Gambaran Umum Kabupaten Nagekeo
Kabupaten Nagekeo terletak di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur dengan luas wilayah 1.416,96 km2 dan berpenduduk 132.458 jiwa (tahun 2008). Kabupaten Nagekeo terletak di sebelah barat dari Pulau Flores dengan ibukota kabupaten adalah Mbay. Kabupaten Nagekeo dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007. Wilayah Kabupaten Nagekeo terdiri dari 7 kecamatan yang meliputi 78 desa dan 15 kelurahan (data tahun 2008). Kecamatan-kecamatan yang terdapat di wilayah Kabupaten Nagekeo meliputi Kecamatan Mauponggo, Kecamatan Keo Tengah, Kecamatan Nangaroro, Kecamatan Boawae, Kecamatan Aesesa, Kecamatan Aesesa Selatan, dan Kecamatan Wolowae (BPS Kabupaten Nagekeo, 2009).
Kabupaten Nagekeo tergolong daerah yang beriklim tropis dan terbentang hampir sebagian besar padang rumput, juga ditumbuhi pepohonan seperti kemiri, asam, kayu manis, lontar dan sebagainya serta kaya dengan fauna, antara lain hewan-hewan besar, hewan-hewan-hewan-hewan kecil, unggas, binatang menjalar, dan binatang liar. Potensi padang penggembalaan pada enam kawasan yang meliputi sembilan desa di Kabupaten Nagekeo dapat dilihat pada Tabel 1. Perkembangan ternak di Kabupaten Nagekeo mengalami penurunan, dimana pada tahun 2007 populasi ternak besar adalah sebagai berikut: sapi 21.803; kerbau 7.748; dan kuda 4.402 ekor. Sementara untuk 3 jenis ternak kecil terdiri dari kambing sebanyak 39.365 ekor dan domba sebanyak 3.572 ekor, sedangkan populasi babi sebanyak 54.000 ekor (BPS Kabupaten Nagekeo, 2009).
Secara geografis Kabupaten Nagekeo terletak antara 8026’16,12” LS – 8054’40,24” LS dan 12105’19,52” BT – 121031’30,94” BT. Bagian utara berbatasan dengan Laut Flores, bagian selatan berbatasan dengan Laut Sawu, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Ende dan bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Ngada. Sedangkan wilayah dengan ketinggian tanah dari permukaan laut 0 – 250 m seluas 30,72%; 251 – 500 m seluas 34,84%; 501 – 750 m seluas 15,86%; 751 – 1000 m seluas 10,75%; lebih tinggi dari 1000 m seluas 7,83%. Kondisi iklim yang sejuk dan ketersediaan hijauan yang relatif besar sangat cocok bagi pengembangan ternak
4 sapi. Rata-rata curah hujan di Kabupaten Nagekeo adalah 121,92 mm/thn dengan rata-rata hari hujan adalah 100 hari/tahun (BPS Kabupaten Nagekeo, 2009).
Tabel 1. Luas Padang Penggembalaan di Sembilan Desa di Kabupaten Nagekeo. No Kawasan Lokasi (Desa) Luas Padang (Ha)
1 Nagarawe Nagarawe 11.890,16 2 Ndora Ulupulu 2.910,41 3 Ndora Bidoa 4.065,01 4 Lambo Lambo 3.677,13 5 Ratedao Natatoto 17.447,35 6 Rendu Rendubutowe 3.636,90 7 Rendu Renduwawo 7.587,19 8 Rendu Dhereisa 3.713,04 9 Munde Tedakisa 8.618,50 Total 63.545,69
Sumber : BPS Kabupaten Nagekeo (2009)
Sumber : BPS Kabupaten Nagekeo (2009)
Gambar 1. Peta Kabupaten Nagekeo
Padang Penggembalaan
Menurut Reksohadiprodjo (1994) padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang dapat merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Beberapa macam
5 padang penggembalaan diantaranya padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang sudah ditingkatkan, padang penggembalaan temporer dan padang penggembalaan irigasi. Beberapa cara menggembalakan ternak di padang penggembalaan antara lain yaitu cara ekstensif dengan menggembalakan ternak di padangan yang luas tanpa rotasi, semi-ekstensif dengan melakukan rotasi namun pemilihan hijauan masih bebas, cara intensif dengan melakukan rotasi tiap petak dengan hijauan dibatasi, strip grazing dengan menempatkan kawat sekeliling ternak yang bisa dipindah dan solling dengan hijauan padangan yang dipotong dan diberikan pada ternak di kandang.
