• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.3 Populasi dan Sampel

3.6.2 Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas instrumen (test of reliability) untuk mengetahui apakah data yang telah dihasilkan dapat dipercaya atau tidak. Arikunto (2003: 154) menyatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat

52

mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya sehingga dapat diandalkan.

Pengujian reliabilitas menggunakan rumus Uji Reliabilitas (r11). Langkah-langkah untuk menguji reliabilitas dengan menggunakan uji reliabilitas adalah sebagai berikut:

Menghitung harga varians dari setiap item:

[ ] [ ] Keterangan: r11 = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan = jumlah varians butir

σ = varians total

Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui tingkat keajegan instrumen penelitian yang digunakan. Berikut ini adalah hasil uji reliabilitas yang diolah dengan bantuan software SPSS 17.

Tabel 3.7

Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian

Variabel Standar Cronbach

Alpha Keputusan

Sikap Belajar (X) 0,805 Reliabel

Motivasi Belajar (Z) 0,732 Reliabel

53

Berdasarkan Tabel 3.7, menunjukkan bahwa instrumen penelitian pada sikap belajar dan motivasi belajar memiliki reliabilitas yang memadai karena koefisien alpha Cronbach lebih dari 0,70 (Hair dkk dalam Kusnendi, 2008: 96). Maka, seluruh instrumen dalam penelitian ini merupakan instrumen yang terpercaya.

3.7 Teknik Analisis Data

Data diolah dengan menggunakan analisis jalur (path analysis) multigrup sampel. Analisis jalur satu grup sampel bertujuan mengetahui

pengaruh langsung dan tidak langsung (melalui variabel intervening) variabel penyebab (eksogen) terhadap variabel akibat (endogen), sedangkan analisis jalur multigrup sampel bertujuan membandingkan pengaruh penyebab (eksogen) terhadap variabel akibat (endogen) antara lebih dari satu grup sampel dengan menggunakan variabel moderator.

Tabel 3.8

Desain Pengujian Hipotesis Pengaruh Sikap Belajar terhadap Prestasi Belajar dengan Moderator Motivasi Belajar

Variabel Moderator Kelompok Sampel Model yang Diuji

Motivasi Belajar Motivasi Belajar Kuat Y = c + γX + e

Motivasi Belajar Lemah Y = c + γX + e

Setelah mendesain model, tahap selanjutnya adalah menghitung koefisien jalur. Koefisien jalur diperoleh dari standardized coefficient atau beta coefficient karena koefisien jalur adalah koefisien yang distandarkan, yaitu koefisien regresi yang dihitung dari basis data yang telah diset dalam angka baku. Artinya, semua unit pengukuran variabel penelitian disamakan dengan nilai rata-rata sama dengan nol dan simpangan baku sama dengan satu. (Kusnendi, 2008: 156)

54

Skala yang digunakan dalam mengukur sikap dan motivasi belajar adalah ordinal, sedangkan prestasi belajar menggunakan skala interval. Maka, data tersebut tidak bisa langsung dianalisis. Data ordinal harus diubah terlebih dahulu menjadi data ordinal melalui Method of Suceffive Interval (MSI).

Berikut ini adalah langkah-langkah transformasi data dari ordinal ke interval dengan MSI (Method of Succesive Interval) menurut Riduwan (2008:30):

1. Memperhatikan setiap butir jawaban responden dari angket yang disebarkan. 2. Menentukan jumlah orang yang mendapat skor 1,2,3,4,dan 5 pada setiap butir

pertanyaan yang selanjutnya disebut sebagai frekuensi.

3. Membagi setiap frekuensi dengan jumlah responden dan hasilnya disebut proporsi.

4. Menentukan nilai proporsi kumulatif dengan menjumlahkan nilai proporsi secara berurutan per kolom skor.

5. Menghitung nilai Z untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh dengan menggunakan tabel distribusi normal.

6. Menghitung nilai tinggi densitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh dengan menggunakan tabel tinggi densitas.

7. Tentukan nilai skala dengan menggunakan rumus:

55

Selain dengan cara manual, penulis mengolah data MSI menggunakan software STAT 97 yang merupakan aplikasi tambahan dari software microsoft excel.

