BAB III METODE PENELITIAN
B. Uji Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis dengan analisis varians (ANAVA) terhadap hasil tes siswa perlu dilakukan uji persyaratan data meliputi: pertama, bahwa data bersumber dari sampel jenuh. Kedua, sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ketiga, kelompok data mempunyai variansi yang homogen. Maka akan dilakukan uji persyaratan analisis normalitas dan homogenitas dari distribusi data hasil tes yang telah dikumpulkan.
1. Uji Normalitas
Salah satu teknik analisis dalam uji normalitas adalah teknik analisis
Lilliefors, yaitu suatu teknik analisis uji persyaratan sebelum dilakukannya uji
hipotesis. Berdasarkan sampel acak maka diuji hipotesis nol bahwa sampel berasal dari populasi berdistribusi normal dan hipotesis tandingan bahwa populasi berdistribusi tidak normal. Dengan ketentuan Jika L-hitung< L-tabel maka sebaran
data memiliki distribusi normal. Tetapi jika L-hitung> L-tabel maka sebaran data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis normalitas untuk masing-masing sub kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achivement Division (A1B1)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel padakemampuan berpikir kreatif yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Divisiondiperoleh nilai L-hitung = 0,084 dengan nilai L-tabel = 0,141Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,084 <0,141maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Kemudian untuk sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa setelah diberi perlakuan yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STADdiperoleh nilai Lhitung = 0,0984dengan nilai Ltabel = 0,1418Karena Lhitung< Ltabelyakni 0,0984<0,1418maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 333-334.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipeStudent Team Achivement Division berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
b. Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif TipeStudent Team Achivement Division (A1B2)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan
model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement divisiondiperoleh nilai L-hitung = 0,888 dengan nilai tabel = 0,1418 Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,888<0,1418maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Kemudian untuk sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa setelah diberi perlakuan yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh nilai Lhitung = 0,1103dengan nilai Ltabel = 0,1418 Karena Lhitung< Ltabel yakni 0,1103<0,1418maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 337-338.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipeStudent Team Achivement Division berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
c. Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa yang Diajarkan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Solving (A2B1)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaranproblem solvingdiperoleh nilai L-hitung = 0,0941dengan nilai L- tabel = 0,1418Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,0941<0,1418maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Kemudian untuk sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa setelah diberi perlakuan yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem solvingdiperoleh nilai Lhitung = 0,1364dengan nilai Ltabel = 0,1418Karena Lhitung< Ltabel yakni
0,1364<0,1418maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 339-340.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem
solvingberasal dari populasi yang berdistribusi normal.
d. Hasil Kemampuan Pemecahan masalah Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem
solving (A2B2)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaranproblem solvingdiperoleh nilai L-hitung = 0,9436 dengan nilai L-tabel = 0,1418Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,9436
<0,1418maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Kemudian untuk sampel pada kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah diberi perlakuan yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem solvingdiperoleh nilai Lhitung = 0,1406 dengan nilai Ltabel = 0,1418Karena Lhitung< Ltabel yakni 0,1406 <0,1418maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 342-343.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem
e. Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achivement Division (A1)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achivement Divisiondiperoleh nilai L-hitung = 0,096 dengan nilai L-tabel = 0,100. Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,096 <0,100maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 343-345.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
f. Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Model Pembelajaran
Problem Solving (A2)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Problem Solvingdiperoleh nilai L-hitung = 0,082 dengan nilai L-tabel = 0,100. Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,082 < 0,100maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima.Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 346-348.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan
dengan model pembelajaran Problem Solvingberasal dari populasi yang berdistribusi normal.
g. Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team
Achivement Division dan Model Pembelajaran Problem Solving(B1)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division dan model pembelajaran Problem Solvingdiperoleh nilai L-hitung = 0,099 dengan nilai L-tabel = 0,100. Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,099 < 0,100maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 348-350.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division dan model pembelajaran
Problem Solvingberasal dari populasi yang berdistribusi
normal.
h. Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division dan model pembelajaran
Problem Solving (B2)
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk sampel pada hasil kemampuan pemecahan masalahmatematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achivement Division dan model pembelajaran Problem Solvingdiperoleh nilai Lhitung = 0,091 dengan nilai L-tabel = 0,100. Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,091 <
0,100 maka dapat disimpulkan hipotesis nol diterima. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 351-352.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel pada hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajarankooperatif tipe Student Team Achivement Division dan model pembelajaran Problem Solving berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Kesimpulan dari keseeluruhan data hasil uji normalitas kelompok- kelompok data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa semua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal sebab semua L-hitung< L-tabel. Kesimpulan hasil uji normalitas dari masing-masing kelompok dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.40
Rangkuman Hasil Uji Normalitas dengan TeknikAnalisis Lilliefors Kelompok L-hitung L-tabelα= 0,05 Kesimpulan
A1 B1 0,984
0,142
H0 : Diterima, Normal
A1 B2 0,1103 H0 : Diterima, Normal
A2B1 0,1364 H0 : Diterima, Normal
A2B2 0,1406 H0 : Diterima, Normal
A1 0,096 0,100 H0 : Diterima, Normal A2 0,082 H0 : Diterima, Normal B1 0,099 H0 : Diterima, Normal B2 0,091 H0 : Diterima, Normal Keterangan:
A1B1: Hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeStudent Team
Achivement Division (STAD)
A1B2: Hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeStudent Team
Achivement Division (STAD)
A2B1: Hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving
A2B2 : Hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving.
hitung
tabel 2. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas varians populasi yang berdistribusi normal dilakukan dengan uji Bartlett. Dari hasil perhitungan X2 (chi-Kuadrat) diperoleh nilai lebih kecil dibandingkan harga pada X2tabel. Hipotesis statistik yang
diuji dinyatakan sebagai berikut: H0 :
12 =
2 2 =
32 =
4 2 =
5Ha : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku
Dengan Ketentuan Jika X2hitung< X2 maka dapat dikatakan bahwa, responden yang dijadikan sampel penelitian tidak berbeda atau menyerupai karakteristik dari populasinya atau Homogen. Jika X2hitung> X2tabel maka dapat dikatakan bahwa, responden yang dijadikan sampel penelitian berbeda karakteristik dari populasinya atau tidak homogen.
Uji homogenitas dilakukan pada masing-masing sub-kelompok sampel yakni: (A1B1), (A1B2), (A2B1), (A2B2). Rangkuman hasil analisis homogenitas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.41
Rangkuman Hasil Uji Homogenitas untuk Kelompok Sampel (A1B1), (A1B2), (A2B1), (A2B2)
Kel Dk S² dk.S²i Log S²i dk.log S²i X² hitung X² table Keputusan A1B1 38 237,099 9009,74 2,375 90,247 2,092 7,815 Homogen A1B2 38 253,186 9621,077 2,403 91,331 A2B1 38 230,945 8775,897 2,364 89,813 A2B2 38 163,070 6196,667 2,212 84,070 A1 77 269,000 20712,987 2,430 187,091 2,017 3,841 Homogen A2 77 194,469 14974,115 2,289 176,241 B1 77 306,171 23575,179 2,486 191,419 2,181 B2 77 218,000 16822,872 2,339 180,135 2
Berdasarkan tabel hasil uji homogenitas di atas dapat disimpulkan bahwa, semua kelompok sampel berasal dari populasi yang homogen. Proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 35 halaman 355 dan 357.