Menurut Pearson dan Ison (1987) terdapat beberapa komponen biologis yang saling berhubungan dalam suatu siklus biologi yang dinamis di padang penggembalaan. Komponen tersebut yaitu lingkungan, tanaman dan ternak. Semua komponen tersebut diintegrasikan ke dalam suatu sistem manajemen padang penggembalaan. Crowder dan Chheda (1982) menambahkan bahwa aspek lain yang berhubungan dalam manajemen pastura adalah pengetahuan tentang tanaman pastura, kesuburan tanah, iklim, kesesuaian populasi tanaman dan asosiasi botani.
Produksi rumput di padang penggembalaan ditentukan oleh beberapa faktor seperti iklim, pengelolaan, kesuburan tanah, pemeliharaan dan tekanan penggembalaan (Reksohadiprodjo, 1994). Kandungan nutrisi rumput banyak ditentukan oleh umur tanaman saat digembalakan, jenis rumput, intensitas cahaya dan suhu, lingkungan dan manajemen berpengaruh terhadap produktivitas ternak, ternak yang dilahirkan pada musim panas umumnya memiliki bobot badan yang rendah, produksi dan kualitas susu rendah, pertumbuhan anak domba terhambat (Brandano et al., 2004).
Pengaruh Kondisi Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah cahaya, temperatur, air, ketersediaan komponen udara dan kesuburan tanah. Sementara faktor internal yang mendukung pertumbuhan mencakup semua proses fisiologi dari jaringan, kondisi stomata, akumulasi atau ketersediaan bahan makanan seperti glukosa dan perubahan struktural dari jaringan tumbuhan sebagai respon terhadap pertumbuhan, peningkatan umur pohon, serta penyakit yang terdapat pada bagian tumbuhan (Fritts, 1976).
6 Topografi dalam hal ini tingkat kemiringan lereng dapat dinyatakan dalam derajat atau persen. Dua titik yang berjarak horizontal 100 m yang mempunyai selisih tinggi 10 m membentuk lereng 10%. Kecuraman lereng 100% sama dengan kecuraman 45º (Arsyad, 1980). Pengaruh dari topografi sangat kompleks, termasuk didalamnya adalah perbedaan tanah, temperatur udara, evapotranspirasi, dan cahaya matahari. Tempat tumbuh dengan topografi yang sama menunjukkan keseragaman yang tinggi terhadap variabilitas lingkaran tumbuh dari tahun ke tahun (Philipson et al.,1971; Oberhuber dan Kofler, 2000).
Semakin besar kemiringan lereng menyebabkan peningkatan laju aliran permukaan. Adapun sifat tanah yang mempengaruhi aliran permukaan adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan bawah dan tingkat kesuburan tanah (Arsyad, 1980). Efisiensi penyerapan hara oleh akar lebih baik pada tanah dengan kondisi lembap daripada kering. Selain dipengaruhi oleh kekeringan, air tanah yang berlebihan tanpa drainase dapat menjadi faktor pembatas pertumbuhan. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya pengambilan oksigen, absorpsi air dan serapan hara (Rendig dan Taylor, 1989).
