• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data

3.5.3 Menilai Goodness of Fit

3.5.3.2 Uji T

Pada dasarnya untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas / independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hipotesis nol (Ho) yang hendak diuji adalah apakah semua parameter dalam model sama dengan nol, atau :

Ho : bi = 0

29 Artinya, apakah suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel independen. Hipotesis alternatifnya (HA) parameter suatu variabel tidak sama dengan nol, atau :

Artinya variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Uji F diterima bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan derajat kepercayaan sebesar 5%. Kemudian dengan melihat nilai statistik t, bila nilai t hasil perhitungan lebih tinggi dibanding nilai t tabel (t hasil > t table), maka hipotesis alternatif dapat diterima. (Ghozali, 2011 : 98 – 99)

F hitung :

thitung = r √(n-2) √(1-r2) Keterangan :

t = tingkat signifikan yang dicari r = nilai koefisien korelasi n = jumlah sampel

3.5.3.3 Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model menerangkan variasi variabel dependen. Semakin kecil nilai R2 maka semakin kecil kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variabel – variabel dependen. Nilai yang

HA : bi≠ 0

30 mendekati satu berati variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkanuntuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011 : 97).

Jika nilai R2 hitung semakin besar (mendekati satu) maka kontribusi dari variabel independen terhadap variabel dependen semakin besar. Hal ini mengindikasikan bahwa model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan variasi variabel dependen.

Sebaliknya, jika nilai R2 hitung semakin kecil (mendekati nol) maka kontribusi dari variabel independen terhadap variabel dependen semakin kecil, dan model yang digunakan semakin lemah menerangkan variasi variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi ganda (R2) berada di antara 0 dan 1 atau 0<R2<1. Nilai R2 dapat diperoleh dengan rumus:R2 = (r2) x 100%

Dimana : R2 = koefisien determinasi r2 = koefisien korelasi 3.6 Definisi Operasional

3.6.1 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pendapatan rumah tangga petani. Pendapatan rumah tangga petani adalah total biaya konsumsi rumah tangga petani selama sebulan dan total tabungan selama sebulan.

Hal ini didasari oleh rumus pendapatan rumah tangga Y = C + S. Dimana satuan yang digunakan adalah Rupiah (Rp)

31 3.6.2 Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependen). Adapun variabel-variabel independen yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:

3.6.2.1 Penghasilan / Penerimaan Pertanian

Penerimaan pertanian adalah jumlah total produksi hasil pertanian, peternakan, maupun perikanan selama setahun yang dikalikan dengan harga jualnya lalu dibagi 12 bulan. Dimana satuan yang digunakan adalah Rupiah (Rp).

3.6.2.2 Upah / Penerimaan Perdagangan

Penerimaan Perdagangan adalah jumlah penerimaan atau revenue penjualan barang yang terjadi selama sebulan. Dimana satuan yang digunakan adalah Rupiah (Rp).

3.6.2.3 Upah / Penerimaan Jasa

Penerimaan Jasa adalah jumlah upah atau nominal uang yang dibayarkan atas hasil kerjanya dibidang jasa kepada responden atau anggota keluarga responden selama sebulan. Dimana satuan yang digunakan adalah Rupiah (Rp).

3.6.2.4 Upah / Penerimaan Industri

Penerimaan Industri adalah jumlah upah atau nominal uang yang dibayarkan atas hasil kerjanya dibidang industri kepada responden atau anggota keluarga responden selama sebulan. Dimana satuan yang digunakan adalah Rupiah (Rp).

32 3.7 Operasionalisasi Penelitian

Terlampir pada lampiran 10

33 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis Lokasi Penelitian

Desa Nagrak merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Terdapat pada titik koordinat 106.850948 Bujur Timur dan 6.609923 Lintang Selatan. Desa Nagrak berada pada ketinggian 450 m di atas permukaan laut. Desa Nagrak memiliki curah hujan 3800 – 4200 mm/tahun, dengan curah hujan terbesar pada bulan November hingga Januari. Suhu rata – rata tiap bulan 24oC dengan suhu terendah 20,5oC dan suhu tertinggi 29, 7oC.

