• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pengujian Mutu Salep Gentamisin

2.4.6. Uji Potensi

Aktivitas (potensi) antibiotika dapat ditunjukkan pada kondisi yang sesuai

dengan efek daya hambatnya terhadap mikroba. Suatu penurunan aktivitas

antimikroba juga akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang tidak dapat

ditunjukkan oleh metode kimia, sehingga pengujian secara mikrobiologi atau

biologi biasanya merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang

kemungkinan hilangnya aktivitas (Ditjen POM, 1995).

Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang menghambat

pertumbuhan mikroba dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada yang

bersifat membunuh mikroba dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar hambat

minimal (KHM) antibakteri adalah kadar minimal dari antibakteri yang

diperlukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Kadar bunuh minimal

(KBM) antibakteri adalah kadar minimal dari antibakteri yang diperlukan untuk

menjadui bakterisid, apabila kadar antibakteri tersebut ditingkatkan lebih besar

dari KHM (Rolanda, 2012).

Uji kepekaan antibiotika dilakukan terhadap setiap organisme yang

menjadi penyebab atau berperan di dalam proses peradangan dimana pengobatan

dengan antibiotika merupakan suatu keharusan. Uji kepekaan menjadi penting

dimana ada indikasi bahwa organisme penyebab infeksi merupakan bagian dari

kelompok kuman yang resisten terhadap antibiotika yang umum digunakan dalam

pengobatan (Lesmana, 2006).

Metode difusi cakram adalah metode yang rutin dilakukan dalam

mikrobiologi klinik dan cara ini didasarkan semata-mata pada atau tidaknya zona

hambatan. Dengan kuman-kuman standar, dibuat korelasi antara diameter zona

pada difusi cakram dengan hasil konsentrasi hambatan minimal (minimal

inhibition concentration). Dengan cara ini ditentukan diameter zona terttentu

termasuk dalam kategori sensitive, intermediate, atau resisntance (Lesmana,

2006).

Metode disc diffusion (tes Kirby &Bauer) untuk menentukan aktivitas

agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media

Agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada madia Agar

tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media Agar (Pratiwi,

2008).

Ukuran “sensitif”resisten atau intermediate” disesuaikan dengan standar

uji kepekaan yang baku dan suatu teknik yang dapat diandalkan. Penentuan kadar

hambatan minimal dengan cara dilusi memberikan manfaat dalam membedakan

kuman-kuman yang berada dikategori resisten relatif dan intermediate. Berbeda

dengan cara difusi agar yang lebih banyak dilakukan secara rutin untuk

memberikan tuntunan didalam pengobatan, metode penentuan kadar hambatan

minimal tidak dikerjakan secara rutin tetapi lebih banyak sebagai acuan untuk

menilai ketepatan sistem uji kepekaan lainnya (Lesmana, 2006).

Ada dua metode umum yang dapat digunakan yaitu penetapan dengan

lempeng-silinder atau “lempeng” dan penetapan dengan cara “tabung” atau

tirbidimetri. Metode pertama berdasarkan difusi antibiotik dari silinder yang

dipasang gtegak lusrus pada lapisan agar padat dalam cawan Petri atau lempeng

sehingga mikroba yang ditambahkan dihambat pertumbuhannya pada daerah

berupa lingkaran atau “zona” di sekeliling silinder yang berisi larutan antibiotik.

Metode turbidimetri berdasarkan atas hambatan pertumbuhan biakan mikroba

dalam larutan serba sama antibiotik, dalam media cair yang dapat menumbuhkan

mikroba dengan cepat bila tidak terdapat antibiotik (Ditjen POM, 1995).

Metode dilusi untuk menguji kepekaan antibiotika digunakan untuk

menentukan konsentrasi minimal antibiotika yang menghambat atau membunuh

kuman.Konsentrasi hambatan minimal (KHM) dinyatakan dalam mikrogram (µg)

per mililiter (ml) (Lesmana, 2006).

Untuk penetapan cara lempeng gunakan cawan petri kaca atau plastik

(lebih kurang 20 mm x 100 mm). Yang mempunyai tutup dari bahan yang sesuai.

ukuran masing-masing lebih kurang 0,1 mm, diameter luar 8 mm, diameter dalam

6 mm, dan tinggi 10 mm (Ditjen POM, 1995).