Bahan organik tanah merupakan komponen kecil dari tanah mineral, namun mempunyai fungsi dan peranan sangat penting di dalam menentukan kesuburan dan produktivitas tanah melalui pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Stevenson, 1982). Menurut Tan (1991), tanah memiliki produktivitas yang baik apabila kadar bahan organik berkisar antara 8 sampai 16%. Oleh karena itu untuk meningkatkan jumlah bahan organik tanah secara bertahap, bahan organik harus dikembalikan ke tanah sehingga akan terjadi akumulasi bahan organik tanah. Stevenson (1982) menyatakan peranan bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah: (1) membentuk kelat dengan ion logam penting seperti Cu, Fe, Al dan Mn, sehingga menjadi bentuk yang stabil dalam tanah dan pada kondisi tanah tertentu dapat dimanfaatkan tanaman atau mikroorganisme tanah, (2) sebagai penyangga perubahan pH tanah, (3) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah, dan (4) bereaksi dengan senyawa organik lain seperti senyawa dari pestisida atau herbisida yang akhirnya ada yang menyebabkan perubahan bioaktivitasnya.
Pada tanah masam, ion Al, Fe dan Mn dapat ditukar tinggi dan akan berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman karena daerah jelajah akar menjadi
7 sempit (Soepardi, 1983). Unsur P sangatlah penting untuk tanaman karena terlibat hampir pada seluruh proses metabolisme. Unsur P merupakan penyusun yang esensial untuk semua sel hidup, dengan demikian rendahnya kandungan hara tersebut akan mempengaruhi semua aspek metabolisme dan pertumbuhan (Gunarto et al.,
1998).
Tan (1991) menyatakan bahwa curah hujan yang sangat besar dan jauh melebihi kebutuhan tanah dan tanaman menyebabkan tanah tererosi dan terlindih berat yang mengakibatkan terangkutnya garam terlarut. Pada suasana tersebut kecuali komponen asam hanya Fe dan Al serta beberapa logam oksida saja yang dapat tahan terhadap pelapukan, oleh karena itu reaksi tanah menjadi asam atau sangat asam.
Kapasitas Tampung
Kapasitas tampung adalah kemampuan padang penggembalaan untuk menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh sejumlah ternak yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan padang penggembalaan untuk menampung ternak per hektar (Reksohadiprodjo, 1994). Kapasitas tampung juga dapat diartikan sebagai kemampuan padang rumput dalam menampung ternak (Susetyo, 1980) atau jumlah ternak yang dapat dipelihara per satuan luas padang (Subagio dan Kusmartono, 1988). Dengan demikian kapasitas tampung tersebut tergantung pada berbagai faktor seperti kondisi tanah, pemupukan, faktor klimat, spesies hijauan, serta jenis ternak/satwa yang digembalakan atau terdapat di suatu padangan.
Kapasitas tampung identik dengan tekanan penggembalaan (stocking rate) yaitu jumlah ternak atau unit ternak per satuan luas padang penggembalaan. Tekanan penggembalaan optimum merupakan pencerminan dari kapasitas tampung yang sebenarnya dari padang penggembalaan, karena baik pertumbuhan ternak maupun hijauan dalam keadaan optimum atau merupakan pencerminan keseimbangan antara padang rumput dengan jumlah unit ternak yang digembalakan (Susetyo, 1980).
8 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas tampung (Subagio dan Kusmartono, 1988) yaitu :
1. Penaksiran kuantitas produksi hijauan.
Umumnya dilakukan dengan metode cuplikan dengan memakai frame berukuran tertentu dengan bentuk yang bermacam-macam (persegi, bujur sangkar, lingkaran atau segitiga). Pengambilan sampel dilapangan dilakukan secara acak. Banyaknya ditentukan dengan melihat homogenitas lahan yaitu komposisi botani, penyebaran produksi, serta topografi lahan. Hijauan yang terdapat dalam areal frame dipotong lebih kurang 5-10 cm diatas permukaan tanah dan ditimbang beratnya. 2. Penentuan Proper Use Factor
Konsep Proper Use Factor (PUF) besarnya tergantung pada jenis ternak yang digembalakan, spesies hijauan di padangan, tipe iklim setempat serta kondisi tanah padangan. Untuk penggunaan padangan ringan, sedang, dan berat nilai PUF-nya masing-masing adalah 25-30%, 40-45%, dan 60-70%. Konsep ini digunakan dalam menaksir produksi hijauan antara lain karena :
‐ Erodibilitas lahan, yaitu jika lahan semakin mudah mengalami erosi dengan hamparan vegetasi rendah, sebaiknya tidak terlalu banyak hijauan dipanen.