Kelembapan udara 65%. Desa Nagrak dapat diakses melalui jalan utama yaitu jalan raya Bogor lalu ke jalan Tanah Baru, kemudian melewati Jalan Pangeran Shogiri, selanjutnya masuk ke jalan Sukaraja, terakhir melewati jalan Nagrak. Desa Nagrak berbatasan langsung dengan Desa Sukatani, dan Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Luas wilayah Desa Nagrak sekitar 766,15 Ha. Terbagi dalam 8 Rukun Warga dan 44 Rukun Tangga dengan jumlah penduduk sebanyak 11.459 jiwa. Desa Nagrak terletak di dalam Kabupaten Bogor. Sebelah utara Desa Nagrak berbatasan dengan Desa Cikeas, Kabupaten Bogor. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cibanon, Kabupaten Bogor. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Cijayanti, Kabupaten Bogor. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sukatani, Kabupaten Bogor.

Jarak Desa Nagrak dari pusat Kecamatan Sukaraja adalah sejauh 8 km. Jarak Desa Nagrak dengan Ibukota Propinsi adalah sejauh 130 km. Jarak Desa Nagrak dengan Ibukota Negara adalah sejauh 58 km. Desa Nagrak dapat diakses melalui

34 jalan darat dengan prasarana yang sudah tersedia yaitu jalan asal sepanjang 4 km, jalan tanah 500 m, dan jalan beton 1 km. Sarana angkutan umum yang dapat digunakan menuju Desa Nagrak adalah angkot yang beroperasi dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00, dan transportasi ojek yang beroperasi hingga pukul 20.00.

4.2 Karakteristik Sosial Ekonomi

Desa Nagrak memiliki luas pemukiman sebesar 253,15 Ha, yang berupa perumahan biasa (pribumi) dan perumahan komplek terdapat pula luas kuburan secara keseluruhan seluas 2000 m2. Luas lahan pertanian sebesar 513 Ha. Perkantoran dan pertokoan seluas 0,06 Ha Adapun luas lahan yang digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 1 Ha, dan luas sarana pendidikan dan olahraga sebesar 2,52 Ha.

Sumber daya air yang terdapat pada Desa Nagrak didominasi penggunaan sumur pompa dengan data yang menyebutkan bahwa sumur pompa merupakan sumber air utama yang digunakan oleh masyarakat Desa Nagrak. Pilihan masyarakat Desa Nagrak selain menggunakan sumur pompa adalah menggunakan jasa air minum swadaya yang dikelola masyarakat yang dikelola menggunakan dana bantuan dari PNPM Mandiri. Terakhir adalah sarana sumber daya air dari sumur tangan maupun sungai, sumber air yang didapat dari sumur tangan atau sungai hanya teradapat di wilayah pelosok desa saja.

Jumlah penduduk Desa Nagrak menurut data Kantor Desa yang dapat dipertanggung jawabkan kurang lebih ada 11.459 jiwa sampai pertengahan tahun 2015, dengan perbedaan jumlah 5.907 laki – laki dan 5.552 perempuan terbagi dalam 3.780 kepala keluarga. Agama yang dianut sebagian besar masyarakat Desa Nagrak

35 adalah Islam dengan jumlah penganut sebesar 11.412 orang. Terdapat 9 masjid, 36 mushala, 5 pondok pesantren dan 7 majlis ta’lim pada Desa Nagrak.

Mata pencaharian masyarakat Desa Nagrak cukup bervariasi, terdiri dari mata pencarian modern hingga konvensional. Pegawai swasta dan pedagang menjadi mata pencaharian paling dominan, hal tersebut dibuktikan dengan 2.406 orang bekerja sebagai pegawai swasta dan 1.872 orang sebagai pedagang yang menggantungkan hidupnya pada sektor – sektor tersebut. Petani sebanyak 340 orang. Buruh Tani sebanyak 880 orang. Jasa sebanyak 173 orang. Pegawai Negeri Sipil sebayak 34 orang. Pertukangan sebanyak 42 orang. Dan TNI sebanyak 10 orang. Jumlah Petani yang tidak besar menunjukkan bahwa pertanian tidak begitu memberikan pendapatan yang cukup bagi para petani. Sehingga para petani dan buruh tani melakukan pekerjaan – pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Diantara para petani tersebut ada yang memiliki pekerjaan lain seperti buruh bangunan, berternak, perdagangan, dan pegawai swasta yang biasanya bekerja pada pabrik, dan bagian jasa.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Nagrak dapat dibilang sedang dan cukup berkembang. Terdapat sekitar 1.969 orang yangbelum bersekolah, dan 1.743 orang yang tidak tamat sekolah dasar. Ada 921 orang tidak pernah sekolah. Ada 196 orang yang berada di PAUD. Ada 64 orang yang berada di TK. Sekolah dasar merupakan jumlah terbesar yang ada yaitu sekitar 3.015 orang yang tamat sekolah dasar, kemudian disusul dengan penduduk yang menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ sederajat 2.297 orang dan jumlah penduduk yang menamatkan Sekolah Menengah Atas ada 1.489 orang. Penduduk yang melanjutkan dan tamat di perguruan

