• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 Uji Prasyarat Instrumen

Instrumen soal yang akan digunakan dalam penelitian harus diuji coba kelayakannya terlebih dulu. Setelah soal dibuat, kemudian soal tersebut diujikan pada kelas uji coba instrumen. Selanjutnya dari hasil uji coba tersebut dilakukan uji prasyarat instrumen, yaitu uji validitas, uji reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal. Soal yang telah lolos uji tersebut dinyatakan layak dan dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan di bawah ini.

4.2.2.1 Uji Validitas Soal

Soal yang akan dijadikan instrumen penelitian harus memenuhi syarat kelayakan dari segi isi dan bentuknya. Soal yang baik harus lolos uji validitas (isi dan konstruk), uji reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal. Untuk itu, setelah peneliti menyusun soal, kemudian soal tersebut diuji terlebih dulu validitas isinya. Setelah itu soal diujikan pada kelas uji coba instrumen dan hasil uji coba tersebut dianalis untuk mengetahui kelayakan soal tersebut instrumen penelitian.

Berikut ini akan dijelaskan secara lengkap tentang validitas isi dan validitas konstruk instrumen pada penelitian ini.

4.2.2.1.1 Validitas Isi (content validity)

Validitas isi dilaksanakan untuk mengetahui bahwa soal yang dibuat sesuai dengan silabus dan bahasa serta penulisannya sudah benar. Soal yang akan dijadikan sebagai instrumen penelitian ini berjumlah 20 butir yang terdiri 15 soal pilihan ganda dengan 4 alternatif pilihan jawaban dan 5 soal isian pendek. Namun untuk mengantisipasi kemungkinan soal yang dibuat tidak valid dan tidak reliabel, maka peneliti menyusun soal tersebut sebanyak 40 butir dan 40 kisi-kisi soal dengan rincian 30 soal pilihan ganda dan 10 soal isian singkat. Validitas isi dilaksanakan peneliti dengan melakukan konsultasi kepada tim ahli. Tim ahli tersebut yaitu Drs. Daroni, M.Pd. dan Widji Sulistyo, A.Ma. Lembar penilaian validitas isi ada pada lampiran 14. Sesudah dinilai validitas isinya, soal diujicobakan pada kelas uji coba yaitu kelas V SD Negeri Debong Tengah 3 pada tanggal 4 Maret 2013.

4.2.2.1.2 Validitas Konstruk (construk validity)

Validitas konstruk dilakukan berdasarkan hasil uji coba soal untuk mengetahui butir mana yang valid dan butir mana yang tidak valid. Untuk mempermudah pengolahan data, dalam penelitian ini peneliti menggunakan aplikasi program SPSS versi 17. Untuk hasil penghitungan dengan SPSS versi 17 dapat dilihat pada lampiran 17. Soal dikatakan valid jika r pearson correlation (rhitung) > rtabel dengan taraf signifikansi 5% (Riduwan 2011: 201). Soal diujicobakan kepada

33 siswa (n=33), maka rtabel sebesar 0,344 (Sugiyono 2011: 613). Berdasarkan penghitungan dengan menggunakan SPSS versi 17 diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas Item Soal

Keterangan Soal Valid Soal Tidak Valid

Nomor Soal 4, 7, 8, 11, 12, 13, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 23, 25, 28, 29, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40. 1, 2, 3, 5, 6, 9, 10, 14, 18, 22, 24, 26, 27, 30, 33.

Jumlah 25 butir soal 15 butir soal

Berdasarkan tabel di atas, diketahui 25 butir soal valid dan 15 butir soal tidak valid. Hasil penghitungan validitas soal selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17.

4.2.2.2 Reliabilitas

Setelah data hasil uji validitas butir soal diketahui, peneliti melakukan analisis soal untuk mengetahui reliabilitasnya. Untuk menghitung reliabilitas butir soal, digunakan butir soal yang sudah valid. Dari 40 butir yang telah disusun peneliti, ada 25 butir yang valid, maka 25 butir soal tersebut yang dihitung reliabilitasnya.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan aplikasi program SPSS versi 17. Untuk mengetahui reliabilitas butir soal tersebut, kita dapat melihat output penghitungan SPSS pada kolom Cronbach’s Alpha. Nilai reliabilitas tiap butir soal dilihat dari perbandingan antara Cronbach’s Alpha (rhitung) dengan rtabel (0,344). Jika rhitung>rtabel, maka butir soal tersebut dikatakan reliabel. Setelah butir soal diuji reliabilitasnya menggunakan SPSS versi 17, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,873. Dengan demikian, 25 butir soal tersebut dikatakan reliabel. Untuk

penghitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 18. Berikut ini kolom Cronbach’s Alpha hasil penghitungan dengan SPSS versi 17.