‐ Pola pertumbuhan kembali hijauan. Bila hijauannya mempunyai pola pertumbuhan setelah panen lamban, maka sebaiknya tidak semua hijauan yang ada diperhitungkan untuk menentukan jumlah ternak yang akan dipelihara.
‐ Jenis dan perkiraan jumlah ternak yang akan dipelihara bahwa semakin banyak jenis ternak yang dipelihara maka injakan ternak terhadap rerumputan mengakibatkan tidak 100% hijauan yang ada dapat dikonsumsi ternak.
3. Menaksir kebutuhan luas tanah per bulan
Penaksiran ini didasarkan pada kemampuan ternak mengkonsumsi hijauan. Data kebutuhan rumput padang penggembalaan seekor ternak per bulan diestimasi berdasarkan bobot badan untuk selanjutnya digunakan dalam penentuan luas lahan yang dibutuhkan oleh ternak tersebut per bulan dengan mengetahui produksi rumput padang penggembalaan per ha.
9 4. Menaksir kebutuhan luas tanah per tahun
Suatu padangan memerlukan masa agar hijauan yang telah dikonsumsi ternak tumbuh kembali dan siap untuk digembalai lagi. Masa ini disebut sebagai periode istirahat. Padang rumput tropika membutuhkan waktu 70 hari untuk istirahat setelah digembalai selama 30 hari. Untuk menaksir kebutuhan luas tanah per tahun digunakan rumus Voisin yaitu sebagai berikut :
(Y-1)s = r
dimana : Y = jumlah satuan luas tanah (paddock) terkecil yang dibutuhkan seekor sapi (1 ST)
s = periode merumput (stay) r = periode istirahat (rest)
Analisa Proksimat
Informasi umum mengenai kualitas bahan pakan dapat diketahui dari hasil analisa proksimat yang telah digunakan lebih dari 100 tahun yang lalu. Analisa tersebut disebut sebagai analisa Weende analisa proksimat yang dikembangkan pada tahun 1860 oleh Henneberg dan Stohmann di Jerman (Aquaculture, 2008). Analisa proksimat merupakan uji analisa suatu bahan pakan yang telah lama ada dan dapat digunakan untuk menduga nilai nutrien dan nilai energi dari bahan atau campuran pakan yang berasal dari bagian komponen bahan pakan tersebut (NRC, 1994).
Analisa proksimat dibagi ke dalam enam fraksi zat makanan yaitu kadar air, abu, protein kasar, lemak, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Amrullah, 2004). Adapun skema analisa proksimat bahan pakan ditampilkan pada Gambar 2.
Air Bahan makanan Abu Bahan Protein Kering Bahan Lemak Organik Bahan
Organik Serat Kasar Tanpa N
Karbohidrat
Bahan
Ekstrak Tanpa N
10 Pakan yang baik dapat diketahui dari komposisi nutrien yang dikandung, kecernaan nutrien dan kemampuan dalam menyediakan energi serta ada tidaknya penghambat dalam pakan tersebut. Cheeke (1999) menyatakan bahwa terdapat beberapa metode yang biasa digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai komposisi nutrien diantaranya adalah analisis pakan. Metode analisis pakan tersebut meliputi penentuan bahan kering, protein kasar, ekstrak eter, abu, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Selanjutnya, menurut Wiseman dan Cole (1990) kebanyakan data kimia bahan pakan merupakan data komposisi kimia bahan pakan berdasarkan hasil analisa proksimat.
