BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil dan Pembahasan
2. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada kelompok sampel mengikuti distribusi normal. Jika p > 0,05 maka sebaran skor dinyatakan normal. Sebaliknya jika p < 0,05 maka sebaran skor dinyatakan tidak normal.
Uji normalitas dilakukan dengan One Sample Kosmogorov-Smirnov dengan program SPSS 13.00 for windows. Hasil uji normalitas menghasilkan probabilitas sebesar 0,486 ini berarti bahwa p > 0,05 sehingga distribusi skor adalah normal.
Tabel 6.
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Skor Kolmogorov Sminov 0,837
3. Kategorisasi
Kategorisasi tingkat prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa pribumi di Yogyakarta dilakukan dengan mengacu pada rata-rata skor dan standar deviasi. Penggolongan tersebut terbagi menjadi lima kategori yaitu: Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah, dan Sangat Rendah.
Tabel 7.
Kategorisasi Prasangka Rasial
Mahasiswa Cina Terhadap Mahasiswa Non-Cina di Yogyakarta Kategorisasi Norma Kategorisasi Norma Skor f %
Sangat Tinggi (µt +1,5σ)<X 243,75< X 0 0% Tinggi (µt +0,5σ)<X≤(µt +1,5σ) 206,25< X≤243,75 3 3% Sedang (µt –0,5σ)<X≤(µt +0,5σ) 168,75< X≤206,25 18 18% Rendah (µt –1,5σ)<X≤(µt –0,5σ) 131,25< X≤168,75 59 59% Sangat Rendah X≤(µt –1,5σ) X ≤131,25 20 20% Total 100 100% Keterangan: µt : Mean Teoritik σ : Standar Deviasi
Berdasarkan kategorisasi, tidak ada orang yang memiliki prasangka rasial yang sangat tinggi. 3 orang (3%) mempunyai prasangka rasial yang tinggi, 18 orang (18%) mempunyai prasangka rasial yang sedang, 59 orang (59%) mempunyai tingkat prasangka yang rendah, dan 20 orang (20%) memiliki prasangka rasial yang sangat rendah.
4. Data Demografi
Beberapa data demografi yang diperoleh dari skala adalah sebagai berikut:
Tabel 8. Data Demografi Jenis
Kelamin
Usia Perguruan tinggi
Prasangka
Pria Wanita 17-20 21-24 USD UKDW UAJY UGM Sangat Tinggi - - - - - Tinggi 1 2 1 2 1 1 1 - Sedang 13 5 9 9 5 7 2 4 Rendah 39 20 28 31 26 19 8 6 Sangat Rendah 13 7 14 6 5 11 2 2 66 34 52 48 37 38 13 12 Total 100 100 100 Keterangan:
USD : Universitas Sanata Dharma UKDW: Universitas Kristen Duta Wacana UAJY : Universitas Atma Jaya Yogyakarta UGM : Universitas Gadjah Mada
Secara terpisah, data demografi di atas dapat dilihat melalui grafik berikut ini:
Grafik 1.
Tingkat Prasangka Rasial Berdasarkan Jenis Kelamin
0 0 1 2 13 5 39 20 13 7 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Sangat Tinggi
Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Pria Wanita Keterangan: N Pria : 66 orang N Wanita : 34 orang
Melalui data demografi yang diperoleh, dapat dilihat bahwa berdasarkan jenis kelamin, jumlah mahasiswa pria yang mengisi skala adalah 66 orang dan jumlah mahasiswa wanita yang mengisi skala adalah 34 orang. Tidak ada subjek pria maupun wanita yang mempunyai tingkat prasangka rasial yang sangat tinggi. 1 orang subjek pria dan 2 orang subjek wanita memiliki tingkat prasangka tinggi. 13 subjek pria dan 5 subjek wanita memiliki tingkat prasangka sedang, 39 subjek pria dan 20 subjek wanita
berada dalam tingkat prasangka yang rendah, sedangkan 13 subjek pria dan 7 subjek wanita berada dalam tingkat prasangka yang sangat rendah.
Grafik 2.