Tabel 4.6. Data Reliabilitas Butir Soal

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,873 25

Uji reliabilitas biasanya menggunakan batas tertentu untuk menentukan reliabel atau tidaknya suatu instrumen. Menurut Sekaran (1992) dalam Priyatno (2012: 184) reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima, dan di atas 0,8 adalah baik. Dengan melihat nilai Alpha pada kolom Cronbach’s Alpha, kita dapat menentukan reliabel tidaknya suatu instrumen. Nilai Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai 0,873 dan jika mengacu pada pendapat Sekaran berarti nilai 0,873 di atas 0,8 yang berarti baik, sehingga instrumen soal sudah terbukti reliabel.

4.2.2.3 Taraf Kesukaran Soal

Soal yang telah melalui uji validitas dan uji reliabilitas, kemudian diuji taraf kesukaran untuk butir soal tersebut. Soal diuji taraf kesukarannya dengan tujuan agar taraf kesukaran soal yang akan dijadikan instrumen penelitian dapat diketahui.Taraf kesukaran soal dihitung dengan cara membagi jumlah siswa yang menjawab dengan benar dengan jumlah seluruh siswa kelas uji coba. Jika indeks kesukaran soal diperoleh untuk nomor tertentu bernilai antara 0,00 – 0,30, maka soal tersebut dapat dikatakan soal memiliki taraf kesukaran sukar, sedangkan untuk

soal yang memiliki indeks kesukaran antara 0,30 – 0,70, soal tersebut dikatakan memiliki taraf kesukaran sedang. Untuk soal yang dikatakan mudah memiliki indeks kesukaran antara 0,71 – 1,00. Hasil penghitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 19. Berikut hasil penghitungan taraf kesukaran dari 40 butir soal.

Tabel 4.7. Analisis Indeks Kesukaran Butir Soal

Kategori Soal Jumlah

Soal Mudah 15

Soal Sedang 22

Soal Sukar 3

Jumlah 40

4.2.2.4 Analisis Daya Pembeda Soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Soal yang memiliki daya pembeda, bila diujikan pada siswa akan menghasilkan gambaran yang sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. Untuk menganalisis daya pembeda soal, soal diujicobakan terlebih dulu kemudian dianalisis dan dihitung menggunakan rumus daya pembeda soal. Soal yang dianalisis merupakan soal yang sudah terbukti valid.

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D). Indeks diskriminasi ini berkisar antara -1,00 sampai 1,00. Ada tiga titik pada daya pembeda, yaitu: -1,00 (menunjukkan daya pembeda negatif), 0,00 (menunjukkan daya pembeda rendah), dan 1,00 (menunjukkan daya pembeda tinggi

atau positif). Nilai daya pembeda diklasifikasikan sesuai dengan nilai daya pembeda (D) yang diperoleh. Nilai D= 0,00-0,20 menunjukkan nilai D jelek, nilai D= 0,21-0,40 menunjukkan nilai D cukup, nilai D= 0,41-0,70 menunjukkan nilai D baik, dan nilai D= 0,71-1,00 menunjukkan nilai D baik sekali. Untuk nilai D yang bernilai negatif sebaiknya tidak dapat dipakai. Nilai daya pembeda yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu nilai yang berklasifikasi cukup sampai baik sekali.

Dalam menentukan daya pembeda soal, seluruh peserta tes dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok siswa yang berkemampuan tinggi atau kelompok atas (upper group) dan kelompok siswa yang berkemampuan rendah atau kelompok bawah (lower group). Berikut akan dijelaskan hasil penghitungan daya beda dari 40 butir soal.

Tabel 4.8. Analisis Daya Pembeda Butir Soal

Kategori Soal Jumlah

Negatif 4 Jelek 13 Cukup 12 Baik 10 Baik Sekali 1 Jumlah 40

Berdasarkan analisis daya pembeda butir soal di atas, maka sebanyak 23 butir soal yang memenuhi kriteria daya pembeda dari cukup sampai baik sekali. Data analisis daya beda tersebut kemudian diiriskan dengan data butir soal yang sudah

valid dan reliabel untuk kemudian dijadikan sebagai instrumen penelitian yang layak digunakan untuk menguji kemampuan siswa.

Setelah melalui berbagai uji prasyarat instrumen, sebanyak 21 butir soal yang layak dijadikan sebagai instrumen penelitian. Butir soal yang baik dan layak untuk dijadikan instrumen penelitian antara lain butir soal 4, 7, 8, 11, 12, 13, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 25, 28, 29, 31, 32, 35, 36, 37, 39. Namun yang dibutuhkan peneliti dalam penelitian ini yaitu sejumlah 20 butir soal, maka peneliti mengambil 20 butir soal dari 21 butir soal yang sudah layak dijadikan instrumen. Ada satu butir soal yang akan dibuang sehingga butir soal yang digunakan tepat 20 butir, yaitu butir soal nomor 32. Pemilihan butir soal yang dijadikan sebagai instrumen penelitian juga didasarkan pada materi yang ada pada silabus. Untuk penyebaran butir soal dan kisi-kisinya dapat dilihat pada lampiran 13.

Dokumen terkait