36 tinggi DI, DII, DIII sebanyak 49 orang. Dan Penduduk yang melanjutkan SI, SII, SII sebanyak 230 orang.

Perkembangan pendidikan pada Desa Nagrak sudah masuk dalam kategori sedang berkembang. Hal ini dikarenakan adanya PAUD yang berjumlah 3 buah.

Taman kanak – kanak (TK) baru berjumlah 1 buah . Sekolah Dasar (SD) hanya berjumlah 4 buah. Madrasah Ibtidaiyah /(MI) baru berjumlah 1 buah. Sekolah Menengah Pertama (SMP) baru berjumlah 1 buah. Sekolah Menengah Atas (SMA) yang hanya berjumlah 1 buah. Namun Desa Nagrak memiliki Madrasah Diniyah atau Majlis Ta’lim sebanyak 7 buah.

Kesehatan masyarakat Desa Nagrak belum dapat dikategorikan sudah cukup baik dengan indikatornya hanya terdapat bidan, pusat kesehatan desa (poskesdes), posyandu. Dalam mencegah penyakit endemik dan dalam merespon keluhan masyarakat. Pemerintah Desa Nagrak hanya mampu mendirikan 16 posyandu dan 1 poskesdes. Namun 2 lembaga tersebut sangat berperan penting dalam membantu masyarakat mengatasi penyakit dan sebagai mediator seruan dari pemerintah mengenai isu – isu yang berkembang dan cara penanggulangannya, teutama dalam masalah kesehatan. Desa Nagrak juga memiliki sarana olahraga berupa 5 lapangan sepakbola yang biasa digunakan sebagai tempat olahraga dan mengadakan kegiatan keagamaan maupun acara besar lainnya. Desa Nagrak juga memiliki 1 lapangan voli, dan 1 lapangan bulu tangkis.

4.3 Lokasi Penelitian

Desa Nagrak memiliki 8 RW dan 44 RT. Awalnya terdapat 5 RW yang menjadi basis pertanian di Desa Nagrak, yaitu RW 03/ Kampung Cibedug Hilir, RW04/

37 Cibedug Tengah, RW05/ Cibedug Raden, RW06/ Kampung Cibedug Mayak, dan RW07/ Cibedug Bagade. Namun setelah banyak terjadi pembelian lahan oleh development, basis pertanian Desa Nagrak hanya terdapat di RW 05, RW06, RW07.

Namun agar penelitian objektif dan merata maka peneliti menetapkan RW 01 hingga RW 07 sebagai ruang lingkup penelitian. Hal ini dikarenakan tidak adanya petani di RW 08. Namun pada RW 01 hingga RW 07 masih terdapat petani yang sesuai dengan karakter petani yang akan diwawancarai oleh peneliti.

RW 01/ Kampung Nagrak terletak disebelah barat laut Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Sukatani. RW 01 merupakan daerah pemukiman yang cukup padat, selain itu juga sebagai salah satu pusat pendidikan di Desa Nagrak, karena di RW 01 terdapat Pesantren, Sekolah Dasar, Sekolah MenengahPertama. RW 01 memiliki sedikit ladang untuk digarap. Sebelah utara dan timurberbatasan dengan Desa Cikeas, dan selatan berbatasan denganRW 02. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukatani. Mata pencarian utama masyarakat RW 01 adalah pekerjaan dibidang jasa, dan berdagang, ada juga yang menjadi buruh bangunan dan berjualan ke pasar, membuka warung atau kios. Dan ada beberapa petani bertanam singkong dan tanaman ladang lainnya. Sedangkan istri ada yang berjualan dan anak petani bekerja di pabrik atau sebagai karyawan swasta. Jumlah penduduk RW 01 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 1285 jiwa dengan jumlah 669 pria dan 616 perempuan.