Tingkat Prasangka Rasial Berdasarkan Usia
0 0 1 2 9 9 28 31 14 6 0 5 10 15 20 25 30 35 Sangat Tinggi
Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah
Usia 17 - 20 tahun Usia 21 - 24 tahun
Keterangan:
N Usia 17 – 20 tahun : 52 orang N Usia 21 – 24 tahun : 48 orang
Berdasarkan kategorisasi usia, jumlah mahasiswa berusia 17 – 20 tahun yang mengisi skala adalah 52 orang dan jumlah mahasiswa berusia 21 – 24 tahun yang mengisi skala adalah 48 orang. Tidak ada orang yang mempunyai tingkat prasangka rasial yang sangat tinggi. 1 orang dalam kategori usia 17 – 20 tahun dan 2 orang dalam kategori usia 21 – 24 tahun memiliki tingkat prasangka tinggi. 9 orang dalam kategori usia 17 – 20 tahun dan 9 orang dalam kategori usia 21 – 24 tahun memiliki tingkat prasangka sedang, 28 orang dalam kategori usia 17 – 20 tahun dan 31 orang dalam
kategori usia 21 – 24 tahun memiliki tingkat prasangka rendah, sedangkan 14 orang dalam kategori usia 17 – 20 tahun dan 6 orang dalam kategori usia 21 – 24 tahun memiliki tingkat prasangka sangat rendah.
Grafik 2.
Tingkat Prasangka Rasial Berdasarkan Perguruan Tinggi
0 0 0 0 1 1 1 0 5 7 2 4 26 19 8 6 5 11 2 2 0 5 10 15 20 25 30 Sangat Tinggi
Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah USD UKDW UAJY UGM Keterangan:
N USD (Universitas Sanata Dharma) : 37 orang N UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) : 38 orang N UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta) : 13 orang N UGM (Universitas Gadjah Mada) : 12 orang
Dilihat dari perguruan tinggi, 37 orang subjek berasal dari Universitas Sanata Dharma (USD), 38 orang subjek berasal dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), 13 orang subjek berasal dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan 12 orang subjek berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Tidak ada orang yang mempunyai tingkat prasangka yang
sangat tinggi. 1 orang dari masing-masing perguruan tinggi memiliki tingkat prasangka yang tinggi kecuali UGM. 5 orang dari USD, 7 orang dari UKDW, 2 orang dari UAJY, dan 4 orang dari UGM memiliki tingkat prasangka yang sedang. 26 orang dari USD, 19 orang dari UKDW, 8 orang dari UAJY, dan 6 orang dari UGM memiliki tingkat prasangka yang rendah. 5 orang dari USD, 11 orang dari UKDW, 2 orang dari UAJY, dan 2 orang dari UGM memiliki tingkat prasangka rasial yang sangat rendah.
5. Uji Perbedaan
Uji beda dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta berdasarkan jenis kelamin, usia dan universitas. Jika p ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat prasangka rasial yang signifikan di antara kelompok subjek. Sebaliknya jika p < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat prasangka rasial yang signifikan di antara kelompok subjek.
Untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina pria dan wanita, peneliti menggunakan Independent Sample T-test melalui program SPSS versi 13,00 for windows. Hasil uji perbedaan menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,264 ini berarti bahwa p > 0,05 sehingga tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina pria dan wanita terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta.
Tabel 9.
Uji Beda Berdasarkan Jenis Kelamin (Independent Sample T-test)
Jenis
Kelamin N Mean SD df t p Keterangan
Pria 66 150,30 23,184 Wanita 34 150,15 31,113 98 0,28 0,264 tidak signifikan Keterangan : N : Jumlah Subjek
SD : Besarnya standard deviasi t : Hasil uji t
p : Probabilitas
Independent Sample T-test digunakan juga untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina dengan kategori usia 17 – 20 tahun dan kategori usia 21 – 24 tahun. Hasil uji perbedaan menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,409 ini berarti bahwa p > 0,05 sehingga tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina dengan kategori usia 17 – 20 tahun dan kategori usia 21 – 24 tahun terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta.
Tabel 10.
Uji Beda Berdasarkan Usia (Independent Sample T-test)
Usia N Mean SD df t p Keterangan
17 – 20 52 145,98 26,112 21 – 24 48 154,88 25,321 98 -1,727 0,409 tidak signifikan Keterangan : N : Jumlah Subjek
SD : Besarnya standard deviasi t : Hasil uji t
Sedangkan untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina dari perguruan tinggi yang satu dengan yang lainnya, maka peneliti menggunakan One-Way Anova melalui program SPSS versi 13,00 for windows. Hasil uji perbedaan menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,444 ini berarti bahwa p > 0,05 sehingga tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina dari perguruan tinggi yang satu dengan yang lainnya terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta.