3.8 Pengujian Hipotesis

3.8.1 Uji t

Pengujian t statistik dilakukan untuk menguji signifikansi masing-masing variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat. Pengujian t statistik merupakan uji signifikansi dua pihak dengan rumus sebagai berikut.

̅

(Sugiyono, 2012:96) Keterangan:

t = nilai t yang dihitung, selanjutnya disebut t hitung ̅ = rata-rata X

µ0 = nilai yang dihipotesiskan s = simpangan baku

n = jumlah anggota sampel Kriteria:

Ha diterima jika t hitung > t tabel H0 ditolak jika t hitung < t tabel

Apabila t hitung > t tabel maka koefisien regresi tersebut signifikan dan menunjukkan adanya pengaruh secara parsial antara variabel terikat dan variabel bebas. Atau sebaliknya jika t hitung < t

56

tabel, maka koefisien regresi parsial tidak signifikan dan menunjukkan tidak ada pengaruh secara parsial antara variabel terikat dengan variabel bebas.

3.8.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Untuk mengukur seberapa baik garis regresi yang kita miliki, kita dapat menggunakan koefisien determinasi. Dalam hal ini kita mengukur seberapa besar proporsi semua variabel independen menjelaskan semua variabel dependen.

Koefisien Determinasi dapat dicari dengan menggunakan rumus.

∑̂ (Rohmana, 2010: 76)

Besarnya nilai R2 berada di antara 0 (nol) dan 1 (satu) yaitu 0 < R2

< 1. Jika nilai R2 semakin mendekati 1 (satu) maka model tersebut baik dan pengaruh antara variabel bebas X dengan variabel terikat Y semakin kuat (erat berhubungannya).

Lina Marliana, 2013

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dalam penulisan skripsi ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Sikap, motivasi, dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Swasta Kota Bandung berada pada kategori tinggi.

2. Sikap belajar berpengaruh lebih besar terhadap prestasi belajar jika ditunjang motivasi belajar yang kuat.

5.2 Saran

1. Bagi Orangtua Siswa

Berdasarkan pengamatan pada indikator adanya lingkungan kondusif dalam variabel motivasi belajar, diperoleh data bahwa orangtua siswa memberikan perhatian pada kegiatan belajar anak. Selain itu, pada umumnya siswa tinggal bersama orangtua. Berdasarkan kondisi ini, penulis menghimbau kepada para orangtua siswa untuk tetap memberikan perhatian terhadap kegiatan belajar anak karena orangtua atau keluarga adalah motivator utama bagi anak. Kesuksesan bangsa ini berawal dari keluarga / orangtua. Kedisiplinan dan kerapihan orangtua dalam berperilaku perlu menjadi teladan bagi anak. Oleh

2

Lina Marliana, 2013

Pengaruh Sikap Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi dengan karena itu, orangtua tidak boleh lelah membina diri dan membina keluarga agar tumbuh anak-anak sebagaimana yang diharapkan.

2. Bagi Guru

Berdasarkan pengamatan pada indikator afeksi dalam variabel sikap belajar, cukup banyak siswa yang menunggu-nunggu waktu habisnya jam pelajaran ekonomi dan merasa senang ketika guru ekonomi berhalangan masuk kelas. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa tidak menikmati proses selama belajar ekonomi. Kondisi ini dapat dihadapi dengan mengubah suasana kegiatan belajar mengajar dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan mengurangi kekakuan dalam kegiatan belajar mengajar dengan tetap memperhatikan etika dan peraturan yang berlaku dan tanpa mengabaikan tujuan utama sebagaimana diamanatkan dalam pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal itu bisa diatasi dengan menggunakan teknik-teknik pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Berdasarkan pengamatan pada hasil penelitian, sikap belajar memiliki pengaruh yang kecil terhadap prestasi belajar. Hal ini

3

Lina Marliana, 2013

menunjukkan bahwa selain sikap belajar, ada faktor lain yang lebih dominan dalam memengaruhi prestasi belajar. Pada objek SMA swasta, diperkirakan bahwa faktor tersebut adalah faktor lingkungan. Oleh karena itu, penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti pengaruh lingkungan sekolah terhadap prestasi belajar di SMA Swasta.

Dokumen terkait