RW 02/ Kampung Cibitung terletak disebelah utara Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Sukatani. RW 02 merupakan daerah pemukiman yang cukup padat, namun masih terdapat beberapa ladang yang ditanami tanaman singkong yang

38 tidak cukup luas untuk digarap. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Cikeas. Sebelah timur berbatasan RW 03. Sebelah selatan berbatasan dengan RW 05.

Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukatani. Sedangkan sebelah barat laut berbatasan dengan RW 01. Mata pencaharian utama masyarakat RW 02 adalah pekerjaan berdagang, dan jasa ada juga yang menjadi buruh bangunan dan berjualan ke pasar, membuka warung sembako. Dan ada belasan petani bertanam singkong dan tanaman ladang lainnya. Sedangkan istri ada yang berjualan dan membuka warung rumahan maupun sembako. Anak petani bekerja di pabrik maupun sebagai buruh bangunan atau pekerjaan dibidang jasa. Jumlah penduduk RW 02 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 1676 jiwa dengan jumlah 885 pria dan 791 perempuan.

RW 03/ Kampung Cibedug Hilir terletak disebelah timur Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Cijayanti. RW 03 merupakan RW dengan luas terkecil, namun RW 03 termasuk kedalam daerah pemukiman yang cukup padat,tapi terdapat banyak ladang yang ditanami tanaman singkong dan jenis tanaman lain yang luas. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Cikeas. Sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Cijayanti. Sebelah selatan berbatasan dengan RW 04. Sebelah barat berbatasan dengan RW 02. Mata pencaharian utama masyarakat RW 03 adalah pekerjaan buruh dan menjadi buruh bangunan, dan jasa ada juga yang menjadi pedangang yang berjualan ke pasar, membuka warung sembako. Terdapat sekitar 20 petani bertanam singkong dan tanaman ladang lainnya. Sedangkan istri mereka ada yang menjadi pembantu rumah tangga dan membuka warung rumahan maupun sembako. Anak petani bekerja di pabrik maupun sebagai buruh bangunan

39 dan pekerjaan dibidang jasa. Jumlah penduduk RW 03 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 419 jiwa dengan jumlah 223 pria dan 196 perempuan.

RW 04/ Kampung Cibedug Tengah terletak disebelah pusat Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Cijayanti. RW 04 termasuk kedalam daerah pemukiman yang cukup padat, tapi terdapat banyak ladang yang ditanami tanaman singkong dan jenis tanaman lain yang luas. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Cikeas.Sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Cijayanti. Sebelah selatan berbatasan dengan RW 06. Sebelah barat berbatasan dengan RW 05. Mata pencaharian utama masyarakat RW 04 adalah pekerjaan buruh tani dan menjadi buruh bangunan, dan buruh ada juga yang menjadi yang berjualan ke pasar, membuka warung. Terdapat sekitar 20 petani yang bertanam singkong dan tanaman ladang lainnya. Sedangkan istri mereka ada yang menjadi pembantu rumah tanggadan membuka warung rumahan maupun sembako. Anak petani bekerja di sebagai karyawan pabrikdan sebagai buruh bangunan selain itu ada juga yang bekerja dibidang jasa. Jumlah penduduk RW 04 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 2035 jiwa dengan jumlah 1078 pria dan 957 perempuan.

RW 05/ Kampung Cibedug Raden terletak disebelah barat dari Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Sukatani. RW 05 memiliki daerah yang cukup terjal dan tebing, RW 05 juga memiliki ladang yang cukup luas untuk berladang.

Sebelah utara terdapat RW02, dan disebelah timur dan selatan adalah RW 04. Mata pencaharian utama masyarakat RW 05 adalah bertani singkong dan tanaman ladang lainnya. Selain itu para petani juga memelihara kambing, menjadi buruh bangunan

40 dan berjualan ke pasar, membuka warung atau kios. Istri para petani sebagaian menjual jasa sebagai pembantu dan baby sitter. Sedangkan anak mereka bekerja di pabrik atau sebagai karyawan swasta. Jumlah penduduk RW 05 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 1813 jiwa dengan jumlah 954 pria dan 859 perempuan.