Ensminger (1991) menyatakan bahwa komposisi hasil analisis kimia pakan merupakan acuan mendasar untuk evaluasi pakan. Selain itu, berdasarkan hasil analisa proksimat suatu bahan pakan yang memiliki nilai komposisi kimia yang bervariasi akan lebih mudah diketahui, jika disusun ke dalam sebuah tabel sehingga menjadi sebuah data tabulasi untuk keperluan pembuatan ransum (Parakkasi, 1990). Kebanyakan penetapan hasil analisis tersebut berdasarkan bahan kering (dry matter basic). Hal tersebut dikarenakan secara alamiah kandungan air (moisture) dari bahan pakan, jaringan tubuh hewan dan sampel yang dianalisis beragam (Church dan Pond, 1988).
Fermentabilitas Pakan
Bahan makanan yang masuk ke dalam alat pencernaan akan mengalami perubahan fisik dan kimia. Proses pencernaan pada ternak ruminansia terjadi secara mekanis (mulut), pencernaan hidrolitik dan pencernaan fermentatif di dalam rumen (Sutardi, 1980). Proses fermentasi pakan di dalam rumen menghasilkan VFA dan NH3, serta gas-gas (CO2, H2, dan CH4) yang dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Arora, 1989).
Volatile Fatty Acid (VFA).
Karbohidrat pakan di dalam rumen mengalami dua tahap pencernaan oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba rumen. Tahap pertama, karbohidrat mengalami hidrolisis menjadi monosakarida, seperti glukosa, fruktosa, dan pentosa. Selanjutnya, gula sederhana tersebut dipecah menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2, dan CH4 (McDonald et al., 2002).
11 VFA merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan sumber energi utama ruminansia asal rumen. Peningkatan jumlah VFA menunjukkan mudah atau tidaknya pakan tersebut difermentasi oleh mikroba rumen. Oleh sebab itu, produksi VFA di dalam cairan rumen dapat digunakan sebagai tolok ukur fermentabilitas pakan (Hartati, 1998). Menurut Sutardi (1980), kisaran VFA ransum yang optimal adalah 80-160 mM.
Hijauan umumnya memiliki pola fermentasi dengan proporsi molar asetat yang tinggi dan proporsi propionat dan butirat yang rendah, dimana rasio asetat:propionat:butirat adalah 69:17:14. Pakan mengandung tinggi konsentrat umumnya memproduksi fermentasi propionat (55:32:13); pakan yang mengandung tinggi sukrosa menghasilkan fermentasi butirat (55:14:31) (Harrison dan McAllan, 1980). Menurut McDonald et al. (2002), ransum dengan komposisi 40% hijauan:60% konsentrat, akan menghasilkan VFA total sebesar 96 mM dengan perbandingan 61% asetat, 18% propionate dan 8% butirat pada sapi, sedangkan domba akan menghasilkan VFA total sebesar 76 mM dengan perbandingan 52% asetat, 34% propionate dan 12% butirat (McDonald et al., 2002).
Amonia (NH3).
Protein pakan di dalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino, beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi ammonia. Amonia diproduksi bersama dengan peptida dan asam amino yang akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembetukan protein mikroba (McDonald et al., 2002).
Produksi NH3 berasal dari protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik. Di dalam rumen, protein dihidrolisis pertama kali oleh mikroba rumen. Tingkat hidrolisis protein bergantung dari daya larutnya yang berkaitan dengan kenaikan kadar NH3 (Arora, 1989). Kadar amonia dalam rumen merupakan petunjuk antara proses degradasi dan proses sintesis protein oleh mikroba rumen. Jika pakan defisien akan protein atau proteinnya tahan degradasi maka konsentrasi amonia dalam rumen akan rendah dan pertumbuhan mikroba rumen akan lambat yang menyebabkan turunnya kecernaan pakan (McDonald et al., 1987).
Amonia merupakan sumber nitrogen utama untuk sintesis protein mikroba oleh karena itu konsentrasinya dalam rumen merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan (Satter dan Slyier, 1974). Menurut McDonald et al. (2002), kisaran
12 konsentrasi NH3 yang optimal untuk sintesis protein oleh mikroba rumen adalah 6-21 mM.