Metode yang umum dipakai untuk menguji aktivitas antibakteri adalah:

a. Metode pengenceran agar (Teknik dilusi)

Pada metode ini, aktivitas zat antibakteri ditentukan sebagai kadar hambat

minimal (KHM), yaitu zat antibakteri dengan konsentrasi terendah yang masih

dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Metode ini dapat berupa: • Cara pengenceran serial dalam tabung

Pada cara ini zat antibakteri yang akan diuji aktivitasnya

diencerkan secara serial dengan pengenceran kelipatan dua dalam media

cair (contoh: kaldu nutrisi untuk bakteri dan sabouraud cair untuk jamur)

dan selanjutnya diinokulasikan dengan bakteri uji. Setelah itu

diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 18 sampai 24 jam (untuk bakteri)

dan pada suhu kamar selama 1 sampai 2 minggu (untuk jamur). • Cara penipisan lempeng agar

Pada cara ini zat antibakteri yang akan ditentukan aktivitas

antibakterinya diencerkan secara serial dengan metode pengenceran

kelipatan dua di dalam media agar yang masih dalam fase cair bersuhu

40ºC sampai 50ºC yang kemudian dituangkan ke dalam cawan petri.

Setelah lempeng agar membeku, ditanam inokulum bakteri dan kemudian

diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan pertumbuhan

b. Metode difusi agar

Metode difusi pada awalnya dikembangkan oleh bauer, sehingga metode

difusi sering disebut sebagai Kirby-Bauer test. Kemudian metode ini

dikembangkan oleh National Comiite for Clinical Laboratory Standars. Prinsip

dari metode ini adalah antimikroba dijenuhkan kedalam cakram kertas (Disc

blank) (Suwandi, 2012).

Pada metode ini zat antibakteri yang akan ditentukan aktivitas

antibakterinya berdifusi pada lempeng agar yang telah ditanam bakteri yang akan

diuji. Dasar pengamatannya terbentuk atau tidaknya zona hambatan disekeliling

cakram atau silinder yang berisi zat antibakteri. Metode difusi ini dapat dilakukan

dengan cara:

• Cara parit (ditch)

Pada media agar yang ditanami inokulum dibuat parit kemudian

diisi dengan zat antibakteri dan diinkubasikan pada suhu dan jangka

waktu yang sesuai untuk jenis bakterinya. Pengamatan dilakukan atas ada

atau tidaknya zona hambatan disekeliling parit. • Cara lubang atau cawan (hole atau cup)

Pada media agar yang telah ditanami inokulum dibuat lubang

kemudian diisikan dengan zat antibakteri. Modifikasi dari cara ini adalah

meletakkan silinder pada media agar kemudian diisi dengan zat

antibakteri. Setelah diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai

dengan antibakteri, pengamatan dilakukan dengan melihat ada atau

• Cara cakram (disc)

Kertas cakram yang mengandung zat antibakteri diletakkan di atas

lempeng agar yang ditanami inokulum kemudian diinkubasikan pada

suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan jenis bakterinya (18-24 jam,

37ºC . Diameter zona hambat yaitu zona bening bisa dihitung dengan

penggaris atau jangka sorong (callliper) dalam satuan mm. Diameter

zona hambat merupakan pengukuran Kadar Hambat Minimum (KHM)

secara tidak langsung dari zat antibakteri terhadap mikroba. Ukuran dari

zona hambat dapat dipengaruhi oleh kepadatan atau viskositas dari media

biakan, kecepatan difusi zat antibakteri, konsentrasi zat antibakteri,

sensitivitas mikroorganisme terhadap zat antibakteri dan interaksi zat

antibakteri dengan media (Rolanda, 2012 ; Suwandi, 2012).

c. Turbidimetri

Pada metode ini, pengamatan aktivitas antibakteri didasarkan atas

kekeruhan yang terjadi pada media pembenihan. Pembunuhan bakteri juga dapat

ditentukan dari perubahan yang terjadi pada sebelum dan sesudah inkubasi, yang

dilakukan dengan mengukur serapannya secara spektrofotometri. Adanya

pertumbuhan bakteri ditandai dengan peningkatan jumlah sel bakteri yang

mengakibatkan meningkatnya kekeruhan. Kekeruhan yang terjadi umumnya

berbanding lurus dengan serapannya yang berarti semakin banyak jumlah sel

maka akan terlihat semakin keruh dan serapannya akan semakin besar (Rolanda,

Dokumen terkait