RW 06/ Kampung Cibedung Mayak terletak di daerah tenggara Desa Nagrak yang berbatasan langsung dengan Desa Cijayanti di sebelah barat, Desa Gunung Geulis di sebelah selatan, dan RW 07 disebelah barat, dan sebelah utara berbatasan dengan RW 04. RW 06 memiliki wilayah perbukitan yang biasa digunakan untuk berladang. Mata pencaharian warga RW 05 sebagian besar adalah petani yang yang memiliki pekerjaan lain seperti berternak kambing skala kecil, menjadi buruh bangunan, berdagang atau pekerjaan dibidang jasa. Sedangkan para istri menjadi baby sitter di Desa Gunung Geulis. Anak – anak para petani memiliki profesi sebagai karyawan swasta di pabrik atau membantu orang tuanya berdagang. Jumlah penduduk RW 06 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 2044 jiwa dengan jumlah 1224 pria dan 1110 perempuan.

RW 07/ Kampung Pasir Bagade terletak paling selatan dari Desa Nagrak. RW 07 berbatasan langsung dengan Desa Cibanon di sebelah selatan, RW 06 disebelah utara, Desa Gunung Geulis di sebelah Timur. Dan Desa Sukatani disebelah barat. Wilayah RW 07 memiliki daerah berbukit – bukit yang cocok untuk ladang. Mata pencaharian warga RW 07 adalah petani. Namun petani RW 07 memiliki banyak macam penerimaan. Diantaranya adalah usaha ternak kambing skala kecil, berdagang, jasa, buruh bangunan, dan industri. Istri petani berprofesi sebagai pedagang, pembantu

41 rumah tangga, aupun baby sitter. Sedangkan anak berprofesi sebagai karyawan swasta atau buruh industri. RW 07 menurut sensus yang dilakukan pemerintahan desa adalah 1026 jiwa dengan jumlah 535 pria dan 491 perempuan.

42 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Total Pendapatan Rumah Tangga Petani

Persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini menggambarkan perilaku pendapatan rumah tangga petani dengan menggunakan analisis regresi linier berganda pada program SPSS versi 18. Pada model dilakukan serangkaian pengujian secara statistik maupun secara ekonometrik. Pada uji statistik, dianalisis menggunakan uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas, heteroskedastisitas, dan uji multikolinieritas.

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan alat bantu SPSS 18, hasil yang diperoleh untuk perhitungan regresi linier berganda dari faktor-faktor yang mempengaruhi total pendapatan rumah tangga petani disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Total Pendapatan Rumah Tangga Petani.

Sumber : Data Primer (diolah)

43 Berdasarkan hasil regresi pada tabel di atas, dapat diketahui persamaan regresi sebagai berikut:

Y = (3,115) + 0,196 X

1

+ 0,080 X

2

+ 0,070 X

3

+ 0,180 X

4

Dimana :

Y = Pendapatan Rumah Tangga X1 = Penerimaan Pertanian X2 = Penerimaan Perdagangan X3 = Penerimaan Jasa

X4 = Penerimaan Industri Pabrik

Berdasarkan hasil persamaan regresi yang diperoleh, maka model regresi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1) Nilai konstanta (a) sebesar 3,115.

2) Koefisien Penerimaan Pertanian (X1) bernilai 0,196. Artinya apabila penerimaan pertanian mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah per bulan, maka pendapatan rumah tangga petani akan meningkat sebesar 0,196 rupiah per bulan, dengan asumsi variabel bebas lainnya bersifat tetap.

3) Koefisien Penerimaan Perdagangan (X2) bernilai 0,080. Artinya apabila penerimaan perdagangan mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah, maka pendapatan rumah tangga petani akan meningkat sebesar 0,080 rupiah per bulan dengan asumsi variabel bebas lainnya bersifat tetap.

4) Koefisien Penerimaan Jasa (X3) bernilai 0,070 artinya apabila penerimaan jasa mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah per bulan, maka pendapatan rumah tangga

44 petani akan meningkat sebesar 0,070 rupiah dengan asumsi variabel bebas lainnya bersifat tetap.

5) Koefisien Penerimaan Industri Pabrik (X4) bernilai 0,180. Artinya apabila penerimaan industri pabrik mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah per bulan, maka pendapatan rumah tangga petani akan meningkat sebesar 0,180 rupiah dengan asumsi variabel bebas lainnya bersifat tetap

Dapat diketahui bahwa koefisien variabel penerimaan pertanian, perdagangan, jasa, industri pabrik positif artinya apabila penerimaan pertanian, perdagangan, jasa, industri pabrik meningkat, maka pendapatan rumah tangga petani pun akan mengalami kenaikan.

5.1.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi pada penelitian ini ditampilkan pada tabel di bawah.