Tabel 11.
Uji Beda Berdasarkan Perguruan Tinggi (One-Way Anova)
Universitas N Mean SD df p Keterangan
USD 37 150,57 24,981 UKDW 38 145,82 28,626 UAJY 13 154,62 26,918 UGM 12 158,58 18,017 96 0,444 tidak signifikan Keterangan : N : Jumlah Subjek
SD : Besarnya standard deviasi p : Probabilitas
6. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingginya tingkat prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta. Dari 100 subjek yang mengisi skala, 59 orang (59%) memiliki prasangka rasial yang rendah dan sebanyak 20 orang (20%) memiliki prasangka rasial yang sangat
rendah. Hal ini menunjukkan bahwa prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa pribumi di Yogyakarta rendah.
Subjek yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah adalah mahasiswa Cina yang sering berinteraksi dengan mahasiswa non-Cina. Berdasarkan pengambilan sampel dengan teknik snowball sampling, dapat diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa beretnis Cina yang tinggal di Yogyakarta adalah pendatang yang berasal dari luar kota. Mahasiswa Cina pendatang pada umumnya akan mencari tempat tinggal yang praktis dan dekat dari kampus. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tinggal di rumah kontrakan atau kost-kostan. Tinggal di sebuah rumah kontrakan atau kost- kostan menuntut mahasiswa Cina untuk berinteraksi dengan teman sekamar atau teman satu kontrakan yang belum tentu memiliki etnis yang sama. Interaksi antarras ini dapat menurunkan prasangka rasial. Berkat interaksi maka dimungkinkan untuk saling mengenal kesamaan-kesamaan di antara mereka, menghilangkan stereotip yang tidak sesuai dengan kenyataan, menghapus homogenitas kelompok, dan mengembangkan perasaan positif terhadap anggota-anggota di luar kelompoknya (Pettigrew, dalam Baron dan Byrne, 2006). Teori Kontak dari Allport (1954) juga menyatakan bahwa kontak antar kelompok dapat mengurangi permusuhan antar ras bila memenuhi tiga kondisi penting, yaitu pertama, mereka harus mempunyai kontak yang akrab dan berada dalam interaksi yang akrab. Kedua, perlu adanya saling ketergantungan yang kooperatif atau menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dan saling menggantungkan diri pada usaha satu
sama lain, dan ketiga adalah bahwa kontak harus terjadi dalam status yang sederajat, karena kebencian dapat timbul karena adanya ketidakseimbangan status tradisional yang dipertahankan (dalam Sears, dkk., 2004).
Predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar membuat universitas- universitas di Yogyakarta menjadi universitas pilihan bagi calon-calon mahasiswa dari berbagai daerah. Hal ini menyebabkan sebagian besar universitas di Yogyakarta memiliki mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis. Mereka harus dapat saling bekerja sama dengan baik dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh universitas. Hal ini menyebabkan mahasiswa Cina dituntut untuk dapat berinteraksi secara intensif dengan mahasiswa non- Cina. Interaksi yang akrab dan terjadi secara terus menerus dapat mengurangi prasangka rasial. Tuntutan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, membuat mereka membutuhkan bantuan dari orang-orang yang dirasa mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka, biasanya adalah orang-orang terdekat atau yang mempunyai kesamaan kebutuhan. Hal ini menimbulkan ketergantungan yang kooperatif untuk mencapai suatu tujuan bersama. Selain itu, adanya kesamaan status sebagai mahasiswa dapat membuat interksi antara mahasiswa Cina dan mahasiswa non-Cina semakin baik, karena mereka memiliki pola pikir yang sederajat dan mampu untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhannya bersama, sehingga prasangka dapat berkurang.