Ranjhan (1977) menyatakan bahwa peningkatan jumlah karbohidrat yang mudah difermentasi akan mengurangi produksi amonia karena terjadi kenaikan penggunaan amonia untuk pertumbuhan protein mikroba. Kondisi yang ideal adalah sumber energi tersebut dapat difermentasi sama cepatnya dengan pembentukan NH3
sehingga pada saat NH3 terbentuk terdapat produksi VFA asal karbohidrat yang akan digunakan sebagai sumber dan kerangka karbon dari asam amino protein mikroba telah tersedia.
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik (KCBK dan KCBO)
Kecernaan merupakan perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan dalam alat pencernaan. Perubahan tersebut dapat berupa penghalusan bahan makanan menjadi butir-butir atau partikel kecil atau penguraian molekul besar menjadi molekul kecil. Selain itu, pada ruminansia pakan juga mengalami perombakan sehingga sifat-sifat kimianya berubah secara fermentatif sehingga menjadi senyawa lain yang berbeda dengan zat makanan asalnya. Kecernaan adalah indikasi awal ketersediaan nutrien yang terkandung dalam bahan pakan tertentu bagi ternak yang mengkonsumsinya. Kecernaan yang tinggi mencerminkan besarnya sumbangan nutrien tertentu pada ternak, sementara itu pakan yang mempunyai kecernaan rendah menunjukkan bahwa pakan tersebut kurang mampu menyuplai nutrien untuk hidup pokok maupun untuk tujuan produksi ternak (Arora, 1989). Kecernaan dapat diukur dengan teknik in vitro menurut Tilley dan Terry (1969). Kecernaan bahan kering dipengaruhi oleh kandungan protein pakan karena setiap sumber protein memiliki kelarutan dan ketahanan degradasi yang berbeda-beda (Sutardi, 1980). Kecernaan bahan organik merupakan faktor penting yang dapat menentukan nilai pakan (Sutardi, 1980). Sutardi (1981) melaporkan bahwa sebagian besar komponen bahan kering terdiri atas bahan organik sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya KCBK akan mempengaruhi juga tinggi rendahnya KCBO.
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu
Penelitian lapangan dilaksanakan pada enam kawasan yaitu Nagerawe, Ndora, Lambo, Ratedao, Rendu dan Munde, yang terdiri dari sembilan desa yaitu Desa Dhereisa, Bidoa, Tedakisa, Renduwawo, Ulupulu, Nagarawe, Rendubutowe, Lambo, dan Natatoto di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Analisis proksimat dilakukan di Pusat Studi Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor, sedangkan untuk analisa Kecernaan Bahan Kering (KCBK), Kecernaan Bahan Organik (KCBO), produksi NH3 dan produksi VFA secara in vitro dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2011 sampai dengan bulan Mei 2011.
Materi
Peralatan yang dipergunakan dalam pengambilan sampel rumput padang penggembalaan adalah petak cuplikan berukuran 0,5 x 0,5 m, alat pemotong rumput, dan kantong tempat sampel rumput. Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel tanah adalah alat untuk mengambil tanah dan kantong tempat sampel tanah. Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran KCBK, KCBO, produksi NH3
dan VFA antara lain polyethilen glass 100 ml, tabung gas CO2, termos, kain penyaring, waterbath suhu 39 oC, cawan Conway, sentrifuse, pompa vakum, oven 105oC, tanur, magnetic stirrer, destilator, buret, kondensor, tabung fermentor ukuran 100 ml, tutup karet berventilasi, pipet automatic 10-1000µl, panci press cooker, dan seperangkat alat destilasi. Peralatan yang digunakan dalam analisa proksimat adalah oven 150 oC, tanur 600 oC, labu soxhlet, labu Kjeldahl, dan corong Buchner.
Bahan yang digunakan adalah sampel rumput dan sampel tanah masing-masing desa. Untuk analisis KCBK/KCBO, produksi NH3 dan VFA digunakan cairan rumen yang diambil dari sapi fistula PO (Peranakan Ongole) dengan bobot badan 250 kg.