Tabel 5. Hasil Uji Adjusted R Square

Sumber: Data Primer (diolah)

Tabel 5 menunjukan nilai koefisien determinasi sebesar 0,584, yang berarti variabel independen yaitu penerimaan pertanian, penerimaan perdagangan, penerimaan jasa dan penerimaan industri pabrik mampu menjelaskan variabel dependennya yaitu pendapatan rumah tangga petani sebesar 58,4% dan sisanya 41,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian ini. Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur seberapa baik regresi sesuai dengan data aktualnya (goodness of fit).

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,619 ,584 ,534 ,09814

45 5.1.2 Hasil Uji Simultan

Hasil uji F pada penelitian ini disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 6. Hasil Uji F (Uji Simultan) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Total Pendapatan Rumah Tangga Petani

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression ,300 4 ,075 7,782 .000

Residual ,482 50 ,010

Total ,781 54

Sumber: Data Sekunder (diolah)

Hasil uji F yang terlihat pada tabel di atas menunjukkan pada tingkat signifikan 5%, df1 = 4 dan df2 = 50, maka didapat nilai Fhitung (F-statistic) sebesar 7,782. Nilai tersebut menunjukan bahwa Fhitung lebih besar dari Ftabel yaitu 2,79 dengan nilai probabilitas 0,000 yang berarti di bawah nilai signifikansi 0,05.

Sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel independen yaitu penerimaan pertanian, penerimaan perdagangan, penerimaan jasa dan penerimaan industri pabrik secara simultan (bersama-sama) memiliki pengaruh terhadap pendapatan rumah tangga petani di Desa Nagrak.

5.1.3 Hasil Uji T (Uji Parsial)

Berdasarkan Berdasarkan hasil pencarian Ttabel dengan nilai df = 51, diperoleh Ttabel sebesar 1,675 pada tingkat signifikansi 95% dan diperoleh nilai Ttabel sebesar 0,679 pada tingkat signifikansi 75%. Diketahui Thitung variabel penerimaan pertanian sebesar 4,435. Nilai t tersebut berada diatas Ttabel sebesar 1,675 pada tingkat signifikansi 95%. Jika disimpulkan Thitung > Ttabel, demikian pula signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

46 Dapat disimpulkan terdapat pengaruh positif dan signifikan dari penerimaan pertanian terhadap pendapatan rumah tangga petani.

Tabel 4 menunjukkan nilai Thitung variabel penerimaan perdagangan sebesar 2,233. Nilai t tersebut diatas Ttabel sebesar 1,675 pada tingkat signifikansi 95%. Jika disimpulkan Thitung > Ttabel, untuk signifikansi variabel penerimaan perdagangan sebesar 0,030 lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan dari penerimaan perdagangan terhadap pendapatan rumah tangga petani.

Tabel 4 menunjukkan nilai Thitung variabel penerimaan jasa sebesar 1,114.

Nilai t tersebut diatas Ttabel sebesar 0,679 pada tingkat signifikansi 75%. Jika disimpulkan Thitung > Ttabel, untuk signifikansi variabel penerimaan jasa sebesar 0,271 lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif tetapi tidak signifikan dari penerimaan jasa terhadap pendapatan rumah tangga petani.

Tabel 4 menunjukkan nilai Thitung variabel penerimaan industri pabrik sebesar 1,280. Nilai t tersebut diatas Ttabel sebesar 0,679 pada tingkat signifikansi 75%. Jika disimpulkan Thitung > Ttabel, untuk signifikansi variabel penerimaan industri pabrik sebesar 0,207 lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif tetapi tidak signifikan dari penerimaan jasa terhadap pendapatan rumah tangga petani.

47 5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Total Pendapatan Rumah Tangga

Petani

Pembahasan pengaruh faktor-faktor terhadap pendapatan rumah tangga petani dijelaskan sebagai berikut:

5.2.1 Penerimaan Pertanian (X1)

Berdasarkan tabel 4 variabel penerimaan pertanian memiliki koefisien regresi sebesar 0,196 yang berarti bahwa peningkatan penerimaan pertanian sebesar 1 rupiah maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani di Desa Nagrak sebesar

Berdasarkan tabel 4 variabel penerimaan pertanian memiliki koefisien regresi sebesar 0,196 yang berarti bahwa peningkatan penerimaan pertanian sebesar 1 rupiah maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani di Desa Nagrak sebesar