Berdasarkan hasil penelitian, dari aspek kognisi dapat dilihat bahwa prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina rendah, karena mahasiswa Cina di Yogyakarta mempunyai pola pikir yang cukup
terbuka. Informasi-informasi baru yang diperoleh selama proses belajar mengajar di kelas sangat membantu dalam memperluas pandangan-pandangan mereka yang sempit terhadap suatu hal. Sebagian besar sistem keyakinan mereka mengalami pengaturan kembali dan mereka dapat melihat segala sesuatu dengan lebih objektif. Mereka akan mengubah sejumlah sikap yang telah diperoleh sejak anak-anak dalam kelompok etnisnya sendiri, dan menilai kembali sikap yang lain berdasarkan informasi yang baru diperolehnya dalam pendidikan tinggi dan pergaulannya dengan teman-temannya yang berbeda etnis, sehingga prasangka terhadap ras atau etnis lain dapat berkurang.
Dilihat dari aspek afeksi, mahasiswa Cina memiliki perasaan yang positif terhadap mahasiswa non-Cina. Sebagai kelompok minoritas, mahasiswa Cina tidak merasa dikucilkan melainkan diterima dengan tangan terbuka oleh teman-teman di luar etnis Cina. Mereka merasa nyaman bersahabat dengan orang-orang non-Cina, sehingga tidak merasa takut atau terancam walaupun tinggal dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah non-Cina. Beberapa mahasiswa Cina bahkan menjalin hubungan yang sangat akrab dengan mahasiswa non-Cina. Hubungan yang dekat dengan orang dari etnis lain pada dasarnya tidak masalah bagi mereka, namun biasanya keluarga yang menjadi penghambat dalam hubungan tersebut. Sebagian besar generasi tua etnik Cina masih memiliki sikap etnosentrisme yang kuat. Mereka mempunyai pandangan bahwa orang Cina pada umumnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang dari etnis lain. Oleh karena itu, mereka cenderung akan membatasi pergaulan mereka dengan
orang-orang non-Cina. Mereka akan merasa malu jika anaknya bergaul terlalu dekat dengan orang non-Cina. Mahasiswa Cina sebagai generasi muda memiliki sikap etnosentrisme yang lebih rendah dibandingkan dengan generasi tua, maka hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka.
Berdasarkan aspek konasi, dapat dilihat bahwa mahasiswa Cina memiliki prasangka rasial yang rendah terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta. Hal ini disebabkan karena lingkungan Yogyakarta yang terdiri dari berbagai suku dan budaya menuntut para mahasiswa Cina untuk dapat berinteraksi dengan semua orang dari berbagai etnis dan budaya. Interaksi antar ras dapat mengurangi prasangka, karena individu akan mengembangkan perasaan positif pada orang-orang dari ras lain yang sering dijumpainya dan mengembangkan perasaan negatif terhadap orang yang jarang atau tidak pernah dijumpainya (Pettigrew, dalam Baron dan Byrne, 2006). Penerimaan dari mahasiswa non-Cina membuat mahasiswa Cina merasa senang sehingga mereka juga belajar untuk dapat menghargai serta menerima teman-teman non-Cina dengan tangan terbuka.
Berdasarkan data demografi, dapat dilihat bahwa berdasarkan jenis kelamin, tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina pria dan wanita terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta. Masyarakat telah mulai dapat menerima kehadiran seseorang berdasarkan prestasinya tanpa melihat perbedaan jenis kelamin. Anak laki-laki atau perempuan telah diberi kesempatan yang sama dalam berbagai bidang di masyarakat (Helmi, 1991). Pemberian kesempatan yang sama dari orang tua kepada anak,
membuat anak memiliki kebebasan dalam segala hal termasuk dalam menjalin hubungan interpersonal, salah satunya adalah hubungan antar-etnik. Baik anak laki-laki maupun perempuan dapat bergaul dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan dalam hal suku, ras, atau agama, sehingga tingkat prasangka rasial mereka tidak mempunyai beda yang signifikan..
Berdasarkan kategorisasi usia, juga dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial mahasiswa Cina yang berusia antara 17 – 20 tahun dengan yang berusia 21 – 24 tahun terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta. Tingkat prasangka rasial antara mahasiswa Cina semester akhir dengan mahasiswa Cina semester awal sama-sama berada pada kategori rendah. Sejak awal mahasiswa masuk dalam perguruan tinggi, mereka dituntut untuk dapat melakukan interaksi dengan orang-orang dari etnis lain yang baru mereka kenal. Interaksi antar ras tersebut mampu menurunkan prasangka seiring berjalannya waktu, karena mereka dituntut untuk dapat menempatkan diri dalam tempat dan situasi dimana mereka berada. Proses adaptasi ini akan menetap untuk seterusnya dan keyakinan mereka mengalami pengaturan kembali sehingga mereka dapat lebih objektif dalam memandang etnis lain.
