8. Price To Book value (PBV)
4.3. Uji Non-parametik 1 Uji Kruskal-Wallis
Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk membandingkan dua atau lebih nilai rata-rata populasi secara bersamaan. Uji Kruskal-Wallis ini digunakan untuk menganalisis ada atau tidak ada perbedaan kinerja keuangan antara bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.
Ringkasan output uji Kruskall-Wallis (Rank) dapat dilihat pada Tabel 4 dan perhitungan lengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5.
Tabel 4. Hasil Uji Kruskal-Wallis (Rank)
Sumber : Ringkasan Output Uji Kruskal-Wallis
Semakin tinggi mean rank rasio CAR, ROA, ROE, PER dan PBV menunjukan semakin unggul rasio tersebut, sedangkan semakin rendah mean rank rasio NPL gross, BOPO, dan LDR menunjukan semakin unggul rasio tersebut.
Tabel 4 menunjukan bahwa mean rank CAR (14,00), ROA (16,50), ROE (17,38), dan PBV (15,00) bank persero lebih tinggi dari mean rank CAR (10,07), ROA (8,64), ROE (8,14) dan PBV (9,50) bank swasta nasional dominasi asing yang telah go public. Sedangkan mean rank BOPO (6,75) dan LDR (9,38) bank persero lebih rendah dari mean rank BOPO (14,12) dan LDR (12,71) bank swasta nasional dominasi asing. Hal ini menyimpulkan bahwa rasio CAR, ROA, ROE, BOPO, LDR, PBV bank persero lebih unggul dibanding bank swasta nasional dominasi asing.
Tabel 4 menunjukan bahwa mean rank PER (12,43) bank swasta nasional dominasi asing lebih tinggi dari mean rank PER (9,88) bank persero. Sedangkan mean rank NPL gross (10,21) bank swasta nasional
Rasio Keuangan Jenis Bank Mean Rank
Berdasarkan Tabel 5 hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio NPL gross diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari α (0,219 > 0,01) sehingga Ho diterima/H1 ditolak. Hasil analisis rasio tersebut menunjukan tidak ada perbedaan antara NPL gross pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Hal tersebut disebabkan baik bank persero dan swasta nasional dominasi asing memiliki NPL gross yang baik, tetapi Bank ICB Bumiputera yang masuk ke dalam kelompok bank swasta nasional dominasi asing memiliki NPL gross di atas batas maksimum yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia sebesar 5%.
Sedangkan hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio ROA berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih kecil dari α (0,006 < 0,01) sehingga Ho ditolak/H1 diterima. Hasil analisis rasio ROA tahun 2010-2011 menunjukan ada perbedaan antara ROA pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Hal ini disebabkan ROA tahun 2010-2011 pada bank persero lebih tinggi dari bank swasta nasional dominasi asing dan disebabkan Bank ICB Bumiputera yang masuk ke dalam kelompok bank swasta nasional dominasi asing memiliki ROA negatif karena mengalami kerugian di tahun 2011. Jadi dari segi tingkat efisiensi usaha dan dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan kelompok bank persero lebih unggul dibandingkan dengan kelompok bank swasta nasional dominasi asing.
Dapat terlihat pula hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio ROE berdasarkan tabel 5 menunjukan hasil yang sama dengan rasio ROA, yaitu nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih kecil dari α (0,001 < 0,01) sehingga Ho ditolak/H1 diterima. Hal tersebut menunjukan rasio ROE tahun 2010-2011 menunjukan ada perbedaan antara ROE pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Adanya perbedaan ROE pada bank tersebut disebabkan ROE tahun 2010-2011 pada bank persero lebih besar dari ROE yang dimiliki bank swasta nasional dominasi asing, apalagi Bank ICB Bumiputera yang masuk ke dalam kelompok bank swasta nasional dominasi asing mengalami pertumbuhan ROE ke arah yang negatif karena pada tahun 2011 bank tersebut mengalami kerugian. Hal ini mencerminkan bahwa penghasilan yang tersedia bagi para pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan pada bank persero berbeda dengan bank swasta nasional dominasi asing.
Dapat dilihat pada Tabel 5 hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio BOPO diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih kecil dari α (0,009 < 0,01) sehingga Ho ditolak/H1 diterima. Hal ini menunjukan ada perbedaan antara BOPO pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Karena pada tahun 2010-2011 BOPO yang dimiliki Bank ICB Bumiputera yang masuk ke dalam kelompok bank swasta nasional dominasi asing sangat tinggi, sementara BOPO pada bank persero relatif rendah. ROA, ROE, dan BOPO pada bank persero lebih unggul karena bank yang diteliti merupakan 4 bank yang besar di Indonesia sehingga memiliki fasilitas dan layanan yang sangat memadai untuk nasabahnya dan juga memiliki banyak kantor cabang yang bisa menjangkau nasabah lebih banyak sehingga tingkat profitabilitas dan efektifitas bank persero lebih unggul.
Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat hasil uji Kruskal-Wallis rasio LDR terlihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari α (0,246 > 0,01) sehingga Ho diterima/H1 ditolak. Hal tersebut menunjukan tidak ada perbedaan antara LDR pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. LDR masing-masing bank swasta nasional dominasi asing lebih kecil dari bank persero, karena BTN
memiliki rasio LDR yang cukup tinggi hampir mendekati batas ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia dalam menilai tingkat kesehatan bank sebesar 110% yang artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat.
Hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio PER dapat dilihat pada Tabel 5 diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari α (0,375 > 0,01) sehingga Ho diterima/H1 ditolak dan hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio PBV menunjukan hal yang sama dengan hasil pada rasio PER, yaitu nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari α (0,056 >
0,01) sehingga Ho diterima/H1 ditolak. Hal tersebut menunjukan tidak ada perbedaan antara bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio PER mencerminkan bahwa tidak ada perbedaan harga satu saham, tingkat kepercayaan investor atau pelaku pasar terhadap performance saham, dan rentan waktu pengembalian investasi pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Sedangkan hasil uji Kruskal-Wallis pada rasio PBV mencerminkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi pasar terhadap nilai perusahaan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Hipotesis ini sesuai dengan penelitian Naomi (2007) yang menunjukan tidak ada perbedaan pada rasio PER dan PBV antara bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing.
4.3.2 Uji Korelasi Spearman
Uji korelasi Spearman digunakan karena objek penelitian sedikit (kurang dari 30) untuk menganalisis hubungan struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.
Berdasarkan hasil penelitian dengan alat bantu uji korelasi Spearman diketahui bahwa tidak ada hubungan antara struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Hasil penelitian ini sejalan dengan kajian yang dilakukan oleh Muliaman, et al. (2003) yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat kaitan antara struktur kepemilikan bank dengan kinerja bank maupun terhadap pelanggaran yang dilakukan.