografi.

Dokumen terkait