Berdasarkan karakter yang dimiliki tiap-tiap universitas, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta. Mahasiswa Cina yang terdapat dalam universitas swasta seperti UKDW, UAJY, USD umumnya mudah dijumpai sedangkan dalam universitas negeri seperti UGM mahasiswa Cina sangat jarang sekali ditemui. Akan tetapi, tidak ada perbedaan tingkat
prasangka rasial antara mahasiswa Cina yang berada di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Hal ini disebabkan karena interaksi yang mereka lakukan tidak hanya terjadi dalam lingkup pendidikan. Dalam lingkup non- formal pun mereka berinteraksi dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya yang belum tentu beretnis sama dengan mereka. Sehingga walaupun beberapa dari mereka bergaul secara homogen di dalam kelas, mereka tetap dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan tempat tinggal mereka seperti kost-kostan atau kontrakan. Hal ini menyebabkan karakteristik dari universitas tidak menyebabkan adanya perbedaan tingkat prasangka rasial di antara mahasiswanya.
52 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta rendah. Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian besar universitas di Yogyakarta memiliki mahasiswa dari berbagai etnis sehingga mahasiswa Cina di Yogyakarta dituntut untuk dapat berinteraksi dan bekerja sama secara baik dengan mahasiswa non- Cina. Interaksi antar ras dapat menurunkan prasangka.
Berdasarkan aspek kognisi, aspek afeksi, dan aspek konasi, prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta tergolong rendah karena adanya proses belajar di lingkungan pendidikan tinggi. Mahasiswa Cina menerima informasi-informasi baru, dan berdasarkan informasi-informasi baru tersebut pola pikirnya berkembang dan mampu bersikap lebih objektif terhadap segala hal. Mahasiswa Cina merasa nyaman bergaul dengan mahasiswa non-Cina. Sebagai kelompok minoritas mereka tidak merasa dikucilkan dan dapat diterima dengan tangan terbuka oleh mahasiswa non-Cina.
Melalui data demografi, dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan tingkat prasangka rasial mahasiswa Cina terhadap mahasiswa non-Cina di Yogyakarta berdasarkan jenis kelamin, usia, dan universitas.
B. Saran
1. Bagi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta agar lebih peka dan berhati- hati terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan prasangka rasial. Mahasiswa di Yogyakarta hendaknya diikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan interaksi antar etnis, misalnya festival kebudayaan, bakti sosial untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.
2. Bagi orang tua dan para pendidik
Orang tua dan pendidik diharapkan dapat menjadi teladan yang baik dan mengajarkan sikap yang baik bagaimana menghargai dan menghormati setiap individu, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama, sehingga tercipta interaksi yang baik antar sesama individu dan menghapus homogenitas kelompok.
3. Bagi mahasiswa etnis Cina
Mahasiswa etnis Cina diharapkan dapat meningkatkan interaksi yang baik dengan mahasiswa non-Cina sehingga tercipta hubungan yang akrab, dan mampu saling bekerja sama dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh universitas, agar dapat memperkecil timbulnya prasangka.
4. Bagi peneliti lain:
Penelitian ini masih mempunyai kekurangan, yaitu desain penelitian yang digunakan hanya deskriptif kuantitatif. Sebaiknya dikembangkan lagi menjadi desain korelasional atau perbandingan.
54
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. (1999). Prasangka Rasial dan Persepsi Agresi di Antara Mahasiswa Pribumi dan Cina Dari Empat Perguruan Tinggi di Kota Bandung. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
--- (2000). Prasangka Rasial dan Persepsi Agresi di Antara Mahasiswa Pribumi dan Cina di Kota Bandung. Jurnal Psikologi Unpad.
5(1), 64 – 75.
Allport, G. W. (1954). The Nature of Prejudice. Boston: The Beacon Press. Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Sigma Alpha.
--- (2004). Dasar-dasar Psikometri Cetakan Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
--- (2005). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baron, R. A., Byrne, D., & Branscombe, N. R. (2006). Social Psychology 11th
Edition, Boston: Allyn & Bacon Inc.
Brewer, M. B. & Miller, N. (1996). Intergroup Relation. Buckingham: Open University Press.