14
Prosedur Penentuan Lokasi Penelitian
Kabupaten Nagekeo terdiri dari 7 kecamatan yang meliputi 78 desa. Dari 7 kecamatan tersebut dipilih enam kawasan yaitu Nagerawe, Ndora, Lambo, Ratedao, Rendu dan Munde, yang terdiri dari sembilan desa yaitu Desa Dhereisa, Bidoa, Tedakisa, Renduwawo, Ulupulu, Nagarawe, Rendubutowe, Lambo, dan Natatoto. Pemilihan desa ini berdasarkan luasan padang penggembalaan yang dimiliki masing-masing desa sangat potensial untuk pengembangan ternak ruminansia.
Pengambilan Sampel Tanah dan Analisis Tanah
Sampel tanah diambil secara acak pada tiga titik yang berbeda di masing-masing padang penggembalaan, kemudian dikomposit dan diambil sebanyak 200 gram untuk dianalisis di laboratorium. Analisis yang dilakukan meliputi analisis tekstur dengan metode pipet, analisis pH tanah dengan menggunakan pH meter dan analisis nilai tukar kation dengan metode NH4-Asetat 1N. Untuk analisis bahan organik yaitu C (karbon) dengan metode Walkey dan Black, analisis N dengan metode Kjeldahl, analisis P2O5 dengan metode Olsen dan analisis K2O menggunakan metode Bray 1.
Pengambilan Sampel Rumput dan Analisis Sampel Rumput Masing-masing Desa
Pengambilan sampel rumput dan pengukuran kapasitas tampung dilakukan dengan menggunakan Metode Hall, yaitu berdasarkan hijauan yang tersedia. Metode untuk menentukan letak petak cuplikan dengan cara pengacakan. Prosedur pengambilan sampel rumput dan penentuan kapasitas tampung dengan Metode Hall adalah sebagai berikut: Sampel rumput diambil pada 3 titik untuk setiap desa. Sampel rumput ditentukan dengan mengambil petak cuplikan pertama secara acak seluas 0,25 m2. Petak cuplikan kedua diambil jarak 10 langkah ke kanan dari petak cuplikan pertama dengan luas 0,25 m2. Cuplikan ketiga selanjutnya diambil pada jarak lurus 125 m dari cuplikan kedua. Hijauan tersebut kemudian dimasukkan dalam kantong kemudian ditimbang bobot segarnya. Selanjutnya ditentukan Proper Use Factor (PUF) sehingga dapat ditentukan produksi hijauan yang tersedia untuk ternak.
15 Faktor musim berpengaruh terhadap produktivitas padang rumput maka ditentukan waktu istirahat (rest) dan waktu merumput (stay) dengan rumus Voisin yaitu:
(Y-1)s = r
dimana : Y = jumlah satuan luas tanah (paddock) terkecil yang dibutuhkan seekor sapi (1 ST)
s = periode merumput (stay) = 30 hari
r = periode istirahat (rest) = 10 minggu = 70 hari
Sampel rumput yang telah didapatkan kemudian diidentifikasi jenis rumputnya untuk menentukan komposisi botani padang penggembalaan masing-masing desa. Setelah melakukan identifikasi, sampel kemudian dikomposit dan dimasukkan ke dalam kantong untuk ditimbang bobot segarnya, selanjutnya dikering udara untuk mengetahui berat kering dan dikeringkan di oven 105 ºC untuk diketahui bahan keringnya (BK/0,25 m2). Bahan kering yang didapat kemudian dikonversi ke dalam luasan lahan padang penggembalaan masing-masing desa sehingga didapat total produksi BK masing-masing desa.
Selanjutnya dilakukan evaluasi kandungan nutrisi sampel rumput menggunakan analisa proksimat untuk diketahui kandungan kadar air (KA), kadar abu, protein kasar (PK), lemak kasar (LK) dan serat kasar (SK). Untuk penentuan TDN menurut Sutardi (1981) digunakan persamaan regresi berganda untuk menduga TDN dari komposisi proksimat.