Brown, R. (1995). Prejudice. Its Social Psychology. Cambridge: Blackwell Publisher Inc.
--- (2005). Prejudice. Menangani ”Prasangka” dari Perspektif Psikologi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi, T. P.(2005). SPSS 13.00 Terapan: Riset Statistik Parametrik. Yogyakarta: Penerbit Andy.
Chia, Frany. (2003). Hubungan Antara Citra Raga Dengan Minat Membeli Produk Kosmetik Pemutih Kulit Pada Remaja Putri Etnis Cina. Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Hadi, Sutrisno. (2004). Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Helmi, A. F. (1991). Sikap Etnosentrik Pada Generasi Tua dan Muda Etnik Cina.
Jurnal Psikologi , 1, 38 – 46.
http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/mengurangi-prasangka-etnik.html http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/prasangka-dalam-konflik-antar- etnik.html http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/sebab-munculnya-prasangka.html http://www.ham.go.id/images/sjdi/inpres26_1998.pdf http://www.heartlight.org http://www.icf-cmh.org/GD/DocumentManagement/DocumentDownload.aspx? Document VersionID=448
http://www.munido.brd.de/artikel/artikel 04/art04 tidak ada pribumi nkri 1.html
Ikawati dan Aminatun, S. (2000). Akumulasi Prasangka Antaretnis Sebagai Penyebab Kekerasan Kolektif di Kodya Surkarta. Media Informasi Penelitian, 164, 3 – 13.
Kerlinger, F., N. (2002). Asas-asas Penelitian Behavioral Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Liliweri, A. (2005). Prasangka dan Konflik. Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: LKiS.
Matsumoto, David. (2004). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Myers, D. G. (1999). Social Psychology 6th Edition. New York: McGraw-Hill Company.
Santi, D. E., Djalali, M. A., & Matulessy, A. (2000). Hubungan Antara Prasangka Sosial Dengan Agresivitas. Fenomena, Jurnal Psikologi, 5 (6), 17 – 26. Samsinar. (1997). Perbedaan Sikap Terhadap Peran Ganda Pria Antara Etnis
Cina dan Pria Etnis Jawa. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologu Universitas Sanata Dharma.
Sears, D. O., Freedman, J. L., dan Peplau, L.A. (2004). Psikologi Sosial Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Soeboer, R. (1990). Prasangka dan Diskriminasi. Jurnal Psikologi Sosial, No. 4 Tahun III, 4 – 13.
Soekanto, Soerjono. (1992). Sosiologi Suatu Pengantar Edisi Ke-4, Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Sukisman, W.D.(1975). Masalah Cina di Indonesia. Yayasan Penelitian Masalah Asia.
Susetyo, B. (2002). Stereotip dan Konflik Antar Kelompok, Psikodimensia, Kajian Ilmiah Psikologi Volume 2 No. 3, 157 – 164.
Taylor, S.E., Peplau, L. A., & Sears, D. O.(2000). Social Psychology 10th Edition. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Tim Penyusun. (1994). Peraturan Akademik Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1994).
Kamus Besar bahasa Indonesia Edisi Ke-dua. Jakarta: Balai Pustaka – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R. I.
Wibowo, I. (2001). Harga Yang Harus Dibayar: Sketsa Pergulatan Etnis Cina Di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
SKALA DAN ANALISIS
PETUNJUK:
Berikut ini ada beberapa pernyataan mengenai kondisi seseorang jika berinteraksi dengan masyarakat beretnis pribumi. Anda diharapkan menyatakan sikap anda terhadap isi pernyataan-
pernyataan tersebut dengan memilih:
SS Jika anda SANGAT SETUJU S Jika anda SETUJU TS Jika anda TIDAK SETUJU
STS Jika anda SANGAT TIDAK SETUJU
Berilah tanda SILANG (X) pada salah satu jawaban sesuai dengan pilihan anda untuk setiap nomor pernyataan.
Karena jawaban diharapkan sesuai dengan pendapat anda sendiri, maka tidak ada jawaban yang dianggap salah dan anda tidak perlu mencantumkan nama anda.
2. Suku Bangsa Subjek : A / C* 3. Suku Bangsa Ayah : A / C* 4. Suku Bangsa Ibu : A / C* 5. Jenis Kelamin : L / P 6. Umur : tahun